Bab 18: Wanita Tidak Boleh Mengatakan Tidak Mampu
Di sisi lain, Zhang Haiyan masih memaki Kacamata Hitam, namun di detik berikutnya, Kacamata Hitam langsung menekan kepala Zhang Haiyan ke dalam air. Senter yang dipegangnya terlepas, jatuh ke air dan hanya berkilat dua kali sebelum benar-benar padam.
Zhang Haiyan yang sudah meneguk air berkali-kali, berdiri dan langsung menampar ke arah suara di belakangnya. Tamparan itu benar-benar ia kerahkan sekuat tenaga, sampai-sampai orang yang kena tamparannya langsung jatuh ke dalam air dan butuh waktu lama untuk bisa bangkit lagi.
Saat Zhang Haiyan sedang merasa bangga karena kekuatannya mampu menampar Kacamata Hitam sampai menempel di dinding, tiba-tiba terdengar suara makian.
"Sialan."
Begitu mendengar makian Polisi Zhou, Zhang Haiyan baru sadar sepertinya ia salah tampar orang. Tapi ia tetap bersikeras, "Siapa suruh kamu matiin senter?"
Hidup memang sudah susah, kalau bisa menyalahkan orang lain, kenapa harus menyalahkan diri sendiri?
Polisi Zhou masih sedikit linglung karena tamparan itu, butuh waktu lama untuk bangkit dari air. "Senternya tiba-tiba mati, memang salahku?" Polisi Zhou bergumam kesal sambil meraba-raba ke arah Zhang Haiyan.
Zhang Haiyan tak peduli, terus berteriak, "Si buta sialan, senternya jatuh ke air, tolong cari di mana."
Polisi Zhou, sambil menutupi wajahnya, berjalan ke arahnya. "Gelap begini, kau suruh orang buta cari senter yang hilang, kau bercanda?"
"Kau ini tahu apa, makin gelap, dia makin jelas melihatnya," ujar Zhang Haiyan. Belum selesai berkata, tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang menepuk pundaknya, lalu melingkari lehernya.
Zhang Haiyan mengira itu Polisi Zhou, ia menepis tangan itu. "Laki-laki dan perempuan, tak boleh saling sentuh. Jangan pegang-pegangan sama aku. Kau nggak laku, aku masih laku kok."
Polisi Zhou baru ingin bertanya apakah Zhang Haiyan waras, tiba-tiba ada tangan menutup mulutnya dan berbisik, "Jangan bersuara."
Itu suara Kacamata Hitam. Ia mengenalinya.
Namun di sisi lain, Zhang Haiyan masih saja mengomel. "Sudah kubilang jangan pegang-pegangan, kenapa malah nempel di badanku, nggak tahu malu, aku nggak tertarik sama lelaki sok suci macam kamu."
[Dalam hati Zhang Haiyan menambahkan: Aku suka yang genit.]
Polisi Zhou tiba-tiba merinding. Ia bersama Kacamata Hitam. Jadi, siapa yang kini menempel di tubuh Zhang Haiyan? Atau, apa yang menempel padanya?
Polisi Zhou menelan ludah.
Zhang Haiyan yang baru selesai mengomel juga mendapati Polisi Zhou mendadak diam. Ia mulai merasa ada yang aneh. Yang menempel di punggungnya sepertinya bukan Polisi Zhou, apalagi Kacamata Hitam.
Zhang Haiyan merapatkan bibir.
[Sialan, makhluk ini nggak perlu aku gendong, dia sendiri yang nempel.]
[Kau benar-benar tak tahu malu.]
[Dari tiga laki-laki, kau malah pilih aku, yang paling nggak macho.]
[Apa kau tertarik pada kecantikan luar aku, atau jiwa mulia aku yang menarik hati?]
Dalam hati Zhang Haiyan merengek, tapi tangannya langsung meraih tangan yang melingkari tubuhnya, sambil menangis ia mengerahkan tenaga, melemparkan makhluk di punggungnya ke air dengan teknik lempar bahu.
Sambil terisak, ia menjerit, "Aku dapat dia! Aku dapat dia!"
Tapi di detik berikutnya, ia merasa tangannya tiba-tiba kosong. Karena posisinya membungkuk dan mengerahkan tenaga ke bawah, tubuhnya langsung terjatuh ke dalam air, dan mulutnya penuh dengan air bau busuk.
Kacamata Hitam langsung menyambar tangan yang hendak mencengkeram Zhang Haiyan dalam gelap, memukulnya hingga terlepas, lalu mengangkat kerah baju Zhang Haiyan dan menariknya keluar dari air sebelum melemparkannya ke belakang.
Zhang Haiyan kembali terjatuh ke air. Kali ini ia jadi lebih waspada. Ia memilih diam. Dalam hati, ia hanya memaki dengan segala kata-kata kotor yang bisa ia pikirkan.
