Bab 17: Dilema Huo An
Halaman (1/3)
“Dengar, aku cuma mau satu bungkus kecil. Sisanya semua untukmu. Besok siang, aku mau barangnya sudah ada.”
Saat perhatian rekan-rekannya tidak tertuju ke arah mereka, Marian menghampiri seorang pelanggan perempuan berkulit hitam dan dengan berat hati menyerahkan dua ratus dolar kepadanya.
Sebelumnya, perempuan itu diam-diam mengisap kokaina di klub pria macho, dan Marian memergokinya.
Namun, karena tubuh perempuan itu cukup menarik, dia tidak melaporkannya.
Sebaliknya, dia menggunakan hal itu untuk memerasnya.
“Ooh, Tuhan… Marian sayangku.”
Begitu melihat uang, mata Milando berbinar. Sebelum Marian sempat bereaksi, dia langsung merebut uang itu dan menyelipkannya ke belahan dadanya yang nyaris terbuka.
Kemudian dia mendongak dan mengedipkan mata dengan genit kepada Marian. Setelah itu, dia berjinjit, merangkul belakang kepala Marian, lalu mencium pipinya keras-keras dengan bibir tebal yang dipenuhi lipstik murahan.
Itulah cara dia mengungkapkan kegembiraannya.
“Brengsek!” Marian mendorong Milando sambil memakinya.
“Sayang, malam ini aku milikmu. Kau boleh melakukan apa saja kepadaku…”
Untuk menunjukkan ketulusannya, Milando langsung berjongkok dan mulai membuka ikat pinggang Marian.
Tindakan itu langsung membuat Marian ketakutan. Dia buru-buru mundur, menoleh ke kiri dan kanan beberapa kali, lalu baru mengembuskan napas lega setelah menyadari tak ada yang memperhatikan mereka.
Dengan tatapan garang, dia memelototi Milando dan memaki, “Pelacur, kau mau membunuhku?”
Klub pria macho melarang para pegawainya berhubungan intim dengan pelanggan di dalam klub.
Milando berdiri dan mengejeknya, “Pengecut. Kalau takut mati, kenapa masih mencariku untuk…”
“Diam!” bentak Marian dengan suara keras.
Kemudian dia menyeret Milando ke sudut yang sepi dan mengancamnya dengan suara rendah, “Jalang, kalau berani membocorkan masalah ini, aku pasti akan memberi tahu bos tentang saat kau mengisap kokaina di klub terakhir kali.”
Mendengar Marian kembali menggunakan kejadian itu untuk mengancamnya, Milando langsung memaki, “Anak haram! Apa kau sudah lupa janjimu waktu itu? Aku bahkan sudah membiarkanmu meniduriku lewat belakang, dasar bajingan yang tidak bisa memegang janji…”
Wajah Marian berubah garang. Dia memperingatkan, “Karena itu, ingat baik-baik. Lebih baik masalah ini kau kubur dalam-dalam di hatimu. Kalau tidak, kau tahu sendiri seperti apa cara bos menangani masalah.”
“Persetan kau! Yang harus diam itu kau. Kali ini kita impas. Kalau lain kali kau masih berani mengancamku dengan masalah itu, lebih baik kita mati bersama.”
Di daerah ini, tak seorang pun tidak mengetahui cara-cara Jerome. Kalaupun belum pernah berurusan dengannya, mereka pasti mengenal salah satu anak buahnya.
Namun, kejadian ini justru memberi Milando kesempatan untuk terbebas dari Marian.
Walaupun ukuran milik Marian kecil dan hampir tidak terasa, dia suka melakukan permainan aneh. Yang paling menyebalkan, setiap kali harus berpura-pura menikmatinya, Milando merasa sangat lelah.
Marian menarik napas dalam-dalam. “Oke. Besok siang berikan barangnya kepadaku. Setelah itu, kita tidak saling berutang lagi.”
“Hmph!” Milando mendengus dingin, menggoyangkan pinggang gemuknya, lalu kembali memasuki lantai dansa.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Dalam kegelapan, Marian menatap punggung Milando yang menjauh dengan tatapan penuh kebencian.
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Juan tiba tepat pada waktunya untuk bekerja.
Dia masuk ke dapur belakang, langsung melewati ruang pengantaran hidangan, menyapa rekan-rekan yang sedang membersihkan tempat, lalu tiba di ruang ganti. Namun, ketika baru hendak membuka lokernya, dia mendapati gemboknya ternyata rusak.
Juan merasa heran, tetapi tidak terlalu memikirkannya. Dia melepas jaket, mengeluarkan kunci mobil dan barang-barang lain dari sakunya, lalu mengenakan seragam koki.
Setelah itu, dia kembali ke dapur dan mulai memeriksa isi lemari pendingin.
Tak lama kemudian, Viktor masuk.
“Hei, kawan, kau terlambat lagi.”
“Sial, bisakah kau mengatakannya lebih keras lagi?”
“Baik, lain kali akan kuingat.”
Juan sengaja menjawab dengan suara keras. Tiba-tiba dia seakan teringat sesuatu, lalu buru-buru menambahkan, “Oh, ya, Viktor, kunci lokarku rusak. Tolong pindahkan pakaian di dalamnya ke lokermu.”
