Bab Delapan Puluh Dua: Gerbang Raksasa Ungu
Di hadapan mereka berdiri deretan pria berpakaian hitam yang rapi. Dengan tenang, Cheng Hai memarkirkan mobilnya.
“Turunlah,” ucap Cheng Hai sambil menoleh.
“...Baik.” Gu Mu, yang sedang menggendong Mumu, turun bersama Cheng Hai.
“Wilayah rahasia Yuyuan, tanpa izin, dilarang masuk.” Suara serak terdengar dari pria berpakaian hitam terdepan, ujung senapan hitam mengarah pada mereka.
Cheng Hai perlahan berjalan mendekat, mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna perak dari sakunya, lalu menunjukkannya pada para penjaga.
“Lambang Aliansi.” Gu Mu yang berdiri di samping, sempat melihat lambang khusus di buku kecil itu dari samping, rasanya sangat familiar.
“Aliansi Pelatih Monster Saku Nusantara, Penyidik Kantor Cabang Yucheng, Cheng Hai.”
“Dengan izin pusat, membawa murid Gu Mu, masuk ke wilayah rahasia Yuyuan.”
Mendengar itu, para pria berbaju hitam belum menurunkan senjatanya, justru semakin waspada. “Letakkan kartu penyidik di tanah, mundur tiga meter.”
Cheng Hai tak berdebat, memang prosedurnya serumit ini demi menjaga keamanan wilayah rahasia, suatu keharusan.
Ia meletakkan buku kecil perak itu di tanah lalu mundur ke belakang. Seseorang dari kelompok penjaga itu melangkah ke depan, mengambil buku kecil itu dan menyerahkannya pada pemimpin mereka.
Pemimpin penjaga itu membukanya, lalu mengeluarkan sebuah alat aneh untuk memindai kartu tersebut. Informasi pribadi Cheng Hai pun tampil di layar alat itu.
Setelah memastikan semuanya sesuai, dia memberi isyarat agar para penjaga menurunkan senjatanya.
“Penyidik Cheng Hai, mohon kerja samanya untuk proses identifikasi,” kata pemimpin penjaga.
“Baik,” jawab Cheng Hai singkat.
“Hey, anak muda, melamun apa? Ayo maju,” panggil Cheng Hai.
“Ah,” sahut Gu Mu, lalu berjalan bersama Mumu mendekat.
—
Setelah melewati pemeriksaan wajah, verifikasi iris, dan serangkaian tes lain, akhirnya Cheng Hai dan Gu Mu diizinkan masuk ke wilayah rahasia Yuyuan.
Mulai dari titik ini, mereka benar-benar berada di bawah pengawasan penuh Aliansi. Mobil harus ditinggalkan di luar, itulah alasan Cheng Hai membangunkan Gu Mu sejak pagi.
“Guru, berapa lama kita harus berjalan?” tanya Gu Mu sambil mengikuti di belakang.
“Kira-kira dua jam, kenapa? Sudah lelah?”
“Sepertinya latihan fisikmu kurang berhasil, bagaimana kalau kita coba lagi nanti?” Cheng Hai menoleh dengan senyum nakal.
“Masih mau latihan lagi? Latihan fisik Pak Lei saja sudah bikin saya keok, apalagi ditambah lagi, bisa-bisa saya mati,” keluh Gu Mu.
“Kalau begitu, ayo jalan lebih cepat, makin cepat sampai, makin cepat selesai,” kata Cheng Hai sambil mempercepat langkah.
—
“Oh ya, Guru, apa itu penyidik Aliansi?” tanya Gu Mu penasaran.
Cheng Hai berpikir sejenak, lalu menjawab, “Penyidik Aliansi adalah salah satu cabang jabatan di dalam Aliansi, bertugas mengumpulkan dan menangani berbagai peristiwa yang berhubungan dengan Monster Saku di berbagai daerah. Seperti kasus Hutan Keajaiban Hitam sebelumnya, itu ditangani oleh penyidik Aliansi.”
“Pantas saja waktu itu Guru langsung membawa orangnya, bukan menunggu petugas dari Aliansi,” sahut Gu Mu.
“Tapi bukankah Guru adalah guru di SMA Yucheng? Kenapa juga jadi penyidik Aliansi?” tanya Gu Mu terkejut.
“Siapa bilang, jadi penyidik Aliansi tak bisa jadi guru? Justru guru adalah profesi utama saya, penyidik hanya pekerjaan sampingan,” jawab Cheng Hai dengan bangga, “Mendidik generasi muda adalah panggilan jiwa saya.”
