Bab 53: Kurangi Makan Roh Kadaluarsa
Xie Lianhuan kembali mengobrol sebentar dengan pelayan, kebanyakan menanyakan jalan menuju ke pegunungan. Pelayan itu pun menceritakan apa yang ia ketahui, mengatakan bahwa jika mereka ingin masuk ke sana, besok bisa mencari seseorang untuk memandu mereka.
Setelah pelayan itu pergi, Xie Lianhuan mengeluarkan peta dan menunjuk ke salah satu titik.
“Ini adalah tempat yang mereka bilang terjadi longsor di gunung.”
“Paman Ketiga, apa yang dikatakan pelayan tadi tentang kepala manusia itu benar?” tanya Wu Xie dengan penasaran.
Xie Lianhuan mengangguk.
“Itu sepertinya adalah Lubang Kepala Hantu yang diceritakan leluhur kita, tempat penguburan pendamping. Tempat yang kita cari mungkin masih harus masuk lebih jauh lagi.”
Xie Lianhuan meneliti peta beberapa saat, lalu menunjuk ke satu titik lagi.
“Menurut teori ‘mencari naga’, orang lain pasti sudah menemukan kepala naganya,” katanya sambil memindahkan jarinya.
“Tapi lihat di sini, tempat ini seperti leher labu, siapa pun yang tidak masuk lebih dalam tidak akan tahu seperti apa di dalamnya.” Xie Lianhuan menatap Zhang Qiling yang masih melamun, lalu memandang Kacamata Hitam yang duduk santai sambil meneguk minuman, tampak tidak peduli. Justru Zhang Haiyan yang serius memperhatikan peta di tangannya, dan ketika ia tiba-tiba diam, ia pun buru-buru bertanya, “Lalu bagaimana?”
Xie Lianhuan menatap Wu Xie, melihat ekspresinya hampir sama dengan Zhang Haiyan, mendadak merasa sedikit pusing.
Apa-apaan ini, seperti guru TK membawa anak-anak tamasya saja?
Namun ia tetap menahan diri dan melanjutkan, “Kepala naga yang sebenarnya seharusnya ada di dalam sini. Orang yang merancang makam ini pasti sangat paham dengan teknik ‘mencari naga’, makanya membuat jebakan di sini.” Setelah itu ia melipat peta dan berkata lagi, “Besok kita akan masuk dengan perlengkapan ringan, dan mulai survei lokasi.”
Zhang Haiyan dan Wu Xie serempak mengangguk setuju.
Bahkan kepala mereka bergerak dalam irama yang sama.
Kepala Xie Lianhuan makin pening.
Apa sebenarnya maksud Kacamata Hitam ini?
Menyuruhnya menjaga anak-anak?
Usai makan malam, Wu Xie mendekati Xie Lianhuan dan bertanya dengan penasaran, “Paman Ketiga, sebenarnya mereka itu siapa?”
Xie Lianhuan terdiam sejenak, lalu berkata, “Yang pakai kacamata hitam itu dipanggil Kacamata Hitam, ada juga yang memanggilnya Si Buta Hitam. Aku kenal dia lewat rekomendasi orang lain, dulu aku ingin mencari pendamping yang berpengalaman, tadinya mau minta tolong dia, tapi katanya ada urusan keluarga, jadi ia kenalkan pemuda bermarga Zhang itu. Belakangan dia malah memintaku membantu membimbing seseorang, kupikir anak muda polos, ternyata malah gadis muda.”
Zhang Haiyan kembali ke kamar dan langsung rebahan di atas tempat tidur, memegangi perut dengan ekspresi sangat tidak nyaman.
Kacamata Hitam yang bersandar di pintu tiba-tiba bertanya, “Tadi kau ingin bicara apa denganku?”
Zhang Haiyan tertegun sejenak, lalu bergegas maju, mendorong Kacamata Hitam masuk ke dalam, melirik keluar, lalu menutup pintu rapat-rapat. Setelah membersihkan tenggorokannya, ia dengan penuh semangat berkata, “Hari ini aku memakan hantu.”
Kacamata Hitam menjawab datar, “Hm, rasanya apa?”
“Aduh, aku nggak bercanda. Aku benar-benar makan hantu. Sampai sekarang perutku masih terasa sakit.”
Kacamata Hitam tersenyum menyeringai, “Lain kali jangan makan hantu kadaluwarsa.”
Zhang Haiyan: …
Dalam hati ia memaki, “Hantu kadaluwarsa kepalamu! Kau sendiri lelaki tua kadaluwarsa!”
Keesokan paginya, Kacamata Hitam mendorong Zhang Haiyan ke kerumunan, melambaikan tangan lalu pergi.
Zhang Haiyan menatap punggung Kacamata Hitam, bibirnya mengerucut, jelas sekali tampak sedih seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Semua anggota rombongan lelaki dewasa, jangankan menghibur gadis, menenangkan anak kecil saja tidak bisa.
Wu Xie didorong Pan Zi ke depan, dengan isyarat mata disuruh menghibur, tapi baru saja melangkah, ia mendengar suara tawa di dalam kepalanya.
“Ha ha ha, akhirnya aku bebas!”
Langkah Wu Xie pun tertahan.
Pelayan kemarin mencarikan anak kampung untuk menjadi pemandu mereka. Setelah berjalan lebih dari dua jam, mereka tiba di lokasi longsoran yang dimaksud.
