Bab 81: Aku Hanya Ingin Menjadi Ayah Kalian
Wu Xie bertanya dengan wajah bingung, “Kau maksud istana langit yang dibangun oleh master Wang Canghai pada masa Dinasti Ming? Bukankah itu cuma legenda?”
Menyebut istana langit, tak bisa tak membicarakan kontraktor pembangunan legendarisnya, Wang Canghai.
Dan begitu menyebut namanya, Zhang Haiyan langsung teringat pada permusuhan lama antara Wang Canghai dan keluarga Zhang, juga pertikaian sekarang antara keluarga Wang, keluarga Zhang, bahkan seluruh Sembilan Pintu.
Sebelum kematiannya, Zhang Haiyan tidak mengetahui hal ini, tapi kini ia sudah tahu. Ia bahkan lebih paham bagaimana si Wu kecil yang polos dan tampak bodoh di hadapannya ini, perlahan-lahan melangkah menuju nasibnya sebagai janda muda pembawa maut, Wu Xiaoye.
Namun, ada beberapa hal yang tidak ingin Zhang Haiyan ungkapkan dengan gamblang. Entah karena kesenangannya sendiri, atau mungkin ia merasa baik Wu Xie maupun Xie Yuchen saat ini belum punya kemampuan untuk melemparkan tiga puluh miliar demi melakukan perkara besar itu seakan hanya permainan.
Mereka masih butuh waktu untuk tumbuh, tumbuh menjadi orang yang mampu berdiri sendiri. Wu Xie sekarang masih terlalu hijau, sedangkan untuk Xie Yuchen, biarkan ia mengumpulkan uang dulu.
Mengenai urusan Kakak Zhang menjaga Pintu Perunggu, Zhang Haiyan tidak setuju sama sekali, dan dalam hatinya ia sudah menghitung rencananya sendiri.
Ia jelas bukan bagian dari kelompok pendukung kerajaan di keluarga Zhang. Sebaliknya, ia sangat muak dengan segala aturan dan tata krama, tak pernah suka dengan sistem hirarki yang mengekang.
Ketika di wilayah selatan dulu, orang-orang luar hanya mengenalnya sebagai Yan Zi. Jika ada yang bertanya namanya, ia hanya menjawab “Haiyan” dengan santai. Nama keluarga, ia bahkan malas menyebut.
Ia pernah dengar, ayahnya kala itu telah bekerja keras saat terjadi kekacauan di keluarga Zhang. Namun karena ia adalah Qilin asli keluarga, akhirnya malah dibuang ke perbatasan.
Saat itu, Zhang Haiyan baru berusia tiga tahun lebih. Saat ayahnya menggandengnya pergi, tak ada sedikit pun rasa berat hati, bahkan sepanjang perjalanan ia bersenandung lagu “Delapan Belas Sentuhan.” Akibatnya, lagu pertama yang ia kuasai adalah “Delapan Belas Sentuhan,” dan setelah itu, apapun lagu yang ia nyanyikan selalu terasa seperti lagu itu.
Dulu, ia pernah mendengar ibunya dan ayahnya adalah sepupu. Namun, ibunya meninggal dunia akibat sulit melahirkan saat usia Haiyan belum sebulan. Tapi sang ayah pernah bilang, sebenarnya sebelum mengandung, kesehatan ibunya sudah rusak berat karena sering melakukan penggalian makam. Bisa bertahan hingga melahirkannya murni karena ibunya keras kepala, merasa bila tak meninggalkan keturunan untuk keluarga Zhang, mati pun tak tenang. Maka ia mengorbankan segalanya demi melahirkannya.
Sejak kecil, ia sudah tahu bahwa ayahnya tak pernah mencintai ibunya. Ia juga tahu ayahnya bukan orang baik. Dalam keluarga Zhang yang penuh aturan, melahirkan orang aneh yang berani melawan otoritas keluarga seperti ayahnya memang langka.
Karena itu, Zhang Haiyan dewasa selalu percaya perkawinan sedarah takkan menghasilkan apa-apa yang baik. Baginya, baik anggota keluarga Zhang yang serius dan pendiam, maupun ayahnya yang di usia seratus lebih masih bisa tinggal di rumah bordil delapan belas hari berturut-turut, semua yang terkait nama Zhang tak pernah ia sukai.
Namun, ada satu orang yang jadi pengecualian.
Bukan Kakak Zhang, bukan pula Si Kecil Zhang yang mampu bertengkar dengannya selama dua jam tanpa mengulang kata-kata.
Siapa orang itu, ia tak mau mengingatnya. Kenangannya sudah terlalu samar. Ia bahkan sudah lupa seperti apa wajahnya dulu, seperti apa dirinya sendiri. Bahkan ketika ia membaca beberapa kalimat tentang orang itu dalam buku, rasanya ada sesuatu yang menyesakkan dadanya.
Zhang Haiyan mendongak memandang Wu Xie, lalu memutar bola matanya.
[Aku sungguh ingin mengurungmu di belakang pintu, biar kau tiap hari mencabuti jamur beracun buat makanan anak ayam.]
“Itu proyek besar yang dibangun oleh kontraktor Wang, soal detailnya, nanti juga kau akan tahu. Lainnya, jangan tanya, percuma saja.”
