Asisten kecil yang kebal terhadap ratusan racun (palsu) melawan tabib penyelamat dunia (29)
Keluarga Luo dan keluarga Lin dulunya adalah sahabat karib. Seiring berjalannya waktu, mereka merambah dunia bisnis. Keluarga Luo, bertindak sebagai peneliti, menciptakan berbagai jenis obat yang kemudian dipasarkan oleh keluarga Lin. Keterlibatan kedua belah pihak menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan.
Namun, Luo Lichuan sama sekali tidak menyangka bahwa pada akhirnya mereka akan berkhasiat buang badan setelah lelah berburu, menyeberang jembatan lalu membakarnya.
Setelah membaca memori tentang Luo Lichuan, Su Fuying terdiam cukup lama. Ia menyaksikan segala sesuatu yang terjadi melalui sudut pandang pemuda itu.
Termasuk bagaimana ia menyaksikan kematian kedua orang tuanya, bagaimana ia berjuang untuk tumbuh dewasa, dan bagaimana ia mencari kebenaran. Setiap langkah yang ia ambil begitu berat, tetapi ia terus menggertakkan gigi dan bertahan hingga tiba di hari ini.
Luo Lichuan pun selesai memainkan melodinya, lalu kembali duduk di hadapan Su Fuying.
Su Fuying menatapnya lekat-lekat dalam waktu yang cukup lama, membuat telapak tangan pemuda itu basah oleh keringat karena gugup.
"Kakak..."
Su Fuying menghela napas, lalu menceritakan segalanya kepada pemuda itu. "Xiao Li, aku membantu Lin Yan karena ia berkata bahwa mereka mengenal orang tuamu. Aku ingin membantumu menemukan asal-usulmu, bukan berarti aku berada di pihak mereka."
Luo Lichuan berkata dengan tidak percaya, "Kakak..."
Su Fuying memotong perkataannya dan melanjutkan, "Dan bantuanku kali ini padanya hanya karena aku merasa ada kesalahpahaman di antara semua ini, dan aku berharap kalian bisa menyelesaikannya. Jika nanti terbukti bahwa mereka memang dalang pembunuhan orang tuamu, aku tidak akan menghentikanmu. Sejak awal hingga akhir, aku selalu berada di pihakmu. Kamu tidak perlu merasa terisolasi dan tidak berdaya."
Mendengar hal itu, mata Luo Lichuan berkaca-kaca. Segala ucapan dan perasaan terangkum dalam satu kalimat, "Terima kasih, Kakak."
Luo Lichuan menatap Su Fuying sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk berterus terang. "Kakak, sebenarnya semua hadiah yang kamu terima hari ini adalah dariku. Aku takut... kamu tidak mau menerimanya, jadi aku menggunakan cara ini. Aku harap kamu tidak marah padaku."
Seketika setelah kata-kata itu terucap, jantung Luo Lichuan berdegup kencang hingga terasa sampai di tenggorokan. Ia menatap Su Fuying lekat-lekat, seolah ingin menerobos manik matanya demi membaca isi hati terdalam wanita itu.
Ia tidak ingin melewatkan satu pun perubahan ekspresi mikro di wajah wanita tersebut.
Su Fuying tersenyum tipis. Senyuman itu merekah indah bagaikan bunga musim semi yang memukau.
Pancaran kegemberiaan menghiasi kedua matanya, dengan sudut bibir terangkat pada lengkungan yang sempurna, menularkan kebahagiaan yang tulus.
"Aku benar-benar sangat menyukai hadiah-hadiah itu. Terima kasih, Xiao Li," ucapnya lembut, dipenuhi dengan ketulusan dan rasa terima kasih yang mendalam.
Kemudian, ia sengaja menegaskan, "Lagipula, kamu tidak perlu begitu tegang. Kita sekarang sudah menjadi teman, mari kita mulai semuanya dari awal."
Nada bicaranya terdengar santai namun tegas, seolah ingin menenangkan hati Luo Lichuan yang sedang gelisah.
Mendengar perkataan tersebut, beban berat yang menggelayut di hati Luo Lichuan akhirnya terangkat.
Ia menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat sebagai tanggapan, "Hm!" Suku kata sederhana itu memuat begitu banyak emosi yang rumit—mulai dari rasa lega, antusiasme, hingga antisipasi terhadap masa depan...
Kedua orang itu menikmati hidangan tersebut dengan sangat puas dan penuh suka cita.
Selama waktu makan, mereka tertawa dan berbincang dengan gembira, seolah topik pembicaraan di antara mereka tidak ada habisnya.
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa saatnya untuk berpisah tiba.
Usai makan, Luo Lichuan tanpa ragu berinisiatif menawarkan diri untuk mengantar Su Fuying kembali ke hotel tempatnya menginap.
Menghadapi ajakan tersebut, Su Fuying tidak menolaknya—faktanya, ia memang berniat menyampaikan beberapa hal kepada pemuda itu.
Di bawah temaram cahaya lampu jalan yang kekuningan, tampak dua bayangan tubuh yang memanjang terpantul di atas permukaan tanah.
