Bab 14: Siapa yang Tak Punya Keahlian Khusus
"Bangun."
Pria berkacamata hitam menendang Zhang Haiyan yang tergeletak di lantai, entah masih hidup atau sudah mati.
"Ada apa?"
[Tengah malam begini kamu nggak tidur, mau tidur sama aku ya?]
[Ih, laki-laki mulut sama hati beda.]
[Kayak gini mana bisa dapetin aku.]
[Aku tuh bukan perempuan sembarangan, tahu!]
Sembarangan bangun aja udah nggak manusiawi. Eh, memang dia bukan manusia. Pria berkacamata hitam hampir saja membalas, untung masih bisa menahan diri.
Dia sama sekali tidak boleh membiarkan perempuan itu tahu bahwa dia bisa mendengar isi pikirannya.
Hanya dengan begitu, perempuan itu akan benar-benar membuka dirinya di hadapannya.
Dengan pikiran itu, pria berkacamata hitam menendang lagi Zhang Haiyan.
"Bangun, aku bawa kau ke rumah duka."
"Nggak mau."
Zhang Haiyan merasa pria itu pasti takut dia bau busuk, makanya mau ke rumah duka.
[Pokoknya aku belum balas dendam!]
"Baiklah, berarti aku harus kerja ekstra, gendong perempuan muka penuh flek..."
"Oke, oke, aku ikut!" Zhang Haiyan langsung berdiri, buru-buru berjalan ke pintu, bahkan sempat menoleh ke pria berkacamata hitam, "Ayo, jangan bengong, lari gih."
Sekilas senyum terbit di bibir pria itu.
Sombong juga.
"Katanya nggak mau pergi?"
"Bang, tadi aku cuma bercanda. Ayolah, pilihkan aku yang bagus dong."
"Aduh, bahu aku sakit banget nih."
"Biar aku pijitin."
"...Jauh-jauh deh, baunya nyengat banget."
Pria berkacamata hitam dan Zhang Haiyan berdiri di depan rumah duka di pinggir timur kota, memandang ke sekeliling yang meski sudah pukul setengah dua pagi, tetap saja ramai seperti pasar pagi, lalu terdiam dalam pikirannya masing-masing.
Sepertinya mereka memang tidak perlu repot-repot mencuri mayat, langsung masuk saja dan ambil terang-terangan.
Setelah berkeliling, Zhang Haiyan mengambil tiga genggam kuaci, tujuh delapan butir permen, bahkan sempat mengomentari tiga orang yang hampir kalah main mahjong, lalu diusir pergi.
Akhirnya, mereka menemukan ruang dingin di pojok, tempat mayat-mayat tak dikenal disimpan.
Keduanya saling berpandangan.
Benar-benar tidak mudah.
Orang di kota memang banyak, maksudnya orang hidup.
"Cepat, kalau nanti ketahuan satpam, aku bilang saja kamu penyuka mayat."
Zhang Haiyan mendorong pintu, menyuruh pria berkacamata hitam mengambil kuaci dari tangannya.
Pria itu menarik napas dalam-dalam.
"Mulai sekarang, panggil saja aku Musim Gugur Ceria."
"Maksudnya apa?" tanya Zhang Haiyan sambil menyelipkan permen ke saku jaket pria itu.
"Aku hampir saja dibuat bahagia sama kamu, saking kesal."
Zhang Haiyan tertegun, lalu menatap pria itu dengan tatapan aneh.
"Marah juga bisa bahagia?"
Tiba-tiba pria itu menyeringai, menarik kepala Zhang Haiyan dan membawanya masuk ke ruang dingin.
"Jangan, kepalaku, nanti lepas!"
"Diam atau aku carikan tubuh gendut dua ratus kilo buatmu."
Zhang Haiyan:!!!
Pria berkacamata hitam pun sadar, di tangannya masih ada kepala Zhang Haiyan, sementara setengah badannya terjepit di pintu.
Tanpa kepala, tubuhnya jadi lebih kaku. Baru saja berdiri menahan pintu, eh, sudah terjepit di luar.
Zhang Haiyan mendongak, menatap pria itu.
Keduanya terdiam.
Pintu ruang dingin kembali terbuka.
