Bab 30: Hobi
Halaman (1/3)
“Ti-tidak apa-apa. Hanya saja, menemanimu menjalani wawancara seharian membuatku sedikit lelah. Aku kembali dulu.”
Tiba-tiba rona merah menghiasi wajah Lina. Ia tidak berani menatap Lin Dong dan langsung kembali ke kamarnya.
Lin Dong samar-samar merasa ada yang tidak beres, tetapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyelidikinya.
Ia kembali ke ruang rapat semula dan memanggil Li Wei, lalu berkata, “Li Wei, atur agar Zhao Chenxi, Li Siyu, dan Wang Yali segera mulai bekerja.”
Li Wei mengangguk. “Baik, Tuan Lin. Akan segera saya atur.”
“Selain itu, aku masih membutuhkan lebih banyak daftar riwayat hidup kandidat, terutama untuk posisi kepala bagian hukum dan kepala investasi.”
Secara keseluruhan, Lin Dong cukup puas dengan ketiga kandidat yang ditemuinya hari itu.
Dalam hati, Li Wei menggerutu, “Bahkan kaisar saat memilih selir pun tidak seketat ini. Harus cakap, sangat cakap, dan riwayat percintaannya juga harus bersih. Di mana aku bisa menemukan begitu banyak kandidat yang sesuai?”
Namun, demi uang, wajahnya tetap menunjukkan sikap hormat. “Tuan Lin, saya akan berusaha sebaik mungkin.”
Lin Dong menepuk bahu Li Wei dengan nada menyemangati. “Li Wei, kau sudah bekerja keras. Jika kau berhasil menemukan seorang kepala bagian hukum dan seorang kepala investasi yang sesuai, pekerjaan perekrutan tenaga eksekutif di Hong Kong juga akan kuserahkan kepada perusahaanmu.”
Secercah kegembiraan melintas di mata Li Wei. Meski tugas itu berat, janji besar yang digambarkan Lin Dong membuatnya melihat prospek dan imbalan yang jauh lebih besar.
Ia menjawab dengan mantap, “Tuan Lin, saya pasti akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan tugas ini.”
Lin Dong mengangguk puas. Nada suaranya mengandung harapan. “Baik, lanjutkan pekerjaanmu. Separuh dari komisi sebesar tujuh ratus lima puluh ribu dolar AS sudah kutransfer ke rekening perusahaanmu. Sisanya akan dibayarkan setelah mereka resmi mulai bekerja sesuai kesepakatan.”
【Saldo saat ini: 291 juta dolar AS】
Sudah dua hari sejak Lin Dong menjadi mitra terbatas di Sequoia, dan saldo sistemnya kembali pulih ke angka sembilan digit yang sehat.
Ia berencana menyelesaikan terlebih dahulu struktur perwalian keluarga, baru kemudian menuntaskan seluruh komitmen investasinya sebagai mitra terbatas.
Malam harinya, Lin Dong dan Lina menikmati makan malam di ruang makan suite presiden.
Lina muncul di pintu ruang makan setelah berganti pakaian. Ia mengenakan gaun hitam panjang yang anggun. Rambut lembut di bahunya memancarkan aroma samar, membuatnya tampak semakin menawan.
“Lina, kau terlihat sangat cantik hari ini,” ujar Lin Dong tulus.
Lina tersenyum tipis, rona merah menghiasi wajahnya. “Terima kasih, Lin. Anda juga terlihat sangat tampan.”
Meja makan dipenuhi beragam hidangan Tionghoa yang disajikan dengan indah, memanjakan mata, aroma, dan selera.
Bebek panggang khas Beijing yang masih mengepul memiliki kulit renyah dan daging yang lembut serta berair. Disantap bersama saus manis dan irisan daun bawang, rasanya sungguh menggoda. Bakso kepala singa saus kecapnya harum, berlemak tetapi tidak enek, dan langsung lumer di mulut.
Ada pula tahu Mapo yang pedas namun tidak menyengat. Teksturnya lembut, berpadu dengan daging cincang halus dan aroma yang menggugah selera.
Keduanya mengangkat gelas, menyentuhkannya dengan lembut, lalu mulai menikmati makan malam yang lezat itu.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Makan malam berlangsung dalam suasana hangat, diiringi percakapan yang menyenangkan.
Lina mencicipi tahu Mapo dan berkata dengan terkejut, “Ini benar-benar lezat! Aku belum pernah makan hidangan tahu yang begitu istimewa. Pedasnya benar-benar pas.”
Lin Dong tersenyum menatapnya. “Daya tarik masakan Tionghoa terletak pada keragamannya dan kekayaan teksturnya. Aku senang kau menyukainya.”
Lina mengangguk, matanya berbinar penuh semangat. “Kali ini aku benar-benar jatuh cinta pada masakan Tionghoa. Setiap hidangan selalu menghadirkan kejutan.”
Lin Dong tersenyum puas. “Kalau begitu, lain kali kita bisa mencoba lebih banyak masakan Tionghoa. Aku akan mengajakmu ke beberapa restoran yang lebih autentik.”
