Bab 036: Kebetulan yang Tak Terduga!
Akhirnya, setelah seharian sibuk dengan bursa kerja, Liu Yi secara refleks meregangkan tubuhnya, wajahnya yang anggun dan memesona menampilkan pesona lelah yang memikat. Mungkin Liu Yi terlalu meremehkan ukuran dadanya yang menggantung, atau terlalu percaya diri dengan kelonggaran kemeja yang ia kenakan, sehingga gerakan meregang yang biasa saja hampir saja membuat bagian dadanya yang penuh itu menerobos keluar dari balutan kain.
Kancing kemeja putih yang ia kenakan tampak menegang, dan melalui celahnya samar-samar terlihat kulit putih bersih di dalamnya. Di dalam aula yang dipenuhi lautan manusia, banyak pria yang datang mencari pekerjaan. Tak heran, gerakannya itu pun menarik perhatian banyak pria yang kebetulan melintas.
Beberapa pemuda yang tampak jelas baru saja lulus dan hendak mencari kerja, secara refleks berbalik badan setelah melihat pemandangan itu, lalu dengan tergesa-gesa mengeluarkan tisu dari saku celana, seolah sedang mengusap mimisan.
Bursa kerja milik Grup Tianyu hanya diadakan pada pagi hari, tidak ada sesi di sore harinya. Lagi pula, hanya pagi itu saja Liu Yi sudah menerima ratusan berkas lamaran, padahal posisi yang dibutuhkan tidak banyak, sehingga jumlah itu sebenarnya sudah lebih dari cukup.
Liu Yi kemudian memerintahkan asistennya untuk membereskan barang-barang dan bersiap meninggalkan tempat. Entah mengapa, saat menatap setumpuk berkas lamaran yang tebal itu, sosok Ye Feng secara tak sengaja terlintas di benaknya.
Bukan berarti pertemuan pertama saja Liu Yi sudah terpesona oleh Ye Feng, itu terlalu berlebihan. Hanya saja, cara Ye Feng melamar kerja memang meninggalkan kesan yang cukup dalam. Selama bertahun-tahun menjalani proses rekrutmen, baru kali ini ia menemukan pelamar yang begitu unik; berkas lamarannya tak ada yang menonjol selain foto diri yang dipasang.
Apalagi, posisi yang dilamar adalah di Grup Huayu, salah satu dari lima puluh perusahaan terkuat di negeri ini, tempat banyak orang berlomba untuk bisa masuk. Cara Ye Feng melamar, jika dibilang santai, mungkin terdengar baik, tapi jika dibilang tidak serius, juga tidak salah.
Dari sekian banyak berkas lamaran yang ia terima, Liu Yi mendapatkan calon karyawan dengan pendidikan tinggi dan pengalaman kerja yang kaya. Jika dibandingkan, kelemahan Ye Feng sangat jelas.
Baik dari sudut pandang perusahaan maupun tanggung jawab pribadinya sebagai perwakilan perusahaan, Liu Yi tidak akan memilih Ye Feng dibandingkan para pelamar lain yang jauh lebih unggul.
Tak bisa dipungkiri, Ye Feng memang meninggalkan kesan yang unik dan cukup baik. Namun, Liu Yi tidak akan memberikan perlakuan khusus hanya karena kesan itu. Ia bukan wanita yang mudah tergoda, melainkan seorang perempuan berprinsip.
Mungkin jika kelak ada kesempatan, mereka bisa menjadi teman, namun bila menyangkut prinsip pekerjaan, Liu Yi akan tetap profesional karena ia harus bertanggung jawab atas posisi yang ia emban di Grup Huayu.
Beberapa staf dari Departemen Sumber Daya Manusia Grup Huayu yang turut serta dalam proses rekrutmen pun sedang membereskan tempat, sementara Liu Yi sendiri tidak perlu repot.
Ia memasukkan seluruh berkas lamaran ke dalam sebuah tas, lalu meninggalkan bursa kerja. Di area parkir luar, ia masuk ke mobil sedan Passat putih, melajukan kendaraannya menjauhi bursa kerja dan menuju gedung utama Grup Huayu.
Ia ingin segera kembali ke kantor untuk menelaah lagi berkas-berkas pelamar, demi menyaring calon-calon yang berpotensi bagi perkembangan perusahaan di masa depan.
...
Jalan Jinhua, Gedung Utama Grup Huayu.
Jalan Jinhua adalah kawasan keuangan paling terkenal di Kota Nanhai, deretan gedung tinggi menjulang, berbagai kantor mewah berdiri tegak di sini. Perusahaan mana pun yang memiliki kekuatan pasti akan memilih kantor di kawasan ini.
