Bab 117 Membawa ke Kantor Polisi!
Angin malam berhembus pelan, memberikan kesejukan yang meresap ke dalam tubuh.
Shen Shui Rou memacu motor Yamaha-nya yang tampak tangguh, melesat kencang di jalan raya yang diterangi lampu neon. Suara mesinnya yang menggelegar layaknya auman binatang buas, bergema tanpa henti di sepanjang jalan.
Ye Feng duduk di boncengan motor tersebut. Ia tiba-tiba menyadari bahwa polwan cantik ini mengendarai motor dengan sangat cepat. Gaya dan pembawaannya tampak begitu gagah dan berwibawa. Ia bahkan tidak memedulikan lampu lalu lintas; selama ia merasa aman untuk melintas, ia akan langsung menerjangnya.
Ye Feng terpana melihatnya. Ia pun tak tahan untuk mengingatkan, "Shui Rou, aku tahu kau sedang kesal. Tapi kau tidak boleh mempertaruhkan nyawa, bukan? Bisakah kau melambat sedikit? Kalau tidak memikirkan dirimu sendiri, setidaknya pikirkanlah aku."
"Apa maksudmu?" tanya Shen Shui Rou ketus.
"Aku sudah berumur dua puluhan, tapi istri saja belum punya. Jangankan bicara soal istri yang jauh di mata, pacar pun belum ada. Kalau sampai terjadi kecelakaan dan aku mati konyol di sini, aku berdosa pada leluhur keluarga Ye, dan aku juga berdosa pada adik kecilku," ucap Ye Feng dengan nada serius.
"Adik kecilmu?" tanya Shen Shui Rou bingung.
"Ehem—" Ye Feng berdeham, tampak sedikit malu-malu. Namun, setelah merangkai kata, ia berkata dengan dramatis, "Maksudku adik kecilku yang di bawah sana... dia belum pernah merasakan istri, belum pernah merasakan nikmatnya wanita. Katakan, apa aku tidak berdosa padanya?"
Mendengar itu, Shen Shui Rou tersentak hingga hampir kehilangan kendali atas stang motornya. Motor Yamaha itu bergoyang hebat dan hampir terjatuh!
"Ye Feng, kau bajingan tak tahu malu! Dasar berandal mesum! Aku akan membunuhmu!"
Teriakan lantang penuh amarah keluar dari mulut Shen Shui Rou. Jika saja ia tidak sedang melaju dengan kecepatan tinggi, ia pasti sudah mengamuk dan menghajar Ye Feng habis-habisan. Ia pernah bertemu orang yang tidak tahu malu, tapi belum pernah bertemu berandal seberani ini. Shen Shui Rou benar-benar tidak tahan mendengar pria itu membicarakan topik kotor dengan begitu santai di depannya. Apakah dia sedang menggodanya?
"Shui Rou, jangan emosi, kau sedang menyetir... Harus diakui kata-kataku tadi memang kasar, tapi itu kenyataan. Kau tidak perlu semarah itu, kan?" ujar Ye Feng.
"Hmph! Tunggu saja kalau kita sudah sampai di kantor polisi!"
Shen Shui Rou melontarkan ancaman itu dengan sengit. Karena sedang mengendarai motor, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan memutuskan untuk memberi pelajaran pada bajingan itu setelah sampai di kantor.
Ye Feng tersenyum, seolah menganggap ancaman Shen Shui Rou hanya angin lalu. Ia merasa duduk di motor Yamaha milik Shen Shui Rou adalah sebuah kenikmatan. Misalnya sekarang, saat duduk di belakangnya, tubuhnya sesekali bersentuhan dengan punggung wanita itu yang memiliki lekuk tubuh menggoda. Sungguh pengalaman yang mendebarkan.
Apalagi jok belakang motor sport ini cukup sempit dan miring ke bawah, membuat posisi Ye Feng mau tidak mau terus bersentuhan dengan bokong Shen Shui Rou. Bokong Shen Shui Rou yang padat dan berisi itu tampak menonjol karena posisi tubuhnya yang condong ke depan saat berkendara.
Ye Feng duduk dengan posisi mengangkang, dan dengan sengaja terus merapat hingga bagian pribadinya menyentuh bokong wanita itu.
