5. Foto Mesum Bertebaran di Mana-mana

Bem selvagem Limão Aromático 1770kata 2026-08-03 06:05:58

Halaman (1/3)

Shu Yu berdiam diri di rumah selama seminggu. Berita perceraiannya telah tersebar luas, menjadi buah bibir di lingkungannya. Telepon dan pesan di WeChat tidak henti-hentinya masuk, namun ia hanya ingin mengabaikan semuanya dan menjauh dari kebisingan itu.

Lu Yuxiao mengiriminya pesan, isinya ada yang berupa permohonan maaf, namun lebih menekankan agar Shu Yu tutup mulut.

Keluarga Lu tidak sanggup menanggung malu.

Pria keparat.

Punya keberanian untuk menjadi penyuka sesama jenis, tapi tidak punya nyali untuk mengakuinya. Benar-benar sampah!

Jika bukan karena ia belum mengetahui siapa pria di balik layar yang menjadi kekasih Lu Yuxiao, Shu Yu tidak akan pernah mau menahan diri seperti ini. Selama dua puluh enam tahun, ia terlalu mudah dikendalikan. Ia pikir selama ia menjadi orang yang patuh, manis, dan pengertian, maka tidak akan ada masalah.

Selama tiga tahun menikah dengan Lu Yuxiao, mereka hidup dengan saling menghormati layaknya tamu. Dulu, ia sempat mengira Lu Yuxiao adalah pria yang penuh perhatian dan lembut. Ia bahkan dengan bodohnya mencurahkan isi hatinya kepada pria itu, menceritakan segala kekecewaannya terhadap sang ibu.

Di awal pernikahan mereka, Shu Yu selalu menganggap Lu Yuxiao tidak menyentuhnya karena ingin memberinya waktu dan ruang untuk beradaptasi dengan hubungan mereka.

Karena desakan Shu Huazhen, pernikahan mereka tergolong kilat. Shu Yu bahkan sempat merasa berterima kasih atas perhatian yang diberikan pria itu.

Namun, siapa sangka ternyata dirinya hanyalah alat yang digunakan Lu Yuxiao untuk menutupi orientasi seksualnya.

Saat melihat foto panas Lu Yuxiao sedang berciuman dengan seorang pria, seluruh darah di tubuh Shu Yu seolah membeku. Tatapannya seakan ingin menembus foto tersebut.

Ternyata Lu Yuxiao bukan pria yang tidak memiliki hasrat, hanya saja sialnya, hasratnya adalah untuk digarap oleh pria lain!

Sampai detik ini, pria itu bahkan masih punya muka untuk memintanya menutupi kebobrokannya.

Di ruang musik, jemari Shu Yu menari semakin cepat dan rapat di atas tuts piano. Akhirnya, ia membanting kedua tangannya ke atas tuts dengan napas yang memburu. Perasaannya tetap tidak bisa tenang.

Ponselnya terus berdering selama beberapa hari ini. Ia bahkan tidak perlu melihatnya untuk tahu betapa ramainya dunia luar.

Perceraian pasangan dari perusahaan kecil mungkin tidak akan menjadi berita utama, tetapi reputasi tangan besi ibunya, Shu Huazhen, di dunia bisnis, ditambah dengan latar belakangnya sebagai pianis jenius saat remaja, menjadikannya topik pembicaraan di kalangan elit kota ini.

Adakah