Bagaimana mungkin tidak ada penyesalan?
Sinar matahari menembus awan tipis, jatuh ke bumi, dan menelusup lewat kaca bening rumah kaca, menyinari bunga-bunga yang seolah diselimuti cahaya keemasan yang hangat. Di dalam rumah kaca ini, segala macam bunga langka menampilkan wujud mereka, tanpa saling bersaing dalam keindahan, hanya bermekaran bersama.
Seorang perempuan mengenakan gaun merah anggur yang membalut tubuhnya duduk di sofa di tengah hamparan bunga, di hadapannya duduk seorang pembawa acara dengan gaun putih panjang. Dari kejauhan, yang pertama kali menarik perhatian adalah perempuan berbaju merah itu; ia laksana bidadari yang tak tersentuh dunia fana, hanya dengan memandangnya saja sudah terasa damai dan nyaman. Mungkin inilah pesona uniknya—ia tampak muda namun seluruh dirinya memancarkan kematangan, terlebih lagi sorot matanya, dalam dan sunyi bagai danau mati, misterius namun memikat.
Sepasang mata itu mengandung kesedihan, mata yang seolah bisa berbicara, namun ternyata hanya menyimpan duka lara. Di sekelilingnya, bunga-bunga bermekaran, tapi ia tetap paling memesona tanpa perlu berusaha, pepatah “manusia lebih indah dari bunga” begitu nyata padanya.
Sang wartawan bertanya, “Di akhir buku Anda, Anda sengaja menuliskan kalimat ‘Jatuh cinta pada cermin mimpi, baru tahu betapa tidak adilnya dunia ini.’ Banyak pembaca yang tidak mengerti, bolehkah Anda jelaskan makna di baliknya?”
Gu Anluo menjawab, “Sebenarnya ini adalah kisah nyata, terjadi pada orang yang kusukai dan sahabatku. Cerita ini mengandung keindahan yang amat mendalam sekaligus tragedi yang sangat menyayat, itulah sebabnya aku menulis kalimat terakhir itu—untuk menyampaikan kepada pembaca bahwa realitas terlalu kejam, sehingga kita tergoda untuk berlama-lama dalam indahnya mimpi. Namun mimpi tetaplah mimpi, seindah apapun, akan tiba saatnya harus terjaga.”
Wartawan bertanya lagi, “Tokoh Yan Yan sangat memikat, banyak pembaca menyukainya. Walau perasaannya tak bisa diungkapkan, bukankah akhir hidupnya terlalu memilukan? Masa kecilnya sudah tidak sempurna, dan akhirnya pun membuat hati tersayat. Meski ia menyukai tokoh utama perempuan, ia sendiri bukan seorang penyuka sesama jenis. Mengapa Anda memberinya takdir seperti itu?”
“Saya ingin tahu bagaimana Anda memandang homoseksualitas, saya yakin banyak pembaca juga ingin tahu. Dan juga, apa makna kehadiran karakter Yan Yan?”
Gu Anluo menjawab, “Saya tak tahu harus menjawab bagaimana. Jika Anda hanya bertanya pendapat saya tentang kelompok homoseksual, saya dengan tegas tidak memiliki prasangka apa pun, bahkan dulu saya pernah menjadi penggemar cerita cinta sesama jenis. Namun jika pertanyaannya tentang Yan Yan, saya hanya bisa berkata ‘tidak bisa saya jawab’.”
Mencintai seseorang itu bukanlah kesalahan. Yan Yan hanya salah karena menaruh hati pada seseorang yang tidak akan pernah membalas perasaannya.
Tampak jelas wartawan itu semakin tertarik, “Oh? Maksud Anda bagaimana?”
