Bab Lima Puluh Dua: Yan Chixia Bertarung Pertama Kali dengan Siluman Pohon
“Yen Chixia, tak kusangka selama setengah bulan kau berada di Kuil Lanruo, pedangmu kini jauh lebih tajam dari sebelumnya!”
Melihat pedang tajam yang bertumpu di pundaknya, merasakan dingin dan hawa tajam yang terpancar dari ujung bilahnya, kali ini, akhirnya sorot mata Xiahou menunjukkan keterkejutan.
Selama tujuh tahun terakhir, ia telah bertarung melawan Yen Chixia tak kurang dari seratus kali, dan setiap kali Yen Chixia hanya bisa menang tipis darinya.
Hal itu membuat Xiahou merasa, akhirnya ia menemukan lawan sepadan, seseorang yang dapat menajamkan kemampuannya dan mendorong dirinya menjadi lebih kuat.
Ia berpikir, kelak ketika ia benar-benar menaklukkan Yen Chixia, gelar pendekar pedang nomor satu di dunia itu baru benar-benar layak disandangnya.
Tak disangka, hanya setengah bulan tak bertemu, kali ini ia kalah telak.
Biasanya, mereka harus bertarung puluhan babak untuk menentukan siapa pemenangnya, namun kini, belum juga sepuluh jurus, pertarungan sudah usai.
Dan Yen Chixia menang mutlak atas dirinya.
“Aku ingin menumpas segala iblis dan kejahatan di dunia, maka pedangku harus selalu diasah setiap saat!”
“Sedangkan kau, hanya membuang-buang masa muda, berambisi tapi tak mau maju, hanya mengejar nama pendekar pedang nomor satu di dunia, selalu pamer kehebatan dan niatmu pun tak lurus.”
“Jurus pedangmu sekedar meniru bentuk tanpa jiwa, hatimu gelisah dan terburu-buru, menyebabkan seranganmu tak bertenaga. Selain itu, ada satu cacat terbesar pada dirimu, yaitu tebasanmu cepat tapi tak tepat sasaran!”
Waktu telah berubah. Yen Chixia hari ini, bukan lagi seperti dulu.
Karena Xiahou bersikeras ingin dikalahkan sampai benar-benar tunduk, Yen Chixia pun memenuhi keinginan itu.
“Yen Chixia, aku datang untuk menantangmu, bukan untuk mendengar petuahmu!”
Xiahou merasa kepalanya pening mendengar ocehan itu.
Andai saja ia tak sadar bahwa dirinya memang tak sanggup mengalahkan lelaki berjenggot lebat di depannya, ia pasti sudah nekat menyerang.
“Hei, bukankah tadi kau sendiri yang bilang, jika aku bisa menang mutlak darimu, mulai sekarang kau akan menurut apa pun yang kukatakan.”
“Bagaimana? Kau yang katanya pendekar pedang nomor satu di dunia, hendak makan omong sendiri?”
Melihat ekspresi tak sabar Xiahou, Yen Chixia pun menertawakannya dengan sinis.
Sinar matanya yang meremehkan, seketika membuat Xiahou merasa dadanya sesak, seolah hatinya diremas.
Sesak, menyakitkan.
Bertahun-tahun ia mati-matian memburu gelar pendekar pedang nomor satu di dunia, semua itu demi apa?
Agar tak seorang pun di dunia ini lagi yang meremehkannya.
Agar semua orang tahu bahwa Xiahou adalah pahlawan sejati, seorang laki-laki gagah berani!
“Aku, Xiahou, selalu menepati janji. Hari ini aku kalah darimu, aku mengaku kalah tanpa syarat.”
“Yen Chixia, katakan, apa yang kau ingin aku lakukan?”
Selesai bicara, Xiahou bahkan hendak berlutut untuk mengakui kepemimpinan, namun langsung dicegah dan ditarik berdiri oleh Yen Chixia.
Kini, setelah mendapatkan banyak pengetahuan dari Grup Obrolan Langit, Yen Chixia telah memiliki tekad baru.
Ia ingin menghancurkan dunia yang sudah rusak ini, lalu membangun ulang dunia milik manusia, dunia yang damai, tenteram, dan tenang.