"Oh—" Ye Feng hampir mengerang dalam hati. Hanya dengan sentuhan seperti ini ia bisa merasakan kekenyalan bokong Shen Shui Rou.
Shen Shui Rou entah terlalu fokus berkendara atau bagaimana, ia tidak menyadari tindakan tak tahu malu Ye Feng. Jika ia tahu, dengan wataknya yang keras, ia pasti sudah menghentikan motor dan menghajar Ye Feng. Berani-beraninya melakukan pelecehan terhadap seorang wakil kapten tim reserse kriminal? Itu sama saja dengan mencari masalah. Beruntung Shen Shui Rou tidak menyadarinya, jika tidak, masalah ini akan menjadi panjang.
Tentu saja, Ye Feng tahu batasan. Bisa menyentuh bokong yang berisi itu saja sudah membuatnya puas. Hal seperti ini harus dilakukan selangkah demi selangkah. Kali ini hanya menyentuh lewat celana, siapa tahu lain kali... hehe, mungkin bisa tanpa penghalang sama sekali.
*Citt!*
Tiba-tiba, suara rem yang melengking terdengar. Ye Feng yang tidak siap, karena inersia tubuhnya langsung terdorong ke depan dan menabrak tubuh Shen Shui Rou.
"Apa kau ingin mati? Kau sengaja, kan?"
Shen Shui Rou segera berbalik, menatap Ye Feng dengan mata yang membelalak marah.
Ye Feng memasang wajah polos. "Hei, apa ini salahku? Siapa suruh kau mengerem mendadak? Tanpa peringatan, ya jelas tubuhku terdorong ke depan."
"Sudah sampai di kantor polisi pun kau masih saja membela diri dengan mulut busukmu itu. Lihat saja nanti, apa kau masih bisa bicara sombong!" ucap Shen Shui Rou dingin.
"Eh? Sudah sampai?" Ye Feng tersentak. Ia menoleh ke depan dan benar saja, mereka sudah tiba di Kantor Polisi Nanhai.
"Turun!" perintah Shen Shui Rou.
Ye Feng menarik napas dalam-dalam, turun dari motor, dan dengan patuh mengikuti Shen Shui Rou masuk ke dalam kantor.
"Kapten Shen!" sapa para polisi saat melihat mereka masuk.
Shen Shui Rou mengangguk, lalu menunjuk Ye Feng. "Dia tersangka kasus Lin Jiang Long yang kubawa. Xiao Zhang, kemari dan bawa dia ke ruang interogasi. Aku akan memeriksanya sendiri nanti."
"Benar dia! Orang di rekaman video itu memang dia!" Para polisi lainnya langsung menoleh dan mengenali Ye Feng sebagai orang yang terlihat menyerang Lin Jiang Long dalam rekaman yang mereka periksa.
Seorang polisi segera menghampiri, memborgol tangan Ye Feng, dan membawanya ke ruang interogasi. Ye Feng bersikap kooperatif, namun saat melihat borgol di tangannya, ia tak bisa menahan senyum. Sungguh nasib yang berubah drastis.
Tiga tahun lalu, dengan statusnya sebagai kapten tim elit Pasukan Naga Tiongkok, ia bisa pergi ke kantor polisi mana pun dan semua orang akan menghormatinya seperti dewa. Bahkan kepala polisi pun mungkin tidak layak untuk sekadar membawakan sepatunya, dan satu perintahnya akan ditaati tanpa bantahan.
Namun sekarang, di kantor polisi Kota Nanhai, ia justru diborgol dan harus menjalani interogasi. Meski begitu, Ye Feng merasa tenang. Karena ia sudah memilih untuk kembali ke kota dan menjadi orang biasa, ia tentu tidak bisa mengharapkan hak istimewa.
Karena sudah sampai di sini, ia akan menjalaninya. Ye Feng juga penasaran trik apa lagi yang akan dimainkan oleh Direktur Lin, yang begitu melindungi anaknya hingga rela mengerahkan kekuatan besar, bahkan mengancam akan mengeluarkan surat perintah pengejaran ke seluruh kota hanya demi menangkap dirinya.