Mendidik? Bukankah pelajaran yang diajarkan adalah pertarungan? Jauh sekali dari mendidik, pikir Gu Mu dalam hati.
“Apakah para pria berbaju hitam tadi juga penyidik Aliansi?” tanya Gu Mu lagi.
“Bukan, mereka adalah Penjelajah Aliansi,” jawab Cheng Hai.
“Penjelajah?” ulang Gu Mu.
“Mereka adalah pasukan khusus yang mengeksplorasi wilayah-wilayah rahasia. Setiap kali wilayah baru ditemukan, Aliansi segera mengirim para Penjelajah untuk meneliti. Saat tidak ada wilayah baru, mereka bertugas menjaga keamanan di setiap wilayah rahasia,” jelas Cheng Hai.
Kemudian, Cheng Hai berbicara dengan nada serius, “Ingatlah, para Penjelajah Aliansi adalah orang-orang yang paling pantas dihormati dan disyukuri. Tingkat kematian mereka jauh lebih tinggi daripada departemen lainnya.”
“Di wilayah rahasia yang dipenuhi Monster Saku liar dan kuat, mereka adalah yang pertama maju, berkorban membangun ‘tembok’ pelindung untuk rakyat.”
Mendengar nada serius Cheng Hai, Gu Mu mengangguk. Dalam hati, ia merasa kagum pada para Penjelajah itu. Mereka rela mengorbankan nyawa demi keselamatan rakyat. Sungguh mulia! Tak heran Cheng Hai begitu patuh pada prosedur pemeriksaan yang rumit tadi.
Itulah rumah yang mereka bangun dengan darah dan keringat, perlindungan ketat sudah pasti dibutuhkan!
Setelah itu, mereka bergegas menuju pintu masuk wilayah rahasia.
—
Bentang alam pegunungan membentuk penghalang alami, ditambah tembok baja yang kokoh. Sebuah benteng kecil berdiri tegak, laksana harimau kuat yang berjongkok di tengah pegunungan.
Gu Mu menatap kagum pada ‘binatang baja’ di hadapannya, matanya membelalak takjub.
“Kita sudah sampai, ayo masuk,” kata Cheng Hai.
“Jadi, ini wilayah rahasia Yuyuan?” tanya Gu Mu ragu. Ini jauh dari yang ia bayangkan.
“Tentu saja bukan,” jawab Cheng Hai.
Cheng Hai kemudian membawa Gu Mu memasuki benteng itu. Di sepanjang perjalanan, beragam pemeriksaan kembali dilakukan. Gu Mu merasa sungguh canggung, bukan karena tekanan seperti Pak Lei, juga bukan karena banyaknya penonton seperti di pusat pertarungan, tapi lebih pada perasaan selalu diawasi, seolah ada yang terus memantau mereka.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah aula khusus. Aula ini berbeda dari bangunan baja sebelumnya, seluruhnya terbuat dari logam berwarna ungu pekat, menambah suasana misterius.
Ketika melangkah masuk, tampak sekelompok tentara bersenjata berdiri tegak, tubuh mereka gagah seperti pohon willow di gurun, kokoh dan tak tergoyahkan.
Gu Mu melirik ke belakang mereka, matanya membelalak. Sebuah pintu raksasa berdiri di sana, seluruhnya berwarna ungu, diukir dengan berbagai motif. Di balik pintu itu, tampak permukaan beriak seperti air, lapisan demi lapisan gelombang bergerak perlahan, tampak aneh sekaligus misterius.
“Ayo,” ucap Cheng Hai.
Mendengar itu, Gu Mu menarik kembali pandangannya, lalu mengikuti Cheng Hai menuju pintu raksasa ungu.
Para penjaga membuka jalan dan tetap berjaga di sisi pintu, mereka tak memperhatikan kedua orang itu. Siapa pun yang bisa sampai di sini pasti sudah melalui pemeriksaan sangat ketat, jadi mereka hanya perlu menjalankan tugasnya.
“Langsung saja masuk,” kata Cheng Hai.
“Baik.”
Gu Mu dan Mumu menatap penuh harap pada pintu besar di depan mereka. Setelah perjalanan panjang dan latihan yang melelahkan, akhirnya Mumu akan berevolusi!
Bersama Cheng Hai, Gu Mu melangkah melewati pintu raksasa berwarna ungu itu.
—
“Huuuh…”
Gu Mu tiba-tiba merasa kepalanya sedikit pusing, matanya berkunang-kunang, namun sensasi itu segera menghilang.
Angin sepoi-sepoi bertiup, sinar matahari hangat menyorot wajahnya.
Perlahan Gu Mu membuka matanya.
“Jadi, inilah wilayah rahasia Yuyuan…”