Bab 2: Terlahir Kembali
Ketika membuka mata lagi, Qin Ye mendapati lingkungan sekitarnya telah berubah, bukan lagi pemakaman yang sunyi, melainkan bar yang penuh gemerlap cahaya dan hiruk-pikuk musik. Bar ini sangat dikenalnya, karena bersama Liu Yan dan Mo Huan, ia pernah berinvestasi mendirikan tempat ini saat masih kuliah—bar itu bernama Dui Sheng. Ruangan mewah dan berlebihan yang kini ditempatinya adalah ruang khusus yang ia sisakan untuk dirinya sendiri, dinamakan “Mabuk dalam Mimpi”.
Qin Ye duduk di sofa sambil mendengarkan Liu Yan dan Mo Pan saling berdebat, butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa ia sepertinya telah terlahir kembali?! Namun ia tidak tahu persis pada masa kapan ia terlahir kembali; dulu mereka sering datang ke sini untuk bersantai, sehingga sulit untuk menebak waktunya. Ia juga tidak tahu apakah kali ini ia kembali sebelum atau sesudah menikah dengan Ye Yi. Qin Ye mencoba mengambil ponsel untuk melihat waktu, namun ternyata ponselnya sudah kehabisan daya…
Melihat Qin Ye sebentar-sebentar mengambil ponsel dan kemudian malah melamun, Mo Pan merasa ada yang aneh dan menyikut Liu Yan di sampingnya, lalu menoleh ke arah Qin Ye.
“Hei, Qin, masa baru minum segini saja kamu sudah mabuk? Tak mungkin, kan? Atau kamu lagi pusing mikirin Paman Qin?” Liu Yan meneguk sedikit minuman, berbicara dengan santai.
Mo Pan mencibir, “Barangkali dia lagi mikirin gadis cantik mana, tuh!”
Walau kata-katanya bernada menggoda, namun dari nada suaranya tetap terdengar kekhawatiran. Bagi Qin Ye, bertemu kembali dengan kedua sahabat lamanya ini sungguh membuatnya terharu, seolah ia kembali melihat momen ketika kedua orang ini duduk di depan makamnya dan Ye Yi.
Sepanjang hidup sebelumnya, kedua sahabat inilah yang paling baik padanya. Namun karena hasutan Paman Kedua, Qin Shi, ia sempat meragukan mereka, hingga membuat kedua orang itu kecewa berat. Semua itu adalah akibat dari kebodohannya sendiri. Kali ini, ia bertekad akan lebih menghargai persahabatan mereka bertiga.
Setelah berpikir sejenak, Qin Ye hanya berkata, “Boleh pinjam ponselmu? Ponselku habis baterai.”
Mo Huan menyerahkan ponselnya, namun tetap bertanya dengan nada khawatir, “Sebenarnya kamu kenapa, sih? Kelihatan nggak fokus banget?”
Tak ingin sahabatnya curiga, Qin Ye menggeleng, “Nggak apa-apa, tadi cuma kebanyakan minum aja.”
Qin Ye menatap waktu di layar ponsel. Ternyata ia kembali ke usianya yang ke-22 tahun, baru saja pulang dari luar negeri dan belum lama mengambil alih bisnis keluarga. Ia juga belum tahu niat serakah keluarga Paman Kedua, dan belum mendapat kabar bahwa ayahnya didiagnosa penyakit mematikan. Ia pun belum tahu bahwa sang ayah diam-diam tengah mencari keberadaan Ye Yi.
Kini, dengan pengetahuan yang ia miliki, terutama soal Ye Yi, tentu saja ia harus membantu ayahnya dari balik layar, mempercepat pencarian Ye Yi, agar mereka bisa segera bertemu. Kali ini ia ingin memanjakan dan melindungi Ye Yi sepenuh hati.
