Bab 46 Sumber Malapetaka
Malam itu, Qin Shi kembali tidak ada di rumah. Qin Qiao juga pergi keluar untuk bermain dengan teman-temannya. Di rumah hanya tersisa seorang diri—Xie Wan.
Keadaan seperti ini sudah berlangsung hampir sebulan. Ia bagaikan seorang istri yang dikurung di dalam kamar pingitan yang mendalam. Suaminya tidak ada, putranya juga tidak ada, ia tinggal seorang diri dengan perasaan yang cukup kesepian, terutama di usianya yang sedang bernafsu besar ini, membuatnya semakin tidak tahan kesepian.
Dulu memang ada kalanya Qin Shi lembur dan tidak pulang ke rumah pada malam hari, tetapi tidak pernah ada kondisi di mana ia tidak pulang selama beberapa hari berturut-turut seperti sekarang. Belakangan ini, suaminya sudah sangat lama tidak bermalam di rumah.
Ia pernah mencium bau parfum wanita pada diri Qin Shi, serta melihat sehelai rambut wanita. Ia sempat bertengkar hebat dengan Qin Shi. Qin Shi sudah menjelaskan kepadanya berkali-kali bahwa dirinya tidak berselingkuh, tetapi setiap malam pria itu tidak tidur di rumah dan tidak memberitahunya pergi ke mana.
Ia sempat mengadu sambil menangis kepada Qin Qiao. Di awal, Qin Qiao masih bisa mendengarkan dengan sabar dan memberikannya sedikit saran, tetapi setelah terjadi kesekian kalinya, pemuda itu pun merasa jengkel. Setiap kali ia mendesak ibunya untuk segera menyelesaikan bicaranya dengan tidak sabar, lalu pergi keluar untuk bersenang-senang dan berpesta pora seorang diri.
Putranya sudah besar, ia tidak mampu lagi mengendalikannya. Setidaknya, Qin Qiao tidak pernah meminta uang kepadanya setiap kali pergi bermain keluar, yang sedikit banyak masih membuatnya merasa agak bersyukur.
Qin Qiao juga sudah mulai bekerja, jadi untuk pengeluaran pribadinya ia sudah tidak begitu banyak meminta kepada keluarga. Sekarang pemuda itu bahkan masih mampu membiayai pengeluaran narkobanya.
Kekecewaan terhadap suami membuat hati Xie Wan semakin kesepian dan ingin mencari pelipur lara. Curhat kepada sahabat karib pun tidak mampu menyelesaikan kebutuhan hasratnya, sehingga ia hanya sesekali mencari pria panggilan untuk memuaskan dirinya sendiri.
Hingga pada suatu hari, ketika ia merasa sudah muak dengan semuanya, ia bertemu dengan seorang kenalan lama di sebuah bar—cinta pertamanya.
Sudah bertahun-tahun berlalu dalam sekejap mata. Kedewasaan dan ketenangan Xu Pingchang telah menggantikan kepolosan masa SMA-nya dulu. Bocah yang tadinya ingusan itu kini telah menjelma menjadi pria impian yang dikejar-kejar oleh banyak wanita. Baru saja melewati usia kepala empat, ia tampak sangat memesona. Saat melihat Xie Wan, hanya sebersit keterkejutan yang melintas di matanya, lalu ia langsung menyapa wanita itu sambil tersenyum.
X