Uang dan kunci mobil memang bisa disimpan di saku celana, tetapi pistol dan pakaiannya masih berada di dalam loker.
“Persetan!” Viktor mengangkat jari tengah ke arah Juan dengan kesal, lalu bergegas menuju ruang ganti.
Terlambat datang sebenarnya bukan masalah besar. Namun, jika sampai ketahuan Jerome terlambat, akibatnya tidak akan menyenangkan.
Kapitalis terkutuk itu tidak akan memukul atau memarahimu. Dia hanya akan memotong sedikit uangmu—tidak banyak, hanya sebesar upah sehari.
Bagi para pegawai yang memiliki istri dan anak, hal itu bahkan lebih menyakitkan daripada dibunuh.
Bagi Viktor yang masih lajang pun, itu tetap terasa menyakitkan.
Sebab, dia kehilangan satu kesempatan untuk merawat senjata kesayangannya.
Di dapur, suasana cukup santai karena hari itu merupakan hari kerja. Juan mempersiapkan bahan-bahan makanan tanpa terburu-buru.
“Aku penasaran, kenapa kau tidak mencari pacar? Enna lumayan juga. Meskipun pernah bercerai, dia tidak punya anak.”
Sambil memotong bahan makanan, Juan mengobrol dengan Viktor yang sedang mencuci sayuran.
Pembicaraan mereka kembali berujung pada perempuan. Jangan tertipu oleh tubuh Viktor yang penuh otot dan wajahnya yang tampak menyeramkan saat tidak tersenyum.
Anehnya, dia sangat disukai para perempuan.
Enna adalah salah satunya. Seperti Viktor, dia juga berasal dari Amerika Latin dan bekerja di sebuah pabrik.
Setiap minggu saat libur, dia selalu datang ke klub pria macho dan setiap kali pula mencari Viktor.
Juan tidak terlalu memahami mengapa Enna bisa menyukai pria berotot seperti Viktor. Namun, yang lebih sulit dipahami adalah lelaki itu ternyata malah menolaknya.
“Tidak. Perempuan itu merepotkan, terutama pacar.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Tidakkah kau takut suatu hari nanti terkena penyakit aneh?”
Setelah datang ke tempat ini, Juan baru mengetahui bahwa pada zaman itu istilah AIDS belum dikenal.
“Karena itu aku mengikuti saranmu. Aku memakai dua payung.”
Juan tertegun sejenak, lalu mengacungkan jari tengah kepada Viktor yang sedang menyeringai puas. “Brengsek!”
Dalam obrolan mereka sebelumnya, Juan pernah menjelaskan sedikit tentang penyakit semacam itu kepada Viktor. Maksudnya adalah mendorong Viktor mencari pacar tetap agar hubungan intimnya sedikit lebih aman.
Dia tidak menyangka jalan pikiran lelaki itu begitu unik.
Viktor justru membuat Juan tidak mampu berkata-kata.
Tak lama kemudian, malam turun di tengah obrolan mereka.
Saat lampu neon mulai berkelap-kelip, pintu klub terbuka. Dua pegawai berdiri berjajar menyambut gelombang pelanggan pertama.
Musik mulai mengalun. Para penari pria muncul, dan seluruh klub segera dipenuhi jeritan antusias.
Di tengah kesibukan semua orang, sebuah sosok datang ke depan ruang ganti. Setelah menoleh ke kiri dan kanan, dia menyelinap masuk dengan panik.
Dia tidak menyalakan lampu ruang ganti. Berbekal ingatan, dia mendatangi loker Juan, mengeluarkan sebungkus kecil bubuk putih dari sakunya, membukanya, lalu menaburkan sedikit di bawah kakinya. Sisanya dia masukkan ke dalam loker yang pintunya setengah tertutup.
Setelah itu, dia berbalik dan pergi.
Waktu berlalu sedikit demi sedikit. Malam itu berjalan hampir sama seperti biasanya.
Aula utama sudah dipenuhi pelanggan hingga melebihi kapasitas, sementara beberapa pelanggan keluar-masuk ruang-ruang pribadi secara bergantian.
Jerome telah menunggu seharian, tetapi masih belum menerima telepon dari Elisa.
Dia tahu ini baru hari pertama dan belum mungkin ada kabar secepat itu, tetapi tetap saja dia tidak bisa menahan rasa gelisahnya.
Bahkan, dia sempat ingin menyuruh Juan menelepon dan menanyakannya.
Di lantai atas, Jerome melirik jam dinding. Pukul sepuluh lewat tiga puluh enam menit.
Dia berpikir suasana di bawah mungkin sudah tidak terlalu sibuk, lalu berkata kepada pengawalnya yang duduk di sofa, “Anthony, panggil Juan kemari.”
“Oke.”
Pengawal yang sedang membaca majalah itu menjawab singkat, lalu berjalan keluar.
Tak lama setelah pengawal itu pergi, pintu kantor didorong terbuka oleh seseorang yang tampak panik.
Jerome mengerutkan kening dan hendak memarahinya, tetapi orang itu lebih dulu berseru,
“Bos, Bos…”