Bab 0110 Dikepung dari Semua Sisi (Bagian Empat)
Sebenarnya, Yang Lu berdandan sedemikian rupa untuk mendekatkan diri dengan Lu You. Begitu mendengar perkataan itu, dia langsung panik dan secara refleks mengangkat kaki untuk menendang. Dia mengenakan sepatu hak tinggi berukuran lima atau enam sentimeter yang tajam layaknya belati.
Jika tendangan itu mendarat, perut Lu You pasti akan berlubang.
Lu You segera melangkah mundur. Sebelum kaki Yang Lu terangkat sempurna, dia kehilangan keseimbangan dan kakinya terkilir.
"Ah!"
Dia menjerit dan jatuh ke tanah. Roknya tersingkap, memperlihatkan pemandangan yang seharusnya tersembunyi.
Lu You dengan sigap maju dan menekan rok itu ke bawah. Kejadiannya terlalu cepat, selain Lu You, tidak ada yang sempat melihat celana dalam katun yang dikenakan gadis itu.
Yang Lu menahan perih hingga air matanya berlinang.
Xu Qing bertanya dengan cemas, "Kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa." Yang Lu mendesis menahan sakit. Tiba-tiba, dia merasakan sensasi hangat di bokongnya. Saat menunduk, dia melihat tangan pria itu masih menempel di sana. Dia melotot pada Lu You, "Tanganmu!"
"Maaf, tadi aku takut kau terlihat oleh orang lain, jadi aku menekan rokmu di situ."
"Sekarang bisa kau singkirkan, kan?"
Lu You menarik tangannya dengan enggan. Dalam hati dia membatin, ada apa dengannya? Sudah beberapa bulan tidak berhubungan intim, dia jadi sulit menahan diri. Sangat perlu bagi Jiang Siya untuk datang saat libur musim panas nanti, kalau tidak, dia takut akan melakukan kesalahan yang fatal.
Xu Qing tampak sangat tidak senang, wajahnya cemberut, "Lebih baik aku mengantarmu pulang saja."
"Tidak perlu, tidak apa-apa." Yang Lu merasa Lu You hampir terpancing. Dia pernah bertanya pada kakak tingkatnya tentang cara menghancurkan seseorang. Kakak tingkat itu memberi tahu bahwa cara terbaik untuk menghancurkan seseorang adalah dengan memacarinya; cinta akan menghancurkannya. Buat dia jatuh cinta padamu, gantung perasaannya, siksa dia terus-menerus, lalu campakkan dia habis-habisan.
Betapa menyakitkan itu!
Yang Lu merasa Lu You mulai tertarik padanya dan akan segera masuk ke dalam perangkap cinta. Dia pun bersiap menjadi wanita jahat yang akan mempermainkan pria itu hingga hancur.
Lu You dan Xu Qing memapah Yang Lu masuk ke restoran. Kebetulan, Liu Hong baru saja kembali dari rumah sakit bersama Jiao Yichui untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Ternyata mereka tidak mengalami cedera serius, hanya memar-memar. Mereka pun makan bersama.
Liu Hong yang sangat mengenal orang-orang dari klub taekwondo hampir tidak mengenali Yang Lu. Melihat gadis itu duduk di samping Lu You dengan sikap yang lembut dan anggun, dia seolah mengerti sesuatu.
Dia menghela napas dalam hati, dunia ini sungguh ajaib, cinta benar-benar bisa mengubah seseorang.
Makan malam itu berjalan cukup menyenangkan. Semua orang berkenalan, perselisihan diselesaikan, dan suasana menjadi damai. Karena kaki Yang Lu membengkak, Lu You keluar untuk membelikannya sandal.
Setelah makan, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di saat udara mulai sejuk, Xu Qing pergi begitu saja dengan wajah kesal tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Yang Lu meminta Lu You mengantarnya pulang. Jiao Yichui sempat ingin membantu karena melihat cedera Yang Lu cukup parah, namun dia segera ditarik pergi oleh Liu Hong.
Di bawah remang malam, orang-orang berlalu-lalang sementara suara pedagang kaki lima bersahutan. Yang Lu memegang bahu Lu You, berjalan terpincang-pincang, lalu berkata, "Bisakah kau berjalan sedikit lebih lambat? Aku ini gadis yang lemah, kau seharusnya merasa kasihan padaku."
