Bab 47: Pembukaan
Jiang Qiaoqiao menatap Jiang Yiran yang sedang berpuas diri di atas panggung dengan penuh minat.
Saat Jiang Yiran melihat Jiang Qiaoqiao, dagunya semakin diangkat tinggi-tinggi, dan nada bicaranya menjadi semakin bersemangat.
Di kehidupan sebelumnya, orang yang berdiri dan berbicara di sini adalah Qin Haiyang. Saat itu Jiang Qiaoqiao berdiri di sisi Qin Haiyang, menerima tatapan penuh iri dari semua orang.
Kala itu, dia sedang berseteru masalah perceraian dengan Huo Beixiao, yang merupakan masa-masa terendah dalam hidupnya.
Melihat rupa Jiang Qiaoqiao yang sedang Berjaya, dia sangat ingin langsung menerjang ke depan dan membunuh Jiang Qiaoqiao saat itu juga.
Sekarang giliran Jiang Qiaoqiao yang harus cemburu padanya!
Memikirkan bahwa Jiang Qiaoqiao di kehidupan ini akan berakhir seperti dirinya di masa lalu, bagaikan seekor tikus got yang terperosok ke dalam kubangan lumpur busuk, hatinya merasa sangat puas.
Begitu Jiang Yiran selesai berbicara, orang-orang yang telah lama menunggu di luar sudah kehilangan kesabaran dan berbondong-bondong menyerbu masuk ke dalam supermarket.
Di era ini, kantong setiap orang tidak berlimpah, dan setiap sen uang harus digunakan untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Sama sekali tidak ada situasi seperti beberapa dekade kemudian di mana seseorang bisa masuk ke supermarket dan membeli apa saja sesuka hati.
Sebagian besar orang masuk hanya untuk membeli sebungkus garam dan beberapa butir permen, lalu segera keluar untuk mengantre mengambil beras.
Bahkan ada seseorang yang setelah mengambil jatah berasnya untuk pertama kali, menyuruh orang lain membawa beras itu pulang, lalu dia sendiri masuk lagi untuk membeli beberapa butir permen, dan mengantre ulang demi mendapatkan satu kati beras.
Melihat pemandangan ini, sudut bibir Jiang Qiaoqiao tak kuasa mengukir sebuah senyuman.
Alis Huo Beixiao mengerut sangat erat.
Baru saja, ketika melihat Jiang Yiran berdiri di atas panggung darurat itu, di dalam benaknya tanpa bisa dikendalikan muncul bayangan adegan saat Jiang Yiran ditembak mati di dalam mimpinya.
Pada detik itu, dia hanya merasakan rasa bersalah yang meluap-luap dari lubuk hatinya.
"Nilai barang-barang yang dibeli orang-orang ini bahkan tidak sampai satu kati beras, tetapi mereka malah diberi hadiah satu kati beras lagi. Bisnis yang dijalankan seperti ini akan merugi," ucap Huo Beixiao.
Jiang Qiaoqiao menoleh untuk menatap rupa Huo Beixiao yang tampak muram.
Ia bertanya kepadanya, "Ingin membantunya?"
Ekspresi Huo Beixiao tidak berubah, namun ia menggelengkan kepalanya perlahan, "Aku tidak berutang apa pun padanya."
Entah kepada Jiang Qiaoqiao ucapannya itu ditujukan, atau ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Jiang Qiaoqiao hingga kini masih belum memahami apa sebenarnya maksud dari mimpi yang diceritakan oleh Huo Beixiao itu.
Ia merasa mimpi yang dibicarakan Huo Beixiao bukanlah sekadar mimpi biasa, melainkan tampak seperti Huo Beixiao yang juga telah terlahir kembali.
Hanya saja, kelahiran kembali Huo Beixiao berbeda dengan dirinya dan Jiang Yiran.
Ia dan Jiang Yiran terlahir kembali dengan membawa seluruh ingatan mereka, sementara ingatan Huo Beixiao tidak lengkap.
Zhou Yang sejak awal memang tidak menyukai Jiang Yiran. Mendengar ucapan Huo Beixiao barusan, pemuda itu mencebikkan bibirnya, "Dia itu memang bukan orang baik, pantas saja kalau rugi! Adik, ayo, kita juga pergi beli beberapa butir permen dan ambil berasnya!"
