Bab Empat Puluh Satu: Tolong, Aku Jadi Cacat Wajah!!
Halaman (1/3)
“Ah~~~”
Di luar pintu, Zhang Mengyao terus mendengarkan jeritan kesakitan He Wenxiu dari dalam.
“Tidak bisakah kalian menyuntikkan anestesi? Apa kalian mau membuatku mati kesakitan?”
Teriakan murka He Wenxiu terdengar dari ruang perawatan.
Akhirnya, setelah dua jam, He Wenxiu keluar dengan wajah pucat.
“Ibu, Ibu tidak apa-apa?” tanya Zhang Mengyao dengan cemas sambil menghampirinya.
“Apa kau tidak tahu ibumu ini baik-baik saja atau tidak? Sial sekali. Saat Ibu digigit anjing, apa yang kaulakukan? Sungguh sia-sia Ibu membesarkanmu selama ini.”
He Wenxiu melirik tajam kepada Zhang Mengyao.
“Nona, ini biaya perawatan kalian tadi. Mulai sekarang, ingatlah untuk datang kemari secara berkala guna mendapatkan vaksin antirabies.”
Seorang perawat menghampiri Zhang Mengyao, menyerahkan selembar tagihan, lalu pergi.
“Tidak apa-apa, Bu! Pria tadi bilang dia akan mengganti biaya kita. Kita tinggal pulang dan meminta uang kepadanya.”
Zhang Mengyao segera angkat bicara.
“Bodoh sekali kau! Ini bukan soal uang. Wajah ibumu sudah rusak sekarang.”
Suara He Wenxiu terdengar getir.
Saat He Wenxiu mengatakan bahwa wajahnya telah rusak, beberapa orang yang kebetulan lewat menutup mulut, menahan tawa. Begitu sudah cukup jauh, mereka pun tertawa terbahak-bahak.
“Tertawa, ya? Kukutuk seluruh keluarga kalian digigit anjing!”
He Wenxiu memaki beberapa orang yang menertawakannya.
“Nyonya, ini rumah sakit. Tolong jangan berteriak-teriak,” tegur seorang perawat.
“Benar, Bu. Sebaiknya Ibu menahan diri sedikit. Bagaimana kalau kita bertemu lagi dengan orang seperti tadi? Itu bisa merepotkan.”
He Wenxiu semakin memikirkan kejadian itu, semakin besar pula kemarahannya. Saat ini, ia bahkan ingin merebus anjing itu untuk dijadikan sup.
“Aku akan menyewa pengacara dan menghancurkan bajingan yang memelihara anjing itu!”
He Wenxiu berkata sambil mengertakkan gerahamnya kuat-kuat.
“Kita tidak punya uang untuk menyewa pengacara. Sekarang saja kita masih berutang biaya pengobatan. Bisa melunasinya saja sudah bagus,” Zhang Mengyao mengingatkan.
“Tidak bisa! Aku tidak sanggup menelan penghinaan ini. Kita harus mendapatkan ganti rugi. Kalau tidak, bukankah wajahku rusak sia-sia? Kalau perlu, kita minta Lin Feng yang mengganti rugi. Kalau bukan karena kita datang ke rumahnya, bagaimana mungkin kita digigit?”
Pikiran He Wenxiu sudah kacau. Yang memenuhi benaknya hanyalah uang.
“Ayo. Hari ini aku tidak boleh menumpahkan darah dengan sia-sia. Kita pergi ke rumah orang tua Lin Feng.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
He Wenxiu menarik Zhang Mengyao keluar dari rumah sakit.
“Ah, bagaimana kalau kita pulang dan beristirahat saja? Lihatlah, kau sudah kehilangan begitu banyak darah. Sebaiknya hari ini kau tidak pergi ke mana-mana,” kata Zhang Mengyao sambil menghela napas.
“Tidak bisa. Kalau hari ini kulewatkan, aku benar-benar akan menjadi penunggak utang. Hari ini aku harus mendapatkan uang. Kalau tidak, aku tidak akan pulang.”
He Wenxiu memberi perintah tegas kepada Zhang Mengyao.
Dengan sisa saldo yang tak seberapa, mereka kembali memesan taksi daring.
…
Dalam sehari, mereka sudah dua kali mendatangi rumah orang tua Lin Feng.
Namun kali ini, He Wenxiu tidak lagi segarang ketika pertama datang.
Ia bersembunyi gemetar di belakang Zhang Mengyao.
“Brak! Brak! Brak!”
He Wenxiu tidak lagi mengetuk pintu rumah orang tua Lin Feng dengan tangan, melainkan menendangnya kuat-kuat.
Setelah menendang beberapa kali, He Wenxiu yang sudah berkeringat dingin memaki, “Ke mana orang tua Lin Feng pergi hari ini? Kenapa seharian tidak kelihatan batang hidungnya?”
“Kenapa kalian datang lagi? Tidak bisakah kalian sedikit tenang?”
Pria bertubuh kekar yang tadi melepaskan anjingnya kembali keluar.
