Seratus Tiga Puluh Tujuh: Menemukan Ketidakadilan di Jalan, Menghunus Pedang untuk Membantu
Selesai berbicara, Feng Lei langsung memainkan ponselnya sambil berjalan di depan untuk memimpin jalan. Ma Zifeng mengangguk dan mengikutinya dalam diam di belakang. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tidak terlalu banyak berkomunikasi karena mereka sangat menyadari bahwa di masa-masa kritis seperti ini, siapa yang tahu apakah orang yang ditemui di jalan adalah warga biasa atau agen rahasia serta mata-mata dengan identitas lain?
Di masa yang begitu sensitif ini, meskipun tidak bisa dikatakan bahwa setiap rumput dan pohon adalah musuh, mereka tetap harus menjaga kewaspadaan setiap saat.
Saat ini, di halaman Kediaman Keluarga Yan yang terletak di kawasan vila barat daya Kota Pinghai, sebuah drama perebutan harta warisan keluarga inti oleh para kerabat cabang sedang berlangsung.
Keluarga Yan adalah keluarga besar yang kaya raya, namun generasi keturunan langsung saat ini hanya memiliki seorang anak perempuan, yaitu Yan Minni, sementara anggota keluarga dari cabang samping jumlahnya cukup banyak. Tuan Yan, yang merupakan ayah Yan Minni, meninggal karena sakit beberapa hari lalu, sehingga seluruh harta warisan yang begitu besar jatuh ke tangan seorang wanita.
Dengan situasi seperti itu, bagaimana mungkin para kerabat cabang tersebut tidak merasa iri dan serakah? Ditambah lagi dengan dukungan dari beberapa organisasi misterius, mereka akhirnya melancarkan tindakan hari ini.
Di bawah perencanaan yang matang, dua bersaudara dari cabang samping, Yan Wen dan Yan Wu, memaksa Yan Minni untuk menyerahkan harta keluarga. Karena tidak punya pilihan lain dan memanfaatkan jurus melarikan diri menggunakan alasan buang air kecil yang tak pernah gagal sejak zaman kuno, Yan Minni berhasil meloloskan diri dari pandangan mereka, mengemudikan mobil kesayangannya, dan kabur meninggalkan kediaman Keluarga Yan.
Ia berkendara menuju pusat Kota Pinghai. Di sana ada banyak orang dan kendaraan, sehingga seharusnya cukup mudah untuk melepaskan diri dari kejaran mereka. Niatnya memang bagus, tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa kemampuan mengemudinya yang pas-pasan itu tidak ada apa-apanya di hadapan pihak lawan yang sudah melakukan persiapan sejak lama.
Oleh karena itu, di tengah kejar-kejaran tersebut, Yan Minni dengan kaget mendapati bahwa mobilnya kehabisan bahan bakar. Saat itulah ia teringat dengan rasa penyesalan bahwa mobil kesayangannya ini sebenarnya sudah cukup lama tidak ia sentuh, selalu terparkir di rumah, dan ia pun tidak sempat mengisi bensinnya.
Dengan perasaan yang sangat panik, ia memanfaatkan sebuah kesempatan saat lampu hijau berubah menjadi merah untuk menerobosnya, berharap bisa menggunakan lampu merah tersebut guna memperjarak jarak di antara mereka.
Namun, pemikirannya terlalu naif. Menghadapi harta warisan yang begitu besar, bagaimana mungkin pihak lawan peduli dengan denda kecil akibat menerobos lampu merah? Oleh karena itu, dengan perasaan kesal, Yan Minni mendapati bahwa mereka benar-benar nekat menerobos lampu merah tersebut...
"Sial... apa yang harus kulakukan?"
Karena mengemudi secara membabi buta, Yan Minni sekarang bahkan tidak tahu di mana posisinya berada. Dalam sekejap, hatinya diselimuti oleh perasaan tak berdaya. Namun, ia sangat sadar bahwa lampu peringatan bahan bakar di mobilnya telah menyala, dan ia tidak boleh menyerah begitu saja.
