Bab Delapan: Tidak Perlu Berpura-pura Lagi, Aku Adalah Seorang Miliarder
Malam hari.
Lin Feng terbangun dengan kepala yang terasa berat, lalu membuka pintu kamar. Melihat ayahnya, Lin Changde, sedang menonton televisi di ruang tamu, Lin Feng bertanya, "Ayah! Di mana Shiwei?"
Lin Changde melirik Lin Feng sekilas dan menjawab, "Dia sedang di dapur membantu ibumu memasak."
Mendengar itu, Lin Feng berjalan ke dapur dan melihat istrinya sedang belajar memasak tahu mapo—hidangan favoritnya—dari sang ibu. Begitu melihat Lin Feng datang, Zhao Yulan mendorong Li Shiwei keluar dari dapur, bersikeras agar ia menyelesaikannya sendiri. Meski sempat menolak, Li Shiwei akhirnya menyerah dan keluar dari dapur atas desakan Zhao Yulan.
Tak lama kemudian, meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan. Lin Feng yang baru saja bangun sebenarnya tidak memiliki nafsu makan. Namun, karena ini adalah kali pertama istrinya makan di rumah mereka, Lin Feng tetap menemani Li Shiwei menghabiskan semangkuk nasi.
Setelah berpikir panjang, Lin Feng memutuskan untuk mengungkapkan bahwa dirinya memiliki saham di Perusahaan Penyiaran Husha. Ia tidak ingin orang tuanya merasa khawatir atau merasa rendah diri karena kesenjangan antara dirinya dan Li Shiwei.
"Ayah, Ibu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ujar Lin Feng sambil mengambilkan lauk untuk mereka bertiga.
Lin Changde menatapnya dan berkata, "Katakan saja langsung!"
Lin Feng memandang ketiganya, lalu mengaku bahwa ia adalah pemegang saham terbesar di sebuah perusahaan. Ia berdalih bahwa itu hanyalah investasi iseng saat masih kuliah, dan ia sendiri tidak menyangka akan menjadi miliarder.
Zhao Yulan menyentuh dahi Lin Feng, "Apa kamu masih mengantuk sampai otakmu rusak?"
Lin Feng yang tidak terima langsung membuka ponselnya, "Lihat, informasi pemegang saham di sini mencantumkan namaku, lengkap dengan fotonya!"
Lin Changde dan Zhao Yulan terbelalak tak percaya. Bahwa menantu mereka kaya raya adalah hal lumrah, namun jika putra mereka sendiri yang kaya raya, itu sungguh di luar dugaan. Mengapa mereka tidak tahu sama sekali?
Zhao Yulan memutar bola matanya ke arah Lin Feng, "Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
Lin Feng mencari alasan bahwa ia ingin tetap rendah hati, namun karena sekarang sudah menikah, ia merasa perlu jujur. Lin Changde tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya, "Benar-benar putraku!"
Lin Feng hanya tersenyum menanggapi. Mengetahui putranya sekaya itu, beban di hati kedua orang tuanya akhirnya terangkat. Kesenjangan antara putra dan menantu mereka tidak lagi sebesar yang dikhawatirkan, dan mereka tidak perlu takut lagi jika ada yang menyebut putranya hanya menumpang hidup. Mereka adalah orang-orang yang menjunjung nilai tradisional dan sulit menerima konsep pria yang hanya mengandalkan istri.
Setelah makan malam, Li Shiwei membantu Zhao Yulan membereskan meja, sementara Lin Changde bertanya kepada Lin Feng, "Bagaimana dengan rumah di tempat Zhang Mengyao? Apakah masih bisa diambil kembali?"
Lin Feng menepuk bahu ayahnya, "Tenang saja, Ayah. Aku akan mengurusnya. Apa yang menjadi hak kita, akan aku ambil kembali."
Lin Changde menghela napas, "Ibu dan Ayah tidak menyukai Zhang Mengyao. Dia terlalu materialistis. Kami sangat menyukai Shiwei. Perlakukan dia dengan baik, atau kami akan memberimu pelajaran nanti."
Lin Feng menjawab dengan sungguh-sungguh, "Tentu, Ayah."
Li Shiwei yang mendengar percakapan itu tersenyum tipis. Saat hendak duduk, ponselnya berdering. Ayahnya menelepon.
"Halo!"
"Aku tidak pulang. Aku sudah menikah, mau pulang ke mana lagi? Tentu saja aku di sini."
"Ayah ingin bicara dengan ayah mertuaku?"
"Baik, tunggu sebentar."
Seluruh keluarga Lin menyimak percakapan itu. Mereka hanya sempat mendengar ayah Li Shiwei bergumam tentang "anak perempuan yang sudah tak bisa ditahan lagi", selebihnya tidak terdengar jelas. Akhirnya, Li Shiwei menyerahkan ponselnya kepada Lin Changde.
