Bab 4: Hidup yang Tidak Semestinya...
Ketika Zhang Haiyan melihat bayangan seekor kelinci di permukaan kacamata hitam yang memantul cahaya, ia langsung sadar bahwa dirinya telah berubah menjadi seekor kelinci. Belum sempat merasa terkejut, ia sudah langsung diikat oleh pria berkacamata hitam itu. Cara mengikatnya persis seperti cara mengikat babi ketika akan disembelih di kampung halamannya.
Melihat api unggun di bawah tubuhnya semakin mendekat, Zhang Haiyan meniup sekuat tenaga berusaha memadamkan api yang bisa mengubah dirinya menjadi sate kelinci yang lezat, namun semuanya sia-sia. Dalam hati, Zhang Haiyan memaki-maki tanpa henti. Ia memaki Tuhan, memaki nasib yang tidak adil, lalu memaki si kacamata hitam. Pokoknya, dalam sepuluh menit itu, semua yang terpikirkan sudah ia maki satu per satu.
Akhirnya, betisnya kejang, matanya berputar. "Amin, semoga di kehidupan berikutnya tidak ada kelinci," begitu gumamnya dalam hati sambil mengendus-endus aroma di udara.
"Wangi juga," pikirnya. "Aduh, menggoda sekali, bolehkah aku mencicipi sedikit saja?" Ia merasa ada sesuatu yang ditempelkan di mulutnya, tanpa pikir panjang, ia langsung menggigit dan melahapnya.
Baru setengah jalan mengunyah, ia merasa ada yang aneh. Saat membuka mata, ia melihat si kacamata hitam sedang menikmati paha ayam panggang, sementara di mulutnya sendiri hanya ada rumput yang entah dipetik dari mana. Zhang Haiyan buru-buru memuntahkan rumput itu.
"Aku tidak mau makan rumput, aku mau daging, paham nggak, dasar setan! Kamu petik rumput ini dari mana, kok baunya kayak kotoran? Jangan-jangan kamu habis ke toilet terus pakai daun buat cebok?"
Kacamata hitam hanya melihat mulut kecil kelinci itu bergerak-gerak, mengeluarkan suara "ciap-ciap" yang jatuh di telinganya. Sepertinya, selama ia bukan manusia, semua kata-katanya tidak bisa dipahami, hanya suara dalam hatinya saja yang bisa diterjemahkan. Namun melihat mulut kecil itu, ia bisa menebak, pasti sedang mengumpat dengan kasar.
Kacamata hitam mengangkat paha ayam di tangannya, menunjukkannya di depan Zhang Haiyan. "Mau makan?"
Zhang Haiyan mengangguk, membuka mulut kecilnya dan mendekat, tapi paha ayam itu selalu berhenti satu sentimeter di depan mulutnya. Zhang Haiyan berusaha menggapai dengan kaki, dan setelah beberapa kali mencoba, akhirnya tongkat yang mengikat tubuhnya patah.
Sekejap saja, Zhang Haiyan jatuh ke dalam api unggun. Ketika kacamata hitam mengangkat tubuhnya keluar, bulu putih di tubuhnya sudah hangus di beberapa bagian, mirip dengan kelinci yang terkena penyakit kulit.
"Gimana? Kasihan karena aku nggak sempat makan kelinci panggang, jadi kamu mau memanggang dirimu sendiri?" Kacamata hitam mencubit telinga kelinci itu, mematikan api unggun, lalu membawanya ke tempat tinggalnya sekarang.
Saat itu, Zhang Qiling sedang duduk di kursi kecil di halaman, melamun sambil menatap langit. Melihat kacamata hitam kembali, ia hanya memberikan satu lirikan lalu melanjutkan lamunannya. Namun, sesaat kemudian, pandangannya tertuju pada kelinci yang dibawa oleh kacamata hitam.
"Halo, kakak Zhang versi tiruan. Setahuku kau suka yang berbulu, jadi kau suka kelinci juga, kan? Kau pasti tidak makan kelinci, kan? Bisa tidak kau tolong aku, telingaku dicubit keras sekali," gumam Zhang Haiyan dalam hati.
"Tuli!" seru Zhang Qiling tiba-tiba pada kacamata hitam.
Melihat tatapan Zhang Qiling jatuh pada kelinci di tangannya, kacamata hitam merasa pasti Zhang Qiling mendengar ocehan kelinci itu, lalu melemparkan kelinci itu ke arahnya.
Zhang Haiyan melayang di udara, membentuk lengkungan sempurna sebelum jatuh ke dalam pelukan dingin yang sepi.
Zhang Haiyan mendongak, memandang Zhang Qiling yang menunduk memperhatikannya, lalu menggesekkan kepala ke jari tangannya dengan manja. "Jangan makan aku! Terima kasih!"
Kalimat itu tidak dimengerti oleh Zhang Qiling, tapi sentuhan bulu lembut di jarinya membuatnya merasa senang. Ia pun meletakkan tangan besarnya di punggung Zhang Haiyan.
Begitu tubuhnya ditekan, berbagai cara memasak kelinci langsung melintas di benak Zhang Haiyan. Kalau dimakan saja sudah cukup, apakah kulitnya juga bisa dijadikan syal?
"Aduh, aku belum pernah punya syal bulu kelinci!"
"Tidak akan kumakan," kata Zhang Qiling, seolah sudah tidak tahan mendengar keributan di kepala kelinci itu. Kenapa tidak bisa jadi kelinci kecil yang tenang saja? Biar dia elus, kan enak. Kalau kelinci itu masih berisik, ia sungguh akan tergoda untuk memutar lehernya.
