Bab Tiga Puluh Delapan
Namun, wanita di hadapannya ini entah mengapa membuatnya merasa tidak tega untuk menolak permintaannya.
“Fei, kamu secantik ini, bagaimana mungkin tidak punya pacar?” tanya Jinyayi dengan wajah sedikit terkejut, lalu menatapnya penuh ketidakpercayaan.
“Aku... memang tidak punya,” jawab Yu Fei’er sambil menundukkan kepala. Suaranya lembut, serupa hembusan angin.
Entah mengapa, saat wanita itu menyinggung soal pacar, wajah tampan seseorang tiba-tiba terlintas di benaknya. Hanya sekejap, namun kenangan yang pernah membuatnya hancur itu perlahan kembali menjadi jelas di ingatannya.
Namun di mata Jinyayi, cara Fei’er menundukkan kepala itu jelas karena malu. Gestur bak menantu pemalu itu membuat suasana hatinya sangat baik.
Anak itu, Qiao Yi, sepertinya belum berhasil mendapatkan hati gadis ini. Tidak boleh dibiarkan begitu saja. Gadis secantik, manis, dan baik hati seperti ini tak boleh sampai lepas dari genggaman.
Gadis sebaik itu, tentu harus dijaga sebaik mungkin.
Nanti, ia harus mendesak anak bandel itu lagi.
Jinyayi berdeham, hendak mulai memuji anaknya, namun matanya yang tajam mendapati sebuah kotak kecil di samping Yu Fei’er.
Itu adalah kotak yang tadi selalu dipegang Fei’er. Karena sepanjang jalan ia terlalu fokus pada gadis itu, Jinyayi belum sempat memperhatikan apa isinya.
Sekarang, setelah melihat lebih dekat, ternyata itu kue kecil dari toko favoritnya! Sepertinya sejak keluar dari vila Qiao Yi, Fei’er memang sudah membawa kotak itu. Berarti hadiah dari Qiao Yi, bukan?
Melihat berbagai warna kue di dalam kotak, wajah Jinyayi dipenuhi senyuman.
Selama ini, ia belum pernah melihat anaknya memberi hadiah pada gadis mana pun. Bahkan membeli makanan manis untuk ibunya sendiri pun sangat jarang ia lakukan.
Sekarang malah diberikan pada gadis di hadapannya. Qiao Yi pasti benar-benar menyukai gadis ini, sampai-sampai melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya!
Suasana di ruang makan tiba-tiba menjadi sunyi. Yu Fei’er mengangkat kepala, menatap Jinyayi yang duduk di seberangnya dengan rasa ingin tahu.
Mengetahui wanita itu terus menatap kue kecil itu, Yu Fei’er pun membuka kotak kue tersebut. Ia mengambil beberapa kue warna-warni dan meletakkannya di depan Jinyayi.
“Silakan dicoba, Bu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengundangku makan hari ini,” ujar Yu Fei’er sambil tersenyum ceria.
Meskipun kue itu bukan miliknya, tapi karena Qiao Yi sudah memberikannya padanya, ia merasa boleh saja membaginya.
Jinyayi tampak sangat tersanjung, segera bertanya dengan penuh semangat, “Benarkah aku boleh memakannya?”
“Tentu saja. Silakan, Bu.”
Sambil berkata demikian, Yu Fei’er mengambil sepotong kue stroberi, berdiri, dan menyodorkannya ke hadapan Jinyayi.
“Ini hadiah dari temanku. Aku tidak akan sanggup menghabiskan semuanya sendirian. Untung ada Ibu menemaniku.”
Jinyayi segera menerima kue dari tangannya, menatap gadis itu dengan penuh kepuasan.
Gadis ini, bahkan cara berbicaranya pun begitu manis. Semakin dilihat, semakin ia suka.
“Terima kasih,” ujarnya pelan, lalu menggigit sedikit kue itu, dan memandang Yu Fei’er dengan ekspresi bahagia.
“Ini kue favoritku, berkatmu aku bisa menikmatinya hari ini,” katanya tulus.
Mendengar itu, suasana hati Yu Fei’er perlahan membaik. Ia mulai mengendurkan kewaspadaannya.
Sambil tersenyum, ia pun mengambil sepotong kue dan menggigitnya. Rasa manis dan lembut kue itu langsung lumer di mulutnya, menghangatkan hatinya.
