Bab Tiga Puluh Sembilan: Siapa Pria yang Kau Sebut Namanya!
Halaman (1/3)
Luo Zining menyadari gerakan Song Xinghe. Ia menekuk lutut untuk menghentikannya.
Song Xinghe mengeraskan hati.
Tak peduli Luo Zining menolak atau tidak, ia akan terus melakukannya.
Namun, sudut bibirnya terasa dingin.
Dingin membekukan, seolah-olah tubuhnya sendiri ikut membatu.
Sambil menopang tubuhnya, Song Xinghe melihat wajah Luo Zining yang basah oleh air mata. Ia terisak tanpa suara seperti seorang anak kecil.
Darah yang bergolak di dalam tubuhnya seketika menjadi tenang.
“Luo Zining, semua pria bisa menjadi kekasihmu. Kenapa hanya aku yang tidak boleh?” bentak Song Xinghe.
Luo Zining terus menangis tanpa suara.
Air matanya membasahi rambut di pelipis.
Amarah di dada Song Xinghe semakin membara. Ia tertawa mengejek diri sendiri, lalu bergumam, “Semua orang tahu kau mencintaiku. Mereka tahu kau mencintaiku sampai mati. Semua orang bilang kau tidak akan bisa hidup tanpaku. Tapi sekarang, saat kau berbaring di ranjangku, pria yang ada dalam pikiranmu siapa? Pria yang kau panggil dengan bibirmu itu siapa?”
Sejak kecil, ia sudah tahu bahwa Luo Zining lebih dekat dengan Song Nanbei. Usia mereka sebaya, memiliki kegemaran yang sama, dan selalu punya bahan pembicaraan.
Namun, semua orang berkata bahwa Luo Zining beberapa kali masuk rumah sakit demi menikah dengannya. Siapa yang tahu bahwa dua kali Luo Zining dirawat di rumah sakit itu terjadi karena Song Nanbei? Pertama, ketika Song Nanbei pergi ke luar negeri. Kedua, ketika ia tahu Song Nanbei telah memiliki kekasih di sana.
Apakah ia mencintainya?
Tidak.
Ia hanya berpura-pura mencintainya. Terlalu lama berpura-pura hingga Luo Zining sendiri pun melupakannya.
Song Xinghe pernah melihat seperti apa Luo Zining ketika mencintai Song Nanbei. Karena itu, ia tahu bahwa Luo Zining tidak mencintainya—tidak pernah mencintainya!
Setiap kali melihat Luo Zining bersikap tenang di hadapannya, seolah-olah robot tanpa emosi, bahkan ketika menyaksikan para wanita terus-menerus berada di sisinya tanpa menunjukkan reaksi apa pun, ia nyaris menjadi gila. Ia ingin sekali merobek topeng ketenangan yang dikenakan Luo Zining.
Yang diinginkannya adalah seorang istri yang hidup dan penuh perasaan, bukan istri yang begitu lapang dada hingga sanggup menoleransi wanita-wanita lain di luar pernikahan mereka!
Luo Zining meringkuk di kursi. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tanpa terkendali.
Sepasang mata besar yang jernih dan bersih menatap lurus ke langit-langit mobil, kosong sekaligus kesepian.
Tak seorang pun tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Melihat seluruh tubuh Luo Zining memancarkan kehancuran, hati Song Xinghe diliputi rasa iba. Namun, tangan yang baru saja diulurkannya belum sempat menyentuh Luo Zining ketika wanita itu sudah menghindar dengan panik. Wajahnya penuh ketakutan, seolah-olah merasa gentar sekaligus gelisah.
Jakun Song Xinghe bergerak naik turun. Ia mengepalkan tangan dan duduk dengan marah di sampingnya.
Sopir naik ke mobil lalu menurunkan sekat pemisah. Ia bahkan tidak berani terlalu banyak menoleh.
“Tuan Muda Song, apakah kita kembali ke rumah utama?” tanya sopir.
Song Xinghe menjawab singkat.
Sosok mungil yang meringkuk seperti gumpalan itu seakan baru tersadar dari mimpi. Tubuhnya semakin gemetar, bahkan giginya beradu tanpa henti.
“Jangan.”
Mata jernihnya kini sama sekali tak memancarkan cahaya, hanya kelabu dan suram, seolah-olah telah kehilangan seluruh keterikatannya pada dunia. Suaranya serak hingga hampir tak terdengar. Bibirnya bergetar.
“Tolong, jangan kembali.”
Kata-kata yang hancur itu dengan susah payah tersusun menjadi satu kalimat.
Song Xinghe menatapnya dalam diam. Tubuhnya terasa sedikit kebas.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Selama bertahun-tahun, jarang sekali ia melihat Luo Zining tampak begitu terluka. Ketika orang tua Luo Zining meninggal dan ia baru saja dibawa ke keluarga Song, gadis itu sangat pendiam—sedemikian pendiam hingga seolah-olah tidak ada.
Kemudian, setelah berhasil keluar dari kepedihan kehilangan orang tuanya, senyum pun mulai kembali menghiasi wajahnya.
Lalu, pada malam ketika Song Nanbei pergi ke luar negeri, Luo Zining nyaris menjadi gila…
“Kita ke Teluk Xiangshui.”
Pada akhirnya, hati Song Xinghe melunak. Ia memberikan perintah dengan suara rendah.
Ketegangan Luo Zining sedikit mereda, tetapi tubuhnya masih tetap kaku. Ia meringkuk di kursi sambil memeluk lutut. Tubuhnya kecil, tetapi punggungnya ia tegakkan dengan keras kepala, seperti rumput kecil yang tak pernah mau menyerah.