Zhang Haiyan hanya bisa mengeluh dalam hati, "Dasar bajingan, dua kata itu pun aku tidak percaya. Tapi, karena wajahmu mirip Zhang Qiling, aku izinkan kau mengelusku sebentar. Ya, di situ, garuk sedikit, ayo cepat! Ah, mantap."
Kaki dan tangan kecilnya pun lemas di telapak tangan pria itu, berubah jadi kelinci gepeng yang pasrah. Sambil menikmati garukan khas keluarga Zhang di punggungnya, benaknya pun melayang:
"Andai benar-benar kakak Zhang yang menggarukku pasti lebih bahagia. Apalagi kalau pakai jurus khusus keluarga Zhang, pasti keren sekali. Kalau aku pulang ke alam baka, bisa aku ceritakan tiga hari tiga malam. Hahaha, digaruk dengan jurus keluarga Zhang, dikerok dengan pisau kuno hitam, wah, aku melayang. Kalau keluarga Zhang melihat ini, pasti aku sudah dipenggal. Wu Xie juga pasti matanya melotot."
Kacamata hitam masuk ke dalam rumah, lalu tidak lama keluar membawa dua baskom. Setelah mengambil air dari sumur di halaman, ia menoleh pada Zhang Qiling dan bertanya, "Mau dimasak kecap atau digoreng kering?"
Zhang Haiyan merasa pertanyaan itu ditujukan pada pria di belakangnya, tapi jelas objeknya adalah dirinya. Begitu telinganya dicubit, ia sempat menjerit sebelum langsung diam.
"Tunggu, kalau kelinci mati aku bisa ganti yang lain. Tapi jangan-jangan yang berikutnya malah lebih parah? Bagaimana kalau aku berubah jadi tikus, semut, kecoak..."
Ekspresi Zhang Qiling berubah sedikit, seolah kelinci di tangannya ikut berubah mengikuti pikiran Zhang Haiyan. Dengan kesal, ia pun melempar kelinci itu kembali ke kacamata hitam, lalu pergi karena tidak mau pusing mendengar keributan kepala kelinci itu.
Kacamata hitam menangkap kelinci yang dilempar, lalu menekannya ke dalam baskom air. Dalam kepalanya hanya terdengar teriakan panik. Melihat air di baskom langsung berubah hitam, ia pun meringis jijik.
Zhang Haiyan menendang dua kali karena kaget, matanya berputar, lalu pingsan.
Sebenarnya ia tidak bisa pingsan, tapi ia bisa pura-pura mati. Setelah dibersihkan dan kepalanya diremas-remas, cara mengeringkannya benar-benar seperti dikuliti. Setelah itu, ia dibolak-balik sampai pusing. Kalau saja bisa pingsan, pasti sudah pingsan sejak tadi.
Setelah benar-benar tenang, barulah ia membuka mata.
"Apa ini sudah sampai di istana Raja Akhirat?" desah Zhang Haiyan pelan.
Sepertinya kali ini memang benar-benar tamat. Ia bahkan belum ingat bagaimana ia mati. Setelah berpikir sejenak, ia pun berbaring telentang, pasrah dengan nasib.
Entah berapa lama ia diam, udara di sekitarnya tiba-tiba terasa dingin. Zhang Haiyan menggigil, lalu merayap ke depan sampai menemukan ‘dinding’ yang cukup kokoh, kemudian menempelkan satu kakinya di sana.
"Inilah aku, Zhang Haiyan, hidup penuh petualangan, dan tetap kembali sebagai gadis. Aku bahkan belum pernah memegang perut berotot seorang lelaki. Paling juga baru suka satu, dua... delapan, sembilan laki-laki. Kenapa tiba-tiba mati? Aku bahkan tidak tahu siapa pembunuhku. Ini sungguh keterlaluan."
Zhang Haiyan mulai mengenang hidupnya. Saat berumur delapan belas tahun, gara-gara ucapan teman sekamarnya, “Aku rela menukar seumur hidupku demi sepuluh tahun masa polosmu”, ia pun melangkah ke jalan penuh lubang, lubang dalam, di dalamnya ada air, dan di air ada paku, jalan tanpa kembali. Ditambah lagi dengan pria yang selalu tersenyum, tampak bahagia tanpa beban, tapi menyembunyikan kesepian di balik kacamata hitam...
"Sial! Tagihan paylater-ku belum kubayar!"
"Ah, sudahlah, tidak penting. Aku sudah mati, semuanya tidak ada hubungannya lagi denganku. Tapi sayang sekali, bantal peluk ‘si buta’ di rumahku, baru dua hari kupeluk..."
"Aku bahkan belum sempat bermimpi dia menggandeng tanganku."
Zhang Haiyan memukulkan cakar kecilnya ke ‘dinding’ yang ia anggap sebagai tembok. Lalu, ia melihat pemandangan yang paling ia rindukan seumur hidupnya.
Kacamata hitam menariknya keluar dari selimut, menunjuk ke dada yang ada bekas cakar merah kecil, “Aku sudah baik hati memandikanmu, balasannya begini?”
"Aaah, otot perut, otot perut! Sluuurp!"
"Laki-laki bertelanjang dada! Sluurrrp!"
"Aku benci jadi kelinci."
"Tunggu, tadi yang kucolek itu... ya ampun!"
Kini, Zhang Haiyan merasa, ia rela menukar seluruh hidupnya demi sepuluh tahun pengalaman memegang otot perut.