Tangan Lin Changde sedikit gemetar saat menerima ponsel itu. Mereka belum pernah berinteraksi sebelumnya, dan ini adalah pertama kalinya mereka berkomunikasi setelah pernikahan anak-anak mereka. Mengingat pihak besan adalah orang yang sangat kaya, wajar jika ia merasa gugup.
"Halo!"
"Ya, Pak. Mari kita atur waktu untuk bertemu dan saling mengenal."
"Tentu, tidak masalah. Anak-anak sudah menikah secara resmi, kita bisa membicarakan detail resepsi nanti."
Setelah menutup telepon, Lin Changde mengembuskan napas panjang.
"Hihi! Ayah tidak perlu gugup. Ayahku orang yang sangat baik," hibur Li Shiwei.
Lin Changde menghela napas, "Kesenjangannya terlalu besar." Ia menoleh ke arah menantunya, "Apa kesukaan orang tuamu? Besok kita akan bertemu, kami ingin membawakan sesuatu."
Li Shiwei menjawab santai, "Di rumah kami sudah ada segalanya, tidak perlu membawa apa-apa. Lagipula kita hanya akan makan di luar, nanti saja kalau Ayah berkunjung ke rumah kami."
Lin Changde tetap bersikeras, "Tetap saja harus membawa sesuatu. Tidak enak rasanya jika tangan kosong." Li Shiwei pun mengangguk setuju.
"Oh ya, saat resepsi nanti, aku harap Ayah bisa memberikan mas kawin yang layak. Berikan saja semampu Ayah, karena Ayahku bilang mahar dariku akan dikembalikan dua kali lipat," tambah Li Shiwei.
Lin Changde melambaikan tangan dengan panik, "Sudahlah! Seratus atau dua ratus ribu sudah cukup sebagai simbol. Lin Feng sangat beruntung bisa menikahimu. Lagipula, sekarang keluarga kami sudah tidak kekurangan uang lagi, kami bisa sedikit bersantai."
Setelah itu, Lin Changde kembali ke kamar untuk beristirahat, diikuti oleh Zhao Yulan, membiarkan pasangan muda itu berduaan.
"Hehe! Ayah dan Ibu benar-benar baik. Aku sempat khawatir mereka tidak menyukaiku," gumam Li Shiwei sambil bersandar di pelukan Lin Feng.
Lin Feng mengelus rambutnya, "Bagaimana mungkin mereka tidak menyukaimu? Orang tuaku sangat baik. Justru orang tuamu yang di luar dugaanku. Aku pikir ayahmu akan melemparkan uang jutaan untuk menyuruhku meninggalkanmu."
Li Shiwei tertawa kecil, "Mana mungkin. Mereka sudah tahu aku menyukaimu sejak kuliah, mereka sangat menyukaimu."
Lin Feng merasa sangat terharu. Dicintai oleh wanita secantik Li Shiwei adalah berkah yang luar biasa dalam hidupnya. Keduanya saling menatap dengan penuh kasih, dan Lin Feng perlahan mendekatkan wajahnya. Li Shiwei memejamkan mata, menanti ciuman itu.
Namun, tepat sebelum bibir mereka bertemu, Zhao Yulan tiba-tiba keluar dari kamar.
"Ya ampun! Ibu lupa mengambil ponsel. Lanjutkan saja, lanjutkan!"
Zhao Yulan mengambil ponselnya dari meja dan segera kembali ke kamar. Li Shiwei dan Lin Feng saling memandang lalu tertawa.
"Ayo kita ke kamar," bisik Lin Feng di telinga Li Shiwei.
"Hm," jawab Li Shiwei dengan wajah merona.
Keduanya segera masuk ke kamar. Lin Feng memeluk pinggang Li Shiwei dan menciumnya. Mereka merasakan kehangatan satu sama lain.
*Tok! Tok! Tok!*
Tepat saat suasana mulai memanas, terdengar ketukan di pintu. Keduanya terkejut. Lin Feng segera membuka pintu dan mendapati ibunya berdiri di sana. Zhao Yulan langsung menaruh sekotak alat kontrasepsi ke tangan Lin Feng.
"Ini barang bagus, pakai saja dulu," ucap ibunya santai.
Lin Feng menatap ibunya dengan kesal, "Bu, apa Ibu sengaja mengganggu?"
Namun, Zhao Yulan salah mengartikan maksud putranya. Ia malah tersenyum, "Cepatlah beri Ibu cucu."
Lin Feng menghela napas, "Sudahlah, Bu. Istirahatlah."
Setelah diusir halus oleh putranya, Zhao Yulan pergi dengan tersenyum puas. Lin Feng menutup pintu dan bergumam, "Tidurlah."
Suasana romantis yang sempat terbangun kini telah sirna sepenuhnya.