Bab 47: Semoga Kau Mendapatkan Balasan yang Setimpal
Ketika Zhang Haiyan diusir keluar rumah oleh Si Kacamata Hitam, dia masih belum mengerti sebenarnya kesalahan apa yang telah ia perbuat. Namun, dia pun tak menunggu lama di luar. Setelah meminjam jarum dan benang dari pemilik penginapan, Zhang Haiyan malah mendorong Si Kacamata Hitam keluar, lalu dengan wajah semerah tomat, ia membuka bajunya dan bersembunyi di balik selimut, hanya menampakkan lengan yang putus itu.
“Sudah, kamu boleh masuk.”
Andai di saat itu ada celah di tanah, Zhang Haiyan benar-benar ingin masuk ke dalamnya.
[Bagaimana mungkin aku sepanjang hari keluyuran tanpa pakaian dalam.]
[Aduh, sebenarnya dunia ini yang gila, atau aku yang sudah kehilangan akal.]
[Kemarin gara-gara sibuk marah sama dia, aku malah lupa soal ini.]
[Aaaa, rasanya ingin mati saja.]
Si Kacamata Hitam memandang Zhang Haiyan yang benar-benar menutupi kepalanya dengan selimut, lalu tersenyum geli.
Sepertinya memang ada orang yang belum cukup tebal muka.
Setelah Si Kacamata Hitam selesai menjahit lengannya, Zhang Haiyan hampir saja meloncat keluar dari selimut karena marah.
“Kamu bisa menjahit, tapi waktu itu malah membiarkan Kakak Zhang menjahitku sampai jadi begini?”
Si Kacamata Hitam selesai membereskan jarum dan benang, lalu tersenyum, “Apa aku pernah bilang aku tidak bisa? Kalian berdua satu mau menjahit, satu mau dijahit, urusanku di mana?”
Zhang Haiyan menatap bekas jahitan yang rapi di lengannya, lalu menggigit bibir.
[Dia memang tidak pernah bilang tidak bisa, ya?]
[Tidak pernah?]
“Baiklah, ini memang salahku sendiri.”
Zhang Haiyan harus mengakui, kalau Si Kacamata Hitam memang tidak pernah bilang, berarti dirinya sendiri yang terlalu berprasangka. Ia sungguh mengira orang seperti dia tak mungkin bisa melakukan pekerjaan seperti ini.
“Sialan.” Zhang Haiyan menepuk kepalanya sendiri dengan keras.
[Dia bisa membedah, mana mungkin tidak bisa menjahit!]
[Aku terlalu fokus soal jahitan saja.]
Zhang Haiyan benar-benar merasa bodoh atas kebodohannya sendiri.
“Lalu waktu itu, saat tanganku putus lama, juga bukan kamu yang menjahitnya. Malah si cowok tampan itu yang melakukannya.”
“Kamu pernah minta aku bantu?” tanya Si Kacamata Hitam datar sambil melirik leher Zhang Haiyan. Melihat tidak ada reaksi, ia lanjut, “Anggap saja ini pelajaran pertamaku untukmu. Jangan menilai orang dari penampilan, dan jangan terlalu cepat menaruh prasangka sendiri. Aku tunggu di luar, nanti kita keluar beli sesuatu.” Setelah berkata begitu, ia mengambil tasnya dan keluar.
Setelah selesai berpakaian, Zhang Haiyan pun mengikuti Si Kacamata Hitam keluar. Tak disangka, tempat pertama yang mereka tuju adalah toko ponsel. Setelah memilih-milih cukup lama, Si Kacamata Hitam membelikannya ponsel khusus lansia, yang ternyata di masa itu adalah tipe terbaru.
Zhang Haiyan pun sangat terkejut.
Bahkan saat diajak ke toko pakaian pun, ia masih menggenggam ponsel itu dengan wajah putus asa, menatap layar hitam puti yang membuatnya ingin menangis.
Jadi, kapan ia bisa melihat lagi para lelaki genit yang lebih centil dari wanita itu?
Saat ia melihat Si Kacamata Hitam berdiri di depan rak pakaian dalam wanita dan asyik mengobrol dengan pemilik toko, ia makin merasa dunia ini benar-benar sudah gila.
Dengan wajah semerah kepiting, Zhang Haiyan menarik lengan Si Kacamata Hitam dan hendak membawanya pergi.
“Kumohon, sembunyikanlah pesonamu itu. Aku tahu kau pria idaman banyak orang, tapi bisakah kau tidak mengobrol di sini?”
[Kau tidak tahu malu ya?]
Si Kacamata Hitam terkekeh, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Zhang Haiyan dan berbisik, “Kamu tidak mau beli yang baru? Tenang saja, pakai uangmu sendiri. Akan aku potong dari upah tugas kali ini.”
