Bab Seratus Tiga Puluh Empat: Langit Biru
Anak takdir, dijuluki sebagai putra surga.
Namun, ada seseorang yang membunuh anak takdir itu.
Zhang Jiao menatap Liu Bei sekilas.
Liu Bei pun tak mampu bergerak.
Sebuah panah melesat dari Dong Zhuo, membunuh Liu Bei.
Meskipun berstatus sebagai anak takdir, ia tetap gugur di tangan Dong Zhuo.
Anak takdir bukanlah sosok yang tidak bisa mati.
Keberuntungan yang baik belum tentu menjamin keselamatan abadi.
Namun, membunuh putra surga sama artinya dengan menantang langit secara terang-terangan.
Murka sang langit pun bangkit.
Sebuah susunan dewa turun ke dunia fana.
Suara guntur yang mengerikan bergemuruh dari langit tinggi.
Menjalar dari timur ke barat, dari utara ke selatan, suaranya yang menggelegar bergema di seluruh cakrawala.
Ratusan ribu orang di dataran luas itu merasakan gendang telinga mereka berdengung nyeri secara bersamaan, lutut mereka melemah, dan hampir jatuh tersungkur ke tanah.
Inilah suara guntur yang sesungguhnya—suara guntur surgawi!
Dibandingkan dengan suara guntur dari atas langit mahatinggi itu, suara deru pedang, serbuan panah, benturan senjata, serta jeritan kesakitan yang silih berganti menghiasi perang berdarah di dataran sebelumnya, terasa begitu lemah, begitu tak berdaya, bagaikan mainan anak-anak.
………
Susunan dewa turun ke dunia, langsung menghadirkan kejut yang luar biasa bagi umat manusia.
Lu Yun masih duduk di dalam kereta berukir jimat, merasakan energi yang maha luas dan tak bertepi di dalam kehampaan, pandangannya perlahan-lahan menjadi khidmat.
Satu sambaran petir barulah sekadar hidangan pembuka, tetapi kekuatannya sudah sedemikian rupa! Bahkan para ahli tingkat maestro pun belum tentu mampu menahan sisa dari kekuatan tersebut.
Petir dewa yang mengerikan ini, bahkan jenderal perang atau praktisi Tao paling kuat di dunia fana sekalipun, jika berhadapan dengannya, dikhawatirkan akan musnah menjadi abu!
Lalu, apa selanjutnya?
Mau tidak mau, ia mengalihkan pandangannya kepada sang kakak seperguruan, Guru Besar Pembawa Pencerahan, Zhang Jiao.
Menentang langit!
Mereka yang lemah bersikap gegabah dan sok tahu, sembarangan meneriakkan kata-kata menentang langit, padahal hanya ketika kultivasi seseorang telah mencapai puncak dunia fana barulah ia memahami perjuangan paling nyata, paling hidup, serta paling megah dan indah yang terkandung di dalam kalimat tersebut!
Karena langit terlampau perkasa.
Bahkan manusia terkuat sekalipun, jika dibandingkan dengan langit, tampak bagaikan keberadaan yang begitu kecil.
Dan sekarang, manusia terkuat itulah yang tengah memandang ke arah langit.
Suara guntur bergemuruh di cakrawala.
Guru Besar Pembawa Pencerahan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi keterkejutan.
Ia sudah lama terbiasa dengan guntur yang menggelegar.
Selama beberapa dekade yang telah berlalu, di tempat yang sangat jauh di atas kepalanya, petir selalu menyambar-nyambar, hanya saja tidak pernah benar-benar turun ke bumi.
Kini, ia melirik sekilas, dengan kekuatan penuh berhasil menghentikan pelarian sang anak takdir, dan akhirnya menampakkan diri di hadapan susunan dewa.
Susunan dewa pun turun secara alami.
Suara guntur adalah pertanda aktifnya susunan dewa.
Selepas guntur mereda, di atas langit, cahaya tanpa batas tiba-tiba terpancar.
Bagaikan sebuah matahari.
Menyilaukan mata.
Tak sanggup dipandang secara langsung.
……
Di langit, awalnya awam mendung berarak rapat karena para praktisi Tao tingkat tinggi menggunakan sihir untuk memanggil angin dan mendatangkan hujan, mengubah dunia ini menjadi malam yang gulita.
Namun, kemunculan cahaya yang datang secara tiba-tiba itu menyapu bersih seluruh kegelapan.
Tirai-tirai cahaya tercurah turun, lalu berkumpul menjadi satu, bergelombang bagaikan riak air, menyelimuti seluruh medan pertempuran.
Di dalam tirai cahaya itu, bermunculan pemandangan ilusi bak kilasan mimpi; tampak sosok-sosok berbusana kuno dengan aura yang mencengangkan, istana-istana megah yang luar biasa megah, serta semangat membara dari ribuan pasukan berkuda yang menaklukkan dunia.
Segala bayangan itu seolah menceritakan kembali sejarah kejayaan Dinasti Han selama ratusan tahun kepada dunia. Dan pada akhirnya, seluruh bayangan ilusi itu memadat, menjelma menjadi seorang raksasa perkasa berbusana jubah kekaisaran yang menggenggam pedang dewa di tangannya.
"Kaisar Gaozu!"
"Itu Kaisar Gaozu!"
"Kaisar Gaozu menampakkan diri untuk membunuh para pemberontak Serban Kuning!"
Kemunculan raksasa perkasa itu menimbulkan kehebohan luar biasa di seluruh medan pertempuran.
Baik Cao Cao, maupun Yuan Shao dan Yuan Shu dari klon bangsawan terkemuka, semuanya dapat dengan mudah mengenali bahwa raksasa perkasa itu tak lain adalah kaisar pendiri Dinasti Han, Liu Bang!