Mereka kini berada di celah antara dua gunung, lembahnya panjang, namun di depan telah tertutup longsoran.
Zhang Haiyan tidak menemukan kepala manusia seperti yang diceritakan pelayan, perasaannya jauh lebih murung daripada saat Kacamata Hitam pergi.
Baru saja melewati longsoran, mereka melihat seorang kakek sedang mengambil air di lembah.
Wu Xie langsung mengenali kakek itu sebagai salah satu penipu dari sebelumnya.
Mendengar suara mereka, kakek itu terkejut hingga terpeleset ke dalam air, lalu setelah naik, ia langsung berlari.
“Berani lari kau!” maki Pan Zi, sambil mengacungkan pistol.
Tiga tembakan diarahkan ke kaki si kakek, membuatnya langsung berlutut memohon-mohon, menangis meraung-raung dengan menggelikan.
Zhang Haiyan ingin rasanya menasihati dia: Lap air matamu dengan tangan kiri, hidung dengan tangan kanan, tapi ingat jangan sampai salah, nanti malah belepotan semua.
Xie Lianhuan dengan wajah dingin menanyai si kakek beberapa hal. Begitu mendengar kakek itu mengaku pernah membawa tim yang mengaku arkeolog masuk ke pegunungan, Xie Lianhuan langsung memerintahkan dia menjadi pemandu mereka.
Kakek itu menolak, katanya di dalam hutan ada siluman pohon yang memakan manusia. Akhirnya Pan Zi mengikat kakek itu dan mengancam, “Siluman pohon saja kau takut, masa sama pistolku nggak takut?”
Begitu mendengar ada siluman pohon, Zhang Haiyan langsung teringat pada Pohon Hydra Berkepala Sembilan.
Ia mencoba mengingat alur cerita, belum sempat menyusun pikirannya, kakek itu sudah menjerit-jerit menyebut ada siluman.
Wu Xie maju beberapa langkah, lalu melihat sebuah ponsel menyala dengan bercak darah. Wu Xie mengambilnya, membuka daftar kontak, semua nomor luar negeri, tidak ditemukan informasi berguna.
“Paman Ketiga, sepertinya bukan cuma kita yang datang.”
Xie Lianhuan berwajah masam, “Jalan dulu, nanti dibahas.”
Rombongan itu berjalan terus tanpa berkata-kata, hingga akhirnya tiba di tujuan pada sore hari.
Di depan mereka tampak belasan tenda militer. Xie Lianhuan menanyai kakek itu, siapa saja yang baru datang.
Kakek itu mengatakan dua minggu lalu ada satu kelompok masuk, tapi tidak pernah melihat mereka keluar lagi.
Di dalam kamp masih tersisa banyak peralatan hidup, juga beberapa peralatan lain yang tercecer. Bahkan mereka menemukan beberapa drum bensin, namun semua label pada peralatan sudah dicopot.
Nampaknya, kelompok itu memang tidak ingin identitas mereka diketahui.
Wu Xie yang belum pernah berjalan kaki sejauh itu, setelah memeriksa sekeliling kamp, langsung duduk lemas di tanah.
Biskuit kompresi sangat keras dan membuat seret, Wu Xie hanya makan beberapa keping, lalu meneguk air sebanyak-banyaknya.
Saat menengadah, ia melihat Zhang Haiyan yang masih belum makan apa-apa, lalu bertanya dengan penasaran, “Kamu nggak lapar?”
Pertanyaan itu justru membuat Zhang Haiyan baru sadar ia memang sedikit lapar.
Tapi melihat biskuit kompresi yang seperti bisa membuat orang tersedak itu, ia tetap menggeleng.
“Kamu nggak ngerti, perempuan kalau lagi diet, nggak makan beberapa hari juga nggak apa-apa.”
Wu Xie melihat Zhang Haiyan, merasa kalau dia diangkat saja pasti ringan.
“Kamu kan nggak gemuk, buat apa diet.”
Diet terus, nanti yang tersisa cuma abunya saja.
Zhang Haiyan memasang ekspresi ‘kamu nggak akan paham’.
Ia tidak berkata lagi, malah mendekat ke Zhang Qiling, memperhatikan jarinya yang menunjuk ke titik di peta berbentuk wajah rubah, lalu berkata datar, “Sekarang kita ada di sini.”
Zhang Haiyan menggaruk kepala.
“Apa nama wajah rubah ini ya?”
“Tujuh Bintang Rubah?”
“Eh, nggak nyambung sama tujuh bintang.”
“Apa nama rubahnya ya?”
Zhang Qiling melirik sekilas ke arah Zhang Haiyan, dadanya turun naik seperti orang menghela napas.
Wu Xie justru menatap Zhang Haiyan dengan rasa ingin tahu.
Tujuh Bintang Rubah itu apa?
Nggak nyambung maksudnya gimana?
“Ini tempat pemujaan, di bawahnya mungkin ada altar, dan sesajian yang dikubur kemungkinan juga ada di bawah ini.”
Zhang Qiling selesai bicara, dan melihat Zhang Haiyan menatapnya dengan mata terbelalak, seolah tak percaya.
Alis Zhang Qiling sedikit berkerut, tapi tidak berkata apa-apa, karena ia sudah bisa mendengar omelan dalam hati Zhang Haiyan.
“Dua puluh tujuh kata, kau benar-benar sudah melampaui dirimu sendiri, Ayah bisu kesayanganku!”