Mengetahui kondisi Qin Ye yang tak biasanya, Mo Huan dan Liu Yan pun segera mengajak pulang. Sebelum berpisah, Mo Huan berkata, “Oh iya, teman-teman di lingkaran kita dengar kamu sudah pulang, mereka terus ribut ingin mengadakan pesta penyambutan buat kamu. Tapi kami tidak bocorkan kapan tepatnya kamu pulang, jadi kamu tetap harus siap bertemu mereka. Nanti tentukan saja tanggalnya, ya.”
Qin Ye mengangguk, sebagai tanda mengerti.
Setelah sekian tahun dan mengalami kelahiran kembali, Qin Ye sungguh sudah lupa mobil mana yang menjadi miliknya. Untung saja ada sopir yang menjemputnya. Sopir itu masih sama, Paman Li, yang sejak kehidupan sebelumnya selalu menjadi sopir pribadinya dan sangat piawai mengemudi. Dulu, saat Qin Ye mengalami kecelakaan, mobilnya juga dikemudikan Paman Li. Namun kecelakaan itu tetap tak terhindarkan, bahkan Paman Li pun akhirnya menjadi koma.
Setelah ia berselisih dengan Qin Shi pada kehidupan lalu, orang-orang di lingkaran pertemanan mereka pun mulai diam-diam memilih kubu. Beberapa orang yang cukup dekat akhirnya berpihak pada Qin Shi, dan kekalahan Qin Ye pun tak lepas dari andil mereka.
Sisanya yang masih setia padanya, pasti juga terkena dampak setelah ia mengalami musibah. Liu Yan dan Mo Huan pada akhirnya memang memutuskan hubungan, namun tetap saja terkena imbasnya. Teman-teman lain yang baik dengannya pasti juga mendapat kesulitan.
Mengingat semua itu, Qin Ye pun bertekad tak akan mengulangi kesalahan konyol di kehidupan sebelumnya. Di kehidupan kali ini, Qin Ye membulatkan tekad dan membuat empat tugas penting untuk dirinya sendiri.
Tugas pertama, ia harus memastikan keluarga Qin Shi tidak mendapat kesempatan untuk mencelakainya. Kedua, kakaknya dan keluarganya harus hidup dengan baik. Ketiga, ia harus menjaga dan mengelola persahabatan dengan orang-orang di sekelilingnya. Keempat, yang terpenting, ia harus segera menemukan Ye Yi, lalu mencintai dan memanjakannya sepenuh hati.
Mobil perlahan melaju menuju kediaman keluarga Qin. Tak lama lagi ia akan bertemu ayahnya…
Kadang-kadang Qin Ye merasa dirinya benar-benar terlalu dingin. Di kehidupan sebelumnya, bahkan ketika ayah kandungnya wafat, ia tak terlalu bereaksi, hanya menuntaskan urusan pemakaman lalu kembali menjalani hidup seperti biasa.
Sedangkan kakaknya, Qin Yuan, waktu itu sedang menjalankan misi rahasia di Negara M atas perintah atasan. Ia pergi berbulan-bulan lamanya, hingga ayah mereka wafat pun ia belum sempat kembali. Ketika akhirnya pulang, ia malah terbaring di rumah sakit dalam kondisi luka parah. Berbulan-bulan lamanya tak sadarkan diri, dan Qin Ye masih ingat betul saat itu kakak iparnya hampir pingsan karena menangis. Ketika Qin Yuan pulih sepenuhnya, ayah mereka sudah meninggal hampir setahun.
Qin Yu, ayah dari Qin Yuan dan Qin Ye, sekaligus kepala keluarga Qin saat ini, memang tidak dekat dengan kedua putranya. Qin Yuan dan Qin Ye sejak kecil hampir selalu diasuh dan dibesarkan oleh para pembantu dan pelayan, hingga dalam setahun pun jarang bertemu ayah mereka.
Kata “ayah” terasa begitu asing bagi mereka. Kehadiran Qin Yu dalam hidup mereka tak lebih dari penghuni asing di rumah yang sama. Mungkin karena itulah, dulu Qin Ye sangat menentang campur tangan sang ayah dalam urusan pernikahannya.
