Bab Lima: Sang Dewa Menyentuh Kepalaku
“Sudah siap?”
Tiba-tiba, Guru Sembilan bertanya.
“Ya, sudah siap,” jawab Lin Feng buru-buru sambil mengangguk.
“Bagus, tundukkan kepalamu.”
“Hah?”
Lin Feng yang bingung menundukkan kepalanya.
Dalam hatinya timbul keraguan, kenapa harus menundukkan kepala untuk menerima ajaran? Apa logikanya?
Plaaak!
Terdengar suara tamparan nyaring. Kepala Lin Feng terasa panas dan berdenyut, telinganya pun berdengung, bahkan pikirannya seolah-olah dijejali sesuatu.
Kepalanya terasa pusing dan matanya berkunang-kunang.
Setelah beberapa saat, Lin Feng akhirnya sadar dan menatap Guru Sembilan dengan wajah ketakutan.
“Dewa menyentuh ubun-ubunku, sekali tepuk remuklah jiwa?” gumam Lin Feng.
Guru Sembilan kembali menampar ubun-ubun Lin Feng dengan presisi.
“Bodoh betul!”
“Itu namanya dewa menyentuh ubun-ubunku, mengikat rambut menerima keabadian.”
“Remuk jiwa apanya, kubikin benar-benar remuk kalau kau banyak omong.”
Setelah memarahi Lin Feng, Guru Sembilan melanjutkan penjelasan tentang ilmu yang akan diajarkan.
“Aku mewariskan padamu suatu jalan latihan, namanya Ilmu Agung Meminjam Wujud Benda, salah satu ajaran tertinggi di Maoshan.”
“Meski telah berdebu ratusan tahun di Maoshan, ajaran ini tetap yang terunggul. Bukan karena tak ada yang ingin belajar, tapi tak banyak yang layak.”
“Karena kau memiliki dasar yang dalam, aku sudi mengajarkan ilmu ini. Kalau bukan karena syaratnya terlalu berat, ini sudah pasti salah satu ilmu tertinggi yang hanya boleh dikuasai kepala perguruan.”
“Bersyukurlah!”
Guru Sembilan menyesap teh yang diseduh Lin Feng, lalu memandangnya dengan jengkel.
“Sudahlah, semua yang harus kuberikan sudah kuberikan. Setelah perjalanan jauh, aku juga lelah. Aku mau istirahat dulu.”
Selesai berkata begitu, raut lelah tampak di wajah Guru Sembilan. Maklum saja, perjalanan zaman ini bukan naik kendaraan, melainkan berjalan kaki ratusan li—sungguh menguras tenaga.
Setelah membereskan barang-barangnya, Lin Feng menutup pintu rumah mayat lalu masuk ke kamarnya.
Bagaimanapun, ia sebelumnya belajar secara otodidak. Meski punya banyak dasar, tapi latihan sejati belum pernah ia jalani.
Jujur saja, jantungnya berdebar-debar saat ini.
Rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan!
Kalau harus memakai satu kata, rasanya: luar biasa!
Duduk bersila di kamar, Lin Feng mulai membaca dengan saksama ajaran yang tertanam di benaknya dari Guru Sembilan.
Tak lama, ia membuka mata dengan raut terkejut memahami betapa luar biasanya ajaran ini.
Barulah ia benar-benar mengerti maksud ucapan Guru Sembilan tadi.
“Pantas saja guru bilang, kalau bukan karena syaratnya terlalu berat, ini pasti jadi ilmu wajib para kepala perguruan. Ternyata memang dahsyat!”
“Mampu meminjam wujud benda, memanfaatkan kekuatan luar, kemampuan ini hampir sebanding dengan menciptakan jelmaan diri, padahal itu baru satu sisi kegunaannya!”
“Yang paling hebat adalah bisa membentuk perwujudan spiritual, sehingga sejak tingkat Dewa Bayangan, sudah bisa berjalan di siang hari—benar-benar luar biasa!”
Lin Feng takjub.
Dengan tambahan pengetahuan tingkat tinggi dari Guru Sembilan, kini ia adalah pendeta Maoshan tulen berpendidikan resmi.
Umumnya, Dewa Bayangan tak bisa muncul di siang hari. Api matahari sangat panas dan bisa membakar mereka.
Hanya siluman arwah yang telah melewati cobaan petir saja yang mampu berkelana di siang hari, memiliki aneka kesaktian menakjubkan.
Ini berarti ia bisa lebih awal menikmati fasilitas tingkat tinggi, sungguh selisihnya tak terukur.
Siapa cepat, dia dapat—Lin Feng sangat memahami prinsip ini.
