Bab Sembilan Puluh Delapan: Hidup Bagaikan Panggung, Semua Bergantung pada Akting
“Lagian pada akhirnya kamu pasti bakal mengalahkan mereka, prosesnya nggak penting, hajar saja mereka sampai tak berdaya, itu juga nggak keterlaluan, kan?”
Nggak keterlaluan apanya!
Gu Mu memandang wajah ramah Pak Tua Lei, akhirnya dia mengerti kenapa Cheng Hai sering memanggilnya si tua bangka—pasti karena sering dijebak begini!
Mengingat ekspresi penuh geram Cheng Hai saat menyebut Pak Tua Lei, Gu Mu tiba-tiba merasa sangat sependapat.
Hubungannya dengan yang lain memang sudah tidak baik hari ini, ditambah lagi ucapan Pak Tua Lei barusan, sekarang hubungan Gu Mu dengan mereka langsung berubah dari sekadar lawan menjadi musuh!
“Pak Tua Lei, saya nggak tega melakukan itu, bagaimanapun saya masih harus bertahan di kelas ini dua atau tiga tahun lagi. Kalau sekarang saya sudah membuat mereka marah, bagaimana saya bisa bertahan selama itu!”
“Lagi pula, saya dan teman-teman itu kan sahabat, mana mungkin saya tega menghajar mereka sampai babak belur!”
Gu Mu menatap Pak Tua Lei dengan mata membelalak, tatapannya penuh kepolosan dan kesedihan, bahkan sudut matanya terlihat berkilau air mata.
“Teruskan saja sandiwaramu itu.”
“Sudahlah, aku sudah tahu sifatmu, mau menipu siapa lagi di sini!” Pak Tua Lei menatap Gu Mu dengan kesal.
Aksi Gu Mu di depan Pak Tua Lei itu seperti anak kecil tiga tahun, mana mungkin bisa menipunya?
“Pokoknya, kamu telat dua hari, ada dua pilihan, pilih sendiri.”
“Pak Tua Lei, Anda juga tahu, saya juga nggak punya pilihan. Setiap malam di luar sana, saya selalu merindukan sesi latihan Anda. Saya sebenarnya ingin cepat pulang, tapi siapa sangka malah terjadi banyak hal. Sungguh bukan salah saya!” Gu Mu berkata polos.
Lanjutkan saja sandiwaramu itu.
Pak Tua Lei tersenyum miring, tak berkata apa-apa, hanya menatap Gu Mu yang berusaha menjelaskan. Kalau sampai dia percaya satu kata saja, dia bukan Pak Tua Lei namanya!
Gu Mu menatap canggung, sempat mengira Pak Tua Lei bakal langsung mengusirnya sehingga terhindar dari masalah, ternyata sikap Pak Tua Lei malah tegas, keras kepala, dan sama sekali tak mau mengalah.
Suasana ruang istirahat kembali hening.
Mata Gu Mu berputar, lalu ia berkata,
“Pak Tua Lei, saya barusan sudah pertimbangkan baik-baik, tiba-tiba saya punya pemikiran baru.”
“Katakan cepat.” Pak Tua Lei melirik Gu Mu yang mulai berulah, melambaikan tangannya.
Akhirnya tak tahan juga, kan.
Gu Mu tak ambil pusing, berdeham dua kali, lalu berkata dengan tegas, “Sebagai anggota tim cadangan, bagian dari sekolah ini, saya juga tak tega melihat sekolah dipermalukan di kejuaraan nasional nanti.”
“Jadi setelah saya pikirkan matang-matang, inilah saatnya saya berkorban! Walaupun nanti disalahpahami teman-teman, dianggap musuh, demi masa depan mereka, saya putuskan untuk menerima permintaan Anda.”
“Bagus, itu baru benar.” Wajah Pak Tua Lei yang tadinya datar mulai menunjukkan senyum.
Dasar bocah, masih mau melawanku?
“Tapi…” Gu Mu memandang Pak Tua Lei, tampak ragu untuk bicara.
“Apa lagi?” Pak Tua Lei mengernyit, curiga Gu Mu mau berulah lagi.
“Sudahlah, kalau sudah setuju, cepat keluar.” Pak Tua Lei cepat-cepat melambaikan tangan, ingin segera mengusir Gu Mu.
Tapi Gu Mu pura-pura tak dengar, memasang wajah sedih.
“Tapi tak adil dong, kuda disuruh lari tapi rumput tak dikasih.”
