Bab 35: Pei Hongli yang Terasa Seperti Bermimpi
Halaman (1/3)
Lin Xian’an sama sekali tidak mengetahui perbincangan di Jaringan Bintang. Ia membuka pintu dan melangkah keluar. Setiap langkahnya terasa ringan sekaligus penuh tenaga. Saat menuruni tangga, senyum di wajahnya semakin lebar pada setiap anak tangga yang dilewati. Perasaan mantap yang belum pernah ia rasakan sebelumnya memenuhi dadanya, menghadirkan rasa aman yang juga belum pernah ia kenal.
Baru saja tiba di ujung lorong, ia memandang sisa cahaya senja yang membentang di langit. Ketika hendak memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, dari samping tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang berbelok dan menabraknya.
Dengan gerakan cepat, Lin Xian’an menahan orang itu sekaligus menangkap kotak makanan yang terlepas dari tangannya.
“Aduh, maaf, maaf! Aku berjalan terlalu terburu-buru!” Pei Hongli, yang wajahnya tertutup kerudung hitam, secara refleks mundur beberapa langkah, lalu menundukkan kepala dan terus meminta maaf.
Melihat siapa yang datang, Lin Xian’an mengangkat kotak makanan di tangannya sambil tersenyum. “A Li? Kau datang untuk mengantarkan makanan kepadaku?”
“Hm?”
Pei Hongli yang masih menundukkan kepala semula tertegun. Kemudian ia mengedipkan mata dengan bingung. Mengapa suara ini terdengar begitu akrab?
Perlahan-lahan ia mengangkat kepala, dan pandangannya pun ikut bergerak.
Hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang kaki yang berdiri tegak lurus. Hmm, bentuknya sangat sempurna. Tanpa perlu menyentuhnya pun, ia tahu bahwa itu adalah sepasang kaki yang luar biasa!
Pikiran itu segera menyingkirkan dugaan yang baru saja muncul dalam benaknya. Ini jelas bukan Xian’an!
Karena itu, ia buru-buru mengangkat kepala dan langsung menatap wajah orang di hadapannya.
Detik berikutnya, pupil matanya menyusut tajam. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, seolah-olah waktu telah berhenti!
Menatap wajah yang begitu dikenalnya dan senyum secerah matahari pagi, Pei Hongli menunjukkan ekspresi tak percaya. Dengan suara bergetar, ia berkata, “Xian… Xian’an?”
“Kau… kakimu?” Tangan kanannya gemetar saat menunjuk kaki Lin Xian’an. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi ia begitu gembira hingga tidak mampu mengucapkan kalimat dengan utuh.
Melihat hal itu, Lin Xian’an tersenyum dan mengangguk. “Ya, kakiku sudah sembuh!”
Mendengar jawabannya, ketidakpercayaan di mata Pei Hongli seketika berubah menjadi kegembiraan yang meluap. Senyum pun merekah di wajahnya. “Benar-benar sudah sembuh? Kau benar-benar sudah sembuh? Syukurlah!”
Ia begitu bahagia sampai hampir melompat-lompat kegirangan. Dengan kedua tangan terbuka, ia menerjang Lin Xian’an dan memberinya pelukan erat. “Syukurlah! Xian’an, kau benar-benar sudah bisa berdiri! Syukurlah…”
Merasakan kegembiraan tulus yang terpancar dari hatinya, Lin Xian’an memegang kotak makanan dengan satu tangan dan menepuk punggungnya dengan tangan yang lain. Senyum cemerlang menghiasi wajahnya, sementara keharuan yang pekat pun membuncah di dalam dada.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Di dunia ini, selain kakaknya, mungkin hanya Pei Hongli yang benar-benar ikut berbahagia demi dirinya.
Tentu saja, para penghuni Kota Tanpa Malam dalam Kisah Kejatuhan Malam Gelap tidak termasuk!
“Baiklah, A Li. Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau sengaja mengantarkan makanan ini untukku?” Setelah Pei Hongli sedikit menenangkan diri, Lin Xian’an mengangkat kotak makanan di tangannya.
Wajah cantik Pei Hongli memerah. Tanpa sengaja ia telah memeluknya terlalu lama. Ia mundur dua langkah, lalu memandang Lin Xian’an yang kini berdiri tegap dan menjulang. Seketika, rasa rendah diri muncul dalam hatinya. Tanpa sadar, ia menundukkan kepala dan menjawab lirih, “Hm.”
Sore itu, barulah ia mengetahui dari orang lain bahwa Lin Muan telah mengikuti gurunya ke Akademi Yanqi sejak dua hari sebelumnya. Ia pun segera merasa cemas memikirkan Lin Xian’an, lalu mengisi sebuah kotak makanan dengan hidangan dan bergegas menemuinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pemuda yang sejak kecil selalu duduk di kursi roda itu ternyata telah pulih!
Bahkan, ia kini menjadi semakin tampan!
Sementara dirinya masih tetap gadis buruk rupa yang sama…
Melihat sikapnya, Lin Xian’an segera menebak apa yang sedang dipikirkannya. Hatinya pun terasa sedikit nyeri. Ia melirik kotak makanan di tangannya, lalu tersenyum. “Kebetulan aku juga sedang ingin mencarimu, A Li. Tunggu aku sebentar. Aku akan mengantarkan kotak makanan ini ke atas, lalu segera kembali menemuimu!”