Lu You mencebik. Gadis lemah? Dia hampir mematahkan dagu Lu You dengan tendangannya tadi. Lu You tidak tahu rencana apa lagi yang disembunyikan gadis itu, namun dia tetap memapahnya berjalan ke depan.
Yang Lu menatap bekas luka di wajah Lu You dan bertanya, "Maafkan aku, wajahmu jadi rusak begitu. Apa pacarmu akan memutuskan hubungan gara-gara ini?"
"Kalau dia sampai memutuskan hubungan denganku, akan kuhajar kau sampai mati!"
"Kenapa menghajarku? Aku baru pertama kali melihat orang sepertimu, sedikit-sedikit main fisik pada perempuan." Yang Lu memutar bola matanya, "Tidak bisa lembut sedikit? Bagaimana pacarmu bisa jatuh cinta padamu? Kurasa dia tidak secantik aku."
Lu You mendengus, tidak ingin menanggapi lebih lanjut.
Jarak seribu meter itu ditempuh hampir satu jam. Setibanya di bawah gedung asrama, Yang Lu menunduk. Gadis berambut pendek itu ternyata bisa terlihat manis juga. Dia berkata, "Sudah sampai, aku naik dulu. Berikan sepatu hak tinggiku."
"Jangan pakai lagi lain kali," ujar Lu You sambil menyerahkan sepatu itu.
Yang Lu masuk dengan terpincang-pincang. Saat Lu You baru saja hendak berbalik pergi, terdengar jeritan dari dalam. Gadis itu baru saja menaiki tangga namun terjatuh lagi, duduk di lantai dengan wajah yang tampak sangat sedih.
Ibu pengawas asrama berlari keluar dan bertanya, "Ada apa ini?"
"Kakiku sakit sekali, tidak kuat naik tangga."
Lu You menghela napas, menghampiri mereka dan berkata, "Bibi, bolehkah saya menggendongnya sampai ke lantai atas?"
Ibu pengawas itu sudah makan asam garam kehidupan. Dia menatap Lu You lalu beralih ke Yang Lu. Trik seperti ini sudah terlalu basi baginya. "Aku akan ikut kalian ke atas," jawabnya.
Lu You berjongkok dan menggendong Yang Lu dengan gaya pengantin. Berat badan gadis itu tidak seberapa, hanya sekitar lima puluh kilogram dengan tinggi 165 sentimeter, tergolong sangat ramping.
Ini adalah pertama kalinya Yang Lu digendong oleh seorang pria. Kepalanya bersandar di dada Lu You, membuat jantungnya berdegup kencang.
Sesampainya di lantai tiga, Lu You sudah bermandikan keringat. Ibu pengawas membuka pintu asrama, dan gadis-gadis lain di dalam langsung menoleh ke arah pintu. Mereka terkejut melihat si tomboi Yang Lu digendong oleh seorang pria dengan wajah yang tampak malu-malu. Bagi mereka, ini sungguh di luar dugaan.
Setelah membaringkan Yang Lu di tempat tidur, Lu You mengeluarkan minyak urut dari sakunya dan memberikannya, "Gunakan ini untuk mengoles lukamu."
"Wah!"
Ketiga gadis di asrama itu berseru bersamaan. Pemandangan yang sangat romantis. Gadis muda mana yang tidak akan luluh dengan perlakuan seperti ini? Digendong sampai ke kamar, dan setelah ini mungkin akan ada adegan mengoleskan minyak urut.
Sayangnya, ibu pengawas tidak akan membiarkan adegan semacam itu berlanjut.
"Sudah, kau cepat turun sana."
Lu You pergi tanpa menoleh sedikit pun. Teman-teman asrama Yang Lu langsung mengerumuni tempat tidurnya, berceloteh dengan antusias.
"Dari jurusan mana dia?"
"Imut sekali, adik kelas ya?"
"Hebat juga kau, pantas saja kau begitu semangat saat penyambutan anggota baru klub taekwondo, ternyata sudah ada mangsa ya?"