Bab 29: Ayah dan Ibu Datang!
Sore hari, saat Sheng Tang pulang kerja, ia mendapati ada dua ekor anak anjing di halaman rumah. Ia pun langsung paham bahwa ini pasti ulah istrinya.
Namun, Sheng Tang hanya mengira Tang Xiaoyu memelihara anjing-anjing itu demi adik-adiknya. Menurut pandangannya, istrinya bukanlah orang yang akan melakukan hal membosankan seperti itu. Ya, bagi Sheng Tang, memelihara anjing adalah hal yang sangat membosankan.
"Jangan terlalu memanjakan Xiao Jing dan Xiao Xiu!" tegur Sheng Tang saat melihat Tang Xiaoyu keluar dari dapur.
Tang Xiaoyu tertegun sejenak mendengar ucapan yang tiba-tiba itu. Baru setelah melihat pandangan suaminya tertuju pada dua ekor anak anjing tersebut, ia mengerti apa maksud Sheng Tang.
"Itu aku yang memeliharanya!" Tang Xiaoyu memutar bola matanya. Ia merasa pria ini benar-benar tidak mengerti wanita.
Sheng Tang pun tertegun. Ia merasa persepsinya tentang Tang Xiaoyu selama ini mungkin keliru. Bagaimana mungkin istrinya yang secantik itu bisa merasa bosan sampai harus memelihara anjing?
"Jangan berdiri melamun, cepat jemput Xiao Jing dan Xiao Xiu!" Nenek datang dari belakang dan menepuk bahu Sheng Tang.
Sheng Tang menjawab "Oh" lalu segera berangkat menjemput Rong Jing dan Rong Xiu.
"Xiaoyu, jangan dimasukkan ke hati ya. Si bodoh Sheng Tang itu memang tidak peka!"
"Nenek, aku tidak memikirkannya kok!" Tang Xiaoyu tersenyum kecil. "Nenek, menurut Nenek, biasanya Sheng Tang suka melakukan apa saja?" Ini benar-benar hal yang membuatnya penasaran. Tang Xiaoyu tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan pria seaneh Sheng Tang di waktu senggangnya.
"Biar Nenek ingat-ingat dulu!" Nenek tampak berpikir keras. Ia mencoba mengingat, cucu tertuanya itu sejak kecil selalu bersikap tenang. Membaca buku, belajar, penurut, dan tidak pernah membuat keributan. Setelah dewasa pun, ia tidak pernah membuat mereka khawatir. Eh, tidak juga, ada satu hal yang selalu membuat mereka cemas, yaitu masalah pernikahan Sheng Tang.
"Xiaoyu, kalau kamu tidak bertanya, Nenek mungkin tidak akan sadar. Si bodoh Sheng Tang itu memang tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh sejak kecil. Dulu dia sangat membuat kami tenang. Jangan-jangan karena itulah dia jadi tidak peka sekarang?"
"Eh...?"
Tang Xiaoyu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
"Xiaoyu, ke depannya, kamu harus lebih sabar menghadapi cucu Nenek yang tidak peka ini ya!" Nenek merasa tidak enak pada Tang Xiaoyu. Cucu tertuanya itu memang baik dalam segala hal, hanya saja dalam urusan perasaan, dia benar-benar tumpul. Banyak hal yang sudah Nenek jelaskan berkali-kali, tapi cucunya tetap tidak mengerti dan justru balik bertanya ini-itu. Lama-kelamaan, Nenek pun lelah mengajarinya. Bukan karena tidak mau, tapi memang tidak bisa.
"Nenek, sebenarnya Sheng Tang cukup baik kok. Setidaknya, dia sangat gigih, ya, gigih!" Tang Xiaoyu memuji.
Nenek tertawa kecil. Cucu tertuanya itu memang hanya punya kelebihan gigih. Namun sudahlah, setiap orang punya takdirnya masing-masing. Karena keduanya sudah menjadi suami istri, itu adalah jodoh mereka. Sejauh mana hubungan mereka akan melangkah, biarlah takdir yang menentukan.