Saat hatinya sedang dilanda kepanikan, ia mendongak dan melihat sebuah kawasan ramai di depan. Kedua matanya seketika berbinar. Menurut pemikirannya, kawasan keramaian dipadati banyak orang, dan selama ia menerobos masuk ke kerumunan, para keparat di belakang itu pasti tidak akan bisa menemukannya.
Tetapi, bagaimana ia bisa tahu bahwa Yan Wu, yang duduk di dalam mobil Mercedes-Benz di belakang, sesekali menunduk untuk melihat peta elektronik di tangannya sambil tersenyum sinis penuh arti. Di atas peta elektronik tersebut, ada sebuah titik merah mencolok yang terus-menerus berkedip.
"Hehehehe... Kakakku tersayang, lari lah, berlarilah sepuasmu, baru seru kalau dimainkan seperti ini!" Di balik tawa meremehkan itu, Yan Wu bergumam dingin pada dirinya sendiri.
Di depan, Yan Minni dengan cepat meminggirkan mobilnya. Bahkan kunci kontaknya pun tidak sempat ia cabut, ia langsung mendorong pintu mobil dan berlari menuju tempat yang ramai.
Dalam ketergesa-gesaannya, ia sempat menoleh ke belakang sekilas dan melihat mobil Mercedes-Benz hitam perlahan berhenti di belakang mobil Porsche merah miliknya. Pintu mobil terbuka, dan beberapa pria berbadan kekar turun. Sementara itu, sepupunya yang menyebalkan, Yan Wu, berjalan santai mengikuti di belakang para pria berbadan kekar tersebut seolah-olah tidak terburu-buru untuk mengejarnya.
Kendati demikian, pikirannya yang sedang kacau membuatnya tidak punya waktu untuk memikirkan mengapa bajingan itu tidak langsung menangkapnya saat itu juga. Saat ini, ia sedang berlari ke sana kemari tanpa arah karena panik.
Menembus kerumunan, Yan Minni menoleh ke belakang sekali lagi dan mendapati bahwa berkat halangan dari orang banyak, bayangan para pengejar itu sama sekali tidak terlihat.
Baru pada saat itulah ekspresi di wajah pucatnya sedikit mereda. Namun, ia sangat tahu bahwa jika ia berhenti di tempat ini, mereka pasti akan segera menyusulnya. Oleh karena itu, ia melihat sekeliling dan menemukan sebuah gang kecil tidak jauh dari situ, lalu langsung berlari ke sana.
Setibanya di mulut gang, Yan Minni dengan agak tegang melihat ke bagian depan. Gang tersebut sama sekali tidak memiliki lampu jalan, dan satu-satunya sumber cahaya yang redup hanya berasal dari rumah-rumah warga di sisi jalan.
"Bodo amat, lebih gelap justru lebih bagus, mereka tidak akan bisa melihatku!" Sambil menggertakkan gigi, Yan Minni tidak berani membuang waktu terlalu lama. Setelah membulatkan tekad, ia langsung berlari masuk tanpa ragu-ragu.
Namun, kali ini ia tidak melihat bahwa Yan Wu dan anak buahnya baru saja keluar dari kerumunan, tersenyum dingin sambil melihatnya berlari masuk ke dalam gang.
"Hehehe... Lingkungan di sana lumayan juga. Kawan-kawan, permainan kita sudah hampir usai, serbu!" Yan Wu tersenyum sinis, melambaikan tangannya, lalu bersama ketiga pria berbadan kekar itu dengan cepat menerobos masuk ke dalam gang.
"Aaa—tolong!"
Yan Minni yang belum berlari terlalu jauh mendengarkan suara langkah kaki yang tergesa-gesa di belakangnya dengan perasaan ngeri. Diselimuti rasa kpanikan yang luar biasa, ia pun menjerit ketakutan.
"Hhahahaha... Kakakku tersayang, jangan lari lagi. Adik kan tidak akan menyakitimu, apa yang kau takuti? Haha..."
Yan Wu di belakang, setelah mendengar jeritan tersebut, tampaknya menjadi sangat bersemangat dan bahkan berteriak mengejek dari belakang.