Setelah tahu betapa besarnya manfaat yang didapat, ia pun mulai berlatih. Langkah pertama adalah menyalakan Cahaya Janin.
Jiwanya yang telah berpadu dengan tingkat Dewa Bayangan, segera menyalakan seberkas cahaya cemerlang di batinnya.
Cahaya itu kian terang.
Tak lama kemudian, seluruh lautan jiwanya pun disinari!
Seekor naga ular melesat, membelit dari langit ke sembilan, lalu dalam sekejap menerjang turun!
Di lautan jiwa Lin Feng, makhluk itu berubah menjadi matahari cemerlang, bersinar terang!
Inilah fondasi Gerbang Langit!
“Selangkah lagi!”
Lin Feng hendak menembus matahari dan membentuk Dewa Bayangan, namun tepat saat matahari hendak pecah dan seekor naga hendak melesat keluar,
tanda petir di lautan jiwanya bergerak!
Petir lembayung menyelimuti matahari jiwanya, memancarkan aura yang membuat Lin Feng merinding.
Sebentar kemudian petir menghilang, matahari itu semakin panas dan kokoh, namun belum mampu membentuk arwah yang lebih kuat.
Meresapi berat dan kokohnya jiwa, Lin Feng pun paham.
“Dengan menyingkirkan kotoran jiwa, kini ia tambah murni dan serasi.”
“Walau tak naik tingkat, tapi fondasinya jauh lebih kuat.”
“Ini sungguh menguntungkan!”
Bangunan setinggi apapun berdiri dari fondasi, tanpa dasar kokoh, mustahil bisa mencapai puncak.
Lagipula, perbedaan antara Dewa Bayangan dan fondasi Gerbang Langit baginya tak terlalu jauh. Walau baru tahap fondasi, namun esensi jiwanya sudah setingkat Dewa Bayangan.
Setidaknya, ular naga itu mampu menanggung cobaan petir, walau gagal namun telah mengalami perubahan mendasar.
Itulah sebabnya Guru Sembilan agak iri!
Bayangkan saja, ia sendiri harus menempuh derita dan nyaris mati berkali-kali untuk bisa selamat dari cobaan petir,
tiba-tiba kini punya murid keturunan orang kaya yang bisa langsung menembus Dewa Bayangan.
Dan murid itu anak didiknya sendiri!
Siapa yang tak merasa iri?
“Kini tenagaku jauh lebih terkontrol, bahkan bisa mengatur dengan sangat presisi. Mengingat cara lamaku, sungguh sangat kasar.”
Sekarang, satu bagian tenaga bisa digunakan seluruhnya, bahkan kadang efeknya dua kali lipat.
Tapi kalau mengingat bagaimana ia dulu mengendalikan kekuatan, Lin Feng jadi malu sendiri.
Dulu, seperti anak kecil memegang palu besar, sepuluh bagian tenaga hanya mampu dikeluarkan satu, sangat buruk!
Bandingkan dengan sekarang.
Di tubuh Lin Feng, di permukaan kulitnya terbentuk lapisan tipis mirip selaput. Dengan sentuhan ringan, seperti kulit serangga yang lepas, ia bisa mengelupas selembar kulit.
“Pembersihan otot dan sumsum, atau seluruh tubuhku telah berevolusi?”
Menggenggam tinju, merasakan kekuatan yang benar-benar nyata, Lin Feng pun bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya.
Saat itulah, telinganya menangkap suara percakapan dari kejauhan.
“Kau sudah dengar belum? Satu keluarga Wang Er Ya di ujung desa mati semua, matinya tragis sekali.”
“Masa? Aku belum dengar.”
“Bukan cuma itu, Zhang Da Zhu juga mati, kayaknya desa kita didatangi makhluk halus.”
“Hah? Serius?”
Salah satu dari mereka tampak sangat ketakutan.
“Iya, makanya kami mau cari Guru Sembilan.”
“Ayo cepat, jangan-jangan kita juga kena nasib sial nanti.”
...
Lalu, Lin Feng mendengar langkah kaki mendekati rumah mayat, memastikan bahwa di desa sekitar memang ada gangguan makhluk halus.
Tapi setelah melirik ke dalam, ia melihat Guru Sembilan baru saja beristirahat. Tak tega membangunkannya, biar saja beliau beristirahat dulu.
Mata Lin Feng berkilat tajam.
Jika guru ada urusan mendesak, murid siap membantu. Untuk urusan hantu biasa, biar aku Lin yang mengurus!
Kebetulan baru saja menguasai ajaran agung, memang sedang ingin mencoba pada orang lain. Ini benar-benar seperti mengantuk lalu diberi bantal!