Menuju Timur
Tak berhasil mendapatkan kabar apa pun, Wang Chen pun tak berniat lagi berlama-lama di tanah Xi Shu. Ia tetap mengikuti rencananya semula, berjalan menyusuri garis perbatasan menuju arah timur. Ia berencana mencari kabar di wilayah-wilayah terpencil yang mungkin saja menyimpan berita, sekaligus melihat apakah ada bahan-bahan bagus untuk menempa senjata yang bisa ia temukan.
Daerah-daerah di tanah Tiongkok tengah sudah ribuan kali dijelajahi oleh para pendahulu dunia kultivasi. Benar-benar sudah dipilah sedemikian rupa, hingga tak tersisa sehelai bulu pun. Kemungkinan mendapatkan bahan berharga di sana, bahkan lebih kecil dari kesempatan Wang Chen memenangkan lotere di kehidupan sebelumnya. Hanya di daerah terpencil dan sunyi inilah, masih mungkin menemukan bahan-bahan bagus.
Jalur eksplorasi yang dipilih Wang Chen memang seperti sekali dayung dua tiga pulau terlampaui: sambil mencari kabar tentang gurunya, Pendeta Duobao, ia pun bisa mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan.
...
Waktu berlalu begitu cepat, sebulan pun telah lewat. Wang Chen yang terus melaju ke timur, butuh waktu sebulan penuh untuk benar-benar meninggalkan tanah Xi Shu. Karena ia memilih jalur paling selatan dan terpencil, kecepatannya pun jadi lambat. Ditambah lagi, ia sering berhenti untuk mencari informasi, sehingga perjalanannya semakin lama.
Belum lagi, di wilayah-wilayah sunyi seperti ini, kemungkinan munculnya siluman dan hewan jadi-jadian meningkat drastis. Dalam perjalanan kali ini saja, Wang Chen sudah berjumpa dengan lebih dari seratus siluman. Padahal, saat ia menempuh perjalanan dari Kota Manshui ke tanah Xi Shu yang begitu jauh, ia hanya bertemu beberapa puluh saja, itu pun sudah termasuk makhluk-makhluk gaib. Kalau hanya hewan yang menjadi siluman, tak sampai sepuluh.
Dari situ bisa dibayangkan, betapa banyak makhluk halus dan siluman yang bersembunyi di wilayah terpencil ini. Namun, Wang Chen tidak lantas menyerang mereka tanpa alasan. Hewan yang bisa menjadi siluman dan menapaki jalan kultivasi memang sudah sangat langka, apalagi yang bisa membangkitkan kecerdasan. Selama tidak ada konflik kepentingan, Wang Chen tidak mau membunuh mereka sembarangan.
Tentu saja, kalau ada yang nekat mencari masalah dengannya, ia pun tak segan-segan menyingkirkan mereka dengan kekuatan.
...
Kota Jamur, sebuah kota kecil yang tak terlalu besar di barat daya. Dinamai demikian karena hasil jamurnya yang melimpah. Setelah menempuh perjalanan lima hari lagi, Wang Chen pun tiba di kota kecil ini. Ia berniat beristirahat sejenak di sini, sekaligus mencari informasi.
Karena kota ini terkenal dengan jamurnya, setiap musim panen selalu banyak pedagang datang untuk membeli. Banyaknya orang yang hilir mudik tentu saja menjadikan musim ini waktu terbaik untuk mencari kabar.
Tiba di kota pada siang hari, Wang Chen merasa masih pagi, jadi ia tidak langsung menuju penginapan atau rumah makan.
Melainkan pergi ke jalan perdagangan jamur.
“Silakan lihat-lihat! Barang bagus, tak akan rugi membeli!”
Begitu memasuki jalan perdagangan itu, telinga Wang Chen dipenuhi suara pedagang yang berteriak menawarkan barang dagangannya.
“Hm?”
“Bos, berapa harga barang ini?”
Wang Chen berhenti di sebuah lapak dan bertanya pada penjualnya. Orang itu berbeda dengan pedagang lain; ia hanya duduk diam di tempat, tidak seperti yang lain yang sibuk berteriak menawarkan dagangan. Usianya sekitar empat puluhan, wajahnya dihiasi bekas luka besar akibat sabetan senjata. Auranya penuh hawa pembunuh, jelas bukan orang baik-baik.
Karena itulah, selain Wang Chen, tak ada satu pun pembeli yang mendekat ke lapaknya.
“Hmm... Sepuluh keping perak besar.”