Pada saat yang sama, Feng Lei dan Ma Zifeng baru saja berbelok dari ujung gang yang lain. Feng Lei bahkan baru saja mengucapkan kalimat, "Melewati sini, kita bisa langsung tembus ke kawasan ramai di depan. Toko kecil yang lumayan itu..." Kalimatnya bahkan belum selesai diucapkan ketika jeritan Yan Minni dari depan sudah terdengar.
"Ayo!" Mendengar teriakan minta tolong itu, secara naluriah mereka berdua langsung menerjang maju.
"Ada apa?" Melihat sesosok bayangan yang tampak lemah berlari ke arah mereka dari depan, Feng Lei buru-buru bertanya dengan suara mendesak.
"To... tolong aku... orang-orang di belakang ingin mencelakaiku..."
Mendengar pertanyaan dari orang yang datang di depan, Yan Minni langsung menyimpulkan bahwa kedua orang ini sama sekali bukan komplotan Yan Wu. Ia pun berkata dengan napas tersengal-sengal, sambil bersembunyi di belakang punggung Feng Lei.
"Mencelakaimu! Sialan! Di bawah langit yang cerah ini, mereka benar-benar bertindak semena-mena!" Mendengar hal itu, Feng Lei langsung merasa murka.
"Kakak, lindungi wanita ini, serahkan para bajingan itu padaku!" Ma Zifeng juga merasa sedikit kesal. Dalam hatinya ia berpikir, 'Kenapa keamanan di Kota Pinghai sekarang menjadi begitu kacau? Pembunuh bertebaran saja sudah cukup, ini kenapa masih ada orang yang berniat mencelakai orang lain di jalanan?'
"Oke, Kawan, jangan beri ampun untuk mereka!" Feng Lei menepuk bahu Ma Zifeng dengan kuat, lalu berkata dengan suara dingin.
"Baiklah, lihat saja nanti!"
Kata 'nanti' bahkan belum sepenuhnya keluar dari mulutnya, tubuh Ma Zifeng sudah menerjang menyongsong arah kedatangan Yan Wu dan kawan-kawan.
"Bocah, ini adalah urusan keluarga kami. Siapa pun kau, sebaiknya jangan ikut campur dalam urusan ini." Yan Wu menyadari ada seseorang yang berani membela Yan Minni, sehingga ia buru-buru berteriak memperingatkan.
Ma Zifeng tersenyum dingin dan membatin dalam hati, 'Siapa peduli ini urusan keluarga kalian atau bukan? Lagipula di tempat gelap gulita seperti ini, kami menghajar kalian pun kalian tidak akan tahu siapa pelakunya!'
Sambil memikirkan hal itu, Ma Zifeng dengan cepat mengaktifkan mode *Blue Eye* miliknya. Nah, sekarang dalam lingkungan yang remang-remang ini, dialah rajanya!
"Kalian semua—membungkuk, membungkuk, membungkuk..."
Dengan jarak yang begitu singkat, kedua belah pihak yang saling mendatangi itu dengan cepat saling bertabrakan. Mengandalkan keunggulannya serta memanfaatkan suasana yang remang-remang, Ma Zifeng melakukan beberapa gerakan kilat, melancarkan tiga pukulan kait dari kiri dan kanan yang semuanya tepat mendarat di perut ketiga pria berbadan kekar tersebut.
Dengan demikian, persis seperti yang dikatakan oleh Ma Zifeng, ketiga pria berbadan kekar itu langsung membungkuk kesakitan. Jika dilihat dari kejauhan oleh Yan Minni, mereka tampak seolah-olah sedang membungkuk hormat kepadanya.
Akhirnya, Ma Zifeng menghampiri Yan Wu yang berlari paling belakang dan langsung melayangkan sebuah tendangan ke arah dadanya.
"Aaa—"
Diiringi sebuah jeritan mengenaskan, Yan Wu sama sekali tidak menyangka bahwa kecepatan Ma Zifeng bisa begitu luar biasa. Tendangan tersebut mendarat secara telak, membuat tubuhnya terpelanting mundur ke udara.
