Bab Sembilan Puluh Dua: Pengejaran
Inilah alasan Lin Feng sangat mengagumi Zhao Li. Dia selalu memikirkan cara untuk meraih keuntungan bagi dirinya sendiri. Terlebih lagi, hal yang paling penting adalah Lin Feng juga bisa mendapat bagian dari itu. Apa lagi yang lebih menggairahkan daripada ini?
Setelah beberapa saat merenung, Zhao Li lebih dulu membuka suara.
“Waktunya sudah tiba. Rumput sudah tumbuh subur, saatnya memanen.”
“Kalau tidak segera dipanen, khawatirnya akan berpengaruh pada tanahnya.”
Lin Feng pun mengangguk setuju. Ia menatap ke kejauhan, melihat Du Jingsheng yang tubuhnya semakin membesar dan mulai menampakkan wujud di antara asap kebiruan.
Ia juga menjawab, “Memang sudah saatnya bertindak.”
Jika mereka terlambat, keberuntungan keluarga Du bisa terkena dampak yang tak bisa dipulihkan. Bagaimanapun juga, keluarga itu di masa depan mungkin akan menjadi mertua Zhao Li. Jadi, tetap harus diperhatikan.
“Ayo!”
Keduanya saling berpandangan, lalu serempak berubah menjadi kabut tipis dan lenyap dari tempat itu.
Di atas langit aula leluhur, Du Jingsheng masih mengira dirinya tak terdeteksi siapa pun. Ia sedang asyik menyerap dupa dan menikmati seberkas keberuntungan yang didapat. Dalam hati, ia bersumpah, “Zhao Li, Lin Feng, tunggulah kalian. Saat aku berhasil menguasai ilmu dewa di masa depan, kalian akan merasakan penderitaan yang lebih buruk dari kematian! Kalian telah menghancurkan rencanaku, aku akan memusnahkan seluruh keluarga kalian!”
Belum sempat selesai, tiba-tiba terdengar suara Lin Feng dari belakangnya.
“Kalau begitu, matilah kau!”
Cahaya keemasan meledak, kekuatan dahsyat memancar seketika. Dengan kekuatan ilahi yang luar biasa, Lin Feng menciptakan sebuah ranah ilusi dewa yang menindas Du Jingsheng.
Di sisi lain, Zhao Li juga tidak tinggal diam. Ia memiliki jurus pamungkas untuk mengatasi makhluk seperti ini.
“Setiap langkah menumbuhkan teratai.”
“Bunga bermekaran seketika.”
Begitu kata-kata itu meluncur, tubuh Zhao Li bersinar dengan cahaya keemasan Buddha. Sebuah lingkaran cahaya Buddhis muncul di belakang kepalanya, setiap langkahnya menumbuhkan teratai emas. Di belakangnya, seolah-olah para penganutnya tengah berdoa. Rambut di kepalanya tidak mengurangi wibawa dan kesan seorang biksu agung.
Ajaran Buddha sangat menekankan kekuatan batin. Ketika ranah ilahi dan ranah Buddha yang mempengaruhi jiwa dan batin muncul bersamaan, Du Jingsheng langsung tak tahan.
Pada dasarnya, alasan ia bisa lolos sebelumnya adalah karena Lin Feng belum memahami sepenuhnya kekuatannya. Kini, keduanya sangat serius. Hampir tak ada yang bisa lolos dari mereka! Mereka benar-benar pasangan paling serasi, saling melengkapi tanpa cela, sepenuhnya menutup jalan mundur Du Jingsheng.
“Kalian... Aku akan bertarung sampai mati!”
Wajah Du Jingsheng memerah, jelas kemarahannya sudah memuncak. Energi di tubuhnya bergolak hebat. Saat Lin Feng dan Zhao Li mengira ia hendak menghadapi serangan mereka secara langsung, siapa sangka Du Jingsheng memilih melarikan diri.
Dia benar-benar kabur!
Dalam kondisi normal, ia takkan bisa lolos. Namun, kali ini ia benar-benar berani bertaruh segalanya. Ia melakukan pengorbanan besar: menebas sendiri keberuntungan dan dupa yang telah diserapnya. Dalam sekejap, jiwanya menjadi tidak stabil. Dengan harga sangat mahal, ia berubah kembali menjadi roh ilusi dan melompat ke ruang ilusi lain.
“Hmm?”
Kedua orang itu saling berpandangan dan berseru bersamaan, “Kejar!”
Selanjutnya, ketiganya memulai perburuan sengit. Du Jingsheng berlari sangat cepat di depan, tak lama ia sudah melompat ke entah berapa banyak ruang ilusi. Ia tampak sangat leluasa. Begitu memasuki ruang ilusi, tubuhnya seperti bertambah besar. Meski masih dikejar, ia bahkan sempat melontarkan ancaman.
