Bab Empat Puluh Delapan: Dialah Lu Zining
“Nyonya, mau pindah lagi?” Bibi Liu melihat Lu Zining kembali mengangkat beberapa koper besar, namun sama sekali tidak berniat membantu. Ia duduk di samping sambil menggigit buah apel.
Koper-koper ini baru saja dibawa pergi tidak lama, lalu dikirim kembali. Bahkan barang-barang di dalamnya belum sempat ditata dengan benar, dan sekarang Lu Zining harus pindah lagi.
Katanya mau bercerai, tapi sampai sekarang juga belum cerai.
Malah bolak-balik repot mengurus koper.
Jika terus direpotkan seperti ini, kopernya bisa hancur.
Kalau memang ingin ganti koper, bilang saja terus terang. Paling tidak, biarkan kopernya ditinggal untuknya.
Duh!
Sayang sekali barang sebagus itu.
Pantas saja Song Xinghe tidak pernah memiliki kesan yang baik terhadap Lu Zining. Masih muda tapi sama sekali tidak tahu cara mengatur rumah tangga!
Lu Zining menyeka keringat di dahinya, lalu menjawab pelan.
Bibi Liu menghabiskan gigitan terakhir apelnya, membuang biji buah itu ke tempat sampah, lalu melangkah maju untuk membantu, “Sudah pesan taksi?”
Mobil Lu Zining adalah sedan kelas menengah, tidak akan muat untuk membawa begitu banyak koper.
Lu Zining merenung sejenak dan bersiap memesan taksi ketika telepon dari Yao Meilan berdering.
“Zining, malam ini ada jamuan amal, bisakah kamu menggantikan peranku? Beberapa hari terakhir tidurku kurang nyenyak, dokter menyuruhku tidur lebih awal. Pergi ke jamuan itu terlalu melelahkan, tubuhku tidak akan sanggup,” suara Yao Meilan terdengar agak lemah.
Kata-kata penolakan yang sudah di ujung lidah Lu Zining tertelan kembali saat ia mendengar Yao Meilan berkata, “Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Mengingat hubunganmu dengan Xinghe sekarang, wajar saja jika kamu ingin menjaga jarak dariku.”
“Bibi Lan, jam berapa jamuan itu mulai?” tanya Lu Zining lembut.
Yao Meilan langsung mengirimkan alamat dan waktu kepada Lu Zining, serta meminta sopir untuk mengantarkan tiket masuknya.
Bibi Liu berdiri di dekat Lu Zining dan mendengar hampir seluruh isi percakapan itu.
Baguslah!
Hari ini koper-koper itu tidak jadi dibawa pergi lagi.
Yao Meilan kembali mengirim pesan WeChat untuk mengingatkan Lu Zining agar berdandan dengan cermat. Lu Zining kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia mengenakan gaun panjang bergaya Tionghoa dan menyanggul rambutnya dengan tusuk konde. Wajahnya tampak sangat pucat, jadi ia memoleskan riasan tipis.
Jamuan amal adalah tempat yang paling disukai oleh kalangan istri orang kaya di Kota Hai. Mereka semua berdandan dengan anggun dan megah untuk memamerkan status mereka di dalam keluarga. Beberapa istri kaya memamerkan jam tangan berlian yang diberikan suami mereka, sementara yang lain memamerkan tas mewah pemberian suami.
Lu Zining sebelumnya pernah menghadiri jamuan amal bersama Yao Meilan. Alih-alih menyebutnya sebagai kegiatan amal, acara ini lebih tepat disebut sebagai kesempatan untuk memperluas jaringan koneksi.
Ia tidak menyukai suasana seperti ini, dan jika bukan karena keinginan Yao Meilan, ia tidak akan datang.
Lu Zining menyapa para nyonya yang dikenalnya, berniat menyumbangkan sesuatu secara asal untuk formalitas, lalu bersiap untuk pulang.
Namun, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik seseorang.
“Lu Zining, kamu si pembawa sial!”
Bibi Yu tampak tidak secerah sebelumnya. Wajahnya justru memperlihatkan ketuaan dan kelelahan, bahkan cahaya di matanya meredup kelabu, seolah-olah baru saja menerima hantaman besar!
Lu Zining mengerutkan keningnya yang elok.
Ia bahkan belum mendatangi keluarga Yu untuk meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah Yu Si lakukan padanya, lalu atas dasar apa Bibi Yu berani memarahinya sebagai pembawa sial?
“Bibi Yu, aku menghormatimu dan Bibi Lan sebagai sahabat karib selama bertahun-tahun, jadi aku enggan mengucapkan kata-kata kasar kepadamu. Namun, tindakan yang dilakukan putramu itu—apakah kamu ingin aku membeberkannya di tempat umum dan membuat keluarga Yu merasa malu?” tanya Lu Zining dengan tenang.
“Kamu!”
Mata Bibi Yu memerah, menatap Lu Zining dengan tatapan penuh kebencian dan kedengkian.
Memiliki wajah secantik ini, benar-benar wanita pembawa malapetaka!
Itu semua gara-gara dia, sampai-sampai Yu Si miliknya...
Lu Zining menepis tangan Bibi Yu dan berjalan menuju pintu keluar.
Lagi-lagi jalannya dihadang seseorang.
“Kamu yang namanya Lu Zining?”
Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang terawat dengan baik, meskipun tubuhnya sedikit berisi, berdiri menghalangi jalan Lu Zining bagaikan sebuah gunung besar, bahkan cahaya lampu pun ikut terhalang.