Namun, tendangan Ma Zifeng sebenarnya tidak terlalu keras. Ia lebih banyak menggunakan tenaga tersembunyi yang bertujuan untuk membuat pria itu terbang bagaikan naik pesawat mainan.
Terbang sejauh lima hingga enam meter, Yan Wu akhirnya jatuh dengan suara "gedebuk" ke atas tanah, lalu berguling-guling beberapa kali ke belakang sambil mengerang tertahan, sebelum akhirnya terbaring tak berdaya dengan posisi kaki dan tangan terbuka lebar dan jatuh pingsan.
Perlahan-lahan membalikkan badan, Ma Zifeng tersenyum dingin ke arah ketiga preman yang belum pulih dari rasa sakit mereka, lalu berkata dengan suara dingin, "Bawa anak itu pergi, enyah dari sini!"
"Pergi..." Salah satu dari preman itu mendengar instruksi tersebut, langsung mengeluarkan geraman tertolak rendah, lalu berbalik dengan tubuh terhuyung-huyung. Ia menghampiri Yan Wu, memapahnya, dan buru-buru berlari keluar dari gang.
Melihat keempat orang itu pergi, jantung Yan Minni yang tadinya diliputi ketakutan akhirnya kembali tenang. Setelah menarik napas dalam-dalam beberapa kali, ia berkata dengan penuh rasa terima kasih, "Te... terima kasih banyak..."
"Sama-sama, melihat ketidakadilan di jalan tentu harus dibantu. Lagipula, jangan tanyakan siapa nama kami, nama kami adalah Lei Feng!" Feng Lei menyadari bahwa Yan Minni masih merasa tegang, sehingga ia langsung tersenyum lebar untuk mencairkan suasana dengan sebuah candaan.
"Pft..."
"Baiklah, baiklah... Komisaris Lei Feng berdua, namaku Yan Minni. Kali ini aku benar-benar berterima kasih kepada kalian."
Ucapan Feng Lei terbukti sangat mujarab. Setelah tertawa kecil, suasana hati Yan Minni menjadi jauh lebih baik, dan ia pun bisa berbicara dengan lebih lancar.
"Sama-sama. Kalau begitu, jika tidak ada hal lain, kami berdua harus pergi sekarang!" Di tengah pembicaraan itu, Feng Lei sudah berjalan menghampiri Ma Zifeng.
"Ini..." Begitu mendengar mereka berdua hendak pergi, Yan Minni seketika merasa panik.
"Kenapa? Masih ada urusan?" Di dalam kegelapan, meskipun Feng Lei tidak bisa melihat ekspresi cemas di wajah Yan Minni, Ma Zifeng bisa melihatnya dengan sangat jelas, sehingga ia pun langsung bertanya.
Yan Minni menggigit bibir bawahnya erat-erat. Setelah ragu-ragu sejenak di dalam hatinya, ia tiba-tiba menghentakkan kakinya ke tanah dan berkata, "Apa yang terjadi tadi sudah kalian lihat sendiri. Orang-orang itu sebenarnya berniat memaksaku menyerahkan harta keluarga. Sekarang mereka berhasil kalian usir, tapi mungkin sebentar lagi mereka akan mengejarku lagi. Jadi, ku pikir... bisakah kalian berdua menemaniku lebih lama lagi? Mobilku kehabisan bensin, dan malam ini aku sangat takut..."
Semakin ia berbicara, perasaan sedih yang mendalam melonjak di dalam hati Yan Minni. Dua baris air mata hangat perlahan-lahan mengalir turun, dan ia pun mulai terisak pelan.
"Ehm..."
Mereka berdua saling berpandangan. Feng Lei mengangkat bahu dengan pasrah, yang menyiratkan bahwa urusan tersebut dibicarakan lain waktu saja. Ma Zifeng mengangguk tanda setuju. Kemudian, Feng Lei menatap Yan Minni dan berkata, "Kebetulan sekali, kami berdua mau pergi makan. Kau mau ikut atau tidak?"