Bab Dua Puluh: Dari Fana Menuju Roh! Metode Transformasi!
"Ini... ini..."
Lin Xiaoyao nyaris ternganga saking terkejutnya. Ia tak pernah menyangka benda kecil di depannya ini mampu mengalirkan air ke tempat setinggi itu. Mungkinkah ini sebuah pusaka ajaib?
Ia begitu terpaku hingga tak mampu berkata-kata. Baru setelah mendengar suara Mo Chuan, ia tersadar dari kekagumannya. Dengan nada takjub, ia bertanya, "Apakah ini buatanmu, Adik Seperguruan? Mungkinkah ini sebuah benda pusaka?"
"Bagaimana air itu bisa naik ke atas?"
"Bukan begitu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, benda ini hanyalah alat yang saya rakit di rumah. Ini bukan benda pusaka," jawab Mo Chuan sambil menggeleng.
"Luar biasa, sungguh luar biasa." Lin Xiaoyao terus mengangguk. Dengan alat yang mampu mengalirkan air ini, beban kerja mereka menjadi jauh lebih ringan. Ia tidak bisa menahan diri untuk memuji, "Otakmu sungguh cerdas, Adik Seperguruan. Kemampuan seperti ini membuatku takjub."
"Kakak Seperguruan terlalu memuji." Mo Chuan turun dari atap lalu menjelaskan cara kerja pompa air tersebut kepada Lin Xiaoyao. Mata Lin Xiaoyao berbinar-binar saat mendengarkan. Setelah mencobanya sendiri, rasa hormatnya terhadap sang adik seperguruan kian bertambah.
Tentu saja, di mata Mo Chuan, pompa air ini masih berupa purwarupa yang belum sempurna.
Kemudian, Mo Chuan mengambil serat bambu yang direndam kemarin untuk ditiriskan. Setelah itu, ia mengambil serat rami yang sedang dijemur untuk direndam kembali. Serat rami tidak bisa langsung digunakan setelah kering; ia harus direndam dan disisir agar seratnya kuat dan lentur.
Serat bambu itu rencananya akan digunakan sebagai penutup tangki biogas. Setelah direndam sejak kemarin, seratnya sudah cukup lunak. Meski keterampilan Mo Chuan dalam hal ini masih kurang, untungnya Lin Xiaoyao mahir melakukannya.
Lin Xiaoyao mungkin tidak mengerti teori-teori yang dijelaskan Mo Chuan, tetapi menganyam penutup untuk lubang besar menggunakan serat bambu adalah hal yang mudah baginya. Baginya, itu hanyalah membuat tampah besar, sesuatu yang sangat ia kuasai.
Alhasil, pekerjaan mereka hari ini bertukar. Lin Xiaoyao tinggal di pondok menganyam penutup, sementara Mo Chuan pergi menggembala.
Saat membawa kawanan rusa kembali di malam hari, Mo Chuan menatap kandang terbuka yang hanya terbuat dari kayu, tanpa perlindungan dari angin maupun hujan. Kondisi lingkungan sangat penting bagi rusa. Mungkin sudah saatnya ia membangun kandang yang lebih baik, pikir Mo Chuan dalam hati.
Saat Mo Chuan kembali, Lin Xiaoyao telah menyelesaikan penutup besar untuk lubang tangki biogas itu. Melihat tampah raksasa yang lebih besar dari tubuh manusia dan menyerupai atap gazebo, Mo Chuan sungguh mengagumi keahlian Lin Xiaoyao. Keduanya kemudian mengangkat penutup itu bersama-sama dan menutup lubang tempat tumpukan kotoran tersebut.
Saat ini lubang tersebut belum bisa ditutup rapat karena Mo Chuan masih harus menambal celah-celahnya dengan resin dan serat rami.
Waktu berlalu dengan tenang selama tiga hari. Dalam kurun waktu tersebut, Mo Chuan telah menyiapkan serat rami. Saat hari baru tiba, Mo Chuan terlebih dahulu mengambil resin pinus yang telah dikumpulkan. Tak disangka, ia mendapat kejutan: ia menemukan seekor kelinci.
Kelinci itu terluka parah dengan luka menganga di kaki hingga ke perutnya, darah terus mengucur. Entah karena sedang melarikan diri atau sebab lain, kelinci itu menabrak tabung bambu yang diletakkan Mo Chuan, tubuhnya terbalut resin, dan akhirnya terperangkap di sana.
Setelah mengamankan resin dan membawa kelinci tersebut, Mo Chuan segera meninggalkan tempat itu. Melihat luka kelinci tersebut serta jejak kotoran dan cakaran di hutan, kemungkinan besar ada binatang buas lain di kedalaman hutan itu. Lebih baik segera pergi.
