Bab 27 Menyebarkan Berita
Halaman (1/3)
Qin Mulan sama sekali tidak menyangka ada orang yang sedang merencanakan sesuatu terhadap dirinya. Saat ini, ia sedang pergi ke gunung bersama Xie Zheli. Ia teringat masih ada banyak ubi uwi di sana. Selagi Xie Zheli masih berada di rumah, ia ingin menggali semuanya dan meminta pria itu membawanya pulang.
“Di sini.”
Setibanya di tempat tujuan, Qin Mulan menunjuk ke arah depan sambil tersenyum. “Di sana masih banyak ubi uwi. Hari ini kita gali semuanya, ya.”
Melihat mata Qin Mulan yang berbinar-binar, Xie Zheli tak kuasa menahan senyum dan mengangguk. “Baiklah.”
Keduanya sudah membawa peralatan, jadi setelah meletakkan keranjang pikul, mereka mulai menggali ubi uwi. Namun, belum lama bekerja, Xie Zheli menoleh kepada Qin Mulan.
“Serahkan sisanya kepadaku. Kau istirahatlah sebentar.”
Qin Mulan melihat gerakan Xie Zheli yang begitu cepat. Sisa ubi uwi itu mungkin dapat diselesaikannya seorang diri dalam satu pagi. Karena itu, ia pun berhenti bekerja.
“Baiklah, aku istirahat sebentar.”
Setelah duduk beberapa saat, Qin Mulan kembali berdiri dan berkata kepada Xie Zheli, “Aku akan melihat-lihat di sekitar sini, siapa tahu ada tanaman obat.”
“Baik, tapi jangan pergi terlalu jauh.”
“Ya, ya.”
Qin Mulan segera mengangguk dan pergi mencari tanaman obat di sekitar sana.
Belum berjalan terlalu jauh, Qin Mulan menemukan dendrobium, bahkan dalam jumlah yang cukup banyak.
Sebenarnya, dendrobium termasuk tanaman obat yang umum ditemukan. Namun, akibat pemetikan berlebihan, dendrobium liar kemudian menjadi sangat langka. Sementara itu, hamparan kecil di hadapannya semuanya merupakan dendrobium liar. Dengan gembira, ia mulai memetiknya. Tak lama kemudian, ia juga menemukan biji ketepeng dan akar ungu, lalu buru-buru memanennya.
Setelah selesai memetik tanaman obat di area itu, Qin Mulan kembali ke tempat Xie Zheli dengan wajah penuh senyum.
Xie Zheli mengangkat pandangan dan melihat wajah Qin Mulan yang dipenuhi kebahagiaan. Sudut bibirnya ikut terangkat.
“Begitu gembira. Apa kau mendapatkan banyak tanaman obat?”
“Jenisnya memang tidak banyak, tetapi jumlahnya lumayan.”
Qin Mulan menjawab dengan senang hati. Kemudian, ia menoleh ke keranjang pikul Xie Zheli. Melihat pria itu hampir selesai menggali, ia berkata, “Gerakanmu cepat sekali. Kalau begitu, setelah kau selesai menggali sisanya, kita pulang dulu.”
Mendengar itu, Xie Zheli mengangguk. “Baik.”
Setelah Xie Zheli menyelesaikan pekerjaannya, mereka berdua memanggul keranjang dan berjalan menuruni gunung.
“Mulan, setelah tiba di tempat kerja, aku akan segera mengajukan permohonan rumah dinas untuk keluarga. Kalau semuanya berjalan lancar, mungkin hanya perlu waktu seminggu. Namun, kalau prosesnya lambat, mungkin akan memakan waktu lebih lama.”
Mendengar itu, Qin Mulan menjawab tanpa menoleh, “Tidak apa-apa. Kalau cepat, aku akan segera menyusul. Kalau lambat, juga tidak perlu terburu-buru. Aku cukup baik-baik saja di sini.”
Melihat sikap Qin Mulan yang seolah tidak peduli, Xie Zheli sedikit mengangkat alis. Dahulu, Qin Mulan selalu mengejarnya dan terus mengganggunya. Namun, sejak mereka menikah, ia baru menyadari bahwa Qin Mulan benar-benar telah berubah menjadi orang yang berbeda. Kini, perempuan itu bahkan bersikap acuh tak acuh kepadanya.
Tiba-tiba, Xie Zheli merasa dirinya seperti seorang pria brengsek yang berubah sikap setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Memikirkan hal itu, Xie Zheli merasa kesal sekaligus geli. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkannya? Namun, karena Qin Mulan begitu kooperatif, ia tidak perlu menjelaskan terlalu banyak.
“Baiklah. Tunggu kabar dariku.”
“Ya, ya.”
Qin Mulan tersenyum dan mengangguk. Saat itulah ia menyadari bahwa Xie Zheli sejak tadi terus menatapnya. Dengan bingung, ia bertanya, “Ada apa?”
Xie Zheli menggelengkan kepala. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa kau akhir-akhir ini terlihat lebih kurus.”
Sambil berbicara, Xie Zheli mengamati Qin Mulan dari atas hingga bawah dengan saksama. Ia mendapati bahwa perempuan itu memang telah jauh lebih kurus. Bahkan, matanya tampak lebih besar daripada sebelumnya.
Mendengar hal itu, Qin Mulan sangat gembira. Dengan mata berbinar, ia menatap Xie Zheli dan bertanya, “Benarkah? Apakah perbedaannya terlihat jelas?”