Polisi Zhou meraba dalam gelap, membantu Zhang Haiyan berdiri dari air. "Kau tak apa-apa?"
"Apa-apaan, tak apa-apa," balasnya ketus.
Angin amis kembali menyerang Zhang Haiyan. Meski jaraknya masih jauh, ia sudah bisa mencium baunya yang memuakkan. Ia mendorong Polisi Zhou menjauh, mundur ke samping.
Angin itu menyambar wajahnya. Tangan kirinya yang belum sempat ditarik langsung tertebas, Zhang Haiyan hanya bisa mengangkat lengan kanannya dan menghantamnya ke bawah. Suara “plung” terdengar, sesuatu tercebur ke air. Zhang Haiyan yang sudah sangat kesal dan pikirannya mulai kacau, matanya memerah, langsung duduk di atas makhluk itu, mencengkeram bahunya dan menggigitnya dengan keras.
Ia sudah tak peduli itu benda apa, yang jelas di otaknya cuma satu pikiran: [Berani-beraninya kau menebas tanganku, kalau aku tak bisa membunuhmu, setidaknya aku akan menggigit dagingmu!]
Begitu menggigit, Zhang Haiyan perlahan sadar, lalu merasa mual luar biasa. Ia berdiri dan memuntahkan isi perut di pinggir.
Permukaan air kembali tenang.
Setelah menunggu lama, Kacamata Hitam baru kembali mengenakan kacamata dan berkata, "Dia sudah pergi." Lalu ia melirik ke arah Zhang Haiyan. Anak ini, saking laparnya, apa pun dimakan.
Begitu mendengar suara Kacamata Hitam, Zhang Haiyan langsung menubruk, memeluk lengannya. "Tuan Hitam… aku takut."
Namun dalam hati ia menelan ludah. [Pegang tangan, peluk pinggang, langkah berikutnya tinggal buka celananya.]
Kacamata Hitam memelintir lengan Zhang Haiyan dengan keras, sampai-sampai Zhang Haiyan berteriak, "Aduh, aduh, aduh," dan langsung berlutut.
"Tadi kau maki aku ya?"
"Enggak… enggak… Tuan Hitam, itu cuma salah paham."
Kacamata Hitam melepaskan tangannya dan berkata pada Polisi Zhou, "Nyalakan senter."
"Senternya rusak," jawab Polisi Zhou, tapi tetap mencoba menyalakan saklarnya. Anehnya, senter yang barusan rusak itu kini menyala lagi.
Polisi Zhou menatap heran ke arah Kacamata Hitam, yang cuma menyeringai, "Bukan senternya yang rusak, tapi kau tadi tiba-tiba buta saja."
Buta?
Zhang Haiyan sepertinya mulai paham kenapa orang-orang yang turun ke sini semuanya tewas. Di tempat seperti ini, tiba-tiba jatuh ke dalam kegelapan, mental semua orang sudah sangat rapuh, ditambah lagi serangan mendadak dari makhluk itu. Tak heran hanya dia yang selamat.
Zhang Haiyan berdiri dan memandang Kacamata Hitam, "Tidak bisa, kalian berdua harus keluar. Kalau makhluk itu muncul lagi gimana?"
"Tidak akan. Ayo pergi."
Zhang Haiyan tak tahu kenapa Kacamata Hitam bisa seyakinkan itu, tapi ia tetap percaya padanya.
Baru berjalan sekitar sepuluh meter, Zhang Haiyan melihat sesosok mayat perempuan mengambang dengan kepala menghadap ke bawah.
Kacamata Hitam menepuk bahu Zhang Haiyan, "Ayo, penjaga rakyat."
Zhang Haiyan mengerutkan dahi, tapi teringat keanehan mayat itu, ia berpesan, "Biar aku yang menggendong, kalian berdua jangan dekat-dekat."
Setelah itu ia mendekati mayat perempuan itu. Karena kepalanya menghadap ke bawah, Zhang Haiyan harus membalikkan tubuhnya dulu sebelum bisa menggendongnya. Bagaimanapun, ia benar-benar tak mau menggendong mayat itu dengan gaya mengendong putri.
Saat membalikkan mayat, Zhang Haiyan merasakan tubuh itu sangat lunak, bukan lembut seperti perempuan, tapi seperti tak bertulang sama sekali. Padahal saat diangkat, beratnya tak terasa.
Namun begitu Zhang Haiyan meletakkan mayat itu di punggungnya, lututnya langsung terbentur ke lantai. Berat.
Hanya satu kata itu yang terlintas di benaknya.
Kacamata Hitam melirik dan mengejek, "Kau kuat nggak sih?"
[Kuat nggak?]
[Sialan!]
Zhang Haiyan memaki dalam hati, menggertakkan gigi dan berdiri, "Laki-laki pantang bilang tak sanggup."
[Perempuan juga sama.]