Bab 102 Senjata Paling Mematikan Wanita!
Xiao Wanqing sudah memperhatikan Ye Feng sejak tadi. Saat Ye Feng berlari mendekat dan menekan tombol pintu lift, dia melihat wajah pria itu dengan jelas.
Tentu saja dia masih mengingat Ye Feng, bahkan bisa dibilang kesannya sangat mendalam. Kemarin, secara kebetulan dia melihat resume lamaran kerja Ye Feng yang terjatuh dari tangan Liu Yi, staf departemen sumber daya manusia perusahaan. Karena itulah, dia menggunakan wewenangnya sebagai presiden direktur untuk merekrut Ye Feng.
Awalnya dia merasa penasaran siapa yang menekan tombol lift. Sebagai presiden direktur, jika dia menggunakan lift, karyawan lain biasanya akan dengan sadar mengalah dan tidak akan ikut masuk bersamanya.
Pertama, sebagai bentuk penghormatan. Kedua, siapa yang tahan menanggung tekanan besar saat berada di dalam lift bersama seorang presiden direktur?
Lama-kelamaan, terbentuk semacam pemahaman tak tertulis di Grup Tianyu; jika bertemu Xiao Wanqing saat ia hendak menggunakan lift, para karyawan akan mengalah.
Hanya Ye Feng, orang yang tidak tahu situasi dan tidak mengenal identitas Xiao Wanqing, yang begitu berani berlari menghampiri, menekan tombol lift, dan dengan santai berada di dalam lift hanya berdua saja dengan Xiao Wanqing.
Xiao Wanqing memperhatikan Ye Feng menekan lift lalu masuk. Namun, saat Ye Feng melangkah masuk, rasa terkejut di matanya perlahan menghilang. Dibandingkan dengan keterkejutan yang dirasakan Ye Feng, hatinya jauh lebih tenang. Bagaimanapun, sejak ia meminta Liu Yi merekrut Ye Feng, ia sudah siap jika suatu saat nanti akan bertemu dengannya di perusahaan.
Hanya saja, dia tidak menyangka pertemuan itu akan terjadi secepat ini.
Baru kemarin memerintahkan Liu Yi untuk merekrutnya, pagi ini mereka sudah berbagi lift.
"Sepertinya kita benar-benar berjodoh. Pernah mengalami kesulitan bersama, dan kini kita berbagi lift lagi," ujar Ye Feng sambil tersenyum. Pandangannya menyapu wajah jelita Xiao Wanqing yang tanpa cela sebelum bertanya dengan rasa ingin tahu, "Ngomong-ngomong, apakah kau juga bekerja di perusahaan ini? Kalau begitu, ini sungguh kebetulan yang luar biasa, aku juga karyawan di sini."
Mendengar itu, Xiao Wanqing merasa geli. Ia membatin, *Kau bisa masuk ke sini justru karena aku yang diam-diam merekrutmu.*
Xiao Wanqing dijuluki sebagai dewi es, dan itu ada alasannya. Mungkin karena tumbuh di keluarga besar seperti keluarga Xiao, sifatnya selalu dingin. Meski mendengar ucapan Ye Feng, wajahnya tetap dingin, namun ia tetap menjawab, "Waktu itu kau pergi terlalu cepat, aku belum sempat mengucapkan terima kasih."
"Tidak perlu, tidak perlu. Hal yang sudah lewat biarlah berlalu. Sekarang aku hanyalah karyawan biasa di Grup Tianyu. Mulai sekarang kita rekan kerja, kita harus saling menjaga ya," kata Ye Feng sambil tersenyum.
Mata Xiao Wanqing berkilat dengan ekspresi yang aneh. Ia mengerti maksud Ye Feng; pria itu tidak ingin peristiwa di Gedung Bank Huaxia beberapa hari lalu diungkit kembali. Singkatnya, ia tidak ingin orang lain tahu tentang aksi heroik yang dilakukannya hari itu.
"Aku mengerti maksudmu. Tapi kenapa kau begitu yakin aku rekan kerjamu?" tanya Xiao Wanqing dengan nada datar.
Ye Feng tertegun sejenak, lalu tertawa, "Bukan karyawan di perusahaan ini? Mungkin aku salah duga. Tapi bisa bertemu lagi adalah hal yang indah, mari berteman. Namaku Ye Feng."
Sambil berkata demikian, pria itu tanpa malu-malu mengulurkan tangan kanannya.
Tujuannya jelas, ia ingin sekali lagi menyentuh tangan halus Xiao Wanqing. Terakhir kali di depan Gedung Bank Huaxia, dia menyentuh tangan Xiao Wanqing secara tidak sengaja, kali ini dia ingin melakukannya dengan terang-terangan.
Xiao Wanqing mengerutkan kening tipis. Dia adalah orang yang sangat menjaga kebersihan, jadi dia tampak acuh tak acuh melihat tangan Ye Feng yang terulur. Namun, setelah berpikir sejenak, dia tetap berkata, "Xiao Wanqing."
Ye Feng melihat tangan kanannya yang masih terulur di udara seolah-olah sedang berjabat tangan dengan angin. Dia tersenyum canggung dan berkata, "Xiao Wanqing? Nama yang sangat indah."
