Bab 11: Sayangku yang Malang
“Kau tidak boleh menerima pekerjaan ini,” kata Zhang Haiyan, lalu dalam hati menambahkan, “Kalau kau menerima pekerjaan ini, kau bakal dapat perempuan sebagai bonus. Nanti tiap hari dia akan menempel padamu, kau mandi dia ada, kau ganti baju dia ada, bahkan saat kau buang air besar pun dia masih di sana. Astaga?”
Zhang Haiyan merasa dirinya sudah tak bisa memandang Kacamata Hitam dengan cara yang sama lagi. Membayangkan lelaki tampan seperti itu harus jongkok di kamar mandi saja sudah membuatnya putus asa. Baginya, lelaki tampan seperti itu seharusnya hanya minum embun, menyerap energi matahari dan bulan, menjalani kehidupan bersih tanpa noda, hidup seperti seorang pertapa yang tak makan makanan kasar seperti dirinya.
Benar begitu. Zhang Haiyan mengangguk dengan sungguh-sungguh, tapi ketika ia menoleh ke atas, ia melihat Kacamata Hitam sedang memegang pisau, tampak siap membunuhnya kapan saja.
“Ba… ba… baiklah, kalau memang harus diterima, ya sudah aku terima saja…” katanya terbata-bata, dicekam rasa takut oleh senyum menyeramkan Kacamata Hitam.
“Aku kan nggak ngomong apa-apa juga… Kenapa dia seperti mau memakan orang? Apa dia kurang menyerap energi matahari dan bulan dua hari ini? Atau jangan-jangan… dia juga sedang menopause? Bangsawan dari Dinasti Qing, sekarang umurnya juga pasti sudah seratus tahun lebih. Jangan-jangan dia juga seperti Kak Zhang Besar, lagi kena menopause kedua? Gimana ini? Apa harus aku belikan dua kotak pil penenang buat mereka berdua? Tapi aku nggak punya uang… Tidak, aku harus cari uang, supaya bisa belikan pil penenang buat idolaku.”
“Aku sudah memutuskan, aku yang akan mengerjakannya. Kamu kasih saja uangnya ke aku, bagaimana?” Zhang Haiyan menatap Kacamata Hitam penuh tekad. Namun, pisau di tangan Kacamata Hitam tampak makin mengancam.
“Kalau uangnya dikasih ke aku… kamu potong saja sedikit, gimana… lima puluh lima puluh, bisa?” tanyanya hati-hati.
Kacamata Hitam hanya menatap dan tersenyum, tidak berkata apa-apa.
Zhang Haiyan menelan ludah, “Tiga puluh tujuh puluh, jangan kurang lagi, aku butuh uang itu.”
“Untuk apa kau butuh uang?” Kacamata Hitam mengejek.
Kalau kau berani bilang untuk beli pil penenang buat aku, sekarang juga aku penggal kepalamu buat jadi bola.
“Aku… aku… aku ini kan perempuan, ada kebutuhan… ngerti sendiri lah…” ucap Zhang Haiyan, dengan ekspresi sungkan. Kacamata Hitam benar-benar ingin membuka kepalanya dan melihat isinya sebenarnya apa.
Ngerti apanya. Dia sama sekali tidak ngerti. Yang dia mau sekarang cuma membunuh perempuan satu ini, detik ini juga dia tak sabar lagi.
“Sembilan puluh satu, kau yang kerjakan, kalau bagus aku kasih uang, kalau tidak bagus, aku hajar sampai isi perutmu keluar,” ujar Kacamata Hitam dengan senyum ramah.
Zhang Haiyan spontan menciutkan lehernya, ingin sekali bilang, “Aku nggak buang air besar, sungguh.” Tapi ia merasa kalau ia bicara, Kacamata Hitam pasti benar-benar akan menghajarnya sampai jadi bubur.
“Kalau… satu bagian itu… berapa uangnya?” pikirnya dalam hati, “Cukup nggak buat beli dua kotak pil penenang? Tidak, melihat gejalanya sekarang, minimal empat kotak.”
“Jangan lupa, kau masih utang biaya jasa dan perlindungan padaku. Mulai sekarang, tiap aku kerja kau ikut, uang yang didapat, kau cuma dapat sepuluh persen, sekalian untuk bayar utangmu,” ujar Kacamata Hitam sambil menyelipkan pisaunya.
Bagus, tenaga gratis siapa yang mau tolak. Hanya saja, tetap menyebalkan.
Zhang Haiyan menghitung dengan jari cukup lama, baru sadar, berarti mulai sekarang dia yang kerja, uangnya buat Kacamata Hitam. Dia kerja keras, tapi tak dapat apa-apa? Dasar muka tembok! Sudahlah, tidak usah belikan pil penenang, biar saja tambah parah, semoga ada komplikasi sekalian.
