Bab 92 Satu-Satunya yang Merugi

Mencuri Makam: Haiyan, tolonglah, lebih berhati-hatilah kali ini. Makna yang mendalam 2313kata 2026-03-05 00:43:25

Zhang Haiyan benar-benar tidak mengecewakan Kacamata Hitam. Begitu ucapannya selesai, ia merasakan kapal seolah menabrak sesuatu, terdengar suara keras, bahkan badan kapal sempat miring sesaat. Seluruh rombongan langsung ketakutan dan berkeringat dingin. Mereka sadar betul, saat ini mereka berada di tengah laut—jika sampai kapal ini benar-benar rusak, bisa-bisa mereka harus berenang pulang.

Si Gendut berlari secepat kilat. Begitu masuk ke ruang kemudi, ia melihat Zhang Haiyan sedang menggaruk-garuk kepala. Ia buru-buru mengusir Zhang Haiyan keluar dari ruang kemudi, nyaris menuliskan larangan masuk khusus untuk Zhang Haiyan di pintu.

Setelah mengalami kejadian itu, tak seorang pun masih berselera untuk makan. Mereka sudah sangat kelelahan. Setelah memastikan bahwa yang tadi hanya insiden kecil kapal menyentuh karang dan tidak ada kerusakan berarti, mereka pun memilih untuk segera beristirahat di tempat masing-masing.

Zhang Haiyan yang kini dilarang keras masuk ruang kemudi, merasa sangat bosan. Ia pun mengambil joran dan duduk di geladak, mencoba memancing ikan.

Saat mereka bangun dari tidur, dari kejauhan mereka sudah bisa melihat Pulau Yongxing. Di pulau itu tengah dilakukan persiapan menghadapi bencana, dan banyak kapal nelayan yang singgah untuk berlindung.

Setelah merapikan barang bawaan, mereka memanfaatkan kekacauan itu untuk diam-diam melarikan diri ke pulau. Karena penerbangan telah dihentikan, mereka mencari sebuah penginapan dan memutuskan menunggu hingga penerbangan dibuka kembali.

Begitu sampai di penginapan, Xie Yuchen langsung sibuk dengan laptop, telepon pun berdentang tanpa henti. Di sisi lain, Aning nyaris sama sibuknya, bedanya ia lebih banyak menelepon ke luar negeri. Karena hujan deras, sinyal sering terputus, jadi kadang harus menunggu beberapa menit untuk menelepon ulang.

Si Gendut yang bosan mulai mengajak orang bermain kartu. Zhang Qiling jelas tidak tertarik, ia hanya duduk di samping, menerawang ke luar jendela.

Yang tersisa untuk bermain kartu hanya Kacamata Hitam, Zhang Haiyan, dan Wu Xie. Awalnya, Zhang Haiyan mengaku tidak bisa bermain, menyuruh tiga lainnya main saja. Namun Wu Xie menolak, katanya, “Toh sama-sama menganggur, sekalian saja kita ngobrol sambil main.”

Sebenarnya, Zhang Haiyan langsung bisa menebak maksud Wu Xie; ia ingin menyelidiki lewat obrolan itu apakah Zhang Haiyan tahu di mana keberadaan pamannya.

Karena tak bisa mengelak, akhirnya Zhang Haiyan ikut bermain kartu dengan mereka. Mereka membentuk dua tim, siapa yang mendapat kartu warna sama akan jadi satu tim. Hasilnya, Zhang Haiyan dan Kacamata Hitam ternyata satu tim.

Zhang Haiyan berkata, “Kalau begitu, jangan main besar-besaran, satu ronde lima ribu saja, bagaimana?”

“Siapa takut, ayo saja!” Si Gendut menjawab.

Empat orang itu bermain kartu sampai pagi. Zhang Haiyan dan Kacamata Hitam akhirnya membawa pulang sejumlah uang receh ke kamar masing-masing. Wu Xie dan Si Gendut malah berakhir berhutang sekitar lima ratus ribu pada Xie Yuchen. Pada akhirnya, Xie Yuchen menjadi satu-satunya yang merugi dalam turnamen kartu kali ini.

Pada hari keempat, karena badai, jaringan telepon dan internet putus. Xie Yuchen yang kini menganggur mulai membahas soal makam bawah laut dengan mereka. Setelah diskusi panjang, ia bersama Wu Xie mulai mendesak Zhang Haiyan untuk memberikan informasi tentang Jie Lianhuan dan Wu Sansheng.

Memang benar, mereka teman lama, pola pertanyaannya pun mirip-mirip.

“Kau tahu di mana pamanku sekarang?”
“Jie Lianhuan sebenarnya ada di mana?”

