Bab 43: Ketupat Daun Hijau
Zhang Haiyan benar-benar sudah pasrah dengan tangan dan kakinya yang terasa tak mau menurut. Dalam hati ia bersumpah, begitu keluar nanti, ia harus menjalani latihan pemulihan. Kalau masih belum mampu, ia akan pergi ke taman untuk mencari dua kakek dan lanjut berlatih tai chi bersama mereka.
Tapi untuk senam di lapangan, ia menyerah saja. Ia tak bisa mengikuti irama, para nenek-nenek itu menari terlalu semangat.
Kacamata Hitam mendekat ke sisi Zhang Qiling dan berbisik, “Pernah nggak sih, kamu kepikiran mau coret dia dari silsilah keluarga? Kalau iya, biar aku saja yang ngurus dia.”
Zhang Qiling mendorong Kacamata Hitam, lalu melihat Zhang Haiyan yang sudah selamat merangkak melewati rintangan. Ia kemudian meluncur gesit dengan gerakan seluncur ditambah membungkukkan tubuh ke belakang, dalam sekejap sudah lolos dari bawah para zombie itu.
Begitu sampai, tubuhnya langsung tegak berdiri. Zhang Haiyan sampai melongo, buru-buru berlari mendekat dan mencolek dada Zhang Qiling.
“Ini juga nggak empuk, kok kamu bisa begitu?”
“Kelenturan tubuh itu nggak ada hubungannya sama tubuh lunak atau nggak.”
Kacamata Hitam juga lewat dengan cara yang sama, lalu menekan pundak Zhang Haiyan, satu tangan menahan pinggangnya sambil cemberut, “Tua memang beda, nggak bisa dibandingin sama anak muda kayak kalian.”
Zhang Haiyan melirik sejenak, soal siapa yang lebih tua, ia sendiri tidak yakin. Tapi itu tak menghalanginya untuk diam-diam mengomel.
[Kalau memang nggak bisa, ya bilang aja nggak bisa, ngapain sok-sokan bilang tua.]
Tapi baru kali ini ia lihat Kacamata Hitam tidak sok hebat, malah tampak benar-benar cemberut, Zhang Haiyan pun menahan lengannya yang menekan pundaknya, membantu menopang, walau dengan sedikit nada kesal, “Tua dari mana? Kamu itu kalah sama Zhang Ge-ku yang keras kepala. Dia tuh dari kecil latihan keras, sudah makan banyak pahit demi bisa kayak sekarang, kamu nggak usah sok, merangkak aja nggak bisa.”
Zhang Qiling sempat tersenyum bangga saat dipuji Zhang Haiyan, tapi ketika melihat Kacamata Hitam menempel terus ke badan Zhang Haiyan, dan ekspresi cemberut itu berubah jadi penuh kemenangan, ia kembali melirik Kacamata Hitam dengan kesal.
Tapi Kacamata Hitam tak peduli Zhang Qiling tahu ia sedang berpura-pura, selama si bocah polos itu tak sadar, ia yakin Zhang Qiling bukan tipe orang yang suka mengadu. Ia bahkan sengaja tersenyum penuh kepuasan ke arah Zhang Qiling.
Zhang Haiyan tak menyadari persaingan di atas kepalanya, ia menuntun Kacamata Hitam masuk ke dalam, sambil terus mengomel.
“Lain kali kalau nggak kuat jangan maksa, ginjal kamu juga nggak bagus, nanti pinggang tua kamu tambah rusak.”
Senyum puas Kacamata Hitam langsung menghilang. Dari mana dia tahu ginjalku bermasalah?
Kalau sampai tahu siapa yang menyebar gosip, bakal kuajar sampai pipinya berbunga!
Aku sehat kok, sehat banget! Kacamata Hitam ingin rasanya langsung demonstrasi kencing melawan angin sejauh tiga meter. Untung saja yang mengomel itu perempuan, kalau laki-laki, sudah diajak ke toilet bareng.
Tak lama berjalan, mereka bertiga sampai di sebuah aula besar, berbeda dengan ruang makam utama, tempat ini jelas adalah ruang persembahan. Enam pilar besar berdiri di tengah ruangan, dan di pusatnya terdapat altar teratai dari batu.
Di atas altar itu terletak sebuah peti batu kecil.
Mereka bertiga langsung teringat dengan benda yang pernah mereka lihat di mural, yang dipegang dalam tangan, yang oleh Zhang Qiling disebut sebagai Hati Teratai Delapan Permata.
Zhang Haiyan memang tak banyak paham soal benda-benda ini, jadi ia berdiri saja dengan patuh di samping mereka.