Sesampainya di pondok, Mo Chuan memproses resin tersebut dan menyiapkan serat rami. Langkah selanjutnya adalah menyambung pipa air. Di sinilah Mo Chuan menemukan kegunaan lain dari "Teknik Pasir Mengalir" yang dipelajari Lin Xiaoyao, yaitu untuk memindahkan pipa.
"Wus..."
Lin Xiaoyao merapal mantra, dan permukaan tanah mulai bergerak, membawa tumpukan bambu itu seolah-olah sedang mengapung di sungai. Hal ini sangat menghemat tenaga. Namun, karena tingkat kultivasi Lin Xiaoyao saat ini, jangkauan mantranya terbatas hanya dalam radius enam hingga tujuh tombak dari tubuhnya. Meski begitu, ini sudah sangat membantu.
Lin Xiaoyao bertugas memindahkan pipa, sementara Mo Chuan menyambungnya. Ia melilitkan serat rami yang telah diberi resin pada ujung bambu, lalu menyambungkannya ke bambu lain secara berulang. Agar lebih aman, Mo Chuan membungkus sambungan tersebut dengan kain bekas dan mengolesinya dengan lapisan resin yang tebal.
Tak lama kemudian, pipa tersambung dan semuanya siap. Keduanya kembali ke pondok kayu. Dengan tatapan penuh harap dari Lin Xiaoyao, Mo Chuan mulai memompa air.
Satu kali, dua kali, tiga kali...
Tarikan pertama adalah yang paling memakan waktu karena pipa masih berisi udara, sehingga harus dipompa terus-menerus. Waktu berlalu, lengan Mo Chuan terasa pegal dan keringat mulai membasahi dahinya. Sekitar seperempat jam kemudian, mereka akhirnya mendengar suara gemericik air dari dalam pipa.
Berhasil.
Mata Mo Chuan berbinar. Tak lama kemudian, air keruh mulai mengalir keluar dari mulut pompa.
"Wah! Berhasil, berhasil!" seru Lin Xiaoyao dengan penuh semangat. "Adik Seperguruan luar biasa, aku sungguh takjub!"
Mo Chuan pun tersenyum lega. Akhirnya, masalah air teratasi. Setelah itu, mereka mengubur pipa-pipa tersebut agar tidak rusak. Penutup tangki biogas yang dianyam kemarin juga dilumuri resin dan celahnya ditambal dengan serat rami. Selesai sudah.
Malam harinya, setelah memasukkan kawanan rusa ke kandang, mereka kembali ke pondok. Mo Chuan memanggang kelinci yang didapat tadi, sementara Lin Xiaoyao menyiapkan hidangan pendamping. Setelah semuanya siap, mereka membawa meja ke halaman dan mulai makan.
"Dengan keterampilan memasak seperti ini, sayang sekali jika Adik Seperguruan tidak masuk ke dapur pusat perguruan," puji Lin Xiaoyao dengan tulus setelah mencicipi daging kelinci.
"Orang-orang di dapur pusat mana bisa menikmati kebebasan seperti kita berdua," jawab Mo Chuan sambil tersenyum ringan.
"Haha, benar sekali katamu," tawa Lin Xiaoyao.
"Mumpung ada kesempatan, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada Kakak Seperguruan," ujar Mo Chuan. "Tugas utama jalur 'Dewa Tanduk' saat ini adalah membudidayakan rusa agar menjadi rusa sakti, dan kita wajib menyetorkan tanduk rusa setiap tahun."
"Sebelumnya Kakak pernah menyebutkan ada catatan dari para pendahulu mengenai metode budidaya. Apakah ada yang bisa kita jadikan referensi?"
"Catatan para pendahulu memang masih ada. Jika kau ingin membacanya, aku akan mengambilkannya untukmu." Lin Xiaoyao bangkit dan masuk ke dalam pondok, lalu kembali membawa tumpukan benda.
Mo Chuan memperhatikan tumpukan buku tua yang sudah usang dan banyak yang rusak. Lin Xiaoyao menunjuk buku-buku itu dan berkata, "Ini adalah peninggalan para pendahulu. Aku sudah membacanya, namun tidak terlalu memahaminya. Adik Seperguruan memiliki bakat luar biasa, mungkin kau bisa memetik manfaat darinya."
"Terima kasih, Kakak Seperguruan," ucap Mo Chuan sambil mulai membolak-balik buku-buku tua tersebut.
"Sama-sama," jawab Lin Xiaoyao dengan senyum tulus, lalu ia duduk di samping agar tidak mengganggu Mo Chuan.
Lama berselang, Mo Chuan menutup buku terakhir dan menghela napas panjang. Isi buku-buku tersebut sebagian besar adalah metode konvensional dari Lima Gerbang, tampaknya para pendahulu hanya mengikuti alur alami tanpa banyak inovasi. Namun, ada satu buku kecil tanpa sampul yang isinya membuat Mo Chuan terkejut.
"Metode Instan Mengubah Rusa Biasa Menjadi Rusa Sakti?"