Zhang Haiyan kesal menatap keluar jendela mobil. Tapi beberapa menit kemudian, ia kembali menoleh pada berkas di tangannya.
Di situ tercatat kasus pembakaran jenazah yang terjadi beberapa hari lalu. Lokasinya di sebuah gedung tujuh lantai di Jalan Chang’an, dulunya milik militer, jadi kasus ini jatuh ke tangan Nyonya Besar Huo. Ia samar-samar mengingat cerita ini, tapi tidak terlalu jelas. Maklum, lubang cerita paman ketiganya memang terlalu banyak, belakangan ia cuma nonton dramanya, beli kartu kecil atau bantal karakter. Cerita lanjutannya, ia hanya tahu sekilas saja.
Ia menghela napas. Andai saja dulu ia membaca dengan saksama, tidak akan seperti sekarang, kepalanya dipenuhi sampah-sampah tak berguna.
Zhang Haiyan menggigit bibir, berpikir keras. Seingatnya, gedung itu terbakar hebat, hangus tak tersisa, dari dalamnya diangkat empat belas mayat, tapi hasil penyelidikan menyebutkan, saat itu hari libur, jadi seharusnya tak ada seorang pun di dalam. Lalu, empat belas mayat itu dari mana?
Zhang Haiyan membuka lagi berkas di tangannya. Empat belas mayat, tiga belas di antaranya laki-laki, penyebab kematian: tenggelam. Mati tenggelam dalam kebakaran? Aneh, kenapa acara "Seribu Cara Mati" tidak pernah memasukkan kasus seperti ini?
Baiklah, bercanda. Seharusnya mereka mati tenggelam dulu, lalu mayatnya diletakkan di tiga belas kamar berbeda.
Mata bermasalah…
Melihat dua kata itu, Zhang Haiyan melirik Kacamata Hitam diam-diam. Saat ini matanya memang bermasalah, tapi belum terlalu parah. Ia ingat, Kacamata Hitam jadi parah karena kasus ini, setelah terkena benda gaib itu, matanya makin memburuk, bahkan sempat buta total beberapa hari.
Zhang Haiyan menghela napas. “Kenapa dulu aku berhenti mengikuti ceritanya, ya? Sekarang aku jadi kehilangan arah.”
“Apa yang harus aku lakukan supaya bisa membantunya?” pikirnya. Ia akhirnya memutuskan, kali ini ia tidak akan membiarkan Kacamata Hitam terkena benda gaib itu.
“Kau makhluk gaib, aku makhluk halus… eh, bentrok ‘atribut’ jadinya… Eh, aku juga bukan makhluk halus benar sih? Kalau begitu tarung saja, kalau kalah, sekalian bikin dia kesal.”
Dengan semangat pantang mundur, Zhang Haiyan menyingsingkan lengan baju, siap bertarung, tapi tiba-tiba Kacamata Hitam menepuk lengannya.
Jari telunjuknya menyentuh bercak mayat di lengannya. Dasar kurang waras.
Zhang Haiyan tersenyum canggung, buru-buru menurunkan lengan bajunya.
“Terima kasih atas peringatannya, Tuan Kacamata,” ujarnya.
Setelah mengambil keputusan, Zhang Haiyan mulai membaca berkas itu dengan serius, sambil mengingat setiap informasi yang pernah ia baca tentang Kacamata Hitam. Akhirnya ia menemukan sedikit petunjuk.
Di sini disebutkan empat belas mayat, tapi ia ingat, sebenarnya ada mayat kelima belas, sepertinya ada di dalam sumur.
Mayat perempuan aneh, ya, ia mulai ingat. Mayat perempuan itulah kuncinya. Kacamata Hitam terkena benda gaib itu setelah menggendong mayat perempuan dari dalam sumur, sehingga kondisi matanya makin parah.
Jadi, asalkan kali ini tidak membiarkan dia yang menggendong, mestinya tidak akan ada masalah.
Lalu, siapa yang harus turun ke sumur? Itu pertanyaan penting.
Ia ingat, pada waktu itu, Kacamata Hitam belum jadi buronan. Hanya saja karena semua polisi yang turun ke sumur bersamanya mati, akhirnya cuma dia sendiri yang keluar sambil menggendong mayat perempuan. Karena banyak kematian tak bisa dijelaskan, akhirnya semua tuduhan jatuh padanya.
Sial, ini benar-benar nasib sial tingkat dewa.
Zhang Haiyan menatap Kacamata Hitam penuh iba.
“Coba aku lihat, siapa yang sial, kerja buat orang lain, akhirnya jadi buronan dan dapat perempuan sebagai bonus? Oh, ternyata kau di sini, kekasihku yang malang, si sialan kesayangan.”