Pak Tua Lei menutupi wajah, melihat ekspresi Gu Mu yang seolah-olah terzalimi, dalam hati bertanya sejak kapan anak ini jadi setebal ini mukanya? Masih minta imbalan pula?
“Bukannya hadiah juara pertama sudah disiapkan? Masih mau apa lagi?” Pak Tua Lei melotot pada Gu Mu.
“Tidak bisa begitu, dulu Anda sendiri yang bilang, itu memang hadiah untuk saya. Dijadikan hadiah juara hanya untuk memotivasi saya. Jadi ini tidak bisa dicampuradukkan.”
“Entah saya setuju atau tidak dengan permintaan Anda, juara pertama pasti tetap saya dapat. Jadi hadiah itu memang hak saya, betul kan, Pak?” Gu Mu tersenyum.
Pak Tua Lei menatap Gu Mu yang mulai bertingkah, urat di dahi tampak menonjol, ingin sekali menamparnya.
Merasa suasana semakin tak kondusif, Gu Mu cepat-cepat berkata, “Pak Tua Lei yang seadil dan sejujur ini, pasti tidak akan membiarkan muridnya merasa dirugikan, kan?”
“Sudahlah, mau apa, bilang!” Pak Tua Lei mengambil teh di meja, meneguknya, menahan emosi.
Mata Gu Mu langsung berbinar, lalu berkata, “Kalau begitu, saya terima saja tawaran Anda.”
“Saya harap, Pak Tua Lei mengizinkan saya untuk tidak ikut latihan setiap Jumat. Tentu saja, untuk pertandingan Jumat depan, saya pasti datang.”
“Apa? Jumat tidak latihan?” Pak Tua Lei menatap Gu Mu, suaranya meninggi, auranya menekan hingga Gu Mu hampir tak bisa bernapas.
“Kamu tahu tidak, latihan itu sangat penting bagimu! Aku sudah membebaskan kalian dari latihan di Sabtu dan Minggu, sekarang Jumat pun mau bolos!” Pak Tua Lei menunjuk Gu Mu, membentak.
Gu Mu menahan tekanan itu, sudah menduga bakal begini, tapi tetap saja mengajukannya.
Pak Tua Lei menatap mata Gu Mu yang keras kepala, perlahan menurunkan tekanannya, mencoba menenangkan diri, lalu bertanya,
“Mau ke mana?”
“Ke institut, Pak.” Gu Mu menjawab serius.
“Benar-benar mau jadi peneliti di Lingxi?” Pak Tua Lei balik bertanya.
“Iya, tapi saya pastikan, latihan tidak akan terganggu. Saat belajar di institut, saya tetap latihan bersama Mumu. Anda juga bisa memantau perkembangan kami secara berkala, kalau tidak puas, saya akan menghentikan semuanya.”
Gu Mu memandang urat di tangan Pak Tua Lei yang makin menonjol, dalam hati agak waswas. Dari ucapan Pak Tua Lei, sepertinya beliau sudah tahu tentang dirinya yang jadi magang di Institut Lingxi dari Guru Cheng Hai.
Tapi apakah Pak Tua Lei bakal setuju, dia sendiri tidak yakin. Dengan watak kerasnya, bukan tidak mungkin dia akan dihajar.
Pak Tua Lei berdiri, menatap Gu Mu, suasana pun perlahan jadi tenang.
Gu Mu juga bingung, sebenarnya disetujui atau tidak, beliau tidak bicara apa-apa, berdiri diam begitu, malah bikin tegang.
Wajah Pak Tua Lei berubah-ubah, memandang Gu Mu cukup lama, akhirnya berkata, “Ingat ucapanmu!”
“Anda… Anda setuju?!” Gu Mu berseru gembira, tak menyangka, kali ini Pak Tua Lei begitu mudah diajak kompromi. Jangan-jangan ini mimpi!
“Tapi ingat, kalau ketahuan malas latihan, jangan salahkan aku bertindak keras!” Mata Pak Tua Lei menatap tajam pada Gu Mu, serius.
“Pasti, Pak!” Gu Mu mengangguk mantap.
“Lagi pula, ini baru aku setujui, soal persetujuan kepala sekolah, nanti aku yang urus. Jadi, nasibmu tergantung dia.” Pak Tua Lei berkata datar.
Meski begitu, Gu Mu tahu, dengan posisi Pak Tua Lei, urusan sepele begini pasti bisa dibereskan kepala sekolah. Artinya, peluangnya sangat besar.
