Bab Dua Puluh Sembilan: Betapa Hebatnya Pacarku!
Halaman (1/3)
Siswa yang bertugas mencatat hasil para peserta di lintasan nomor enam kembali mengulang gumaman yang baru saja diucapkannya.
“Sepuluh koma sembilan lima detik...”
Waktu yang ditampilkan pencatat waktu elektronik itu mustahil keliru. Ia hanya membacakan angka tersebut sekali lagi.
Li Yong tertegun. Fakta telah tersaji di depan mata: rekor lari seratus meter telah dipecahkan.
Semula ia hanya mengira Chen Chu berlatih tanpa arah. Namun, ternyata pandangan kebanyakan orang memang terlalu sempit.
Termasuk dirinya sendiri, seorang guru olahraga.
Gerakan lari yang sangat standar, yang biasanya hanya ia lihat dalam pertandingan profesional, serta daya ledak dan kecepatan start yang jauh berbeda dari sebelumnya, membuat Li Yong tiba-tiba merasa bahwa bocah lelaki yang selama ini berlatih di bawah pengawasannya itu begitu asing.
Baru setengah bulan lebih. Jika diberi waktu lebih lama lagi, sungguh sulit membayangkan setinggi apa pencapaiannya kelak.
Sebelumnya, rekor tercepat lari seratus meter putra di SMA Negeri Nomor Satu adalah sepuluh koma delapan tujuh detik.
Mengenai target Chen Chu sebelumnya, Li Yong tiba-tiba memiliki beberapa pemikiran.
Ledakan Chen Chu kali ini menghantam hampir semua anggota tim atletik seperti palu godam. Beberapa orang yang tadi merasa mampu mengunggulinya kini merasa seperti badut.
Pertandingan barusan benar-benar mengerikan, bahkan nyaris membuat putus asa. An Jie pun tertinggal jauh di belakangnya. Dan tidak seperti sebelumnya, ketika kemenangan dan kekalahan masih berimbang, kali ini Chen Chu menang dengan selisih yang mencengangkan.
Apalagi bagi mereka yang kemampuan relatif lebih lemah.
Zhang Dachun juga tampak kebingungan. Ia masih ingat kata-kata yang diucapkannya kepada Chen Chu sebelum pertandingan dimulai.
An Jie sendiri tidak terlalu memedulikannya. Keunggulannya memang bukan lari jarak pendek seratus meter, tetapi ledakan mendadak Chen Chu tetap membuatnya terkejut.
Penampilan itu sama sekali berbeda dari saat latihan.
Begitu pengumuman bahwa rekor telah dipecahkan terdengar ketika hasil dicatat, seluruh lapangan langsung gempar.
“Bang Yong, bagaimana?” tanya Chen Chu sambil mengatur napas dan tersenyum santai kepada Li Yong yang memasang wajah rumit.
“Bocah, kenapa sebelumnya kau pura-pura lemah?”
“Supaya bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk berlatih. Dalam latihan biasa, aku tidak perlu mengerahkan seluruh tenaga agar bisa mempertahankan kondisi dengan baik.”
Li Yong berpikir sejenak. Ada benarnya juga. Bagaimanapun, ia hanya seorang guru olahraga, bukan pelatih atletik profesional. Dilihat dari sekarang, Chen Chu ternyata lebih memahami cara menggali bakat fisiknya sendiri.
Ia tidak tahu lagi bagaimana harus menilainya.
“Kalau begitu, kenapa pada percobaan pertama kau menahan diri sedemikian rupa?”
Chen Chu mengembuskan napas panjang.
“Karena aku masih punya target lain. Jadi, harus menghemat tenaga.”
“Target lain?”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Sebelum Li Yong sempat bertanya lebih lanjut, Chen Chu berjalan santai sambil menggerakkan kedua kakinya untuk menyambut Zhang Dachun, yang sudah lama melewati garis finis dan kini berdiri bengong di tepi lintasan.
“Dachun, bagaimana penampilanmu hari ini?”
Zhang Dachun menatap Chen Chu yang berjalan mendekat. Ia membelalakkan mata, ingin mengatakan sesuatu, tetapi mendadak merasa tidak punya muka untuk berbicara. Sebelum pertandingan dimulai, ia telah melontarkan kesombongan seperti itu, sedangkan barusan ia bahkan tidak mampu mencium debu di belakang pantat Chen Chu.
Tunggu. Ia tidak berada di lintasan nomor enam, jadi memang tidak mungkin bisa mencium debu.
“Kak Chu, aku salah.”
“Salah di mana?” tanya Chen Chu sambil tersenyum.
“Aku terlalu sombong. Ternyata kaulah yang hebat.”
“Tidak apa-apa, aku tidak menyalahkanmu. Mengungguliku di babak penyisihan juga bisa dianggap sebagai satu kemenangan.”
Nada bicaranya yang sedikit mengejek membuat Zhang Dachun memaksakan senyum yang tampak buruk.
“Maafkan kesombongan dan kebodohanku, Kak Chu. Mulai sekarang aku akan mengikutimu dengan teguh.”
Chen Chu mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Metode latihan ini bisa dibilang hanya berguna untukku. Bagi orang lain, ini seperti kitab tanpa tulisan. Kalian cukup berlatih bersama Bang Yong.”
Ia juga tidak berniat mengambil alih pekerjaan orang lain.