Wanita itu berkacak pinggang dengan satu tangan, mengamati Lu Zining dari atas ke bawah dengan tatapan yang sama sekali tidak ramah.
Tatapan itu bahkan mengandung ketajaman dan kepedihan.
Selama bertahun-tahun tinggal di kediaman keluarga Song, Lu Zining telah menemani Yao Meilan menghadiri berbagai acara besar maupun kecil. Sebagian besar nyonya kaya di lingkaran ini sudah pernah ia temui beberapa kali, namun wanita di hadapannya ini tampak sangat asing.
Ia memutar otak sekuat tenaga, tetapi tetap tidak bisa mengingat di mana pernah melihatnya.
Bibi Yu berkata dengan gigi gemeretak, “Benar! Dia memang Lu Zining!”
“Plak!”
Wanita bertubuh besar itu mengayunkan lengannya dan menampar wajah Lu Zining. Lu Zining buru-buru menghindar ke samping, tetapi Bibi Yu keburu mencengkeramnya erat-erat hingga ia tidak bisa bergerak. Meskipun berhasil mengelak dari telak, lengannya tetap terkena hantaman.
Lengan yang putih dan langsing itu langsung memerah, dengan bekas telapak tangan yang tampak menonjol dengan jelas.
Untung saja tamparan itu tidak mengenai wajahnya, kalau tidak separuh wajahnya pasti sudah bengkak.
Melihat tamparannya meleset dari wajah Lu Zining, wanita bertubuh besar itu melampiaskan kemarahannya dengan mengayunkan tamparan sekali lagi.
Bibi Yu mencengkeram Lu Zining dengan kuat, sementara mulutnya berkata manis, “Kalian sebenarnya ada kesalahpahaman apa? Kalau ada salah paham, harusnya duduk bersama dan dibicarakan baik-baik. Selalu menghindar tidak akan bisa menyelesaikan masalah.”
Keringat dingin hampir menetes dari dahi Lu Zining.
Ini sama sekali bukan berniat menyuruhnya duduk untuk menyelesaikan masalah, melainkan sengaja ingin membuatnya menerima tamparan telak itu.
Tepat saat tamparan itu hampir mendarat, Lu Zining mencengkeram lengan Bibi Yu dan dengan cerdik memutar posisi wanita itu untuk dijadikan perisai di depannya.
Sebuah tamparan telak mendarat di wajah Bibi Yu.
“Plak!”
Suara tamparannya begitu nyaring dan jernih.
Bibi Yu yang memang sudah tampak kencang dan kelelahan itu pun terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang.
Setelah tersadar, matanya memerah dan ia memaki, “Perempuan jalang, kamu sudah gila!”
Wanita bertubuh besar itu juga tidak menyangka tamparannya justru mendarat di wajah Bibi Yu. Ada kepanikan yang sulit disembunyikan di wajahnya, dan ia buru-buru menjelaskan, “Lu Zining yang menarikmu dan menjadikanmu perisai di depannya, aku tidak bermaksud memukulmu.”
Bibi Yu ingin menarik Lu Zining kembali ke depan, tetapi Lu Zining terus bersembunyi di balik tubuh Bibi Yu dan menolak untuk keluar.
Ia bukan orang bodoh.
Ia tahu betul bagaimana situasi saat ini.
Jika ia melangkah keluar, ia akan diperlakukan seperti kantong tinju dan dihajar habis-habisan oleh wanita bertubuh besar itu.
Bibi Yu dan wanita bertubuh besar itu mencoba menarik Lu Zining keluar selama beberapa lama namun gagal, dan mereka tidak berani bertindak gegabah karena takut kembali mengenai Bibi Yu. Akhirnya, keduanya saling bertukar pandang, lalu wanita bertubuh besar itu menunjuk ke arah Lu Zining sambil menangis dan memaki.
“Semuanya, datanglah dan lihat! Makhluk jalang inilah yang merayu suamiku. Mengandalkan kecantikan dan usianya yang masih muda, dia melakukan hal-hal tak tahu malu seperti itu. Keluargaku nyaris hancur berantakan gara-gara perempuan jalang ini, benar-benar tidak punya urat malu!”
“Suamiku adalah Wang Zhiguo. Selama bertahun-tahun ini, perhatiannya kepadaku dan keluarga luar biasa besar! Tapi perempuan tidak tahu malu ini bersikeras ingin merangkek naik ke ranjang suamiku. Waktu itu aku nyaris memergokinya di hotel, demi menghindari malu dia nekat melompat dari lantai atas. Belum mati juga si perempuan jalang itu, dasar nyawa kucing!”
“……”
Para istri kaya di lingkaran ini adalah orang-orang yang paling membenci wanita simpanan, karena hampir setiap rumah tangga memiliki masalah pelik dengan pelakor.
Begitu mendengar kata pelakor, ekspresi jijik langsung terukir di wajah mereka semua.
Namun, mereka semua pernah mendengar rumor tentang Song Xinghe dan Lu Zining. Barangkali karena terlalu sering dikhianati suami sendiri, mereka jadi ingin membalas dengan memberikan topi hijau kepada Song Xinghe juga, agar tidak kedinginan saat musim dingin tiba.
Tetapi, kalaupun ingin membalas dendam pada Song Xinghe, tidak seharusnya merebut suami orang lain!
Perilaku seperti ini sungguh sangat keji!
“Lu Zining, katakan sendiri, bukankah tahun itu kakimu patah dan masuk rumah sakit karena melompat dari Hotel Kota Hai? Bukankah malam itu kamu bersama suamiku Wang Zhiguo?” Nyonya Wang bertanya dengan nada tajam dan penuh amarah.