Zhang Haiyan mulai jengkel karena terus didesak, hingga akhirnya ia memilih keluar dari penginapan untuk berkeliling pulau. Namun akhirnya Xie Yuchen menawarnya dengan harga lima juta agar Zhang Haiyan mau memberi tahu, barulah ia kembali ke penginapan dengan patuh.

“Wu Xie, kasih aku foto pamanmu saat pergi ke Xisha dulu.”

“Bagaimana kau tahu aku punya?” Wu Xie bergumam pelan, lalu mengeluarkan foto itu dari tas dan menyerahkannya.

Zhang Haiyan menerima foto itu, melihatnya sebentar, lalu menyerahkan pada Xie Yuchen. Ia menunjuk salah satu orang dalam foto, “Siapa orang ini?”

Xie Yuchen melihat beberapa saat, lalu berkata, “Jie Lianhuan.”

“Mana mungkin itu Jie Lianhuan? Itu jelas pamanku!” Wu Xie langsung membantah.

Mendengar itu, Xie Yuchen mengerutkan kening, “Walau dia sudah jadi abu, aku tak akan salah mengenali. Dulu ia meninggal dalam kecelakaan, tak lama kemudian para paman dan omku juga meninggal. Mana mungkin aku salah orang.”

“Tapi itu jelas pamanku…”

“Masalahnya ada di situ.” Zhang Haiyan meletakkan foto di atas meja, lalu menunjuk orang yang tadi, “Wu Xie, pamanu bilang itu dirinya, padahal sebenarnya ia menipumu. Orang itu adalah Jie Lianhuan.”

“Lalu di mana pamanku?” Wu Xie merasa seolah terperangkap dalam teka-teki aneh.

Zhang Haiyan menghela napas panjang, “Aku tidak tahu seberapa besar pengaruh yang akan terjadi pada hidup kalian berdua setelah mendengar penjelasanku. Inilah alasan kenapa aku awalnya enggan bicara. Aku ingin kalian sendiri yang menemukan kebenarannya, tapi Tuan Hua… ah…”

[Sungguh bukan aku yang ingin bicara, tapi lima juta itu terlalu menggiurkan.]

“Asal kau beri tahu di mana Jie Lianhuan, uangnya langsung kutransfer.” Xie Yuchen mengayunkan ponselnya, gaya orang kaya yang membuat Wu Xie pun jadi iri.

“Memberitahu keberadaannya agak sulit, karena aku sendiri pun tidak tahu dia ada di mana. Tapi aku hanya bisa bilang, mereka semua masih hidup, dan sebenarnya ada di sekitar kalian.”

Wu Xie dan Xie Yuchen saling pandang. Lalu Wu Xie bertanya, “Apa maksudmu? Jangan-jangan kau ingin bilang kau sendiri adalah Jie Lianhuan?”

“Uhuk, uhuk…” Zhang Haiyan hampir tersedak sendiri.

“Kau pakai bagian otak yang mana sampai terpikir begitu? Aku ini Jie Lianhuan? Kenapa tidak sekalian bilang Kacamata Hitam itu pamanu! Kalau pamamu dan Jie Lianhuan pacaran, enak dilihat? Bagus, ya?”

Sungguh, Wu Xie sampai membayangkan hal itu dan wajahnya langsung berubah hijau.

“Kau ingin mencari pamanmu, dan kau, ingin mencari Jie Lianhuan. Tujuan kalian sebenarnya sama saja. Kalau masih juga tidak paham, pergilah main ke dinding sana!”

Usai bicara, Zhang Haiyan mengeluarkan kartu ATM yang dulu diberikan Zhang Qiling di makam bawah laut, lalu meminta Xie Yuchen mentransfer uang ke kartu itu. Ia sendiri tidak punya KTP, tak tahu bagaimana kakaknya itu bisa punya kartu bank.

Lalu ia teringat belum menanyakan kata sandi, jadi ia berdiri hendak menanyakan password, dan berencana mengecek berapa saldo di kartu itu.

Aksi Xie Yuchen sangat cepat. Zhang Haiyan belum sampai pintu, ia sudah mengabari bahwa uangnya sudah ditransfer.

Zhang Haiyan keluar kamar dengan hati riang. Saat melewati kamar Kacamata Hitam dan melihat pintunya setengah terbuka, ia hanya melirik sekilas, lalu pergi mengetuk kamar Zhang Qiling di seberang.

“Kak Zhang!”

“Kak Zhang, buka pintu.” Zhang Haiyan mengetuk dua kali tapi Zhang Qiling tak juga muncul.

[Zhang Qiling! Berani-beraninya kau rebut lelaki, berani juga kau buka pintu! Jangan sembunyi di dalam, aku tahu kau ada di sana. Buka pintu, ayo buka…]

“Eh… eh… jangan tarik rambutku!”

“Duk!”