Bab 19 Telapak Tangan Menghadap ke Bawah Justru Lebih Aneh, Bukan?
Zhang Haiyan merasa pinggangnya hampir patah.
“Aku yakin sekali ini pasti perempuan.”
“Sialan, kalau pun bukan seberat seribu emas, paling tidak beratnya dua ratus jin.”
“Pinggulku terasa sakit sekali.”
“Aku tidak sanggup lagi... sungguh, aku tidak bisa jalan lagi.”
Kacamata Hitam menoleh saat mendengar ucapan itu dan melirik Zhang Haiyan.
“Hem hem hem, hem hem.”
Zhang Haiyan mengumpat kesal, lalu mengangkat mayat perempuan di punggungnya sedikit lebih tinggi.
“Aku hampir tak kuat berjalan, kau malah berhenti untuk menonton. Kau tahu tidak betapa susah payahnya aku, supaya makhluk ini tidak mengganggumu?”
“Nanti setelah di atas, kalau kau tidak ciuman dengan Tuan Bunga di depanku, kau tega pada diriku?”
“Sungguh ingin melihat si buta pakai baju pelayan wanita.”
“Walaupun kurasa, hanya pakai celemek lebih menarik.”
“Begitu membalik badan, bokong putih besar langsung menyapa.”
“Entah dia punya bulu kaki atau tidak.”
“Wah, aku tak kuat, ini terlalu menggoda.”
“Hasratku membuncah, aku makin bersemangat.”
Awalnya Kacamata Hitam tidak mengerti maksud gumaman Zhang Haiyan, tapi setelah ia bisa mendengar suara hati wanita itu, ia merasa arti gumaman itu sudah tak penting lagi.
Ia mendorong kacamata hitamnya, tersenyum tipis, lalu menggoreskan pisaunya ke dinding hingga menimbulkan suara berdecit.
Bersemangat rupanya? Bagus, aku jadi kesal. Setiap hari kerjanya membayangkan yang tidak-tidak tentang diriku. Kalau aku tidak menghajarmu, kau benar-benar lupa diri, padahal kau itu sudah mati.
Polisi Zhou yang berjalan di depan mereka, berkeringat dingin mendengar suara goresan pisau Kacamata Hitam di dinding.
Ia merasa Kacamata Hitam bahkan lebih menakutkan daripada hantu itu sendiri.
Begitu menoleh, ia melihat senyuman di sudut bibir pria itu, semakin membuat bulu kuduk merinding.
Kalau saja tidak malu, ia pasti sudah lari terbirit-birit keluar dari situ.
Setelah sampai kembali di bawah sumur, Polisi Zhou segera mengaitkan tali ke tubuhnya dan menariknya dua kali.
Begitu melihat tali bergerak, orang-orang di atas segera mulai menariknya ke atas.
Setelah Polisi Zhou naik, Kacamata Hitam juga ikut ditarik naik.
Zhang Haiyan selalu menjaga jarak tujuh delapan meter dari Kacamata Hitam. Setelah sosoknya menghilang dari depan, setidaknya tiga menit kemudian, barulah ia keluar dari lubang dan kembali ke bawah sumur.
Begitu Kacamata Hitam naik, ia langsung menyuruh semua orang mundur, lalu bersiap menarik Zhang Haiyan dengan tali.
Sebenarnya tubuh yang dipakai Zhang Haiyan sekarang memang laki-laki, tapi tidak gemuk, meski tinggi, paling berat sekitar seratus lima puluh atau enam puluh jin. Ditambah mayat perempuan di punggungnya, paling berat sekitar tiga ratus jin.
Tapi saat Kacamata Hitam menarik tali, barulah ia sadar apa maksud ucapan Zhang Haiyan tentang berat.
Rasanya seperti menarik babi besar seberat empat atau lima ratus jin.
Kacamata Hitam melilitkan tali di lengannya, satu kaki menahan tepi sumur.
“Jangan mendekat, semuanya mundur.”
Jie Yuchen hendak membantu, tapi dihardik oleh Kacamata Hitam.
Butuh waktu tujuh sampai delapan menit bagi Kacamata Hitam untuk berhasil menarik Zhang Haiyan ke atas.
Begitu naik, orang-orang di belakangnya bahkan tak bisa membedakan mana yang lebih menakutkan, Zhang Haiyan atau mayat perempuan di punggungnya, karena ia menggigit tangan putus itu di mulutnya. Air busuk menetes dari kepalanya, penampilannya sama sekali tak lebih baik dari mayat yang dibawanya.
