Bab 13 Hitam dan Putih
"Hei, berhenti! Apa yang sedang kau lakukan?"
Mendengar suara Si Zhuo, pria yang mengenakan seragam Aliansi Qingcheng itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Aku?"
"Ya, kau. Sedang apa?"
"Kau buta? Tidak lihat aku sedang menyeret sisa-sisa anggota keluarga Si ke kantor penguasa kota?"
"Sisa keluarga Si?"
Si Zhuo mengamati anak itu dengan saksama. Ia yakin anak ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga Si. Sebelum ia sempat bertanya, ucapan pria itu memperjelas alasan ketidakadilan yang menimpa si bocah.
"Siapa pun yang berani membela tuan muda keluarga Si yang terkutuk itu, bukankah dia sisa keluarga Si? Kalau bukan, apa lagi?"
Pria itu memegang kerah baju si anak dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menunjuk ke arah pengumuman yang tertempel di gerbang kota.
"Sudah berapa banyak orang yang dibunuh oleh tuan muda bangsat itu? Bocah ini masih saja bilang tuan muda keluarga Si orang baik. Cih!"
Sembari meludah, ia menatap anak itu dengan bengis.
"Baik apanya! Dasar bodoh! Pasti kau sudah disuap oleh keluarga Si, kan? Sekarang, biar kubawa kau ke kantor penguasa kota untuk dihukum mati di tempat!"
Tiba-tiba, pria itu tersadar akan sesuatu. Ia menoleh ke arah Si Zhuo, "Eh—siapa kau? Wajahmu asing sekali. Dari mana asalmu?!"
Ia segera mengulurkan tangan ke arah Si Zhuo, "Kelihatannya kau juga mencurigakan, ikut aku ke kantor penguasa kota!"
Namun, tangannya tidak berhasil mencengkeram leher Si Zhuo, melainkan justru menangkap sebuah benda keras yang diselipkan Si Zhuo ke telapak tangannya.
"Cukup?"
Suara Si Zhuo terdengar dingin, tatapannya terkunci pada pria itu.
Pria itu membalik tangannya, melihat kilau perak yang menggoda. Ia menggigit kepingan perak itu untuk memastikan, "Benarkah?!"
Ia segera menyimpan perak itu tanpa suara, menelan ludah, dan melirik Si Zhuo untuk menebak-nebak kekuatannya. Namun, ia tidak menemukan emosi sedikit pun di wajah Si Zhuo.
Setelah ragu sejenak, ia mengertakkan gigi. "Aku bukan orang seperti itu! Demi keselamatan Kota Fengjuan, aku seharusnya..."
Satu keping perak lagi diselipkan ke tangannya.
"Aku tidak mungkin tergoda oleh orang sepertimu, aku punya..."
Kata 'integritas' belum sempat terucap, pria itu sudah menerima dua keping perak lagi di tangannya.
Ekspresinya berubah total, wajahnya penuh senyum, bahkan cenderung menjilat.
"Tuan! Tuan besarku! Anda masih butuh pelayan? Saya sangat cekatan! Jika saya harus meninggalkan Aliansi Qingcheng untuk menjadi..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Si Zhuo menunjuk anak di tangannya, memberi isyarat agar ia melepaskannya. Kemudian, dengan lambaian tangan, ia menyuruh pria itu segera pergi.
Maka, pria yang kembali mendapatkan dua keping perak itu pun pergi dengan wajah penuh senyum manis.
Si Zhuo menatap awan hitam yang terus berkumpul di atas kepala pria itu. Ekspresinya semakin dingin, rasa sesak yang tak terlukiskan memenuhi dadanya.
Kehidupan masa lalu begitu, kehidupan sekarang pun tetap sama.
Dunia ini penuh dengan orang yang datang dan pergi demi keuntungan.
Si Zhuo tahu pepatah itu benar, tapi ia tidak mengerti mengapa orang-orang yang ditemuinya di dua kehidupan ini begitu seragam.
Apakah tidak ada yang tahu pepatah bahwa seorang budiman mencari kekayaan dengan cara yang benar? Tidak adakah yang tahu bahwa seorang budiman tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan? Tidak adakah yang tahu bahwa di atas kepala manusia ada pengawasan Tuhan?
Ia tidak ingin berpikir lebih jauh. Ia menunduk menatap anak itu, lalu berjongkok dan bertanya pelan, "Mengapa kau membela Si Zhuo? Bukankah lebih mudah jika kau ikut menghinanya saja?"
Si Zhuo mengeluarkan sekantong perak, sisa uang dari hasil mencegat anggota Aliansi Qingcheng sebelumnya.
"Ambil ini, sepuluh tael untukmu. Mulai sekarang, ikutlah memaki mereka. Maki sepuasnya."
Namun, anak itu menyeka air mata dan ingusnya, lalu menepis tangan Si Zhuo.
