Bab 34: He Wenxiu Memperlihatkan Kesengsaraannya
“Adik, bagaimana dengan perusahaan yang baru saja disebutkan oleh Xiaofeng? Bukankah dia hanya pemegang saham di Perusahaan Hiu Harimau?” tanya Zhao Yumei dengan bingung.
Zhao Yulan tersenyum tipis dan menjawab, “Sekarang dia mendirikan perusahaan baru bersama ayah mertuanya. Apa ya namanya... ah, benar, namanya Dunia TV.”
“Apa?”
“Jadi, Dunia TV yang sedang populer sekarang itu milik Xiaofeng?”
Zhao Yulan mengangguk. Pikiran Zhao Yumei seketika buntu. Ia tidak menyangka keluarga Lin Feng, yang selalu ia pandang rendah, ternyata begitu kaya. Penghasilannya sendiri yang mencapai dua atau tiga juta setahun bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan uang jajan mereka. Dibandingkan dengan perusahaan milik mereka, tempat wisata agrowisata miliknya hanyalah seekor semut di hadapan gajah.
Setelah putranya, Wang Fan, membeli mobil mewah seharga ratusan ribu, Zhao Yumei selalu ingin pamer. Ia sengaja mengundang keluarga adiknya untuk makan malam, berharap bisa menyindir mereka. Tujuannya memang tercapai, tetapi keluarga adiknya tidak ambil pusing. Zhao Yumei awalnya mengira itu adalah rasa iri yang mereka pendam. Namun, kini ia sadar bahwa mereka sudah berada di kelas yang berbeda, sehingga kata-katanya tidak lagi berarti bagi mereka.
“Sudah larut, kami pulang dulu untuk beristirahat. Besok kedai makanan cepat saji kami harus menyiapkan sarapan,” ujar Zhao Yulan sambil melambaikan tangan kepada kakaknya.
Di depan pintu, keluarga Zhao Yumei hanya berdiri terpaku.
“Ayo pulang!” ucap Wang Haiming dingin.
Dalam perjalanan pulang, Zhao Yumei bertanya pada suaminya yang sedang menyetir, “Menurutmu, kenapa Lin Feng tidak bilang kalau dia sekaya itu? Apa dia sengaja ingin membuatku kesal?”
“Dengar ya, kau itu Zhao Yumei, adikmu Zhao Yulan. Kalian sudah tidak muda lagi, kenapa masih suka membanding-bandingkan diri? Kita semua bersaudara, tidak bisakah kau bersikap lebih rendah hati? Mereka mendapatkan dividen ratusan juta setiap tahunnya, apa yang mau kau bandingkan?” cecar Wang Haiming dari balik kemudi. Ia menambahkan, “Lagipula, jika ayah mertua Xiaofeng bisa berbisnis dengannya, dia pasti bukan orang sembarangan. Mulai sekarang, kau harus menjaga sikapmu.”
“Jadi maksudmu ini salahku? Apa kau sendiri tidak punya rasa sombong? Bisanya hanya menyalahkanku. Dulu kau tidak pernah bicara begitu, sekarang setelah tahu Lin Feng kaya, kau malah menyudutkanku!” teriak Zhao Yumei tidak terima.
Wang Haiming menggelengkan kepala, “Seharusnya aku tidak perlu banyak bicara padamu!”
***
Ketika Lin Feng dan Li Shiwei tiba di rumah, mereka melihat Wu Xinru sedang berbaring di pangkuan Li Zhenguo, sementara Li Zhenguo memijat punggung istrinya. Melihat kedatangan mereka, Li Zhenguo segera membantu Wu Xinru duduk.
“Ehem!”
“Dari mana saja kalian hari ini?” tanya Li Zhenguo berusaha bersikap tenang.
“Kami baru kencan. Ayah memijat punggung Ibu bukanlah hal yang memalukan, tidak perlu disembunyikan,” sahut Li Shiwei santai, lalu ia naik ke lantai atas bersama Lin Feng.
