Bab 27: Desas-desus
Setibanya di rumah Zhou Yang, Jiang Qiaoqiao benar-benar dikejutkan oleh kemiskinan yang mereka alami.
Meskipun ia tahu kakak beradik itu hidup sulit, ia mengira mereka setidaknya tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka. Tak disangka, mereka berdua hanya tinggal di gubuk darurat yang disangga batang bambu dan ditutupi terpal bekas yang entah mereka ambil dari tumpukan sampah mana. Jangankan hujan lebat, tiupan angin yang sedikit kencang saja sudah cukup untuk menerbangkan rumah mereka.
"Kakak, kau sudah pulang!"
Begitu Jiang Qiaoqiao mengikuti Zhou Yang sampai di depan gubuk, ia mendengar suara ceria dari dalam. Tak lama kemudian, seorang gadis kecil yang kurus kering merangkak menggunakan kedua tangannya sambil menyeret salah satu kakinya, bergerak mendekati Zhou Yang dengan gembira.
Zhou Yang segera menggendong adiknya. "Ling'er yang pintar, kakimu sedang sakit, bukankah sudah kubilang diam saja di dalam?"
Wajah kecil Zhou Ling'er tampak pucat pasi, bahkan ada butiran keringat di dahinya. Jelas sekali ia sedang menahan rasa sakit. Namun, gadis kecil itu tampaknya sudah terbiasa dengan rasa sakit tersebut dan tidak memedulikannya. Ia hanya mengusap bekas luka memar di kulit Zhou Yang dengan tangan mungilnya, lalu bertanya dengan nada cemas, "Kakak, kau terluka? Apakah sakit sekali?"
Zhou Yang berusaha menarik senyum untuk menenangkan adiknya. "Tidak apa-apa, hanya luka kecil, sama sekali tidak sakit."
Jiang Qiaoqiao yang menyaksikan kakak beradik yang saling mengandalkan ini merasa semakin bersalah. Ia melangkah maju dan berkata pada Zhou Ling'er, "Ling'er, kakakmu terluka saat berduel dengan orang jahat demi melindungiku."
Zhou Ling'er mengerjapkan matanya yang besar dan bening, memandang Jiang Qiaoqiao, lalu menatap Huo Beixiao. Akhirnya, tatapannya tertuju pada wajah Jiang Qiaoqiao. "Kakak peri!"
Jiang Qiaoqiao merasa hatinya meleleh melihat binar di mata Zhou Ling'er. Ia mengulurkan tangan dan mencubit pipi kecil yang kurus itu. "Mulut Ling'er manis sekali."
Zhou Ling'er berkata dengan sungguh-sungguh, "Kakak telah memberi Ling'er dan kakak uang yang banyak, sehingga kami tidak perlu kelaparan. Kakak adalah peri yang cantik dan baik hati."
Hati Jiang Qiaoqiao terasa begitu lembut.
"Kruuk..."
Begitu Zhou Ling'er selesai bicara, perut kecilnya pun berbunyi nyaring. Zhou Yang merasa bersalah dan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Ling'er, maafkan aku, hari ini kakak tidak membawa makanan."
Senyum di wajah Zhou Ling'er tidak pudar sedikit pun. Si kecil justru menghibur Zhou Yang, "Kak, tidak apa-apa, Ling'er juga tidak terlalu lapar."
Melihat betapa pengertiannya Zhou Ling'er, Jiang Qiaoqiao merasa hatinya sesak. Kilasan ingatan lama sempat melintas di benaknya, namun ia segera menepis ingatan itu.
"Ayo, aku akan membawa kalian makan enak."
Begitu Jiang Qiaoqiao selesai bicara, Huo Beixiao masuk ke dalam gubuk dan menyerahkan sebungkus bakpao daging kepada mereka. "Makanlah bakpao ini dulu untuk mengganjal perut."
Zhou Yang menatap Huo Beixiao, lalu beralih ke arah Jiang Qiaoqiao.
"Terima kasih," ucap Jiang Qiaoqiao dengan penuh rasa syukur. Ia mengambil bakpao dari tangan Huo Beixiao dan memberikannya kepada Zhou Yang. "Cepat makan bersama adikmu, nanti kalau dingin tidak enak lagi."
Zhou Yang membuka bungkusan itu. Melihat bakpao daging yang masih panas mengepul, matanya tak kuasa berkaca-kaca. "Kak Beixiao, Kak Qiaoqiao, terima kasih banyak."