Su Fuying meregangkan tubuhnya sejenak, lalu berucap dengan nada santai, "Xiao Li, bagaimana kalau kita kembali besok? Kita temui keluarga Lin terlebih dahulu untuk melihat situasinya. Jika memang ada kesalahpahaman di antara kita, lebih baik diselesaikan secepatnya. Bagaimanapun, terus berlarut-larut dalam ketegangan dan saling menyiksa ini tidak ada artinya. Menurutmu perkataanku benar, bukan?"
Mendengar pertanyaan itu, tubuh Luo Lichuan sedikit bergetar, seolah mendadak menegang.
Sebenarnya ia sangat memahami prinsip tersebut di lubuk hatinya yang paling dalam, tetapi untuk benar-benar menghadapi dan menerima kenyataan pahit itu terasa begitu sulit.
Su Fuying mendongakkan kepalanya sedikit, menatap lurus sosok di hadapannya dengan mata indahnya, menunggu dengan tenang sebuah tanggapan darinya.
Detik demi detik berlalu, seolah seluruh dunia membeku.
Akhirnya, Luo Lichuan perlahan menghentikan langkahnya, meski ia tidak langsung berbicara.
Ia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.
Sesaat kemudian, barulah ia melontarkan satu kata dengan suara lembut, "Baiklah."
Sudut bibir Su Fuying terangkat membentuk senyuman tipis, lalu ia berinisiatif meraih tangan pemuda itu. "Kalau begitu kita sepakat, besok kita kembali dan selesaikan masalah ini!"
Di hari yang cerah dengan cuaca yang sangat bersahabat, Su Fuying menarik koper miliknya dan perlahan-lahan menginjakkan kaki di tanah Haishi.
Haishi adalah tempat di mana keluarga Lin berada.
Tidak jauh di belakangnya, sesosok bayangan mengikutinya dengan erat—Luo Lichuan.
Ia berjalan dalam diam, pandangan matanya senantiasa tertuju pada sosok Su Fuying.
Begitu mereka melangkah keluar dari gerbang bandara, Su Fuying menghentikan langkahnya dan mendongak untuk membiarkan kehangatan sinar matahari membelai wajahnya.
Ia memejamkan mata, menikmati kehangatan itu seolah ingin mengusir segala kepenatan yang ada.
Pada detik ini, ia tampak bagaikan sekuntum bunga yang mekar sempurna, memancarkan pesona yang memikat.
Sementara itu, Luo Lichuan yang berdiri di sampingnya hanya bisa mengamati pemandangan tersebut dalam diam, sementara hatinya dipenuhi oleh berbagai macam perasaan.
Kedua orang itu tiba di rumah sakit. Lin Yan baru saja selesai menjalani operasi dan dipindahkan ke bangsal umum, hanya saja ia belum sadarkan diri.
Setibanya di depan pintu kamar rawat, Su Fuying melihat Chen Yefan yang sedang berjaga di sisi Lin Yan.
Begitu melihat Su Fuying, mata Chen Yefan langsung berbinar terang, seolah-olah ia baru saja melihat bala bantuan.
Namun, ketika pandangannya bergeser ke arah belakang, ia melihat ekspresi suram terpatri di wajah Luo Lichuan. Ketakutan langsung merayapinya hingga ia menciutkan leher dan buru-buru mengalihkan pandangannya.
Dulu ia pernah membohongi Luo Lichuan dengan mengaku tidak mengenal Su Fuying sama sekali, bahkan sengaja mengarang sebuah cerita. Kini ia takut pemuda itu akan datang menagih utang perhitungan dengannya. Apakah nyawanya masih bisa selamat?
Ia tidak tahu, dan ia merasa takut.
Su Fuying dengan sigap menangkap ekspresi ketakutan yang terpancar di wajah pria itu. Ia mengulurkan tangan dengan lembut untuk menyentuh lengan Luo Lichuan di sisinya, memberi isyarat agar pemuda itu sedikit meredam emosinya.
Luo Lichuan langsung menangkap maksudnya dan seketika menampilkan senyuman ramah nan hangat di wajahnya.
Ia menyapa Chen Yefan dengan penuh kehangatan, "Asisten Chen, aku sama sekali tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini!"
Kendati demikian, Chen Yefan justru merasakan hawa dingin merayapi punggungnya.
Ia bisa merasakan bahwa sapaan Luo Lichuan sama sekali tidak dibarengi dengan ketulusan, melainkan lebih mirip sebuah ancaman terselubung.
Chen Yefan buru-buru mencari alasan untuk melarikan diri, "Kak Su, aku mau menemui dokter dulu untuk menanyakan kondisi kesehatannya, lagipula Tuan dan Nyonya Lin juga akan segera tiba."
Usai berkata demikian, ia langsung ngibrit melarikan diri bagaikan kilat.
Di dalam ruangan kini hanya menyisakan Su Fuying dan Luo Lichuan yang berdiri berdampingan, sementara Lin Yan masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.
Su Fuying menyenggol lengan Luo Lichuan seraya memperingatkan, "Xiao Li, sebentar lagi Paman dan Bibi Lin akan datang. Usahakan untuk mengendalikan dirimu, serahkan semuanya padaku untuk mengurusnya."
Luo Lichuan mengangguk patuh. "Baik, Kakak."
Tidak lama berselang, ayah dan ibu Lin datang dengan tergesa-gesa. Mereka baru saja mendengar kabar bahwa Lin Yan mengalami kecelakaan mobil, sehingga mereka langsung bergegas kemari tanpa buang waktu.