Ia menatap Si Zhuo. Entah karena naluri anak kecil atau alasan lain, ia merasa asing namun familiar dengan sosok di depannya ini. Sambil terisak, ia berkata, "Aku... aku tidak tahu berapa banyak orang yang dibunuh Tuan Muda Si... aku hanya tahu... saat ayahku hampir mati karena sakit, dia memberiku sepuluh tael perak..."
Anak itu seolah teringat sesuatu yang menyedihkan, air mata yang baru saja diseka kembali mengalir.
"Aku sudah berlutut di jalan selama tiga hari, hanya Tuan Muda Si... yang memberiku sepuluh tael perak, agar aku bisa... membelikan obat untuk ayahku... Meskipun ayah akhirnya tetap meninggal, tapi... setidaknya dia bisa hidup setahun lebih lama."
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menatap Si Zhuo, "Seluruh kota bilang Tuan Muda Si sangat jahat, tapi nyawa ayahku diselamatkan olehnya. Mengapa aku harus memaki dia?"
"Meski diberi uang tetap tidak mau memaki?"
"Tidak! Tetap tidak mau!"
"Bagaimana kalau kutambah sepuluh tael lagi?"
"Kutambah seratus tael pun aku tetap tidak mau!"
"Hahaha! Baik, baik, baik. Pulanglah sekarang."
Anak itu tidak mengerti mengapa Si Zhuo tertawa tiba-tiba. Ia hanya menyeka air matanya, bersujud tiga kali dengan hormat ke tanah, lalu berlari ke arah rumahnya.
Saat itu, Si Zhuo berdiri di lorong jalan, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan berat.
Ia merasa bersyukur, bersyukur bahwa di kehidupan ini ia memiliki mata yang mampu membedakan kebaikan dan kejahatan serta mengukur hati manusia. Ia juga bersyukur bisa menyerap energi dari awan di atas kepala orang lain untuk meningkatkan kultivasinya.
"Jika hanya kalian Aliansi Qingcheng yang seperti ini, mungkin tidak masalah. Tapi jika seluruh dunia kultivasi seperti kalian, aku pasti akan menghancurkan kalian sampai ke akar-akarnya."
Si Zhuo tidak menyadari bahwa Lin Ying dan Ying Sha sedang mengamati semuanya dari balik bayang-bayang di dekat sana.
"Bocah ini... memang sangat berbeda," bisik Ying Sha.
Lin Ying melipat tangan di dada dan tidak berkata apa-apa, tetapi siapa pun bisa melihat senyum tipis yang menggantung di wajahnya.
Selama dua tahun ia di sini, ia telah melihat terlalu banyak pemandangan serupa.
Tanpa terkecuali, pemeran utamanya selalu pria ini.
Tiba-tiba, suasana di sekitar menjadi riuh, dan Ying Sha menghilang seketika.
Si Zhuo tentu menyadari kegaduhan yang tidak biasa ini. Baru saja ia mundur ke samping, beberapa anak panah tanda bahaya melesat di langit Kota Fengjuan.
Tak lama kemudian, beberapa ahli dari Aliansi Qingcheng melompati atap-atap rumah, melesat ke arah asal tanda tersebut sambil berteriak.
"Gouwa itu sudah ditemukan! Entah keberuntungan apa yang ia dapatkan, kekuatannya meningkat pesat!"
"Cepat! Kalau tidak bisa menangkap Si Zhuo, menangkap Gouwa pun sudah cukup berjasa."
"Entah apa yang membuatnya gila sampai berani melawan aliansi..."
Dari potongan percakapan itu, Si Zhuo menyimpulkan bahwa keributan ini berkaitan dengan Si Duo, atau yang mereka sebut sebagai Gouwa.
"Apa? Kenapa Si Duo? Dia bahkan berani bermusuhan dengan Aliansi Qingcheng?"
Si Zhuo tidak menyangka Si Duo begitu keras kepala. Selama masa komanya, Si Duo ternyata telah terang-terangan melawan Aliansi Qingcheng.
"Baiklah, tadinya aku memang ingin mencarimu, sekarang malah jadi lebih mudah."
Setelah berkata demikian, Si Zhuo segera mengikuti langkah cepat anggota Aliansi Qingcheng tersebut.
Di gerbang timur Kota Fengjuan, Si Duo terkepung di tengah kerumunan. Tubuhnya berlumuran darah dan kesadarannya sudah mulai kabur.
Orang-orang Aliansi Qingcheng di sekitarnya masih merasa cemas. Mereka tidak mengerti mengapa Gouwa bisa mengeluarkan kekuatan tempur sedahsyat itu.
"Jangan gegabah, dia sudah di ambang kematian! Tidak akan lama lagi dia akan tumbang."
Seharusnya, dengan luka separah itu, Si Duo sudah lama roboh.
Namun, seolah ada keyakinan kuat yang menopangnya, bibirnya terus bergerak, mengulang-ulang satu kalimat dengan lirih.
"Lonceng permata tertiup angin... bunyinya terdengar hingga ke luar cakrawala..."