Gu Anluo menjawab, “Dulu, impian terbesarku adalah menikah dengan seseorang yang sangat kucintai dan ia pun sangat mencintaiku. Menurutku, jika akan hidup bersama seumur hidup, tidak boleh asal-asalan, aku tak ingin ada penyesalan. Aku sama sekali tidak mungkin menikah hanya karena merasa cocok, meski kebanyakan orang sekarang menikah karena alasan itu, aku tidak akan melakukannya. Sayangnya, mimpiku sudah lama hancur.”
Gu Anluo tersenyum lirih, lalu melanjutkan, “Teman-temanku sangat berarti bagiku. Aku kira kami akan selalu berteman seumur hidup, tapi hidup ini bukan film, tak mungkin berjalan sesuai keinginan kita. Lucu memang, orang yang dulu berjanji akan selalu ada untukku, akhirnya justru mengingkari janjinya.”
Matanya mulai basah oleh air mata, hampir tumpah, namun tak pernah jatuh.
Kenyataan sering kali lebih dramatis daripada film dan novel.
Tatapan Gu Anluo begitu pilu, wartawan ingin menenangkan, namun Gu Anluo lebih dulu berbicara.
“Dulu aku tak pernah tahu bahwa dua orang dengan jenis kelamin sama bisa saling mencintai. Setelah tahu pun, aku tak merasa ada yang aneh, menurutku selama saling mencintai, itu sudah cukup. Tapi itu tentang dia... aku tak tahu bagaimana harus menghadapinya, aku pun tak pernah tahu siapa yang ia suka.”
Sampai di sini, Gu Anluo mendongakkan kepala, cahaya matahari membelai wajahnya. Wajahnya tenang, namun siapapun bisa melihat kesedihan mendalam di hatinya.
Yan Yan bukan sekadar tokoh dalam buku, ia nyata, benar-benar ada di dunia ini.
Ia begitu bergairah namun juga penakut, seperti mawar merah, memesona dan penuh semangat, namun tak mampu melepaskan duri-duri yang menjadi senjatanya untuk melindungi diri.
Ia elok, indah, dan luar biasa.
Namun ia juga mawar yang jatuh ke lumpur, tetap memiliki pesona tersendiri, namun lebih memilih kehilangan kelopaknya daripada menanggalkan ketajamannya. Duri-duri itu menjadi payung pelindung rahasia di relung hatinya yang tak ingin diketahui orang lain.
Meski terjatuh di lumpur, ia tetap angkuh.
Wartawan kemudian berkata, “Tokoh favorit saya adalah An Ze. Ia punya hati yang kuat dan tabah, sosok pemuda penuh semangat. Tapi akhirnya, bukankah itu terlalu menyedihkan?”
Tentu saja ada penyesalan, kalau tidak, mana mungkin ia terus hidup dalam kenangan Gu Anluo.
Wajah pemuda itu memang mulai samar, namun posisinya tak pernah tergantikan.
Gu Anluo memandang pada sebatang bunga Kasang di sudut ruangan tanpa berkata apa-apa. Saat sang wartawan mengira ia takkan menjawab, Gu Anluo akhirnya berbicara.
“Akhir An Ze juga menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku.”
Bunga Kasang itu mekar indah, tertiup angin ia berayun bebas menari, Gu Anluo menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum getir.
“Harus menyalahkan siapa? Takdir atau pertemuan? Mungkin inilah namanya kehidupan, selalu ada yang tidak sesuai harapan.” Ia seperti teringat sesuatu, lalu melanjutkan, “Andai saja saat itu aku tidak berhenti melangkah, mungkinkah akhirnya berbeda baginya?”
Mungkin sejak awal semuanya sudah salah.
Tanpa Yan Yan, perjalanan An Ze dan Gu Anluo pasti akan berbeda, namun akhir mereka sudah ditakdirkan sejak semula.
Di dunia ini, setiap saat ada saja orang yang berkata, “Andai saja... alangkah baiknya.” Sayangnya, yang paling banyak di dunia ini memang kata ‘andai’. Dan semua ‘andai’ itu hanya bisa diucapkan, tak pernah jadi nyata.