Namun, kali ini ia tidak semarah sebelumnya. Ketika melihat hampir separuh wajah He Wenxiu terbalut perban, ia bahkan merasa sedikit iba.
“Kau… kau tidak akan melepaskan anjingmu lagi, kan? Kuperingatkan, aku akan menyewa pengacara dan menuntutmu!”
He Wenxiu berkata dengan suara gemetar dari balik tubuh Zhang Mengyao.
“Oh! Setelah kau menyewa pengacara, kirimkan surat panggilan pengadilan kepadaku. Kalau belum, jangan banyak mengumbar omong kosong.”
Setelah melontarkan kalimat itu, pria tersebut membanting pintu dengan keras.
“Sudahlah. Sebaiknya kita pulang. Mungkin orang tua Lin Feng baru akan kembali malam nanti,” ujar Zhang Mengyao.
Ia sudah tidak ingin berada di tempat itu lebih lama. Hari ini mereka tidak melakukan apa pun, tetapi ia malah digigit anjing tanpa alasan.
“Tidak bisa! Kalaupun harus mati, aku akan mati di sini.”
He Wenxiu mengeluarkan sekantong apel dari tasnya, lalu mulai menggigit salah satunya.
“Ah…”
Zhang Mengyao menghela napas.
…
Setelah menunggu lebih dari satu jam, Lin Changde dan Zhao Yulan akhirnya tiba di depan rumah mereka.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Biasanya, mereka pergi seharian penuh setiap kali keluar. Namun, sekarang Lin Feng sudah memiliki uang, sehingga pasangan suami istri itu akhirnya mempekerjakan beberapa karyawan untuk membantu pekerjaan di sana.
Kini, setiap hari mereka bisa pulang dan beristirahat selama lebih dari tiga jam.
“Hm? Mengapa kalian berada di depan rumahku?”
Lin Changde bertanya kepada He Wenxiu yang duduk di samping rumahnya sembari membuka pintu.
Ketika melihat Lin Changde pulang, He Wenxiu sempat hendak bangkit dan memakinya. Namun, saat kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah, ia menelannya kembali.
Hari ini ia datang untuk membujuk mereka, bukan untuk bertengkar. Setelah urusannya berhasil, ia bisa memaki sesuka hati.
Setelah membuka pintu, Lin Changde masuk bersama Zhao Yulan tanpa lagi memedulikan He Wenxiu yang duduk di depan rumah.
“Tunggu!”
He Wenxiu dan Zhang Mengyao mengikuti Lin Changde masuk.
“Apa yang kalian lakukan di rumahku? Aku tidak ingat pernah mengundang kalian kemari.”
Lin Changde berkata dengan tenang.
He Wenxiu duduk di sofa seolah-olah rumah itu miliknya sendiri. Ia mengambil sebuah apel dan mulai menggigitnya.
Lin Changde menghela napas.
“Sebenarnya apa urusan kalian? Katakan saja. Jangan perlakukan rumahku seperti rumah sendiri.”
Lin Changde benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi menghadapi ibu dan anak itu. Putranya bahkan belum menagih uang mereka, tetapi mereka malah datang mencarinya.
“Besan, jangan berkata begitu. Kali ini aku datang karena ingin kita duduk dan membicarakan masalah kedua keluarga dengan baik-baik.”
He Wenxiu memutar bola matanya.
“Membicarakan apa? Bukankah sekarang keluarga kita sudah tidak punya hubungan apa pun dengan keluarga kalian? Sebaiknya kalian segera pergi!”
Lin Changde langsung mengusir mereka.
“Yulan, aku sudah datang cukup lama. Kau bahkan tidak mau menuangkan segelas air untukku?”
He Wenxiu mengabaikan Lin Changde dan langsung beralih kepada Zhao Yulan. Menurutnya, berbicara dengan Zhao Yulan masih memiliki harapan.
Namun, Zhao Yulan tidak pergi mengambil air. Ia malah berkata dingin kepada He Wenxiu,
“Untuk apa aku menuangkan air untukmu? Kau datang sendiri ke rumahku. Aku tidak mengusirmu saja sudah cukup baik.”
Meski terus-menerus menemui jalan buntu, He Wenxiu tidak marah. Ia malah tersenyum kepada mereka berdua.
“Aku mengakui bahwa sebelumnya kami memang bertindak agak keterlaluan. Namun, kami sudah memikirkannya baik-baik. Xiaofeng masih menyukai putri kami, Mengyao. Sekarang dia bersama orang yang tidak dicintainya. Menurut kalian, apakah Xiaofeng bisa bahagia? Bukankah dia sudah lima tahun bersama Mengyao?”
Zhang Mengyao yang berdiri di sampingnya segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyela,
“Benar, Ayah! Memang sebelumnya kami yang salah. Namun, Lin Feng dan Li Shiwei benar-benar tidak cocok. Lin Feng sudah ditipu oleh Li Shiwei.”
Halaman (3/3)