Tang Xiaoyu tidak melanjutkan pembicaraan dengan Nenek. Alasannya sederhana, dia sendiri bingung harus memuji Sheng Tang apa lagi, terutama dari sisi perasaan. Mengenai pekerjaan, Tang Xiaoyu pun tidak terlalu tahu, satu-satunya yang ia tahu adalah Sheng Tang sangat kompeten. Bagaimanapun, dalam alur cerita aslinya, Sheng Tang hanyalah karakter latar belakang yang bahkan tidak dianggap sebagai pemeran pendukung yang berarti.
...
Setelah Sheng Tang kembali bersama Rong Jing dan Rong Xiu, kedua anak itu langsung terpikat oleh dua anak anjing di halaman. Setelah berdiskusi, mereka pun berbagi tugas, masing-masing memelihara satu ekor dan bahkan sudah memberikan nama.
Kedua anak anjing itu berbulu abu-abu kehitaman, tampak lucu dan menggemaskan. Memang, anjing kampung seringkali terlihat sangat lucu saat kecil, meski setelah dewasa penampilannya bisa berubah drastis.
"Yang besar namanya Huanhuan, yang kecil namanya Lele! Kakak ipar, menurutmu namanya bagus tidak?" tanya kedua anak itu sambil menggendong anjing masing-masing.
"Bagus sekali!" Nama anjing tidaklah penting, Tang Xiaoyu tidak akan mempermasalahkan hal sepele seperti itu dengan dua anak kecil. Lagi pula, cepat atau lambat, dialah yang akan mengurus kedua anjing itu dan mereka pasti akan lebih patuh padanya.
Saat Rong Yi dan Bai Yu pulang, keluarga itu pun mulai makan malam. Namun, tanpa diduga, rumah mereka kedatangan sekelompok tamu tak diundang. Keluarga dari pihak ibu Tang Xiaoyu datang! Atau lebih tepatnya, keluarga dari Tang Xiaoyu yang asli.
Tepat saat Tang Xiaoyu bersiap menghadapi perdebatan sengit dengan keluarga itu, ia tiba-tiba melihat ayah dan ibu Tang memberikan sebuah isyarat tangan. Tang Xiaoyu langsung terperangah. Isyarat itu adalah permainan yang sering mereka lakukan saat ia kecil, yang kemudian menjadi semacam ritual sapaan keluarga mereka.
Tang Xiaoyu secara refleks membalas isyarat yang sama. Detik berikutnya, ia terkejut bukan main. Sang ibu tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
"Xiaoyu, anakku, Ibu akhirnya menemukanmu!" Shen Huixin menangis bahagia. Tidak ada yang menyangka, setelah tertidur dan terbangun, tubuhnya menjadi lebih muda, namun ia justru terjebak menjadi seorang wanita desa yang tidak tahu apa-apa. Saat itu, ia sangat ketakutan. Beruntung suaminya juga ikut melakukan perjalanan waktu.
Setelah menyadari mereka berada di tahun delapan puluhan, pasangan itu sempat bersemangat. Namun, saat mendapati bahwa di keluarga itu hanya ada dua putra yang tidak berguna, semangat mereka pun padam. Putri kesayangan mereka tidak ikut terbawa!
Tanpa memiliki ingatan asli dari pemilik tubuh tersebut, mereka hidup dengan sangat hati-hati. Baru setelah mendengar dari penduduk desa bahwa pasangan itu memiliki seorang putri yang sudah menikah, semangat mereka kembali bangkit. Putra-putra itu bukan anak kandung mereka dan tidak bisa diandalkan, jadi mereka memutuskan untuk tidak terlalu peduli.
Awalnya, mereka ingin mengumpulkan sedikit harta sebelum menjemput putri mereka ke kota. Namun, setelah mendengar kabar bahwa putri mereka sebenarnya dijual, mereka tidak bisa tinggal diam. Mereka segera membawa dua ekor ayam kampung dan pergi ke kota untuk mencari putrinya. Mereka sudah bertekad, jika hidup putrinya tidak bahagia, mereka akan memaksa putrinya bercerai. Mereka dulu bisa memulai segalanya dari nol dan membesarkan putrinya seperti putri raja, maka di era penuh peluang ini, mereka pasti bisa menjamin kehidupan putrinya jauh lebih baik.