Dan pedang pusaka di tangan Kaisar Gaozu adalah pedang dewa legendaris—Pedang Chi Xiao!
Susunan dewa Dinasti Han kembali hadir di dunia fana!
Sama seperti kemunculannya di langit atas kepala Wang Mang ratusan tahun silam...
Di dalam istana kekaisaran di Kota Luoyang, Dinasti Han, Kaisar Ling seperti biasa tenggelam di dalam dunianya sendiri, bersenang-senang dengan gembira.
Di sisinya, Sepuluh Kasim yang sangat dibenci oleh dunia, tengah mendampingi sambil memasang senyum penjilat.
Suasana hati sang junjungan belakangan ini berubah terlalu cepat, membuat mereka sulit menebak.
Untunglah hari ini beliau sedang bersuasana hati yang baik, sehingga mereka tentu harus melayani dengan sebaik-baiknya.
Tiba-tiba, Kaisar Ling samar-samar merasakan sesuatu. Ia tertegun sejenak, lalu berlutut.
"Nenek moyangku! Lindungilah keturunanmu yang tak berguna ini!"
Kaisar Ling bersujud dan meratap tanpa henti menghadap ke langit.
Semoga Kaisar Gaozu yang agung membasmi habis para menteri durhaka dan pengkhianat itu!
Dengan begitu, ia dapat menikmati kedamaian kembali.
……
Tidak jauh dari luar istana kekaisaran di Kota Luoyang, terdapat sebuah kuil Buddha.
Namanya Kuil Kuda Putih.
Seorang biksu tua duduk bersila di dalam kuil, melafalkan kitab suci seperti hari-hari biasanya, ketika ia tiba-tiba mendongakkan kepalanya.
Ia melihat pemandangan di langit sebelah timur yang amat jauh.
Suara pelafalan kitab suci terhenti seketika.
Biksu tua itu menundukkan kepalanya, meringkuk, seolah hendak menyembunyikan seluruh auranya.
Ketegasan dan ketenangan yang biasa ia miliki entah telah hilang ke mana, sementara keringat perlahan-lahan merembes di keningnya.
Ya ampun, Langit!
Langit yang sesungguhnya hadir di dunia, membuat ia terpaksa harus menarik diri dan bersembunyi.
……
Di wilayah Jingzhou.
Pang Degong dan Sima Hui memandang dari kejauhan ke arah raksasa di langit, wajah mereka diliputi rasa hormat yang lebih dalam.
Meskipun mereka adalah orang-orang yang mengasingkan diri dari urusan duniawi, mereka tetap menunjukkan rasa hormat kepada Kaisar Gaozu yang telah merintis wilayah Dinasti Han.
"Untuk apa Guru Besar Pembawa Pencerahan berbuat sejauh ini? Bagaimanapun juga, ia bukan tandingan Langit!" Pang Degong menggelengkan kepalanya dengan perasaan iba.
Satu-satunya orang yang mampu memicu bangkitnya susunan dewa legendaris hanyalah Rekan Tao Zhang dari Ajaran Taiping.
Namun, bahkan bagi Rekan Tao Zhang sekalipun, bagaimana mungkin ia bisa melawan Langit?
Mulai hari ini, satu lagi rekan sesama pencari jalan telah pergi...
"Ia memang pergi, namun ia meninggalkan para muridnya. Lantas, apa daya para muridnya?" Sima Hui meneguk araknya, lalu berucap datar. "Mereka hanya akan menemui pembantaian, dan Ajaran Taiping akan terpuruk tanpa bisa bangkit lagi. Gagasan tentang Era Kedamaian Langit Kuning miliknya terlalu idealis, sama sekali tidak bisa diwujudkan."
"Guru, apa itu Era Kedamaian Langit Kuning?"
Seorang anak kecil dengan mata yang jernih mendengarkan perkataan Sima Hui, lalu bertanya dengan rasa penasaran.
"Zhugeliang kecil, hal seperti Era Kedamaian Langit Kuning itu... kelak kau akan mengetahuinya." Sima Hui merenung sejenak, lalu tersenyum.
Murid kecilnya ini memang gemar bertanya.
Namun, perihal Era Kedamaian Langit Kuning, lebih baik ia tidak mengetahuinya.
"Baiklah!" Anak kecil itu tidak mendapatkan jawaban, sepasang mata indahnya mengerjap-ngerjap, meniru arah pandangan gurunya ke langit.
"Langit hari ini, tampaknya jauh lebih terang daripada biasanya..."
Perasaan itu muncul di dalam benak sang anak kecil.
Namanya Zhugeliang, dan ia paling menyukai memandangi langit berbintang.
Langit hari ini sungguh terang!
……
Di wilayah Hanzhong.
Seorang praktisi Tao juga sedang memandang ke langit.
"Rekan Tao Zhang, entah apakah kau mampu bertahan melewati ujian ini?"
Pemimpin Ajaran Surgawi perlahan berucap, dengan kilat kekhawatiran terpancar di dalam pandangannya.
Ia adalah seorang praktisi Tao, sehingga yang ia khawatirkan tentu saja sesama praktisi Tao.
Ia tidak memiliki banyak rasa hormat terhadap Kaisar Gaozu yang legendaris.
Itu adalah Langit, bukan Langit Kuning.
Rekan seperguruannya, pemimpin Ajaran Taiping, kini berhadapan dengan susunan dewa Dinasti Han, entah ia akan menang atau kalah?
"Kau harus menang!"
Pemimpin Ajaran Surgawi bergumam tanpa suara.