Bab 26: Sang Jelita Memasuki Kota
Menerobos di bawah selangkangannya... kuda! Karena kejadian itu terlalu mendadak, kuda tinggi besar yang ditungganginya pun terkejut, tiba-tiba berhenti mendadak.
Hiii!
"Apa itu makhluk iblis!" Mata pemuda tampan itu memancarkan kebekuan, tangan kanannya terangkat ke atas.
Cahaya putih berkilat, tampak bayangan seekor burung.
Di langit dan bumi ini, tiba-tiba terdengar suara deras aliran sungai yang membahana.
— Cap Burung Es!
Bumm.
Jejak halus berupa serpihan es perlahan-lahan menghilang di udara.
Di ujung pandangan, burung putih kristal es itu seketika menukik ke tanah.
Puluhan duri tajam menyilang, membentuk belukar berduri yang memantulkan cahaya berwarna-warni.
Namun...
Naga tanah yang melaju kencang itu berbelok, luar biasa nyaris lolos dari jebakan.
Di balik debu yang mengepul, tampak sepasang mata kecil merah menyala menatap garang.
Naga tanah itu segera menyelinap ke rerumputan pinggir jalan, lalu lenyap tanpa jejak.
"…Puyuh?" dahi Bai Hongfeng berkerut, ia tak menyangka gagal, sosok samar yang tergambar dari debu itu terpatri di benaknya hingga ia tak sadar mengucapkannya.
"Puyuh nenek moyangmu!"
Suara rendah itu tidak mampu menyembunyikan kemarahan.
Bi Fang berlari sambil menggertakkan gigi, kalau saja ia tidak sedang terburu-buru mencari si bajingan tak berhati itu, sudah pasti anak muda bermuka manis itu akan dipanggangnya.
Berani-beraninya menyerang kakekmu secara diam-diam?
Lihatlah wajah tampan kakek ini, puyuh?
Kau sendirilah puyuh.
Seluruh keluargamu puyuh.
...
Orang-orang di jalan raya itu menatap bingung, dalam sekejap tadi sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa tiba-tiba muncul serpihan es indah di jalan raya yang terik ini.
Ini es sungguhan?
Seorang pejalan kaki yang cukup berani melirik pemuda tampan yang sedang berpikir dalam, diam-diam menyentuh serpihan es setinggi dua kaki itu.
Sss!
Dingin dan tajam seperti pisau, hampir seketika ia menyentuhnya, telapak tangannya langsung terluka berdarah.
Pejalan kaki itu terbelalak, dan ketika melihat tatapan suram pemuda tampan itu, ia pun buru-buru menutup luka dan lari terbirit-birit.
"Suara deras sungai tadi masih terngiang di telinga, makhluk apa yang membuat Tuan Bai turun tangan?" Dengan tangan halus mengangkat tirai tipis, sepasang mata bening penuh pesona menatap, "Apakah Tuan menggunakan Cap Burung Es dari 'Kitab Rembulan Putih'?"
"Benar... ah, sungguh memalukan, aku gagal. Aku curiga itu mungkin binatang dari Sekte Iblis."
Wajah suram Bai Hongfeng segera lenyap ketika Wu Xinyue mengangkat tirai jendela, berganti dengan rasa malu karena gagal, dan kembali menampilkan pesona seorang pemuda terhormat yang menawan.
Sekte Iblis?
Bahkan Sekte Iblis ingin mengincar keuntungan di jantung Tianwu ini?
Tatapan wanita itu meneduh, ia mengangguk pelan, "Terima kasih atas bantuan Tuan, sehingga Xinyue terhindar dari gangguan."
"Ah, itu sudah menjadi kewajiban kami. Urusan Sekte Iblis pun seharusnya ditangani oleh Dinasti Tianwu. Kalau begitu, mari kita lanjut masuk kota," Bai Hongfeng tersenyum.
"Terima kasih, Tuan, aku akan mengikuti aturan tuan rumah."
Kereta kuda yang sempat berhenti kembali melaju.
...
Bai Hongfeng dari awal hingga akhir tetap berwibawa, menunggang kuda dengan langkah perlahan, membuat banyak gadis di pinggir jalan diam-diam menatap kagum.
Sedangkan Wu Xinyue, begitu tirai diturunkan, senyum di wajahnya pun lenyap, matanya berubah sinis dan penuh penolakan dingin.
Sepasang kaki putih mulus nan panjang setengah tersembunyi di balik kain tipis, santai terjulur di atas ranjang berselimut bulu es.
Sikap santainya saja sudah cukup membuat siapa pun tergila-gila.
Wu Xinyue...
Murid dari Sekte Rembulan dan Asap...
Wanita itu tersenyum tipis, menampilkan daya pikat yang mampu memesona siapa saja.
Identitas seperti ini, memerankannya sangatlah mudah.
Juga sekawanan orang mati dari Sekte Gunung Awan...
Aku ini pendendam, pikirnya.
Wanita itu menutup mulut, tertawa lirih seperti rubah betina penggoda.
...
Pelajaran keluarga telah usai, para pemuda-pemudi Keluarga Zhao keluar sambil bercanda tawa.
Saat melewati Qin Yin, mereka semua melirik lebih dari sekali, namun tak satu pun yang berusaha akrab.
Seorang pembaca pendamping telah menyinggung Tuan Muda Kedua, hanya mengandalkan tenaga kasar, benar-benar tidak tahu malu.
Ada yang saat melewati Paman Liu, sambil menyapa, berpura-pura bertanya tentang bakat Qin Yin.
