Bab 73: Kalau Tidak, Akan Kucabut Semua Rambutmu
Di sisi lain, Zhang Haiyan masih ngotot ingin melompat ke laut, sementara si gendut sudah berteriak mengajak makan sambil mengacungkan sumpitnya. Zhang Haiyan benar-benar terpukau oleh pesona panci kepala ikan itu. Hampir semua orang di kapal yang tak sedang sibuk mendekat ke sana. Saat Zhang Haiyan didudukkan paksa oleh Aning dan Xie Yuchen, ia sendiri pun merasa aroma panci kepala ikan itu sungguh luar biasa menggoda.
Zhang Qiling juga keluar dari kabin kapal, mencium aroma itu lalu berkomentar, “Benar-benar tanah yang diberkahi, masak ikan seadanya saja bisa menghasilkan rasa yang tak mungkin kami cicipi seumur hidup di sana.”
“Kalau soal budaya, aku memang orang kasar,” ujar si gendut, “tapi kalau soal makan, hei, di sini belum ada yang bisa menyaingi si Gendut dalam menikmati hidup. Ikan tenggiri besar ini memang paling pas dibuat panci kepala ikan.”
Selesai bicara, ia menjepit kulit ikan dengan sumpit, memasukkannya ke mulut, meski kepanasan sampai matanya berair pun tetap tak mau memuntahkannya.
Kacamata Hitam melirik bocah yang tampak murung karena dipaksa duduk, lalu memandang ke arah Xie Yuchen dan Aning, sambil mengunyah bertanya, “Nak, kau kenapa sampai membuat bosku marah? Perlu kubantu membela?”
Zhang Qiling pun ikut memandang, lalu mengerutkan kening, “Apa lagi yang kau lakukan? Kenapa kau tak bisa sedikit tenang? Lebih baik kau tak usah makan, pulang dan introspeksi diri baik-baik.”
Xie Yuchen menatap Zhang Botak, “Ini siapa?”
Aning buru-buru memperkenalkan, “Ini penasihat perusahaan kami, Tuan Zhang, juga ayah bocah ini.”
Mendengar itu ayahnya, Xie Yuchen kembali mengamati pria itu beberapa kali.
“Kau tahu anakmu mau lompat ke laut?”
Wajah Zhang Botak langsung berubah masam mendengar itu.
“Kenapa kau sebodoh ini sih?”
Melihat ayah dan anak itu hendak bertengkar, semua orang meninggalkan makanannya dan berusaha melerai.
Kacamata Hitam menyikut Wu Xie di sampingnya, menunjuk ke arah ayah dan anak yang hampir berkelahi, “Mereka kenapa?”
Wu Xie menghela napas, “Anak itu libur musim panas, ayahnya takut dia bikin ulah jadi dibawa serta. Sebenarnya sejak awal hubungan mereka memang selalu tegang.” Wu Xie sengaja tidak menyebut soal gosip Zhang Ergou soal ayahnya selingkuh, karena itu urusan pribadi orang lain, tak pantas diumbar.
Kacamata Hitam mengangguk sambil mengamati seisi ruangan.
“Masih ada orang yang belum ke sini?”
Wu Xie juga menoleh, “Kayaknya hampir semua sudah di sini, tinggal kapten kapal dan beberapa awak saja.”
Ia sempat ingin bertanya kenapa Zhang Haiyan belum datang, lalu memandang si pria pendiam berpakaian merah muda, ingin bertanya, apa kau ganti orang?
Mungkin tatapan Wu Xie terlalu tajam, Xie Yuchen pun menoleh sambil tersenyum, “Kenapa? Ada urusan?”
Sementara itu, Zhang Ergou dan Zhang Botak bertengkar sambil berjalan keluar.
Begitu keluar dari ruang makan, Zhang Qiling langsung menepis tangan Zhang Haiyan yang masih mencengkeram kerah bajunya, hampir membuat jiwa Zhang Haiyan tercerabut. Ia pun setengah berlari mengikuti di belakangnya.
Setibanya di kabin, Zhang Qiling mengerutkan kening, diam saja menatap Zhang Haiyan.
Zhang Haiyan menghindari tatapannya, menunggu sebentar lalu akhirnya tak tahan juga.
“Baiklah, aku cerita saja.”
Zhang Haiyan perlahan membuka perban di lehernya, memperlihatkan luka-luka di sana kepada Zhang Qiling.
Benang jahit masih terpasang, tapi luka-luka itu mulai tampak menyatu.
“Sejak aku menyerap mayat-mayat itu, aku merasa lukaku mulai sembuh.”
Zhang Qiling tetap diam, hanya menatap luka-lukanya.
Setelah lama, ia mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh leher Zhang Haiyan.
“Sakit?”
“Aku ini sudah mati, sakit bagaimana?”