“Cukup jelas.”
“Syukurlah.”
Qin Mulan tertawa bahagia. “Ternyata mengurangi makan memang benar. Kalau berat badanku sudah turun sampai lima puluh kilogram, seharusnya sudah cukup.”
Sebenarnya, jumlah makanan yang ia santap setiap hari sekarang masih sama dengan porsi normalnya dahulu. Hanya saja, tubuh pemilik asli ini memang terbiasa makan terlalu banyak, sehingga nafsu makannya membesar dan tubuhnya menjadi gemuk. Selama ia mampu mengendalikan diri dan tidak makan berlebihan, berat badannya perlahan akan turun.
“Asalkan tubuhmu sehat, sedikit gemuk juga bukan masalah.”
“Tenang saja, aku tahu.”
Suasana hati Qin Mulan sedang baik, sehingga ia menjawab sambil tersenyum.
Melihat punggung Qin Mulan yang melangkah dengan riang, wajah Xie Zheli juga dipenuhi sedikit senyum. Dengan kemampuan pengobatan yang begitu baik, Qin Mulan pasti memahami kondisi tubuhnya sendiri. Selama ia merasa bahagia, itu sudah cukup.
Sesampainya di rumah, Yao Jingzhi melihat begitu banyak ubi uwi dan segera berkata kepada Qin Mulan, “Mulan, nanti bawakan juga sebagian ke rumah orang tuamu.”
“Baiklah.”
Qin Mulan memang sudah memikirkan hal yang sama. Kini, karena Yao Jingzhi berinisiatif mengatakannya, ia tidak perlu lagi membuka pembicaraan.
Yao Jingzhi membagi ubi uwi itu secara merata ke dalam dua keranjang. Ia menyerahkan salah satunya kepada Xie Zheli sambil berkata, “A Li, ikutlah pergi bersamanya. Ubi ini berat, jangan biarkan Mulan yang membawanya.”
Xie Zheli mengangkat keranjang itu dan memanggulnya. Setelah itu, ia menoleh kepada Qin Mulan.
“Bagaimana kalau kita pergi sekarang?”
Qin Mulan tidak keberatan dan langsung mengangguk. “Baiklah.”
Setelah keduanya berangkat menuju rumah keluarga Qin, Yao Jingzhi mulai menyiapkan makan siang. Namun, putrinya yang sejak pagi keluar rumah belum juga pulang. Ia tidak tahu apakah putrinya pergi bekerja atau pergi ke tempat lain. Walaupun sangat kecewa terhadap putrinya, bagaimanapun juga ia tetap merasa sedikit khawatir.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Menantu perempuan sulungnya sedang membawa Yu Kecil pulang ke rumah orang tuanya. Kini, hanya dirinya seorang yang berada di rumah. Ia sebenarnya bisa pergi lebih dahulu ke tempat putrinya biasa bekerja untuk melihat keadaan.
Sementara itu, penduduk desa sedang sibuk menggali ubi jalar di ladang. Sambil bekerja, mereka berbisik-bisik membicarakan sesuatu.
“Menurut kalian, siapa pasangan suami istri yang datang ke rumah keluarga Xie pagi tadi? Jangan-jangan mereka kerabat keluarga Xie?”
“Tidak mungkin. Dari penampilan saja sudah jelas mereka orang kota. Sejak kapan keluarga Xie punya kerabat dari kota?”
“Benar juga. Namun, sejak keluarga Xie menikahi Qin Mulan, memang ada saja orang yang datang berkunjung.”
Mendengar itu, semua orang menyadari bahwa perkataan tersebut memang benar.
“Hei, menurut kalian, jangan-jangan pasangan suami istri itu juga datang mencari Qin Mulan?”
Saat itu, Bibi Pan datang. Kebetulan ia mendengar percakapan tersebut dan langsung menyahut, “Memang mereka datang mencari Mulan. Waktu itu, pasangan suami istri tersebut bertanya kepadaku tentang alamat dokter muda Qin Mulan. Kalau bukan untuk mencari Mulan, untuk apa lagi?”
Mendengar hal itu, semua orang menunjukkan wajah terkejut.
“Jadi, mereka benar-benar datang mencari Qin Mulan.”
Ketika semua orang masih terkejut, seseorang kembali menyampaikan kabar dengan nada penuh rahasia.
“Kalian tahu tidak? Pasangan suami istri yang datang ke rumah keluarga Xie pagi tadi sebenarnya datang untuk berterima kasih kepada Qin Mulan karena telah menyelamatkan anggota keluarga mereka. Sebagai imbalannya, mereka memberi Qin Mulan pekerjaan sementara di sebuah pabrik makanan. Namun, Qin Mulan sendiri tidak mau bekerja di sana, jadi pekerjaan itu malah ia berikan kepada Li Xueyan.”
“Apa? Benarkah?”
“Tentu saja benar. Kudengar, pria yang datang pagi tadi bahkan adalah kepala pabrik makanan itu.”
“Wah...”
Kabar tersebut akhirnya juga terdengar oleh keluarga Qin.
Ketika mendengar berita itu, wajah Sun Huihong langsung menggelap. Saat itu, kedua menantunya, Wang Zhaodi dan Song Yufeng, sedang berada di sisinya. Wang Zhaodi menjadi orang pertama yang angkat bicara.
“Ibu, bagaimana kalau kita pulang dulu dan menanyakannya?”