Pak Tua Lei menahan amarah, menatap Gu Mu.
“Ingat, kalau Jumat nanti kamu tidak membuat mereka kapok, aku yang akan membuatmu kapok! Paham?!”
“Siap, Pak.” Gu Mu tersenyum.
Dia masih ingat, ketika baru masuk tim cadangan dulu, sorot penuh perlawanan di mata mereka. Sekarang, kesempatan datang dan sudah dapat restu Pak Tua Lei, kalau mereka masih tak terima, ya sudah, biar saja dihajar sampai tunduk!
“Sudah paham, kenapa belum pergi juga? Mau kutendang, ya?!” Pak Tua Lei berkata ketus.
“Siap, saya pergi sekarang.” Gu Mu buru-buru pamit, dalam hati sudah bersorak gembira.
Tadinya dia sempat khawatir, kalau hanya Sabtu dan Minggu ke Institut, entah kapan selesai belajarnya. Sekarang, Jumat bisa bebas latihan, jadi punya lebih banyak waktu untuk melakukan apa yang diinginkan.
Gu Mu berbalik dengan gembira, menggendong Mumu menuju pintu.
“Tunggu.” Pak Tua Lei tiba-tiba memanggil.
“Ada apa lagi, Pak?” Gu Mu bertanya bingung.
“Ingat, sampaikan salamku untuk Pak Tua Mu, bilang aku akhir-akhir ini sangat sibuk, belum sempat berkunjung. Nanti kalau ada waktu, pasti akan mampir.”
“Sudah ingat?” Pak Tua Lei berkata datar.
“Baik, Pak, saya ingat.”
Gu Mu mengangguk.
“Sudah, pergi sana, lihat saja sudah bikin sebal. Di luar, lanjutkan latihan…”
“Eh, ke mana dia?” Pak Tua Lei mengangkat kepala, melihat ruang istirahat yang sudah kosong.
“Dasar anak bandel, larinya lebih cepat dari kelinci! Entah kenapa Ling’er bisa tertarik padanya.”
“Tidak bisa dibiarkan, nanti cari waktu biar Ling’er mengusirnya, masa bolak-balik begini!” Pak Tua Lei bergumam…
Di luar ruang istirahat, Gu Mu menghela napas lega.
“Untung aku cepat kabur!”
Akhirnya berhasil keluar, kalau lama sedikit lagi, entah latihan apalagi yang bakal ditambah.
Gu Mu mengangkat Mumu ke pundaknya, lalu berjalan ke arah Lin Cheng yang tidak jauh.
“Bos, aman, kan?”
Melihat Gu Mu keluar dari ruang istirahat, Lin Cheng menghentikan latihannya dan menghampiri Gu Mu.
“Mana mungkin aku kenapa-kenapa?” Gu Mu tersenyum.
“Syukurlah, tadi sempat kudengar Pak Tua Lei membentak, seram sekali, kukira ada apa-apa.” Lin Cheng menghela napas lega.
“Pak Tua Lei memang hobi membentak, aku juga nggak tahu kenapa, mungkin lagi latihan vokal.” Gu Mu mengangkat bahu, tersenyum.
“Sudahlah, lanjut latihan, nanti kalau si iblis tua itu keluar dan lihat kita malas-malasan, repot.”
“Siap, bos.” jawab Lin Cheng.
—
Sehari penuh latihan pun berlalu, Gu Mu dan Lin Cheng berjalan bersama di jalan, masing-masing membawa burger dan melahapnya rakus.
Latihan Pak Tua Lei memang bukan main-main, kalau tidak isi energi, pasti tak sanggup. Mumu juga tak terkecuali, sudah lama tidak latihan, kini bisa merasakan indahnya berlatih lagi, bahkan menjadikan kepala Gu Mu sebagai meja, berbaring di atasnya dengan tangan terlipat.
“Bos, tadi waktu kau di atas panggung, mungkin tak lihat jelas, beberapa wajah orang sampai ungu saking kesal. Kalau bukan karena Pak Tua Lei ada di depan, sudah kucapture buat kau lihat.” Lin Cheng tertawa terpingkal.
“Biar saja, toh sebentar lagi Jumat, mereka juga tak bisa mengelak dari pertandingan.” Gu Mu mencibir, tak peduli.
“Oh iya, Gendut, ada sesuatu buatmu.” Gu Mu tersenyum.
“Apa?”