Teluk Xiangshui.
Luo Zining meringkuk di dalam bak mandi. Air hangat menyelimuti tubuhnya, tetapi tak mampu menghangatkan hatinya yang dingin.
Ia kedinginan hingga giginya bergemeletuk.
Begitu memejamkan mata, malam itu kembali muncul—malam yang baginya tak ubahnya mimpi buruk.
Malam yang telah berlalu bertahun-tahun, tetapi hanya dengan mengingatnya saja tubuhnya masih gemetar dan pikirannya nyaris runtuh…
Pergelangan tangannya terasa sangat sakit.
Kakinya juga terasa sangat sakit.
Seolah-olah sebilah pisau mengiris dagingnya, merobek luka dengan kasar, menaburkan garam di atasnya, lalu menjemurnya di bawah terik matahari. Setelah luka itu mengering dan berkeropeng, luka tersebut kembali dikoyak, berulang hingga ratusan bahkan ribuan kali.
Matanya menatap jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Jam itu telah dipakainya selama empat tahun.
Bahkan ketika mandi pun ia tak pernah melepaskannya.
Sebab, setiap saat ia tak ingin melihat bekas luka buruk yang tersembunyi di bawah jam tersebut…
Tok, tok, tok!
Ketukan di pintu kamar mandi membuat Luo Zining tersadar dari lamunannya.
“Berapa lama lagi kau mau menguasai kamar mandi itu?”
Suara dingin tersebut terdengar jelas di telinganya.
Luo Zining menundukkan mata, menjawab singkat, lalu berusaha bangkit dari bak mandi.
Mungkin karena terlalu lama berendam, begitu ia menopang tubuh untuk keluar, pandangannya mendadak menghitam dan tubuhnya tak terkendali jatuh kembali.
Ia terjerembap ke dalam bak mandi dan mengerang tertahan.
“Luo Zining!”
Mendengar suara benturan dari luar, Song Xinghe menerobos masuk dan mengangkat tubuh mungil itu dari dalam bak mandi.
Air di dalam bak telah lama menjadi dingin.
Tubuh Luo Zining pun terasa dingin, tetapi ia sama sekali tidak menyadarinya.
Alis Song Xinghe berkerut erat. Lengannya yang melingkari Luo Zining tanpa sadar mengencang.
“Bagian mana yang terbentur?” tanya Song Xinghe dengan suara rendah setelah membaringkannya di ranjang.
Kepala Luo Zining terasa sangat pusing, tetapi seluruh tubuhnya juga terasa membara. Ia melingkarkan tangan di leher Song Xinghe, seperti dalam mimpi-mimpi yang selalu didatangi setiap malam.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Sepasang mata hitam pekat yang penuh kasih tengah menatapnya dengan cemas.
Saat ini, kedua mata itu hanya memuat dirinya seorang, tanpa ruang bagi siapa pun yang lain.
Betapa indahnya berada di dalam mimpi.
Saat terjaga, Song Xinghe tak pernah menatapnya dengan kasih sayang seperti ini. Tatapan penuh cinta itu hanya diberikannya kepada wanita-wanita lain.
“Xinghe,” gumamnya pelan. Suaranya dipenuhi kepedihan dan keengganan yang menyayat hati.
Song Xinghe mengira ia jatuh cukup keras. Ia menyingkirkan tangan Luo Zining dan hendak mencari dokter.
Namun, Luo Zining memeluknya erat-erat.
“Jangan pergi.”
Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Song Xinghe, menempelkan seluruh tubuhnya, lalu dengan berani menyodorkan bibir merahnya. Dengan gerakan kikuk, ia menelusuri bibir Song Xinghe.
Lengannya yang halus melingkari tubuh pria itu. Aroma harum yang menyengat memenuhi indera penciuman.
Ia sama sekali tidak mengenakan pakaian. Hanya dengan menundukkan kepala, seluruh tubuhnya sudah terlihat jelas.
Tubuh Song Xinghe menegang.
Terkejut sekaligus diliputi perasaan yang rumit.
Luo Zining tak pernah berinisiatif mendekatinya. Bahkan ketika berciuman pun, ia selalu menghindar dan berkelit di bawah sikap dominan Song Xinghe.
Mengapa tiba-tiba ia bersikap demikian?
Apakah ia kembali salah mengira dirinya sebagai orang lain?
Bibirnya begitu lembut, napasnya begitu harum.
Namun, saat ini, ketika Luo Zining menciumnya, apakah orang yang ada dalam pikirannya benar-benar dirinya?
Song Xinghe tidak mendorongnya. Mata hitamnya menatap Luo Zining lekat-lekat, sementara suaranya terdengar serak.
“Luo Zining, lihat baik-baik siapa aku.”
Asalkan ia dapat menyebut namanya.
Asalkan ia tahu siapa yang sedang diciumnya.
Asalkan ia sadar apa yang sedang dilakukannya.
Ia akan rela tenggelam tanpa memedulikan apa pun…
Luo Zining tampak linglung sesaat.
Mengapa mimpi ini mendadak menjadi begitu jelas?
Bibir tipis Song Xinghe terkatup rapat. Jari-jarinya yang panjang mencengkeram dagu Luo Zining, memaksanya bertatapan langsung.
Perutnya menegang hebat, tetapi berkali-kali ia menahan diri.
Dengan suara parau, ia bertanya, “Jawab aku. Siapa aku?”
Halaman (3/3)