[Percayalah padaku, sekalipun kau bertanya, setiap kataku hanya omong kosong belaka.]
“Baiklah, aku tak akan tanya tentang istana langit, tapi aku ingin tahu siapa sebenarnya dirimu? Kenapa kau tahu begitu banyak hal? Bukan cuma soal makam kuno, tapi juga tentang kami, seolah-olah kau tahu segalanya. Saat pertama bertemu, kau sudah seperti mengenaliku, padahal aku yakin kita belum pernah bertemu. Jadi, bagaimana kau mengenalku?”
Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan itu sudah lama menggelayut di benak mereka semua. Tapi selain Wu Xie, tak ada yang berani mengucapkannya. Seakan-akan, jika pertanyaan itu diutarakan, banyak hal akan berubah.
Zhang Haiyan menarik napas dalam-dalam, menatap Wu Xie. Ia ingin berkata bahwa semua penderitaan Wu Xie bersumber dari rasa ingin tahunya yang tak habis-habis, dan sering kali, pertanyaan itu sendiri tak ada hubungannya dengan dirinya. Tapi ia tak mengatakannya. Ia hanya mendesah panjang dan berkata, “Kau akan tahu nanti.”
Zhang Haiyan merasa, seringkali anak-anak memang tak bisa dinasihati. Kau bilang sesuatu itu berbahaya, mereka tetap ingin mencoba.
Kini, melihat Wu Xie, Zhang Haiyan merasa seperti melihat anak sialan sendiri.
Kau bilang ingin memberitahu segalanya, tapi rasanya seperti memaksa pohon muda tumbuh terlalu cepat. Toh, ia bukan Wu Xie, tak bisa menggantikan langkah-langkah yang harus diambilnya. Terhadap keluarga Wang, ia pun tak punya solusi. Ia cuma seorang diri, masa iya harus masuk sendirian dan membantai semua orang?
Lagipula, ia sendiri tak tahu di mana keluarga Wang sekarang, hanya tahu mereka di kawasan tak berpenghuni.
Tapi kawasan tak berpenghuni itu luas, kalau kebetulan tepat masih mending, kalau salah dan justru membuat gaduh, malah tambah repot.
Lebih baik biarkan Wu Xie tumbuh sendiri, hadapi semua itu dengan kekuatan sendiri.
Mungkin inilah penyakit orang tua, meski ia sendiri enggan mengakuinya...
Zhang Haiyan melihat sekeliling. Ternyata memang ia yang paling tua di antara mereka...
[Rahasia tetap awet muda dimulai dari memalsukan usia.]
“Aku belum pernah melihat orang sepertimu, kau itu manusia atau apa sih…”
“Wu Xie, diam!” Zhang Qiling tiba-tiba membentak Wu Xie yang masih ingin bertanya.
Wu Xie membuka mulut, tapi melihat semua orang memandangnya dengan tatapan tak setuju, ia pun sadar dirinya terlalu impulsif.
“Maaf, aku tak bermaksud begitu... Aku hanya... hanya ingin mengenalmu. Kau benar-benar terlalu misterius, aku ingin menjadikanmu teman, tapi...”
Zhang Haiyan belum menunggu ia selesai bicara, sudah berbalik menuju ke luar ruangan. Namun, saat sampai di ambang pintu, ia tiba-tiba menoleh, menatap semua orang di ruangan itu satu per satu dengan sorot mata dingin.
[Aku tidak ingin menjadi teman kalian.]
Melihat berbagai ekspresi muncul di wajah mereka, Zhang Haiyan tersenyum puas.
[Aku hanya ingin jadi bapak kalian, dan menaklukkan satu per satu secara setara.]
Semua orang: .......
“Kau pikir siapa dirimu!” Wu Xie menjadi yang pertama memaki, lalu berjalan melewati Zhang Haiyan.
“Sudah, pulang dan tidur saja, jangan sampai digebukin dalam mimpi juga,” Xie Yuchen menyusul Wu Xie dengan ekspresi seolah berkata, “Kau pantas kena batunya.”
Si Gemuk dengan wajah serba salah ikut di belakang mereka. Saat melewati Zhang Haiyan, ia sempat berkata, “Kita ini sudah seperti saudara seperjuangan, kalau kau begini, nanti aku panggil kau anak sulung, ya.”
Zhang Qiling bahkan lebih parah, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Saat melewati Zhang Haiyan, ia hanya menirukan gaya Kacamata Hitam sebelumnya, menepuk pelan bagian belakang kepala Zhang Haiyan.
Zhang Haiyan menutup kepala, menatap garang ke arah Zhang Qiling yang lewat, lalu menggigit bibirnya.
“Sudah lama aku panggil kau bapak, masa sekali saja kau tak bisa panggil aku?”
Begitu selesai bicara, Zhang Haiyan menoleh dan langsung melihat Kacamata Hitam berdiri di sampingnya, tiba-tiba tersenyum lalu merangkul bahunya, bersandar seolah tak bertulang, membuat Zhang Haiyan langsung bereaksi defensif, “Hei, kau mau apa?”
Kacamata Hitam tersenyum penuh arti.
“Pemimpin kalau sudah lelah, masa kau, anak buah, tak mau menuntun sebentar?”