Tubuh Zhang Haiyan melangkah pelan-pelan, mencoba merebut kepalanya dari tangan pria itu.
Melihat tubuh yang meraba-raba itu, pria berkacamata hitam merasa kalau bergerak sedikit saja, bakal langsung ketahuan.
Ia mendecak kesal, lalu berbalik, membawa kepala Zhang Haiyan ke lemari pendingin.
"Yang ini nggak bisa, lebih bau dari aku."
"Kegemukan."
"Ini... mati jatuh ya? Mukanya gepeng."
"Udahlah, kasihan, udah tua banget."
"Ini... kamu bisa menjahit nggak? Minimal butuh dua jam buat nyambungnya."
"Lah, ini laki-laki!"
"Biar gampang kerja besok," pria itu tenang saja menarik mayat pria keluar.
"Nggak bisa, itu batas akhir aku. Laki-laki nggak boleh, perempuan boleh. Kalau nggak, aku bakal copot celana sendiri."
Pria itu sudah menarik separuh tubuh mayat pria, mendengar itu langsung tertawa keras.
"Nanti aku bantu sunat, jadi tidak laki-laki lagi."
Setelah mayat itu dikeluarkan, ia letakkan di tengah ruangan, lalu kepala Zhang Haiyan diletakkan di sampingnya.
Senyum lebar mengembang di wajahnya, sambil mengangkat pisau.
"Jangan takut, sebentar saja."
Detik berikutnya, Zhang Haiyan versi laki-laki duduk tegak dari lantai, mengumpat, "Kamu pikir aku nggak cape... cape... urusin semua ini!"
Zhang Haiyan melirik pisau yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari selangkangannya, menelan ludah.
"Eh, nggak usah disunat deh. Takutnya besok susah kerja."
Sebenarnya, pria berkacamata hitam juga merasa aneh.
Tapi tak ada pilihan, mayat perempuan utuh terlalu langka.
Mengingat isi hati Zhang Haiyan tadi yang katanya masih butuh satu mayat lagi, memilih laki-laki untuk sementara lebih masuk akal.
Paling besok malam ulang lagi.
Tapi harus cari tempat lain.
Ia lalu mendorong mayat asli Zhang Haiyan kembali ke lemari. Takut nanti ada orang masuk, malah ketakutan lihat mayat kering.
Begitu membuka pintu, mereka langsung berpapasan dengan satpam patroli rumah duka. Begitu melihat mereka, satpam langsung bertanya, "Kalian ngapain di sini?"
Pria berkacamata hitam melirik Zhang Haiyan, lalu kabur secepat kilat.
"Hei, jangan lari!"
Dua satpam, satu mengejar pria berkacamata hitam, satu lagi berjaga di tempat, memperhatikan Zhang Haiyan.
Tiba-tiba, tubuh bagian atas Zhang Haiyan menekuk ke belakang, seluruh tubuhnya mirip laba-laba besar menempel di lantai.
Satpam yang tertinggal menelan ludah ketakutan.
"Jangan... jangan... jangan masuk ke sini."
Zhang Haiyan tersenyum seram, "Santai saja, aku bukan orang hidup."
"Aaaaaa!!!"
Satpam itu menjerit melengking, lari ke arah pria berkacamata hitam kabur.
[Huh, siapa juga yang nggak punya keahlian khusus.]
Dengan penuh kebanggaan, Zhang Haiyan tertawa, lalu sadar dirinya tidak bisa balik lagi.
[Aduh! Tolong aku, nggak bisa balik normal!]
Sepuluh menit kemudian, suara jeritan bergema di seluruh rumah duka.
Zhang Haiyan yang masih merangkak di lantai merintih pilu, "Jangan lari, aku bukan hantu, aku... cuma nggak bisa balik normal. Tolongin aku dong..."
"Kekeke~"
Mendengar suara tawa khas itu, mirip suara makhluk aneh, Zhang Haiyan langsung semangat.
Begitu menoleh, ia melihat pria berkacamata hitam sedang bersandar di dinding, makan kuaci, tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.
"Bang, tolong aku, aku nyangkut. Huhuhu~"
[Dasar laki-laki brengsek, larinya lebih cepat dari kelinci!]
[Besok aku daftarin kamu maraton sepuluh ribu kilometer, biar mampus!]