Kebetulan dia juga ingin mencariku?
Mendengar perkataan Lin Xian’an, Pei Hongli seketika merasa bingung. Namun, ketika ia kembali mengangkat kepala, Lin Xian’an sudah berlari menaiki tangga secepat mungkin.
Sesampainya di rumah, Lin Xian’an meletakkan kotak makanan itu di kamar dan berpesan kepada Yun Qingli agar makan dengan baik. Setelah itu, ia segera berbalik dan berlari turun tanpa berhenti.
Ia sangat menyukai perasaan dapat datang dan pergi secepat angin seperti ini!
Ketika kembali ke lantai bawah, ia melihat Pei Hongli yang menatapnya dengan penuh kebingungan. Lin Xian’an tidak berkata apa-apa. Ia hanya membuka telapak tangannya seolah-olah sedang melakukan sulap. Detik berikutnya, sebuah benda sebesar ibu jari, menyerupai lubang hitam, muncul di telapak tangannya.
Pei Hongli mengedipkan mata saat melihat benda yang memancarkan cahaya hitam pekat itu. Meskipun masih merasa bingung, hatinya bergetar tanpa bisa ia kendalikan. Samar-samar ia merasakan adanya keakraban yang tak dapat dijelaskan terhadap benda hitam tersebut.
Sesaat kemudian, seberkas kilat melintas dalam benaknya. Percakapannya dengan Lin Xian’an beberapa hari lalu kembali bergema di pikirannya.
“A Li, sebenarnya wajahmu juga bisa disembuhkan!”
“Apa… apa katamu?”
“Maksudku, wajahmu sebenarnya bisa disembuhkan! Sebelumnya aku sudah membicarakan keadaanmu kepada guruku…”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Saat itu, berbagai emosi seperti kegembiraan, kegelisahan, dan ketakutan bercampur menjadi satu. Namun setelahnya, agar tidak terlalu berharap dan kemudian mengalami kekecewaan yang lebih besar apabila semuanya gagal, ia terus-menerus memperingatkan dirinya sendiri dalam hati: meskipun Xian’an sedang membohonginya, tidak apa-apa. Bagaimanapun, selama bertahun-tahun ia sudah terbiasa…
Karena itu, setelah beberapa hari berlalu, ia hampir melupakan hal tersebut.
Namun kini, emosi rumit yang muncul hari itu kembali membanjiri hatinya. Untuk sesaat, ia menjadi gelagapan. “Ini… benda apa?”
“Ini disebut Bisikan Jurang, suatu zat berelemen kegelapan yang digunakan untuk membimbing kebangkitan kekuatan gaib. Selama kau membangkitkan kekuatan gaib berelemen kegelapan, masalah pada wajahmu akan dapat diselesaikan dengan mudah!”
Lin Xian’an kembali menyimpan Bisikan Jurang itu. Daerah di sekitar mereka dipenuhi rumah penduduk, sehingga bukan tempat yang baik untuk membangkitkan kekuatan gaib.
Alasan kekuatan gaib berelemen kegelapan diklasifikasikan Federasi sebagai jenis kehancuran adalah karena kekuatan ini memiliki daya erosi dan penghancuran. Bahkan saat baru dibangkitkan, kekuatan tersebut mungkin saja menimbulkan dampak besar terhadap lingkungan sekitar.
Karena itu, setelah selesai berbicara, Lin Xian’an langsung menggenggam tangan Pei Hongli dan berlari menuju luar kota. “Ayo, kita cari tempat yang sesuai untuk membantumu membangkitkan kekuatan gaib!”
Pei Hongli ditarik oleh Lin Xian’an. Hatinya dipenuhi kegelisahan, bahkan ia mulai bertanya-tanya apakah semua ini hanyalah mimpi.
Bagaimanapun, menyelesaikan masalah pada wajahnya adalah sesuatu yang selama ini sangat ia dambakan!
Xian’an… benarkah dia bisa membantuku?
Kota Macan Merah tampak begitu indah di bawah cahaya senja. Sinar lembayung memantul di langit dan mewarnai seluruh kota kecil itu dengan rona jingga yang hangat, tenang, dan damai.
Pei Hongli memandangi sisi wajah Lin Xian’an yang tampan dan dihiasi senyum. Kekhawatiran dalam hatinya pun berkurang banyak, digantikan oleh secercah harapan.
Setelah membawa Pei Hongli berlari keluar kota, Lin Xian’an melanjutkan perjalanan menyusuri jalan kecil di samping kota sejauh beberapa kilometer. Mereka baru berhenti di sebuah daerah tandus yang dipenuhi bebatuan berserakan.
Lin Xian’an mengamati sekeliling, lalu mengangguk puas. “Seharusnya tempat ini cukup aman. Kalaupun terjadi gejolak kekuatan gaib, orang-orang lain tidak akan terkena dampaknya!”
Setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Pei Hongli di sampingnya. Tatapannya bersinar penuh semangat. “A Li, apa kau sudah siap?”
Setelah berlari kecil sepanjang perjalanan, Pei Hongli kini sedikit terengah-engah. Dadanya naik turun tanpa henti. Mendengar pertanyaan Lin Xian’an, ia mendadak merasa gelagapan. Ia membalas tatapannya, menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk.
Melihat itu, Lin Xian’an kembali mengeluarkan Bisikan Jurang tadi. “Ayo, telan benda ini!”