Sejak orang tua mereka meninggal, ia dan adiknya sudah terbiasa dengan penghinaan dan tatapan sinis. Sekarang, saat tiba-tiba ada orang yang begitu baik pada mereka, ia justru merasa agak canggung.
Setelah kakak beradik itu selesai makan, Jiang Qiaoqiao dan Huo Beixiao membawa Zhou Yang beserta Zhou Ling'er ke rumah sakit. Zhou Ling'er belum genap lima tahun, tetapi ia sudah tahu bahwa masuk rumah sakit memerlukan banyak uang. Begitu sampai di depan rumah sakit, si kecil menggeliat di punggung Zhou Yang sebagai bentuk penolakan. "Kakak, Ling'er tidak mau ke rumah sakit, ke rumah sakit itu sakit sekali!"
Jiang Qiaoqiao langsung memahami isi hati si kecil. Itu bukan karena takut sakit, melainkan ia tahu biaya rumah sakit sangat mahal dan kakaknya tidak punya uang.
Zhou Yang takut adiknya terjatuh dari punggungnya, jadi ia segera berhenti dan memeluk kaki kecil Zhou Ling'er lebih erat.
Jiang Qiaoqiao mengusap kepala Zhou Ling'er. "Ling'er, kita harus patuh pergi ke rumah sakit untuk mengobati kakimu. Kakak-kakak akan menemani Ling'er, jangan takut."
Ling'er berusaha melepaskan diri dari punggung kakaknya tetapi tidak berhasil. Saat mereka hampir masuk ke rumah sakit, si kecil menjadi cemas hingga matanya memerah dan air mata pun mengalir. Ia menggelengkan kepala dengan panik. "Tidak mau, jangan ke rumah sakit. Ke rumah sakit butuh banyak uang, kakak tidak punya uang..."
Gadis kecil itu akhirnya menangis terisak.
Jiang Qiaoqiao merasa sangat sedih. Anak orang miskin memang lebih cepat dewasa; gadis kecil ini benar-benar pengertian hingga membuat orang merasa iba.
"Ling'er tidak perlu cemas, Kakak punya uang. Kau tidak perlu khawatir akan apa pun, obati saja kakimu dengan tenang, biayanya Kakak yang tanggung," ujar Jiang Qiaoqiao dengan suara yang lebih lembut.
Zhou Ling'er membuka mulut kecilnya, menatap Jiang Qiaoqiao dengan terkejut. Setelah beberapa saat, wajah mungilnya menatap Jiang Qiaoqiao dengan penuh keteguhan. "Kakak peri, terima kasih. Setelah Ling'er besar dan bisa mencari uang, Ling'er pasti akan berbakti pada Kakak."
"Haha!" Jiang Qiaoqiao tak kuasa menahan tawa lagi. "Baiklah, Kakak akan menunggu Ling'er besar nanti. Sebelum Ling'er besar, jangan sungkan pada Kakak, ya."
Huo Beixiao sudah mendaftarkan Zhou Ling'er. Saat dokter paruh baya memeriksa kaki Zhou Ling'er, ia mengerutkan kening dan terus mengomel. "Bagaimana kalian ini menjadi kakak? Baru sekarang membawa gadis kecil ini ke rumah sakit? Tulangnya sudah tumbuh miring. Sekarang tulang yang sudah tumbuh itu harus dipatahkan lagi lalu disambung kembali. Gadis kecil ini harus menderita lagi."
Zhou Yang merasa sangat malu dimarahi dokter. "Dokter, ini salah saya, saya tidak merawat adik saya dengan baik, saya..."
Dokter itu sebenarnya berhati baik meski cara bicaranya agak keras. Melihat Zhou Yang mengakui kesalahannya, ia berkata, "Apa hubungannya denganmu? Kau sendiri masih anak-anak!"
Ia menoleh dan melirik Huo Beixiao serta Jiang Qiaoqiao. "Kalian berdua, kelihatannya berpakaian rapi, tidak seharusnya mengabaikan adik-adik kalian hanya karena orang tua mereka sudah tidak ada..."
Sebelum dokter selesai bicara, Zhou Yang segera menjelaskan, "Dokter, mereka bukan kakak kandung kami, mereka adalah orang baik yang membantu kami karena kasihan melihat kami."
Dokter itu seketika meredam am