Masakan Tionghoa di Amerika sebenarnya sudah mengalami perubahan cita rasa, sedangkan masakan Tionghoa di Singapura jelas lebih cocok bagi lidah orang Tionghoa. Setidaknya, begitulah yang dirasakan Lin Dong.
Setelah makan malam selesai, sesuai pengaturan Richard, Lin Dong menjalani latihan kekuatan selama satu jam.
Setiap tambahan satu poin atribut kekuatan setara dengan pengeluaran seratus juta dolar AS. Karena itu, Lin Dong tentu sangat bersemangat.
Setelah latihan selesai, ia kembali ke kamar utama dan memutuskan untuk mandi di kamar mandi agar tubuhnya lebih rileks.
Tiba-tiba, ia mendengar suara air dari dalam kamar mandi.
“Aneh. Siapa yang sedang mandi di kamar mandi kamarku?”
Lin Dong mengernyitkan dahi. Samar-samar ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Ia tahu seluruh lantai itu berada di bawah pengawasan G4S. Hampir mustahil orang luar bisa masuk, kecuali G4S benar-benar mengkhianatinya.
Namun, ia segera menepis pikiran tersebut.
Ia mengingat kembali seluruh kegiatannya hari itu. Satu-satunya peserta wawancara yang belum dilihatnya pergi adalah Wang Yali.
Lin Dong berjalan ke depan kamar mandi dan mengetuk pintu dengan lembut. “Siapa di dalam?”
Dari celah pintu terdengar suara lemah. “Aku, Wang Yali.”
Lin Dong sedikit lega, meski masih merasa heran. “Yali, kenapa kau ada di sini?”
Suara dari balik pintu terdengar ragu-ragu. “Tuan Lin, ti-tidak apa-apa. Aku hanya merasa agak lelah setelah wawancara tadi dan ingin beristirahat sebentar di sini.”
Lin Dong membuka pintu dan melihat Wang Yali berdiri di dalam kamar mandi dengan sehelai handuk melilit tubuhnya. Rambutnya yang basah terurai di bahu, sementara rona merah menghiasi wajahnya. Ia tampak canggung dan gelisah.
Lin Dong tersenyum lalu melangkah mendekat. “Yali, sikapmu seperti ini bisa membuatku salah paham.”
Wang Yali menundukkan kepala. Rona merah di wajahnya semakin pekat. Dengan suara lirih, ia berkata, “Maaf, Tuan Lin. Aku hanya ingin beristirahat sebentar di sini. Tidak ada maksud lain.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Lin Dong mengangkat dagunya dengan lembut. Ada sedikit nada menggoda dalam tatapannya. “Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan sekarang?”
Jantung Wang Yali berdebar lebih cepat. Saat merasakan Lin Dong mendekat, napasnya pun menjadi lebih berat. “Tuan Lin, aku…”
Lin Dong tersenyum dan perlahan melepaskan dagunya. “Yali, kau tahu bahwa harapanku terhadapmu tidak terbatas pada pekerjaan.”
Wang Yali mengangkat kepala. Tatapannya memancarkan keraguan sekaligus harapan. “Tuan Lin, aku memahami maksud Anda.”
Lin Dong melangkah mendekat dan berkata dengan suara rendah, “Kalau begitu, sudahkah kau siap?”
Wang Yali mengangguk dan menjawab lirih, “Sudah, Tuan Lin.”
Lin Dong tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Wang Yali dan membawanya ke sisi ranjang.
Wang Yali menatap Lin Dong dengan gugup. Kehangatan telapak tangannya perlahan menggantikan ketegangan dalam hati Yali dengan perasaan penuh harap yang sulit dijelaskan.
Lin Dong duduk di tepi ranjang dan berkata lembut, “Yali, aku ingin kau sedikit lebih berani. Tunjukkan keberanianmu kepadaku.”
Wang Yali mengangguk. Meski gugup, ia tahu bahwa ini adalah kesempatan langka.
Perlahan, ia melepaskan handuk yang membalut tubuhnya. Rona malu memenuhi wajahnya.
Lin Dong menatapnya dengan lembut. “Yali, kau sangat cantik.”
Wang Yali sedikit gemetar, lalu perlahan berlutut di sisi ranjang dan mulai membuka kancing pakaian Lin Dong.
Tangannya agak gemetar, tetapi di bawah tatapan lembut Lin Dong, ia berangsur-angsur menjadi lebih tenang. Gerakannya pun semakin mantap.
Lin Dong mengusap rambutnya dengan lembut dan berkata pelan, “Tenanglah, Yali. Aku akan bersikap lembut.”
Wang Yali mengangguk. Sepasang matanya memancarkan keteguhan.
Ia perlahan mendekat kepada Lin Dong, merasakan kehangatan napasnya. Ketegangan dan harapan bercampur dalam hatinya.
Jemarinya menyusuri dada Lin Dong dengan lembut, merasakan otot-otot kuat di sana. Perlahan, ketegangan dalam dirinya tergantikan oleh sensasi aneh yang sulit dijelaskan.
Tepat saat itu, terdengar suara kecil dari arah pintu.
Lin Dong mengangkat kepala dan melihat Lina berdiri di ambang pintu, dengan tatapan yang tampak agak kabur.
Halaman (3/3)