Mendengar pertanyaan Wang Chen, penjual itu akhirnya membuka mata. Ia menatap Wang Chen sekilas lalu menyebutkan harga.
“Bos, ini cuma sepotong besi tua yang sudah rusak, harganya sepuluh keping perak besar. Saya memang berniat membeli, tapi harga segini agak keterlaluan, bukan?”
Sepuluh keping perak besar, nilainya seperlima batang emas kecil. Bukankah itu menganggap pembelinya bodoh?
Wang Chen pun tak tahan untuk membalas. Kalau bukan karena ada satu barang di lapak itu yang menarik perhatiannya, ia pun takkan mau berurusan dengan penjual yang tidak seperti pedagang pada umumnya ini.
“Tak mau beli, tak usah banyak omong.”
Penjual itu benar-benar sulit diajak bicara, tak mau tawar-menawar sama sekali.
“Baik, saya beli.”
“Nih, ambil!”
Wang Chen mengibaskan tangan, mengeluarkan sepuluh keping perak besar dan melemparkannya ke penjual itu.
“Hah??”
Melihat Wang Chen langsung membayar, penjual itu sempat tertegun.
“Begitu cepat? Apa benar ada sesuatu yang berharga di sini?”
Tapi karena barang sudah jelas dibeli, penjual itu pun tidak berkata banyak lagi. Lagipula, barang itu memang hanya sebagai pelengkap saja, ia sendiri tak melihat ada keistimewaan di dalamnya, jadi ia pun tak mau berdebat lagi. Dapat sepuluh keping perak besar dari barang rongsokan, sungguh keberuntungan yang tak disangka-sangka.
...
Setelah membeli pecahan itu secara tak sengaja, Wang Chen pun tak berminat lagi berkeliling. Ia langsung menuju penginapan terbesar di Kota Jamur, memesan kamar terbaik, dan memerintahkan pelayan untuk tidak mengganggunya.
...
“Benar-benar dari bahan yang sama.”
Di kamar pribadinya, Wang Chen tidak langsung beristirahat. Di tangan kirinya, ia menggenggam pecahan yang baru saja ia beli, dan di tangan kanannya, sebuah lencana aneh yang ia dapat dari membunuh siluman harimau di Kolam Ikan Sakti.
Lencana itu bukan emas, bukan perunggu, Wang Chen pun tak tahu terbuat dari apa.
“Awalnya, aku ingin mencari Kakak Senior Jiusu dan bertanya apakah ia tahu asal-usul lencana ini. Tak kusangka, di Kota Jamur ini aku justru menemukan pecahan yang sama.”
“Apa sebenarnya rahasia di balik benda-benda ini?”
Melihat dua benda itu di tangannya, Wang Chen termenung.
Penjual tadi jelas seorang pencuri makam, hawa pembunuh dan aura tanah di tubuhnya sangat kentara. Pecahan itu kemungkinan besar ia dapatkan dari dalam makam. Wang Chen tadinya ingin menawar harga sambil mencoba mengorek informasi, berharap bisa tahu lebih banyak tentang pecahan lencana itu.
Namun, pencuri makam itu tampak sangat tertutup, sama sekali tak mau diajak bicara. Karena itu, Wang Chen pun akhirnya membeli pecahan tersebut dan diam-diam menandai tubuh orang itu, berharap bisa mengikutinya dan mendapatkan informasi yang diinginkan.
Waktu pun berlalu.
Wang Chen duduk diam di kamar penginapan sepanjang sore.
“Akhirnya bergerak juga.”
Ketika ia merasakan tanda yang ia tinggalkan mulai bergerak, Wang Chen pun bernapas lega. Ia memanggil zombie pendampingnya, dan dengan kemampuannya terbang, Wang Chen pun diam-diam meninggalkan penginapan. Ia mengikuti tanda itu dari kejauhan.
Tanda itu bergerak perlahan, bahkan sempat berputar-putar di dalam Kota Jamur beberapa kali.
“Benar-benar hati-hati.”
Wang Chen tahu persis mengapa orang itu berbuat demikian. Sebagai pencuri makam yang sudah makan asam garam, apalagi yang pernah membunuh orang, kemampuannya tentu tidak sembarangan. Berputar beberapa kali untuk memastikan tak ada yang membuntuti adalah hal penting. Jika tempat persembunyiannya sampai diketahui, itu bisa berakibat fatal bagi para pencuri makam.
“Tapi, meski kau berhati-hati dan berpengalaman, kau takkan bisa lepas dariku.”