Zhang Qiling dan Kacamata Hitam yang berpengalaman langsung bisa membaca situasi. Mereka berdua pun memeriksa area sekitar dengan hati-hati, lalu menyimpulkan peti batu di altar teratai itu asli, tapi jelas merupakan bagian dari jebakan. Jika mereka tak salah lihat, altar teratai itu pasti mekanisme berbasis berat.
Begitu ada yang naik ke atasnya, atau mengambil isi peti batu, mekanisme akan aktif. Soal jenis jebakan apa, mereka pun tak tahu, mungkin saja para zombie gantung di luar akan turun untuk ‘berkenalan’.
Namun hal itu tak membuat mereka gentar.
Tiba-tiba Kacamata Hitam melirik nakal ke arah Zhang Haiyan, “Beratmu berapa?”
Wajah Zhang Haiyan langsung menggelap.
“Nggak tahu ya, berat dan umur perempuan itu pantangan untuk ditanya?”
Kacamata Hitam hanya tertawa.
“Maaf, tapi sekarang…” Ia menunjuk ke sekeliling aula yang bahkan tak ada batu berserakan, lalu melanjutkan, “Kita berdua jelas lebih berat dari peti itu, tinggal kamu saja yang jadi ‘relawan’.”
Zhang Haiyan mendengus, lalu menjawab dengan suara pelan, “Aku mana tahu berat mayat… eh…”
Belum selesai bicara, Kacamata Hitam sudah mengangkat pinggangnya, bahkan mengayun sedikit, lalu berkata pada Zhang Qiling, “Kurasa cukup dia saja.”
Wajah Zhang Haiyan yang pucat makin gelap.
[Kamu lebih baik tidak menyebutkan berat yang kamu perkirakan, kalau tidak, di sini juga aku habisi kamu.]
Kacamata Hitam menahan tawa, “Kamu kelihatannya sih langsing.”
“Diam, brengsek.” Zhang Haiyan menutup mulut Kacamata Hitam, benar-benar tak ingin mendengar satu angka pun keluar dari mulutnya.
Kacamata Hitam menunduk, memandang Zhang Haiyan yang menatap tajam penuh ancaman, makin ingin tertawa. Wajah ini memang paling enak dipandang, apalagi matanya yang bulat bening, waktu melotot jadi makin imut. Setiap kali melihat jiwanya, ia selalu merasa ekspresi bingung dan polos itu sangat menggemaskan, sampai ingin usil menggodanya.
Zhang Qiling memanjat pilar dengan bantuan tali sampai ke puncak makam, mengikat tali, lalu meluncur ke atas peti batu. Setelah menggigit senter di mulut, ia membuka ransel dari punggung, menggantungkan di lengan.
Zhang Haiyan melepas tutupan di mulut Kacamata Hitam, cemas memperhatikan gerakan Zhang Qiling, sementara Kacamata Hitam bersantai seperti kakek-kakek menonton pertunjukan, seolah tak ada hubungannya.
Zhang Qiling dengan hati-hati membuka peti batu, lalu mengambil detonator dari dalam ransel. Dengan gerakan cepat, ia menukar isi peti dengan detonator di tangannya.
Suara mekanisme hanya terdengar sekejap lalu berhenti.
Zhang Haiyan baru sadar tadi Kacamata Hitam hanya bercanda soal berat badannya. Ia sempat benar-benar mengira akan dilempar ke sana. Ia menoleh menatap Kacamata Hitam dengan kesal, “Kamu memang nggak punya hati nurani, ya?”
Kacamata Hitam tertawa, “Kayaknya kamu malah kecewa. Mau dicoba, aku lempar kamu ke sana sebentar?”
Zhang Haiyan menunduk, lalu diam-diam memutar bola matanya. Dalam hati ia mengutuk: semoga kamu nanti ke toilet nggak pernah ketemu tisu, makan nasi kotak nggak pernah dapat sumpit. Urutan kutukan ini tak boleh terbalik.
Zhang Qiling cekatan memanjat turun, tapi belum sempat menuruni pilar, terdengar lagi suara mekanisme bergerak, diikuti suara rantai tembaga jatuh ke lantai.
Wajah Kacamata Hitam langsung berubah serius. Ia menggenggam pergelangan tangan Zhang Haiyan dan berlari, melihat para zombie yang tadinya tergantung, kini sudah menjejak lantai, mengeluarkan suara aneh dari mulut mereka.
Kacamata Hitam melirik para zombie berbulu hijau itu sambil bercanda, “Hijau banget, pasti waktu hidupnya nasibnya mujur.”