“Tuh kan, sudah kubilang jangan minta dipijat, sekarang jadi ketahuan Shiwei, kan!” keluh Li Zhenguo dengan wajah memerah.
Wu Xinru melirik suaminya, “Oh! Jadi memijat punggungku adalah hal yang memalukan?”
Li Zhenguo berbisik, “Bukan begitu maksudku. Kita kan sudah tua, tidak enak kalau dilihat anak-anak.”
“Hmph!” Wu Xinru bangkit dan masuk ke kamar.
***
“Lelah sekali!” Setelah masuk kamar, Li Shiwei melepas sepatunya dan duduk di kursi goyang dengan kaki berbalut kaus kaki putih.
“Kak Feng, video kita sudah rilis, baru beberapa jam sudah ditonton seratus ribu kali,” tulis Zhou Shuai dalam pesan singkat untuk Lin Feng.
Lin Feng mencari video tersebut dengan ID yang dikirimkan. Judulnya bertuliskan, “Betapa Mengerikannya Memiliki Pacar yang Agresif” dengan warna merah yang mencolok, dan sampul videonya memperlihatkan Tan Jiaxin sedang menggendong Zhou Shuai ala pengantin. Meski isinya agak berlebihan, kolom komentarnya dipenuhi dengan rasa iri dari warganet.
Li Shiwei yang melihat Lin Feng menonton video itu segera mendekat. “Jiaxin keren sekali! Aku iri dia punya tinggi badan seperti itu. Seandainya aku setinggi dia, aku juga bisa menggendong suamiku seperti itu!”
“Jangan jalan-jalan pakai kaus kaki saja, nanti masuk angin!” tegur Lin Feng.
“Oh ya, aku juga melihat video yang diunggah ibu Zhang Mengyao,” kata Zhou Shuai sambil membagikan tautan video lain.
Lin Feng segera membukanya. Videonya berjudul, “Hanya Ibu dan Anak, Hidup Harus Terus Berjalan!”
Isi videonya hanya musik latar yang melankolis dengan teks di sepanjang durasi, menampilkan He Wenxiu yang sedang memasak. Teks tersebut menceritakan bagaimana ia dan Zhang Mengyao hidup berdua setelah suaminya meninggal akibat kecelakaan kerja tepat setelah membeli rumah tersebut, dan kini mereka harus melunasi cicilan rumah sambil bertahan hidup.
Ironisnya, video itu diambil di dalam rumah pengantin yang sebelumnya dibeli oleh Lin Feng. Tidak ada sosok Zhang Mengyao di sana, hanya He Wenxiu yang memasak dan makan, sambil menggunakan suara buatan untuk bercerita bahwa putrinya harus lembur hingga larut malam setiap hari.
Kolom komentar dipenuhi dengan dukungan. “Semangat ya!” “Jangan menyerah pada hidup!” “Dukung Ibu!”
Lin Feng tertawa melihat komentar-komentar itu. Jika dia tidak tahu siapa sebenarnya He Wenxiu, dia pasti hampir mempercayainya. Lin Feng menutup video itu dan bergegas mandi.
“Sayang, pijat punggungku ya!” pinta Li Shiwei saat Lin Feng keluar dari kamar mandi.
Lin Feng mengangguk dan menyuruh istrinya berbaring.
“Wah! Sayang, sepertinya kau bisa buka jasa pijat di salon,” puji Li Shiwei.
Lin Feng tertawa, “Kalau aku buka jasa pijat, nanti yang datang pasti perempuan semua. Apa kau rela?”
Li Shiwei terdiam sejenak, lalu menjawab, “Kalau begitu, lupakan saja! Suamiku hanya boleh memijatku seorang.”
Setelah dipijat cukup lama, Li Shiwei yang kelelahan akhirnya tertidur. Lin Feng dengan lembut membalikkan tubuh istrinya dan mengecup bibir mungilnya.
“Selamat malam.”
Lin Feng mengelus wajah Li Shiwei dan ikut terlelap.