Zhang Qiling mengerutkan kening, memandang Zhang Haiyan lagi, “Bukan soal itu.”
Tangan Zhang Haiyan yang hendak membalut ulang perban terhenti, sorot matanya redup sejenak, “Oh, aku memang sedikit mengingat sesuatu, tapi tidak lengkap. Mungkin ada hubungannya dengan penyembuhan lukaku.”
“Bukan itu.”
Zhang Haiyan menggertakkan gigi.
“Kau benar-benar merepotkan, padahal aku sangat percaya padamu, kau yang pertama tahu soal ini.”
Mata Zhang Qiling sempat memancarkan keheranan, seolah tak menyangka ternyata dia adalah orang yang paling dipercaya oleh Zhang Haiyan.
“Kenapa kau menghindarinya?” tanya Zhang Qiling to the point.
“Aku juga tak tahu, rasanya cuma kesal.”
Zhang Haiyan menarik napas dalam-dalam, matanya penuh kebingungan, “Kalau kau dijadikan umpan, apa kau akan marah?”
“Tidak,” jawab Zhang Qiling tegas, seolah dijadikan umpan adalah hal biasa saja. Namun melihat wajah muram Zhang Haiyan, ia menambahkan, “Kau tak mungkin mati, terluka juga tak masalah, jadi kau memang umpan terbaik.” Cara bicaranya yang seperti memuji itu membuat Zhang Haiyan curiga, kalau ada apa-apa, abang Zhang-nya pasti tak ragu mendorongnya ke depan sebagai tameng.
Tapi dipikir-pikir...
“Benar juga kata-katamu, tapi aku tetap tak suka dengarnya, jadi... diam saja kau.”
Zhang Haiyan kembali bersemangat. Tiba-tiba ia menyilangkan kaki, menggoyang-goyangkan sambil menatap Zhang Qiling, “Waktu kau mencuri dengar suara hatiku, rasanya bagaimana?”
Zhang Qiling tidak menunjukkan reaksi apa pun, bahkan malah memandang Zhang Haiyan heran, “Apa?”
Zhang Haiyan menghentikan kakinya, “Jangan pura-pura, aku tahu. Aku sudah cerita semuanya, saling percaya itu penting, terus kau masih pura-pura, itu keterlaluan.”
“Aku tak tahu kau bicara apa.” Sikap Zhang Qiling tetap tak berubah.
‘Eh, resleting celanamu lepas,’ ujar suara hati Zhang Haiyan.
Pada saat yang sama, si Gendut dan Wu Xie yang duduk belasan meter jauhnya sambil makan, tiba-tiba menunduk melihat celana masing-masing, lalu menengadah mencari-cari sesuatu.
Kacamata Hitam tersenyum tipis.
Anak anjing kecil itu memang ada di sini.
Sebelum mati, Zhang Haiyan sebenarnya tipe orang yang sangat curigaan. Begitu ia mencurigai sesuatu, benar tidaknya, di pikirannya akan dianggap sebagai fakta, walau kemungkinan itu mustahil sekalipun.
Namun setelah mati, ia jadi lain—sebagian besar perasaannya seolah terangkat, hidupnya jadi seperti orang polos saja.
Ia selalu merasa tak mungkin mati, jadi menderita pun terasa tak masalah. Tapi suatu hari, saat sebagian perasaannya kembali, ia justru merasa takut.
Terutama ketika tahu orang yang paling ia suka, yang sudah ia anggap sebagai ‘keluarga’, diam-diam memanfaatkan dirinya sebagai umpan, hatinya jadi tak karuan—ingin marah, tapi merasa tak seharusnya.
Daripada menunggu penjelasan yang entah datang atau tidak, ia memutuskan menunggu sampai dirinya bisa memahami sendiri semuanya.
Tapi sekarang, yang terpenting adalah ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Ingatan Zhang Haiyan memang belum sepenuhnya pulih, itu tidak ia bohongi pada Zhang Qiling.
Ia mengingat dirinya pernah pergi ke suatu tempat, terjadi sesuatu di sana hingga tubuhnya mengalami perubahan aneh. Dan wanita yang mirip dengannya, sepertinya juga ia bawa dari sana...
Ia sangat ingin menemukan tempat di mana semua ini bermula, dan kembali ke sana.
Karena itu, ia butuh uang—hanya dengan uang, ia bisa membayar orang untuk membantunya menemukan tempat itu.
Soal hal lain...
Zhang Haiyan merasa, apa yang dikatakan Zhang Qiling ada benarnya.
Dia memang umpan terbaik.
Tapi rasanya tetap tak enak juga, maka ia pun menatap Zhang Qiling, “Jangan bilang siapa pun aku di sini, kalau tidak, kugunduli kepalamu sampai benar-benar jadi Si Botak.”