“Atau kau bisa mempertimbangkan memasang pegas di bawah kakimu?”
“...”
Zhang Dachun mengusap rambut cepaknya dan menghela napas.
“Semua gara-gara kau terlalu cepat. Kami jadi putus asa sampai tampil buruk.”
“Siapa suruh kalian berharap begitu besar untuk mengalahkanku?”
Chen Chu menepuk bahu Zhang Dachun. “Tidak apa-apa. Sebelum ujian masuk perguruan tinggi, kau masih punya kesempatan.”
“Omong kosong. Rekornya saja sudah kau pecahkan. Kalau aku punya kemampuan seperti itu, ayahku pasti akan tertawa bahagia bahkan dalam tidurnya.”
Chen Chu menggelengkan kepala. “Aku akan memberimu sebuah kalimat.”
“?”
“Suatu hari nanti angin besar akan menerjang ombak, dan layar yang tegak akan mengarungi lautan luas!”
Suara Chen Chu yang tiba-tiba meninggi membuat Zhang Dachun terkejut. Lawan bicaranya pun menunjukkan tatapan penuh kebijaksanaan.
“Kenapa terdengar agak tidak asing?”
“...Nilai bahasa Indonesiamu pasti sangat bagus.”
Chen Chu tiba-tiba mendongak ke arah balkon di atas. Ia melihat seorang kakak kelas yang sejak tadi berada di sana mendadak memalingkan wajah, lalu pergi tanpa menoleh lagi.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
...
Kabar bahwa Chen Chu telah memecahkan rekor lari seratus meter sekolah segera tersebar ke kelas dan memancing seruan kaget yang bersahut-sahutan. Di antara semuanya, suara Li Geya yang penuh kegembiraan terdengar paling jelas.
“Pacarku hebat sekali!”
Itulah reaksi pertamanya setelah memastikan bahwa Chen Chu telah memecahkan rekor lari seratus meter putra dalam ajang olahraga sekolah, rekor yang selama hampir sepuluh tahun tidak pernah tersentuh. Teman sebangkunya sampai terkejut.
Perubahan ekspresi Li Geya berlangsung secepat perjalanan roller coaster. Namun, Chen Chu adalah pengendali roller coaster itu.
Di tengah semangat kelas yang sedang merosot, Chen Chu kembali menghadirkan kejutan besar bagi seluruh kelas. Selain memperoleh poin sebagai juara pertama, ia juga mendapatkan poin tambahan karena memecahkan rekor. Perubahan dari titik terendah menuju puncak itu terasa seperti mimpi.
Tidak bersuara bukan berarti tak mampu; sekali bersuara, langsung menggemparkan.
“Aku sudah tahu dia tidak akan mengecewakanku,” kata Li Geya.
Untung saja Wu Yuya tidak berada di tempat itu. Kalau tidak, ia pasti kembali pusing mendengar ucapan siswi tersebut.
Li Geya dapat merasakan dengan jelas tatapan iri dari beberapa siswi di kelas. Walaupun mereka masih duduk di bangku sekolah menengah, memiliki pacar yang unggul memang akan menarik perhatian orang lain. Dan situasi semacam ini akan semakin sering terjadi dalam kehidupan kelak.
Sebelum menikah, orang-orang akan membandingkan siapa yang memiliki pacar lebih tampan dan lebih memesona. Setelah menikah, yang dibandingkan adalah siapa yang suaminya lebih pandai menghasilkan uang dan lebih terkenal.
Selama Li Geya mampu mempertahankan pemuda di hadapannya itu, semua hal baik akan menjadi miliknya.
Pada saat itu, seluruh keraguan Li Geya terhadap Chen Chu lenyap tanpa bekas.
Ia sudah membagi waktunya untuk belajar, tetapi prestasi olahraganya masih mampu meningkat pesat. Bagaimanapun cara memikirkannya, satu-satunya kesimpulan yang bisa diperoleh adalah bahwa Chen Chu memang luar biasa.
Mulai sekarang, sebaiknya ia memperlakukan Chen Chu sedikit lebih baik. Saat ini, opini publik juga berpihak kepadanya. Namun, ada satu hal yang harus diperjelas: ia tidak boleh merendahkan dirinya sendiri.
Chen Chu saat ini belum berada pada tingkat yang membuatnya harus menurunkan martabat demi mempertahankan hubungan mereka.
Li Geya melihat semuanya dengan jelas, dan ia sangat percaya diri.
Setelah berpikir sejenak, Li Geya bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke toko serba ada di samping kantin. Ia tidak membiarkan teman sebangku maupun teman-temannya ikut.
Lima atau enam menit kemudian, ia kembali sambil membawa kantong plastik kecil.
Ia melihat ke sekeliling, tetapi tidak menemukan sosok Chen Chu yang mengenakan rompi olahraga dengan nomor dada terpasang.
Sambil membawa kantong plastik itu, ia mendatangi tempat Chen Chu tadi meletakkan air mineral.
Tetesan air yang mengembun di permukaan botol telah membasahi bangku plastik.
Tanpa memedulikan perhatian orang-orang di sekitarnya, Li Geya mengambil botol air mineral itu, berjalan ke tepi lintasan karet yang tidak jauh dari sana, lalu membuka tutupnya. Cairan bening mengalir dari mulut botol dan dituangkannya ke celah saluran pembuangan.
Halaman (3/3)