Jiang Qiaoqiao berpesan kepada mereka agar berhati-hati.
Terutama kepada Zhou Ling'er, kakinya baru saja sembuh dan di sini sangat ramai, jangan sampai terinjak-injak atau terjatuh.
Setelah Zhou Yang berjanji akan menjaga adiknya dengan baik, barulah ia membiarkan mereka pergi sendiri untuk ikut berdesakan menikmati keramaian.
Baru saja kakak beradik Zhou Yang dan Zhou Ling'er melangkah pergi, sedetik kemudian Jiang Yiran sudah melenggak-lenggokan pinggangnya menghampiri Jiang Qiaoqiao.
Nada bicaranya sarat akan keangkuhan, "Kakak datang. Aduh, lihatlah aku ini, hari ini benar-benar sibuk sekali sampai-sampai tidak punya waktu untuk menyambutmu."
Jiang Qiaoqiao tersenyum tipis, "Tidak perlu menyambutku. Aku lihat tadi ibu mertuamu beserta kakak sulung dan ipar perempuanmu sudah masuk ke dalam, di sebelah sana Ayah dan Ibu juga sudah datang, sebaiknya kau pergi sambut mereka saja!"
Ekspresi Jiang Yiran sedikit berubah. Niu Chunhua, Qin Tieniu, dan Chen Ping datang?
Ketiga orang itu adalah tipe yang tidak pernah puas memanfaatkan orang lain. Hari ini jika mereka berlarian ke supermarketnya, sudah pasti tidak akan mendatangkan hal yang baik.
Ia berniat masuk ke dalam untuk mengawasi Niu Chunhua, Qin Tieniu, dan Chen Ping, tetapi matanya justru menangkap kedatangan Jiang Jiahua, Peng Cuiying, dan Jiang Yong'an.
Sebagian besar modal untuk membuka supermarket ini berasal dari Peng Cuiying, jadi ia harus bisa menyenangkan hati Peng Cuiying terlebih dahulu, dan segera menyambut mereka.
Di sisi lain, Niu Chunhua melihat para pekerja sewaan Jiang Yiran di dalam supermarket membagikan beras putih karung demi karung secara cuma-cuma kepada orang lain. Ia sangat marah hingga menghentakkan kakinya, merasa bahwa beras yang dibagikan ini bukanlah sekadar beras, melainkan daging dari lubuk hatinya sendiri.
"Aduh ampun, bagaimana bisa si Haiyang itu menikahi seorang istri yang suka menghambur-hamburkan harta keluarga. Orang lain kalau berbisnis itu mencari keuntungan, dia malah membagikan beras putih yang bagus ini ke luar, benar-benar punya uang berlebih sampai bingung mau membakarnya!"
"Bu, peduli amat padanya! Lagipula semua uang ini berasal dari keluarga orang tuanya. Mumpung dia sedang menjadi malaikat penebar uang di sini, kita manfaatkan saja untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri, itu baru benar. Aku sudah menyuruh Tieniu memarkir gerobak dorong satu roda itu di pintu belakang. Ayo, cepat kita pergi mengangkut barang."
Begitu Chen Ping mengatakan itu, Niu Chunhua pun langsung sadar, "Betul, betul sekali! Itu uang dari keluarga orang tuanya, kalau dia senang membagikannya ke luar ya biarkan saja dia membagikannya, kita cepat meraup keuntungan sebanyak mungkin, itu baru urusan yang benar."
Sambil berbincang, ibu dan menantu itu buru-buru memanggil Qin Tieniu bersama-sama pergi ke gudang untuk memindahkan barang ke atas gerobak dorong.
Di tempat lain, Jiang Jiahua dan Peng Cuiying baru saja tiba. Melihat begitu banyaknya orang di dalam supermarket hingga untuk membayar saja harus mengantre, membuat mereka tersenyum lebar hingga mulutnya tidak bisa menutup.
Jiang Yong'an bahkan tidak segan-segan memberikan pujian, "Sebelumnya aku sama sekali tidak menyangka kalau si Ranan kita ini ternyata memiliki bakat dalam berbisnis. Lihatlah betapa larisnya bisnis ini, semua orang mengantre untuk menyerahkan uang. Di masa depan, bukankah si Ranan kita ini akan menghitung uang sampai tangannya kram?"