“Selama hati manusia tetap rumit dan jiwa masih ada, aku tidak akan pernah mati! Kalian berdua bajingan, jangan sampai aku menemukan kesempatan. Begitu aku punya celah, kalian pasti akan menyesali apa yang kalian lakukan padaku hari ini!”
Suaranya melayang-layang di antara ruang-ruang ilusi yang tak terhitung jumlahnya.
“Bodoh!” seru Zhao Li dingin. “Urus saja dirimu sendiri!”
Ia membentuk mudra, jelas hendak melancarkan jurus pamungkasnya.
“Bodhi Paramita!”
“Sutra Vajra!”
“Wujud Ilahi Kebijaksanaan!”
Dengan teriakan itu, bayangan Buddha raksasa muncul di belakang Zhao Li, kedua tangan disatukan, membentuk ranah Vajra keemasan yang memburu Du Jingsheng hingga ke ujung ajal.
Cahaya Buddha menyinari, menuntun semua makhluk, membuat Du Jingsheng tak ada jalan lari!
“Haha! Tak bisa membiarkan Kakak Zhao sendirian tampil unggul!” Lin Feng tersenyum tipis, lalu mengerahkan jurus andalannya.
Sebuah bulan purnama agung muncul, di dalam batin, berubah menjadi cakra dewa yang mengunci erat sosok Du Jingsheng!
Ruang batin seperti ini, pada dasarnya hanyalah dunia ilusi. Siapa pun yang punya kekuatan sihir, batin, dan kemampuan membual lebih hebat, dialah yang menciptakan wujud dewa paling menakutkan.
Jadi, ini sangat menguji imajinasi. Namun, soal membual, Lin Feng tak pernah kalah dari siapa pun. Sekalipun ada banyak makhluk sakti tua, ia tetap salah satu yang terdepan di zaman ini.
Bulan purnama itu memunculkan kodok emas, pohon laurel membentuk wujud, kelinci giok memancarkan cahaya yin murni.
Begitulah, tiga orang itu terlibat dalam pengejaran sengit di alam mimpi batin.
Menjelang senja, semua orang di Kota Zhang yang tengah mengantuk, tidur, atau menyimpan beban di hati, bermimpi melihat sebuah cahaya kilat melintas. Lalu, muncul sosok Buddha, ranah Vajra terbentang, para penganut melantunkan doa, menghapus banyak kegelisahan di hati mereka.
Setelah Buddha, bulan purnama bersinar terang tiada tara. Kelinci giok menumbuk ramuan, memancarkan cahaya suci, menenangkan duka dan derita di hati semua orang.
Banyak orang terbangun. Sejenak, mereka merasa batas antara nyata dan ilusi menjadi kabur.
Di luar Kota Zhang, di pegunungan ratusan li jauhnya, di sebuah kuil rusak, seorang biksu tua mengenakan pakaian tambalan sedang menikmati semangkuk mie polos. Ia terpaku sejenak, memandang patung arhat di kuil itu. Ia melafalkan satu bait Buddha.
“Amitabha... Arhat telah turun ke dunia, kebijaksanaannya belum terbuka. Bagus, bagus...”
Selesai berkata, ia kembali makan mie, seolah-olah semangkuk mie itu adalah segalanya di dunia, tak ada ruang untuk hal lain.
Di tempat lain, Daozhang Empat Mata yang baru saja berbaring dan belum sempat tidur, terpaksa membuka matanya.
“Sudah kuduga anak bandel itu pasti cari gara-gara lagi. Menyebalkan. Mengganggu tidurku. Pergi, pergi...”
Seperti mengusir lalat, Daozhang Empat Mata menutup mata, mengibaskan tangan, lalu kembali terlelap.
Sementara itu, di ruang mimpi batin, Du Jingsheng benar-benar sial. Pertama ia menabrak lambang swastika, lalu ditampar tangan raksasa hingga terlempar kembali, jatuh tepat ke tangan dua pengejarnya.
Lin Feng dan Zhao Li saling tersenyum. Lin Feng menghabisi Du Jingsheng, Zhao Li menghapus kesadarannya. Jiwa murni Du Jingsheng pun dibagi habis oleh mereka berdua.
Ketika keduanya kembali ke dunia nyata, Lin Feng tiba-tiba merasakan sesuatu. Dalam benak batinnya, ia seolah mampu menangkap keberadaan sebuah tempat istimewa. Melalui benak batin itu, samar-samar ia melihat dunia baru yang penuh warna dan keanehan!