Di kawasan yang setiap jengkal tanah bernilai tinggi itu, gedung berlantai dua puluh lima milik Grup Huayu tampak paling menonjol dan memukau.
Liu Yi mengemudikan mobilnya memasuki area parkir gedung, setelah memarkir ia membawa tas berisi berkas lamaran, kemudian melangkah masuk ke dalam perusahaan.
Sambil berjalan, ia membuka beberapa berkas dan membacanya. Setelah mendorong pintu kaca gedung, ia terus berjalan ke depan, matanya masih terpaku pada berkas yang dibaca.
Karena fokus pada berkas, Liu Yi tidak memperhatikan situasi di depannya. Saat itu bertepatan dengan jam makan siang, pintu lift terbuka dan banyak orang berhamburan keluar.
“Ah—”
Tanpa diduga, Liu Yi menjerit pelan. Seorang pegawai baru secara tak sengaja menabrak lengannya, hingga tas yang dibawa Liu Yi terjatuh dan berkas-berkas di dalamnya berserakan.
“Maaf, maaf, saya benar-benar tidak sengaja.”
Terdengar suara permintaan maaf yang gugup, dari seorang pria muda yang tampaknya baru saja bergabung di Grup Huayu.
“Tidak apa-apa,” jawab Liu Yi. Ia lalu berjongkok untuk memunguti berkas-berkas yang berceceran di lantai.
Tok, tok, tok—
Dari belakang, Liu Yi mendengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berirama. Aroma wangi yang lembut pun menyeruak, lalu seorang wanita cantik menawan, luput dari segala cela, mendekat dan ikut berjongkok, membantu Liu Yi memunguti berkas-berkas itu.
Liu Yi menoleh, dan saat melihat jelas sosok wanita anggun nan mempesona itu, wajahnya seketika berubah, buru-buru berkata, “Nona Xiao, ini hanya berkas saya yang jatuh, biar saya saja yang urus.”
“Aku baru saja sampai di kantor, melihatmu memunguti berkas di lantai, jadi aku membantu saja. Ini berkas para pelamar yang ikut seleksi hari ini, kan?” Wanita itu mengangkat wajahnya, kecantikannya nyaris membuat orang terengah, sorot matanya yang bening berkilauan memancarkan pesona yang sulit diungkapkan.
Tak lain, wanita itu adalah putri sulung keluarga Xiao, Xiao Wanqing, yang kemarin siang sempat menjadi sasaran percobaan penculikan di Gedung Bank Huaxia!
“Benar, Nona Xiao. Ini semua berkas pelamar yang kami terima hari ini,” jawab Liu Yi.
“Kalau begitu, perjuangan kalian masih belum selesai. Semoga kalian bisa mendapatkan lebih banyak talenta yang bermanfaat bagi perusahaan.” Xiao Wanqing tersenyum tipis, sembari meraih salah satu berkas yang terjatuh. Tatkala matanya melirik, ia tanpa sengaja melihat foto yang sangat mencolok menempel di berkas itu.
Sekejap, Xiao Wanqing seperti tersambar petir dan terdiam di tempat.
Ini adalah sebuah berkas lamaran yang sangat sederhana, hanya berisi beberapa baris saja, bahkan sampai menuliskan ‘jenis kelamin laki-laki, hobi perempuan’ di dalamnya, membuat siapa pun yang membacanya pasti akan terdiam.
Mungkin bagian paling mencolok dari berkas ini adalah foto pelamarnya: wajah tampan dan maskulin, garis-garis tegas, tatapan mata yang dalam seolah menutupi kisah kelam, dan senyum samar di sudut bibirnya... Secara keseluruhan, inilah foto seorang pria yang pasti membuat orang menoleh dua kali.
Tatapan Xiao Wanqing tertuju pada foto ukuran satu inci itu.
“Itu dia?! Benar, ini benar-benar dia! Mana mungkin aku lupa, dia lah yang kemarin menyelamatkanku di Gedung Bank Huaxia! Tak kusangka setelah seharian mencari tahu diam-diam, aku tak juga mendapat kabar, ternyata malah menemukan lamarannya di perusahaanku sendiri! Sungguh, ini takdir!”
Hati Xiao Wanqing bergelora hebat, perasaan haru dan gembira sulit ia sembunyikan. Sebab ia yakin betul, pria di dalam foto berkas lamaran itu tak lain adalah Ye Feng, yang kemarin berhasil menyelamatkan dirinya dari insiden penculikan di Gedung Bank Huaxia!