Jiang Yiran memasang rupa tersipu-suput malu, "Kakak Ketiga, jangan memujiku terus. Semua ide ini dipikirkan oleh Kak Haiyang. Dulu waktu kubilang Kak Haiyang bisa menjadi orang terkaya, kalian tidak percaya, sekarang sudah percaya kan?"
Sambil berkata demikian, Jiang Yiran memberikan kedipan mata penuh pesona kepada Qin Haiyang dengan rupa tersipu-suput malu.
Selama periode waktu setelah pernikahan mereka, Qin Haiyang sering kali mengikuti Jiang Yiran datang untuk memanfaatkan keluarga Jiang, dan tidak sedikit pula ia menerima pandangan sebelah mata dari keluarga Jiang.
Kini, ketika Jiang Yiran mengangkat derajatnya di hadapan keluarganya, ia akhirnya merasa bisa merayakan kemenangan dan mengangkat kepalanya dengan bangga, punggungnya ditegakkan lurus-lurus.
Ia hendak merendah dengan pura-pura bersikap sopan dan rendah hati, ketika Peng Cuiying tiba-tiba mengerutkan kening dan berkata, "Ranan, ada yang aneh! Kenapa Ibu lihat orang-orang ini setelah membeli sebungkus garam dan beberapa butir permen untuk membayar, saat mengambil beras mereka malah tidak membayar apa pun? Apa kau tidak menjelaskan aturannya dengan jelas kepada para pekerja yang kau rekrut? Cepat sana suruh orang memungut bayaran di bagian penjualan beras!"
Peng Cuiying mendesak dengan perasaan cemas.
Jiang Yiran baru saja hendak memberikan penjelasan, ketika dua orang anggota keluarga dari pabrik makanan kebetulan keluar sambil membawa jatah beras mereka.
"Wakil Direktur Jiang, Akuntan Peng, kalian juga datang untuk mengambil beras? Kalian harus cepat-cepat rupanya, Ibu lihat tempayan berasnya sudah hampir kosong, kalau kalian tidak cepat, nanti tidak akan kebagian lagi," salah satu dari mereka mengingatkan dengan niat baik.
Yang seorang lagi menyenggol lengan orang itu, "Cuiting, apa yang kau bicarakan barusan? Apa kau tidak lihat siapa pemilik supermarket ini tadi? Supermarket ini adalah milik keluarga putri dan menantu Wakil Direktur Jiang, untuk apa mereka harus repot-repot mengantre mengambil beras?"
Peng Cuiying baru mengerti setelah mendengar itu. Pantas saja supermarket ini tampak sangat ramai, rupanya karena beras berkualitas bagus itu dibagikan secara gratis!
Belum sempat ia meluapkan kemarahannya, seorang karyawati keluar untuk melapor kepada Jiang Yiran, "Bos, beras yang kita siapkan sudah habis dibagikan, masih ada banyak pelanggan yang sedang mengantre di luar! Bagaimana ini?"
Jiang Yiran kini tidak sempat lagi memikirkan untuk menjelaskan kepada Peng Cuiying, "Kalau berasnya habis, pergilah ke gudang untuk mengambilnya. Bukankah di gudang masih ada cukup banyak?"
Ekspresi di wajah karyawati itu tampak canggung sekaligus aneh, "Nyonya Bos, beras yang ada di gudang semuanya sudah diangkut pergi oleh ibu, kakak sulung, dan ipar perempuan Bos. Sekarang sudah tidak ada lagi."
"Apa!?" Suara Jiang Yiran mendadak meninggi.
Ia tahu bahwa Niu Chunhua yang membawa serta Qin Tieniu dan Chen Ping datang pastilah tidak berniat baik, tetapi ia sama sekali tidak menyangka kalau mereka benar-benar mengangkut seluruh beras yang ada di gudangnya tanpa tersisa.
Menatap rupa Jiang Yiran yang berubah pucat, karyawati itu melirik sekilas ke arah Qin Haiyang dengan hati-hati lalu berkata, "Wanita tua itu bilang mereka ingin mengambil sedikit beras untuk dibawa pulang dimasak, kami juga merasa tidak enak untuk melarangnya. Bos, Nyonya Bos, apa yang harus kita lakukan sekarang, berikanlah keputusan! Begitu banyak pelanggan di luar sana yang sedang mengantre!"