Sungguh enak!
Kue manis namun tidak memuakkan seperti ini juga adalah favoritnya!
Apalagi, kue itu diberikan oleh Qiao Yi—idolanya sendiri. Kebahagiaan yang dirasakannya pun langsung berlipat ganda.
Kegembiraan Yu Fei’er bahkan ditangkap oleh Jinyayi.
Melihat gadis itu begitu bahagia, jangan-jangan sedang memikirkan anaknya sekarang?
Jika memang begitu, bukankah itu luar biasa?
Jinyayi mengalihkan pandangan dari Fei’er, menatap kotak kue itu. Tiba-tiba ia menyadari ada sesuatu di dalam kotak, lalu bertanya dengan penasaran, “Fei’er, apakah ada sesuatu lagi di dalam kotak itu?”
Yu Fei’er yang sedang tenggelam dalam dunianya sendiri tiba-tiba tersadar, mengikuti arah pandangan Jinyayi ke dalam kotak.
Detik berikutnya, ia pun terkejut menemukan ada barang lain selain kue di dalamnya!
Ia meletakkan kue di tangannya, lalu mengambil sebuah amplop. Di bawah tatapan penasaran Jinyayi, ia membukanya.
Ini...
Melihat isinya, Yu Fei’er langsung terpaku di tempat.
Itu adalah uang dan secarik kertas yang kemarin ia tempel di kulkas!
Dan di bagian bawah kertas itu, kini ada tambahan satu kalimat yang ditulis orang lain.
(Karierku di dunia hiburan sudah sangat cemerlang, tapi terima kasih atas doamu. Catatan: Aku tidak pernah menerima uang dari wanita.)
Ia menatapnya lama sekali, sampai leher Jinyayi nyaris pegal.
Soal lehernya yang pegal, itu karena saking penasarannya pada isi amplop. Ia sudah mencondongkan badan untuk mengintip sejak tadi.
Sayangnya, isi amplop itu terhalang tangan Yu Fei’er. Sekilas seperti kertas catatan, tapi ia sama sekali tak bisa melihat apa pun.
Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas dan ia berseru kaget.
“Jangan-jangan ini surat cinta?!”
Seruan Jinyayi membuat Yu Fei’er kaget, tangannya bergetar, lalu ia menatap Jinyayi.
“Bukan, bukan, itu bukan surat cinta,” katanya cepat, menggeleng keras-keras, takut wanita itu salah paham.
Tapi, toh ibu itu juga tidak tahu siapa pengirimnya. Kenapa ia jadi gugup sendiri?
“Oh, maaf. Sudah lama aku tidak melihat anak muda menulis surat cinta, jadi tadi hanya terkejut saja…”
Jinyayi tertawa canggung, berusaha menutupi kegugupannya tadi.
Sungguh, ia hampir saja kaget setengah mati! Kalau ternyata anaknya menulis surat cinta untuk gadis ini, bisa-bisa ia pingsan di tempat!
Qiao Yi yang biasanya bicara saja ogah dengan perempuan lain, kalau benar-benar menulis surat cinta untuk Fei’er, ia pasti akan mengikat gadis itu pulang ke rumah!
Yu Fei’er buru-buru memasukkan kertas itu kembali ke dalam amplop. Saat itu, ia menemukan ada sebuah foto di dalamnya.
Dengan rasa penasaran, ia menarik sudut foto itu ke atas. Begitu melihat jelas siapa yang ada di foto, ia kembali terpaku!
Foto bertanda tangan...
Itu adalah foto Qiao Yi, lengkap dengan tanda tangannya!
Astaga, hari ini benar-benar penuh keberuntungan!
Ia bahkan mendapat foto bertanda tangan darinya!
Yu Fei’er menutup mulutnya dengan satu tangan, wajahnya memerah, membayangkan hal-hal yang indah.
Rangkaian ekspresinya itu membuat Jinyayi semakin penasaran sampai tak bisa duduk tenang. Ia ingin bertanya, tapi khawatir dianggap tidak sopan. Namun jika tidak bertanya, mungkin ia takkan bisa tidur nyenyak selama beberapa hari ke depan!
Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya dengan wajah cemas, “Fei’er, apa ada kabar baik? Kenapa tiba-tiba kamu jadi sangat bahagia?”
Kalau terlalu blak-blakan, bertanya secara tidak langsung pasti boleh, kan?
Wajah Yu Fei’er masih dihiasi senyum yang belum sempat ia sembunyikan. Ia menatap Jinyayi dan menjawab, “Itu hadiah dari temanku. Aku sangat menyukainya.”
Soal isinya, ia rasa tak pantas diceritakan, lagipula ini menyangkut privasi seorang artis.
Yu Fei’er tahu Jinyayi sangat penasaran, tapi ia juga tak mengerti mengapa wanita itu jadi begitu heboh.
“Oh, begitu ya? Hadiah apa, kalau boleh tahu?” Jinyayi belum mau menyerah, masih terus bertanya.
Sebuah amplop, paling-paling isinya hanya selembar kertas, kan?
Tiba-tiba ekspresi Jinyayi berubah. Jangan-jangan anak itu cuma ngasih uang? Betapa tak romantis dan tak kreatifnya hadiah seperti itu!
Tapi, Fei’er sepertinya bukan tipe yang akan bahagia hanya karena uang. Pasti barang lain, kan?
Sebenarnya apa sih? Ia benar-benar dibuat penasaran oleh anaknya yang payah soal urusan asmara itu. Bisa-bisanya memberikan hadiah kejutan seperti ini.
Tapi syukurlah, Fei’er tampaknya sangat senang.
Raut wajah Yu Fei’er sedikit berubah, lalu ia menatap Jinyayi minta maaf, “Maaf, ini soal privasi dia. Aku tidak bisa memberitahu.”
“Tidak apa-apa, itu salahku. Aku memang terlalu penasaran. Jangan sampai Fei’er jadi tidak suka padaku gara-gara ini,” Jinyayi langsung merasa tidak enak, khawatir gadis itu akan ilfeel pada dirinya.
Gadis itu tersenyum manis, sama sekali tak tampak terganggu.
“Tidak apa-apa, Bu, aku tidak keberatan.”
Jinyayi akhirnya bisa bernapas lega, mengangguk menatap gadis itu.
Gadis ini benar-benar menyenangkan!
Saat itu, ponsel Jinyayi berdering. Ia mengambilnya, tersenyum tipis, dan mengangkat telepon.
“Halo, aku sedang di luar, tidak di rumah. Oh, kamu mau ke sini? Baik, akan kukirimkan alamatnya sekarang. Jangan lama-lama ya!”
Ia harus memastikan orang itu tiba sebelum Fei’er pulang! Tentu saja, kalimat itu hanya dalam hati.
Usai menutup telepon, Yu Fei’er menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Teman Ibu mau datang ya? Kalau begitu aku permisi dulu, tidak mau mengganggu,” katanya sambil mulai membereskan barang dan berdiri.
Melihat itu, Jinyayi langsung cemas dan panik. Ia buru-buru berkata, “Fei’er, temani aku sebentar lagi, ya? Lagipula kamu belum makan banyak.”
Langkah Yu Fei’er sempat terhenti, ia menatap Jinyayi dan tersenyum, “Terima kasih, Bu. Aku sudah cukup makan.”
Tidak berhasil!
Melihat Fei’er bersiap benar-benar pergi, Jinyayi jadi makin panik.
Tak ada pilihan lain, maafkan aku, Fei’er!
Tiba-tiba, tubuh Jinyayi yang tadinya baik-baik saja mendadak goyah, lalu ia jatuh terduduk ke belakang.
Yu Fei’er yang sudah berdiri di sampingnya terkejut, untung refleksnya cepat. Ia segera menyangga tubuh wanita itu dan membantunya duduk kembali di kursi. Dengan wajah cemas, ia bertanya,
“Ibu, Anda tidak apa-apa? Perlu saya panggil ambulans?”
Jinyayi memang memegangi kepala, namun wajahnya tetap tampak segar, sama sekali tidak seperti orang sakit.
“Tidak apa-apa, aku istirahat sebentar saja,” ujarnya.
Meskipun wanita itu berkata demikian, Yu Fei’er tetap merasa khawatir. Ia pun berdiri dan berjalan menuju pintu, berniat memanggil sopir yang tadi mengantar mereka.