“Panggil ambulans!”
Polisi Zhou baru teringat tangan Zhang Haiyan yang dipotong mayat perempuan itu setelah melihat tangan putus di mulutnya.
“Sial, panggil ambulans apanya, kalau dokter datang dan cek tekanan darah, entah nanti yang rebah di ambulans dia atau dokternya.”
“Hem hem hem, ptui, tak perlu, ini cuma tangan palsu.”
Zhang Haiyan menggumam dua kali, baru ingat mulutnya menggigit sesuatu, lalu meludahkan tangan putus itu ke tanah.
Ia lalu meletakkan mayat perempuan di tanah, sambil memungut tangan putusnya sendiri dan menjelaskan, takut mereka tak percaya, ia mengayun-ayunkan tangan itu.
“Ini teknologi tinggi dari luar negeri, tangan bionik model terbaru, mirip sungguhan. Mau coba pegang?”
Melihat Zhang Haiyan berkata begitu, meski ragu, Polisi Zhou tak bertanya lebih jauh dan memilih memeriksa mayat yang dibawa keluar oleh Zhang Haiyan.
Kacamata Hitam tadi sudah jelas melihat kondisi mayat perempuan itu, jadi ia tidak terkejut.
Sebaliknya, Polisi Zhou yang ikut turun, selain kena tampar, tak melihat apa-apa. Begitu melihat mayat itu jelas, ia pun terkejut.
“Ini mayat yang diawetkan. Sepertinya kasus ini bercabang. Suruh tim forensik periksa mayatnya,” seru Polisi Zhou dengan dahi berkerut.
“Betul, tapi mayat ini tidak diawetkan di sini.”
Kacamata Hitam berkata datar, lalu berjongkok di depan mayat perempuan itu, menatap cermin perunggu di lehernya.
Cermin itu sangat tipis, gagangnya berbentuk tusuk sanggul, menancap di tulang selangka mayat perempuan itu.
Seseorang yang memakai sarung tangan hendak mengambil cermin dari tubuh mayat, tapi Kacamata Hitam segera menahan.
“Sebaiknya jangan sentuh dulu.”
“Apa maksudnya mayat diawetkan? Apa karena mayatnya masih lentur, atau bisa kungfu Brasil?” tanya Zhang Haiyan pelan pada Jie Yuchen.
Jie Yuchen melirik tangan putus yang diselipkan di celana Zhang Haiyan dan mengernyit tipis.
“Itu mayat yang diawetkan, artinya karena terpendam di rawa asam, proses pembusukan terhenti, tulang melunak, dan bentuk tubuh tetap utuh, seperti kulit yang disamak.”
Sambil menjelaskan, Jie Yuchen menatap Zhang Haiyan.
Ekspresi wajah Zhang Haiyan berubah dari bingung menjadi linglung.
“Kau tahu kulit, kan?” tanya Jie Yuchen.
“Tahu, pabrik kulit di Jiangnan bangkrut, bosnya kabur sama selingkuhan.”
Jie Yuchen hampir tersedak mendengar jawaban Zhang Haiyan. Butuh waktu lama ia menahan napas sebelum melanjutkan, “Jadi, bayangkan saja mayat yang seperti kulit.”
Setelah itu, Jie Yuchen kembali mengernyit menatap tangan yang diselipkan di celana Zhang Haiyan dan berkata, “Tidak mau pakai cara lain?”
“Apa?” Zhang Haiyan belum move on dari cerita pabrik kulit bangkrut. Melihat Jie Yuchen menatap bagian bawah tubuhnya, ia langsung menutupi selangkangannya dengan tangan dan berkata penuh keyakinan, “Aku tidak bisa, aku tak berpengalaman, kau cari orang lain saja.”
Melihat raut wajah Jie Yuchen makin gelap setelah ucapannya, barulah Zhang Haiyan sadar ia salah paham, lalu tersenyum canggung.
“Maksudmu tanganku?”
“Ya,” jawab Jie Yuchen dengan nada berat.
Sebenarnya Zhang Haiyan juga merasa aneh, ia pun mendorong tangan putus itu lebih dalam ke celananya.
“Tapi kalau telapak tangan menghadap ke bawah, malah lebih aneh, kan?”
“Nanti dikira aku ini om-om mesum yang sedang melakukan hal tak senonoh.”