"Orang biasa, hanya berlatih bela diri beberapa tahun, tak sebaik para Tuan dan Nona," jawab Paman Liu sesuai perintah Zhao Quyu sebelumnya.
Mereka yang ingin tahu pun puas.
Ternyata hanya latihan bela diri lebih lama.
Orang biasa...
Sekadar itu saja sudah menutup segala harapan masa depan.
Semakin tua, semakin sulit membuka jalur spiritual, jika bakatnya biasa-biasa saja... paling banter hanya manusia semu spiritual.
Orang biasa yang akhirnya bisa menembus pusaran energi, satu banding seratus ribu, atau bahkan sejuta.
Pasti butuh banyak sekali Pil Penjernih Sumsum untuk mencapainya.
Kabar itu dengan cepat sampai ke telinga Zhao Yuancheng.
Tuan Muda Kedua kini kembali tersenyum, berjalan santai ke arah Qin Yin, sama sekali tak peduli Zhao Quyu ada di dekatnya.
"Syara yang diberikan Tuan Muda Pertama, akan aku lipatgandakan. Mulai sekarang ikutlah denganku."
Suaranya tak terlalu keras, tapi cukup didengar semua orang di sekitarnya.
Semua mata tertuju ke sana, bibir Zhao Yuancheng melengkung, ia sengaja ingin semua orang mendengarnya.
Qin Yin tak mungkin langsung setuju, tapi selama ia ragu, itu akan menjadi duri di hati Zhao Quyu.
Memikirkan itu, senyum di bibirnya makin lebar, matanya kembali ke depan.
Lalu, Tuan Muda Kedua melihat Qin Yin menatapnya dengan pandangan seperti melihat orang bodoh.
"Apa maksud pandanganmu itu?"
"Aku memang mau sendiri, maksudku Tuan Muda Pertama tidak memberikan syarat apa pun, jadi Tuan Muda Kedua carilah orang lain saja."
Qin Yin mengangkat bahu, menutup "Metode Pengerasan Tubuh Kera Putih" yang dipegangnya, lalu bangkit dan melangkah pergi. Menurutnya, Zhao Yuancheng jauh lebih naif dibandingkan kakaknya.
Namanya juga adik.
Hmm... malam ini akan kucoba gunakan metode pengerasan tubuh ini untuk merasakan kekuatan spiritual lagi.
Kedua metode itu memang berbeda fokus.
Tuan Muda Kedua tertegun.
Lalu marah bukan kepalang.
Padahal ia tahu pasti, tadi Zhao Quyu menawarkan tiga batangan perak.
Kenapa kau bilang tidak ada?
Kalau dilipat dua, enam batangan perak sebulan, di Kota Yuliang ini sudah cukup membuat orang biasa hidup bermewah-mewah.
Mentang-mentang kau hanya anak miskin yang berlatih bela diri beberapa tahun, mau sok apa!
Melihat Qin Yin berjalan pergi dengan santai, Zhao Yuancheng hanya merasa amarahnya meluap.
Aku belum jadi kepala keluarga...
Aku belum jadi kepala keluarga...
Ia mengulang-ulang dalam hati, menahan diri agar tidak berbuat gegabah.
Tunggu saja, kalau aku sudah masuk ke Selatan dan memegang kekuasaan keluarga Zhao, hidupmu akan lebih sengsara daripada mati.
Tatapan Zhao Yuancheng berubah kejam sekejap.
Pelajaran keluarga pun usai, sore harinya waktunya untuk berlatih masing-masing.
"Bagus. Kalau ada perlu, sampaikan saja pada pelayan, kau dan ibumu sembuhkan luka baik-baik." Setelah berjalan agak jauh dan memasuki taman bambu yang sunyi, Zhao Quyu berkata dengan nada datar.
Penampilan Qin Yin pagi tadi memberinya banyak kejutan, dan membuatnya puas.
Meski seumur hidup tak bisa membuka jalur spiritual, kemampuan beradaptasi seperti itu tetaplah langka.
Perlakuan tetap sama, tapi ke depannya tak perlu terlalu diperhatikan lagi.
Enam bulan lagi, Seleksi Seribu Sekte akan digelar, itu saatnya Zhao Quyu yang bersembunyi tiga tahun ini akan menggebrak!
Zhao Quyu melangkah pergi dengan tangan di belakang.
Melihat sosok jangkung itu menghilang di balik jembatan melengkung, pandangan Qin Yin tetap tenang.
Perbedaan sikap sebelum dan sesudah pemeriksaan tulang, meski disembunyikan tetap terasa.
Namun Qin Yin sama sekali tak menyimpan dendam.
Menyembuhkan ibunya, itu sudah merupakan kebaikan.
Ada kebaikan, harus dibalas.
Lagipula, orang tak berguna dihina, bukankah itu wajar?
Mengeluh pada langit dan bumi? Qin Yin bukan pengecut, lebih baik gunakan waktu itu untuk berlatih lebih banyak.
Rasa nyeri menusuk di rusuk.
Qin Yin menunduk, di pakaiannya sudah tampak bercak darah.
Luka itu terbuka lagi rupanya.
Namun ia tak peduli, melanjutkan langkahnya.
Sret.
Tiba-tiba, suara angin kencang melesat di udara.
Senjata rahasia!?
Qin Yin spontan bergerak menghindar.
Di matanya, cahaya merah bulat meluncur membelah angin!
Sepasang mata kecil merah membara...
Penuh duka dan kemarahan.
"Beraninya kau makan besar sendirian, tidak mengajak kakekmu!"
"Penjahat kecil, terimalah ajalmu!"