Bab Dua Puluh Tujuh: Invasi Dewa Najis Siapakah Raja Makhluk Najis? Akulah Raja Makhluk Najis.
Namun, sepertinya aku juga bisa jadi orang kaya tanpa harus bergantung pada orang lain, bukan? Bagaimanapun, aku punya begitu banyak karya dari kehidupan sebelumnya. Selain itu, sebagai seorang penjelajah ruang dan waktu dari dunia paralel, bukankah terlalu sia-sia kalau aku tidak melakukan sesuatu yang luar biasa dalam hidup ini?
Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk mengesampingkan gagasan yang menggoda itu. Bagaimanapun juga, sebagai Raja Kegelapan yang agung... ah, sial! Salah, maksudku, sebagai gadis imut berjiwa besar... ah, sial lagi! Bukan juga, sebagai sumber dari segala kejahatan... astaga! Sepertinya ada sesuatu yang mengendalikan pikiranku!
Mana mungkin aku seburuk itu? Aku kan dikenal sebagai perwujudan manusia paling murni di abad dua puluh satu. Pasti jiwa masa laluku, yang pernah menempati tubuh ini, selalu berusaha menggunakan kekuatan gelapnya untuk mempengaruhiku dan menjadikanku Raja Kegelapan. Tak kusangka, ternyata diriku yang dulu seperti itu, begitu rusak moralnya.
Atau mungkin, bisa saja diriku yang dulu juga menyeberang ke dunia lain, lalu berubah menjadi Raja Kegelapan di sana. Karena perbedaan waktu, mungkin di dunia ini baru beberapa bulan berlalu, sementara di dunia lain itu sudah puluhan atau ratusan tahun, dan diriku yang lama sudah berhasil menyalakan api dewa, duduk di singgasana agung, dan menjadi dewa kegelapan di dunia itu. Lalu, karena kekuatan gelapnya terlalu besar, ia mulai perlahan-lahan merasuki tubuhku ini!
Sial, apa-apaan yang kupikirkan? Kenapa pikiranku melantur sejauh ini!
Aku buru-buru menarik kembali semua imajinasi yang tak masuk akal itu.
Memandang Yan, aku berpikir sejenak lalu berkata, “Begini saja! Kita masih muda, belum dewasa. Ini bukan hal yang seharusnya kita pikirkan sekarang. Bagaimana kalau kita serahkan saja pada takdir? Kalau memang jodoh, kita pasti akan bersama pada akhirnya. Kalau tidak... ya, tidak perlu dipaksakan, kan?” (Haha! Gadis sudah mengantarkan diri, malah kau tolak. Nasibmu memang hidup sendiri selamanya!)
“Kau sudah menyukai gadis lain, ya?” Yan menatapku tanpa ekspresi.
“Jangan berpikiran macam-macam. Sementara ini belum, aku hanya tidak ingin terlalu cepat memutuskan. Begitu juga denganmu, kita masih anak-anak.” Aku ini masih anak-anak, sungguh...
“Tak apa, aku bisa menunggu... menunggu tiga tahun, sepuluh tahun, bahkan seratus tahun. Tapi suatu hari nanti, kau pasti akan jadi milikku!”
Waduh, kenapa bicara seberani itu? Rasanya hatiku sudah mencair!
Tapi tetap saja aku tak setuju. Entah kenapa, aku merasa kalau aku menerima, pasti aku akan celaka. Walaupun aku tak tahu apa alasannya.
Aku lalu menemani Yan mengenang masa kecil, tapi bagiku tak ada yang bisa dikenang. Soalnya, diriku yang dulu bukanlah diriku yang sekarang. Membicarakan masa lalu dengan orang lain terasa sangat canggung.
...
Setelah jalan-jalan bersama Yan di tepi danau selama satu dua jam, aku pun pamit. Aku merasa tidak nyaman, sebab Shinguu Yan terus-menerus membicarakan betapa baiknya diriku yang dulu. Saat itu aku sadar, ia menyukai diriku yang lama, bukan aku yang sekarang. Rasanya seperti ada orang yang berkata di depanku betapa ia menyukai orang lain; sungguh canggung!
Akhirnya, aku tak tahan lagi dan ingin segera pergi!
Melihat wajahku yang mulai tidak sabar, Shinguu Yan tampak gelisah, tak tahu apakah ia telah melakukan kesalahan. Dengan wajah memelas, ia berkata, “Ye Qiu, ada apa? Apa aku bilang sesuatu yang salah?”
Melihat wajahnya yang kasihan, aku buru-buru menenangkannya, “Tak apa. Aku hanya tiba-tiba teringat ada urusan, jadi untuk sementara tak bisa menemanimu lagi.”
“Kalau begitu, kau pergi saja dulu. Tak perlu khawatir denganku. Nanti aku pulang sendiri,” kata Yan lega setelah tahu bukan dirinya yang bersalah.
“Sebaiknya tetap kuantarkan kau pulang. Bagaimanapun, kau sendirian. Meski keamanan di sini bagus, kalau-kalau terjadi sesuatu akan repot,” jawabku setelah berpikir sejenak.
“Tak perlu, Ye Qiu. Kalau kau ada urusan, pergilah. Tak perlu buang waktu hanya untuk mengantarkan aku. Lagi pula, sopirku akan menjemputku,” ucapnya dengan pandangan penuh perasaan.
“Baiklah, kalau memang ada sopir yang menjemput.” Aku pun tak memperpanjang lagi.
......
Setelah berpisah dengan Shinguu Yan, aku langsung pulang ke rumah. Melihat jam sudah hampir pukul enam sore, aku mencari Rem. Ternyata, Rem yang biasanya di rumah, hari ini tidak ada entah ke mana. Akhirnya aku memasak sendiri, dan baru saja selesai, Luo Tianyi sudah pulang!
Aku menepuk dahi, lalu memasak satu porsi lagi.
Setelah selesai, aku menyodorkan sepiring besar makanan pada Luo Tianyi.
“Tianyi, kenapa kamu pulang lebih awal? Kenapa tidak makan di luar?” (Hei, kamu mikir apa sih?)
“Sekarang sudah sore, bukan lebih awal!” kata Luo Tianyi sambil memiringkan kepala, heran kenapa kakaknya kelihatan tidak senang. Bukankah sudah malam? Apa kakak tidak suka aku pulang?
“Iya, sudah sore. Tapi kenapa kamu tidak makan malam dulu di tempat gengmu sebelum pulang? Kan bisa menghemat makanan.” (Astaga! Ternyata kau punya pikiran begitu, masih pantas disebut kakak?)
“Eh? Gengku? Maksudnya mereka? Kenapa mereka jadi gengku? Kenapa juga aku harus makan di tempat mereka? Aku pulang karena ingin makan masakan kakak. Mereka sudah mengajak aku makan enak, tapi aku tidak mau. Kakak, apa kakak tidak suka aku pulang?” Suara Luo Tianyi mulai bergetar, nyaris menangis.
Melihat situasi gawat, aku buru-buru memeluk adikku dan menenangkan, “Hei, Tianyi, jangan berpikir macam-macam. Mana mungkin kakak tidak suka kamu? Kakak malah sangat sayang sama kamu. Barusan kakak cuma salah bicara, itu salah kakak. Maafkan kakak, ya?”
“Benar? Kakak tidak membenciku?” tanya Luo Tianyi dengan mata memerah.
“Tidak, sungguh tidak. Kakak janji, kalau bohong jadi anak anjing deh!”
“Hmph! Kakak anak anjing!”
“......”