Lift sedang naik. Ye Feng seolah teringat sesuatu dan berseru, "Gawat!" Dia kemudian menatap Xiao Wanqing dan bertanya, "Ngomong-ngomong, apakah kau tahu departemen sumber daya manusia Grup Tianyu ada di lantai berapa? Aku baru saja datang melapor, tapi lupa menanyakan letak departemen tersebut."
"Lantai dua belas!"
Xiao Wanqing merasa agak tidak habis pikir, namun ia tetap menjawab.
Mendengar itu, Ye Feng buru-buru menekan tombol lantai dua belas. Untungnya lift baru sampai di lantai sembilan, jadi masih sempat.
"Itu... Nona Xiao, kau benar-benar bukan karyawan perusahaan ini?" tanya Ye Feng lagi.
"Menurutmu?" Xiao Wanqing tidak menjawab secara langsung, melainkan balik bertanya.
"Dari sudut pandang pribadiku, tentu saja aku berharap kau memang karyawan di sini. Siapa yang tidak ingin bekerja bersama wanita cantik sepertimu?" ucap Ye Feng.
"Apakah aku karyawan atau bukan, nanti kau juga akan tahu sendiri," jawab Xiao Wanqing dingin.
"Tahukah kau apa senjata paling ampuh bagi seorang wanita?" Ye Feng menatap tajam wajah jelita Xiao Wanqing.
Xiao Wanqing mengerutkan kening, tidak menjawab. Dia tidak bisa menebak apa maksud ucapan Ye Feng.
"Senyum!" Ye Feng menjawab pertanyaannya sendiri. Ia melanjutkan, "Senyum seorang wanita bisa membuat pria tak berdaya, terutama wanita cantik seperti dirimu. Selain itu, senyum wanita bisa membuat suasana hati menjadi rileks, memberikan perasaan nyaman, dan efektif membantu tubuh membuang racun, sehingga memberikan efek perawatan kecantikan."
"Jadi, wanita yang murah senyum akan terlihat awet muda dan cantik. Itulah senjata paling ampuh bagi wanita," celoteh Ye Feng.
"Maaf, saat ini aku tidak membutuhkan senjata ampuh itu," sahut Xiao Wanqing. Dia mengerti sindiran Ye Feng, yang menyinggung sikap dinginnya yang selalu menjaga jarak dari orang lain.
"Berbicara dengan wanita cerdas memang sungguh membuat frustrasi. Satu kalimatmu saja sudah menghapus semua usahaku tadi," Ye Feng tertawa getir. Kemudian, dengan nada serius ia berkata, "Tapi Nona Xiao, ucapanku tadi tulus. Kau harus lebih banyak tersenyum. Kalau malu tersenyum di depan orang lain, saat di rumah kau bisa bersembunyi di kamar dan tersenyum di depan cermin. Sama saja hasilnya."
Xiao Wanqing merasa jengkel. Dia tidak tahan lagi dan tersenyum tipis, lalu mengerutkan kening seraya berkata, "Tuan Ye, apa kau belum selesai bicara? Tidak lihat? Lantai dua belas sudah sampai."
"Kalau tidak melihatmu tersenyum, aku tidak tenang untuk keluar," ujar Ye Feng dengan wajah datar. Ia menahan pintu lift agar tetap terbuka.
"Tidak tenang? Memangnya kalau aku tidak tersenyum, kau akan mati?" Xiao Wanqing mulai merasa kesal.
"Zhang Ailing pernah berkata, di antara jutaan orang, kau bertemu dengan orang yang seharusnya kau temui, tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Tidak ada yang perlu dikatakan, hanya tersenyum tipis dan berkata, 'Oh, ternyata kau di sini juga,'" Ye Feng mengutip dengan nada romantis ala Xu Zhimo. "Lihat, betapa miripnya situasi kita. Kalau kau tidak tersenyum, sungguh tidak adil rasanya!"
"Apa maksudmu tidak ada yang perlu dikatakan? Sepanjang jalan ini kau sudah bicara banyak sekali!" Xiao Wanqing akhirnya tertawa, meski itu adalah tawa yang penuh ketidakberdayaan.
Ye Feng ikut tersenyum dan berkata dengan puas, "Sudah kubilang, bagi wanita cantik, senyum adalah senjata paling ampuh. Ternyata benar. Meskipun senyummu tadi agak terpaksa, kau tetap tersenyum. Ini menjadi landasan agar pertemuan kita berikutnya kau bisa tersenyum lebih natural. Sampai jumpa lagi."
Setelah berkata demikian, Ye Feng melambaikan tangan pada Xiao Wanqing, lalu melangkah keluar dari lift.
Sesaat kemudian, pintu lift perlahan tertutup dan melesat naik ke lantai paling atas Grup Tianyu.
Xiao Wanqing di dalam lift tidak bisa menahan diri untuk menepuk dadanya sendiri sambil menggerutu kesal:
"Pria macam apa dia ini? Apakah dia seorang berandalan? Mengapa orang tidak ingin tersenyum malah dipaksa untuk tersenyum? Benar-benar orang aneh!"