Begitu mendengar uangnya lagi-lagi mau dipotong, Zhang Haiyan langsung merapatkan bibir dan menatap pemilik toko sambil berteriak, “Bu, saya mau lima set dengan warna berbeda, dia yang bayar!”
[Potong saja, uang limaratusku yang kamu rampas saja belum dikembalikan!]
Begitu kembali ke penginapan dengan membawa baju-baju baru, kali ini giliran Si Kacamata Hitam yang dikunci di luar oleh Zhang Haiyan.
Sampai tengah malam naik kereta, Zhang Haiyan masih belum bicara sepatah kata pun padanya.
Begitu sampai di tempat tidur, Zhang Haiyan mulai memeriksa ponsel barunya.
Tak ada aplikasi pesan instan populer, katanya ponsel terbaru, Zhang Haiyan ingin sekali melempar ponsel itu ke kepala Si Kacamata Hitam.
Untungnya masih bisa dipakai internet, hanya saja jaringan internetnya sungguh mengenaskan.
Ia membuka laman pencarian, mengetik, menunggu ponsel berputar-putar selama satu menit, lalu muncul tulisan jaringan buruk, silakan muat ulang. Zhang Haiyan menarik napas panjang, menahan senyum getir, lalu membuka daftar kontak. Di sana hanya ada satu nomor, yang tersimpan oleh Si Kacamata Hitam.
Kalau tidak salah, itu pasti nomor Si Kacamata Hitam.
Zhang Haiyan lalu mengirim pesan.
[Hari ini terima kasih, aku tak punya doa apa-apa untukmu, semoga kau mendapat buah yang manis.]
Mereka sempat berganti kereta sekali lagi. Tak disangka, Si Kacamata Hitam membawanya ke Hangzhou.
Sebuah toko pijat kecil yang tak terlalu luas. Demi menampung Zhang Haiyan, Si Kacamata Hitam membagi ruangan dalam untuknya.
Setiap hari ia menggotong ranjang pijat ke pinggir Danau Barat untuk berjualan.
Zhang Haiyan pun tiap pagi dipaksa lari pagi oleh Si Kacamata Hitam, katanya untuk melatih koordinasi tubuhnya.
Bahkan ia dicarikan kerja angkut bata di proyek bangunan terdekat.
Awalnya Zhang Haiyan enggan. Tapi begitu mendengar gajinya delapan puluh ribu sehari dan dibayar langsung, kata-kata kasarnya langsung berubah jadi, “Siap.”
Setelah beberapa hari, Zhang Haiyan mulai menyukai hidup menerima upah harian. Mandor pun menyukai kerja keras Zhang Haiyan, bahkan karena ia jarang makan siang, setelah setengah bulan gajinya dinaikkan jadi seratus ribu sehari.
Setiap beberapa hari, Si Kacamata Hitam akan membawakan seember besar formalin untuk Zhang Haiyan berendam.
Entah bagaimana, tubuh barunya itu memang tidak pernah membusuk, bahkan kini tubuh dan jiwa Zhang Haiyan sudah sangat menyatu.
Kadang-kadang, saat Si Kacamata Hitam tiba-tiba menyerang, ia bahkan bisa membalas serangan.
Tentu saja, akhirnya tetap saja Zhang Haiyan yang babak belur.
“Aku malam ini tidak pulang, nanti kamu rapikan barang-barang lebih awal,” kata Si Kacamata Hitam setelah menerima telepon dan bersiap pergi.
“Oh, baik,” jawab Zhang Haiyan.
Baru saja pulang dari proyek, ia masih membawa pakaian kotor dan hendak berendam di formalin kesayangannya. Mendengar pesan itu, ia hanya menjawab santai, lalu meletakkan pakaian dan bersiap merapikan barang jualan Si Kacamata Hitam.
Besok proyek akan selesai.
Mandor bilang ada kontrak baru di dekat Gunung Mang, bertanya apakah ia ingin ikut.
Awalnya Zhang Haiyan mau saja, tapi begitu tahu harus tinggal di proyek, ia menolak.
Keesokan paginya, mandor meminta bantuan untuk mengangkut barang ke proyek sebelah.
Zhang Haiyan tidak menolak, toh ia hanya tinggal naik kendaraan.
Setelah semua beres, mandor mengajaknya makan, tapi Zhang Haiyan tetap menolak. Akhirnya mandor menambah seratus ribu lagi ke upahnya hari itu. Dengan senang hati Zhang Haiyan memegang uang itu dan bersiap jalan-jalan.
Baru saja keluar dari proyek, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
“Kakak Zhang?”