Bab Tiga Puluh Tujuh: Salipan Maut yang Mencekam
Malam hari.
Setelah mengantar Li Shiwei pulang, ponsel Lin Feng menerima pesan dari Li Jun.
"Kami semua sudah sampai, nanti kau langsung saja ke alamat yang aku kirimkan."
Lin Feng melirik sekilas lalu beranjak menuju lokasi yang dikirimkan Li Jun.
Langit tampak kelam. Di depan matanya terbentang sebuah arena balap yang sangat luas, dan sebuah motor Kawasaki sedang melaju perlahan menuju ke sana.
Lin Feng membutuhkan waktu dua jam penuh untuk sampai di arena balap itu. Saat ia hendak masuk, seorang petugas keamanan mencegatnya.
"Maaf, hari ini tempat ini disewa secara eksklusif!"
Petugas itu memberi isyarat dengan tangan agar Lin Feng kembali.
"Namaku Lin Feng," ucapnya datar.
Begitu mengetahui bahwa itu adalah Lin Feng, petugas keamanan itu langsung meminta maaf. "Mohon maaf, silakan masuk, Tuan Lin. Kami hanya mencegah orang asing masuk, harap Anda memaklumi."
Lin Feng mengangguk lalu membawa motornya masuk.
Begitu memasuki arena, Lin Feng melihat Li Jun dan empat orang lainnya sedang memilih kendaraan yang akan mereka gunakan malam ini. Mereka pun menyadari sorot lampu motor Lin Feng. Setelah melihat Lin Feng, mereka langsung menghampirinya.
"Bagaimana? Arena balap ini cukup besar, bukan? Ini adalah arena balap terbesar di Huadu," ujar Li Jun sambil menunjuk ke lintasan di belakangnya.
"Lupa memperkenalkan diri. Ini Huang Wenjun, ini Pan Shaohua, yang ini Xu Zhenghua, dan yang satu lagi Sun Cailiang," Li Jun memperkenalkan mereka dari kiri ke kanan.
Li Jun kemudian menunjuk ke arah Lin Feng, "Ini Lin Feng, adik iparku."
Mereka semua mengangguk. Setelah berkenalan singkat, mereka mengajak Lin Feng memilih kendaraan.
"Mobil di sini sebenarnya sama saja, tenaganya pasti cukup. Yang lebih ditingkatkan adalah faktor keselamatannya, jadi pada dasarnya hampir sama. Xiao Feng, pilih saja satu yang menurutmu paling cocok," jelas Li Jun.
Lin Feng mengamati mobil-mobil tersebut. Selain warna dan penambahan sayap belakang pada beberapa model, semuanya tampak serupa. Setelah berkeliling dua kali, Lin Feng memilih sebuah mobil berwarna merah.
"Kalau sudah pilih, coba putari lintasan dua kali! Harus membiasakan diri dengan jalurnya," ujar Huang Wenjun yang berbadan tegap.
Lin Feng mengangguk, lalu duduk di kursi kemudi dan mulai melaju perlahan di lintasan. Tiba-tiba, mobilnya melesat bak kuda liar yang lepas dari kekangannya.
"Adik iparmu ini hebat juga! Tenang dan tidak sombong, wajahnya pun tampan. Pantas saja Shiwei menyukainya," ucap Pan Shaohua sambil memperhatikan mobil yang sudah menghilang dari pandangan.
"Tentu saja, aku saja pintar, bagaimana mungkin selera adikku buruk!" jawab Li Jun dengan bangga.
"Sudahlah, kau saja tidak bisa dibilang pintar," canda Pan Shaohua sambil menepuk dada Li Jun.
Sementara itu, Lin Feng yang sedang berada di lintasan telah menempuh separuh jalan. Ia telah menghafal setiap tikungan tajam dan bagian jalan lurus di dalam kepalanya. Sambil memacu kendaraan, ia juga mengamati orang-orang tadi. Meski mereka semua adalah anak orang kaya, mereka ternyata cukup ramah. Ini adalah kali pertama Lin Feng berinteraksi dengan anak-anak kaya yang tidak menunjukkan perilaku buruk seperti yang sering digambarkan dalam novel.
Setelah beberapa saat, Lin Feng akhirnya menyelesaikan satu putaran penuh.
"Bagaimana? Sudah cukup hafal?" tanya Xu Zhenghua yang tampak berpenampilan rapi.
"Lumayan, sepertinya sudah ingat," jawab Lin Feng santai.
"Kalau begitu, mari kita mulai!" perintah Li Jun. Keenam orang itu pun masuk ke dalam mobil.
Berbeda dengan sebelumnya, suasana yang tadinya santai kini berubah menjadi serius begitu mereka berada di balik kemudi. Keenam mobil berbaris di garis start. Li Jun menelepon seseorang, dan tak lama kemudian, lampu LED besar di atas mulai menyala.
"Persahabatan yang utama, kompetisi yang kedua. Jangan memaksakan diri, satu putaran saja sudah cukup," teriak Huang Wenjun dari tengah.
"10... 9... 1... 0!"
Begitu lampu LED menunjukkan angka nol, keenam mobil melesat bersamaan. Karena lintasan awal berupa jalan lurus, mereka memacu pedal gas hingga ke dasar dan melaju sejajar. Tak lama kemudian, sebuah tikungan kecil muncul, dan mereka mulai memperlambat kecepatan.
Saat Lin Feng mencoba merebut jalur bagian dalam tikungan, mobil Li Jun lebih dulu mengambil posisi tersebut. Diikuti oleh mobil Pan Shaohua. Lin Feng dan yang lainnya tertinggal di belakang. Lin Feng tidak menyangka Li Jun yang biasanya pendiam ternyata begitu lihai dalam balapan, begitu pula dengan Pan Shaohua.
Kesempatan terbaik untuk menyalip adalah di tikungan, dan Lin Feng tetap tenang membuntuti di belakang. Meski sebenarnya ia punya kesempatan untuk menyalip, ia mengurungkan niatnya karena melihat mobil Li Jun dan Pan Shaohua hampir bersenggolan. Ia tidak ingin terjadi tabrakan.
Setelah melewati beberapa tikungan, mobil Li Jun, Pan Shaohua, dan Lin Feng mulai meninggalkan tiga peserta lainnya.
"Li Jun bilang adik iparnya belum pernah mencoba mobil seperti ini, kenapa dia hebat sekali?" batin Pan Shaohua yang merasa heran. Hal yang sama juga dirasakan oleh Li Jun. Namun, persaingan ini justru membuat semangat mereka semakin terpacu.
Di depan terdapat tikungan tajam. Li Jun tersenyum tipis, berencana meninggalkan kedua orang lainnya di sana. Namun, ternyata Lin Feng juga memiliki rencana yang sama.
Saat jarak ke tikungan semakin dekat, kedua orang di depan mulai melambat, namun Lin Feng justru tetap mempertahankan kecepatan penuhnya.
"Anak ini gila? Ingin menang tidak harus sampai begini, tikungan di depan itu sudutnya hampir tiga puluh derajat!" batin Li Jun dan Pan Shaohua seraya bersiap memanggil tim penyelamat.
Sayangnya, Lin Feng baru mengenal lintasan ini satu putaran. Jika ia sempat berlatih lebih lama, mungkin ia bisa tampil lebih baik daripada sekadar nekat seperti ini. Li Jun, meski fokus mengemudi, sudah membayangkan mobil Lin Feng menabrak pagar pembatas. Ia mulai menyesal telah mengajak Lin Feng, karena jika terjadi sesuatu, ia pasti akan dicincang oleh adiknya sendiri.