Setelah dewasa, Qin Yuan memilih menjadi tentara dan berhasil meraih pangkat mayor jenderal termuda. Sementara Qin Ye pergi ke luar negeri, dan baru saja kembali ketika mengetahui ayahnya mengidap penyakit mematikan dan ia sendiri harus mengambil alih bisnis keluarga sebagai penerus keluarga Qin.
Kali ini, setelah terlahir kembali dan harus kembali menjalani peristiwa yang sudah pernah dilalui, perasaan Qin Ye sungguh bercampur aduk dan sulit dijelaskan.
Apa pun yang ia rasakan, pada akhirnya kenyataan tetap harus dihadapi. Begitu masuk ke rumah, ia melihat kakaknya, Qin Yuan, turun dari lantai atas. Qin Ye tak kuasa menahan diri, langsung memeluk kakaknya erat-erat. Pelukan sederhana itu sarat dengan berbagai emosi: kebahagiaan karena bertemu lagi, rasa terima kasih karena sang kakak pernah rela berkorban demi dirinya, juga kegembiraan karena bisa mendapatkan kembali apa yang sempat hilang…
Qin Yuan menepuk bahunya, menenangkan, “Aku cuma pergi tugas, kok. Baru beberapa bulan nggak ketemu, masa sudah segitunya kangen?”
Ia menyangka adiknya terlalu rindu karena lama tak bertemu, padahal memang hari ini ia baru saja kembali dari tugas.
Qin Ye mengangguk, menatap serius, “Iya, Kak. Sudah lama nggak lihat kamu, aku memang kangen sekali.”
“Sudah, jangan lebay. Sana, ke atas temui Ayah. Sepertinya Ayah sudah mengatur urusan pernikahanmu, barusan juga menyuruhmu ke ruang kerja. Jadi, siap-siap saja.”
“Baik, aku naik dulu.”
Baru saja Qin Ye mengangkat tangan hendak mengetuk pintu ruang kerja, ia melihat Qin Shi keluar dari sana.
Rumah utama keluarga Qin hanya boleh ditempati kepala keluarga dan garis keturunan utama. Qin Shi sendiri adalah kerabat cabang yang cukup menonjol kemampuannya dan memiliki hubungan baik dengan Qin Yu. Dari sisi garis keluarga, Qin Yuan dan Qin Ye harus memanggilnya Paman Kedua. Karena itu, sesekali ia akan menginap di rumah utama, apalagi sejak Qin Yu sakit, wajar saja ia sering datang menjenguk. Jadi, tidak aneh bila mereka berpapasan.
Begitu melihat Qin Shi, seketika amarah Qin Ye memuncak. Musuh yang di kehidupan sebelumnya telah menghancurkannya, kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum ramah. Melihat kepura-puraannya, Qin Ye hampir saja tak tahan ingin langsung membongkar semua kedoknya. Namun akal sehatnya menahan diri, ini belum saatnya. Untuk saat ini, ia harus bersabar. Di kehidupan ini, ia ingin membalas dendam dengan cara yang sama, menggunakan segala cara yang pernah mereka gunakan padanya, hingga mereka menyesal hidup pun tak sudi, mati pun tak mampu.
Qin Ye pun meredam ketidaksenangannya, membalas senyum dan menyapa sekadarnya, lalu masuk ke dalam.
Kondisi Qin Yu tidak terlalu baik. Malam itu, ia sengaja menunggu kepulangan Qin Ye. Melihat putranya telah tumbuh dewasa, hatinya pun diliputi rasa haru. Waktu berlalu begitu cepat, sudah dua puluhan tahun, namun bayangan orang yang ada di hatinya masih sama seperti saat pertama bertemu: mata bening, gigi putih berkilau, senyum semanis bunga.
Hari-harinya sudah tak lama lagi. Segera ia akan menyusul orang itu, dan satu-satunya harapan terbesar yang tersisa adalah agar Qin Ye bisa menunaikan janji yang dulu pernah ia dan kekasihnya buat, menebus penyesalan yang tersisa dari masa lalu mereka.