“Baiklah, bila kau mau menuruti, maka...”
Baru sampai di sini, tiba-tiba seorang pelajar yang tampak kurus dan lemah berlari masuk dengan langkah tersaruk-saruk.
“Bereskan dulu bocah ini, baru kita... Hei, aku tak bilang untuk membunuhnya!”
Begitu Yen Chixia berkata ‘bereskan’, Xiahou langsung menusukkan pedangnya.
Untung saja sekarang kekuatan Yen Chixia sudah jauh bertambah, sehingga ia bisa dengan cepat menarik pedang dan menahan serangan itu.
“Kukira, kau menyuruhku membereskannya untukmu.”
Setelah berkata begitu, Xiahou memperhatikan pelajar itu baik-baik.
“Kenapa tidak diam saja di kota kabupaten? Tengah malam nekat datang ke tempat seperti ini, ingin cari mati?”
“Hei, jangan galak begitu. Kekerasan tak akan membuat dunia ini jadi lebih baik, hanya cinta yang bisa. Kita harus punya hati yang penuh kasih, jangan niat membunuh, mau?”
Pelajar itu berkata dengan wajah memelas.
“Siapa namamu?”
“Ning Caichen.”
“Apa keperluanmu kemari?”
“Mencari penginapan.”
“Kalau tidak takut mati, silakan saja menginap di mana pun.”
Selesai berkata, Yen Chixia memberi isyarat pada Xiahou untuk pergi.
Ning Caichen mendengar kata-kata Yen Chixia, langsung terkejut, “Lelaki berjenggot, eh, maksudku, pendekar, maksudmu, di kuil ini...”
“Tak ada apa-apa di kuil ini. Masuklah dan segera tidur, semuanya akan baik-baik saja.”
Meski Yen Chixia tak suka sikap pengecut Ning Caichen, setidaknya pelajar ini masih layak disebut manusia.
Di dunia yang hampir hancur ini, ia masih bisa disebut manusia, dan itu sudah sangat langka.
Karena itu, ia menepuk bahu Ning Caichen, diam-diam meletakkan selembar jimat buatan Hong Yun di sakunya.
Anggap saja itu pertolongan kecil, siapa tahu kelak ia bisa berguna.
“Xiahou, lihatlah, itulah alasan aku menjaga Kuil Lanruo belakangan ini.”
“Pohon iblis itu sudah memiliki kekuatan seribu tahun, aku sendirian sulit menumpasnya.”
“Yang lebih parah, pohon iblis itu mengendalikan banyak siluman kecil, sehingga aku tak bisa berkonsentrasi melawannya sendirian.”
Yen Chixia membawa Xiahou melompat ke puncak menara kuil.
Berdiri di tempat tinggi, ia menunjuk ke arah tubuh asli pohon iblis yang disebut ‘Nenek’.
“Jadi, maksudmu kau ingin aku membantumu menumpas iblis?”
Menatap ke arah yang ditunjukkan Yen Chixia, ada cahaya dingin di mata Xiahou.
“Kenapa, kau takut?”
“Haha, seumur hidupku, Xiahou, tak pernah mengenal takut.”
“Kalau begitu, mengapa kita tidak bekerja sama menyingkirkan malapetaka ini? Teknik pedangmu, baik bentuk, kecepatan, maupun jurus sudah mencapai puncak, hanya saja niat pedangmu belum tampak.”
“Bagaimana cara melatih niat pedang?”
Mendengar Yen Chixia menyebut ‘niat pedang’, hati Xiahou bergetar, ia menatap Yen Chixia penuh semangat.
“Hati yang lurus tak gentar, tak takut mati, di antara hidup dan mati ada ketakutan besar, jika telah melihat, melewati, dan melupakannya, maka niat pedang pun terbentuk!”
“Penjelasanmu terlalu abstrak, aku tak mengerti.”
“Baiklah, singkatnya, jadilah manusia yang jujur, berjalan di jalan kebenaran, menjadi orang benar, menumpas kejahatan meski harus mengorbankan nyawa. Hanya melalui pertarungan hidup dan mati berulang kali, barulah bisa memahami niat pedang.”
Yen Chixia membagikan semua pengalamannya pada Xiahou tanpa menyisakan satu pun.
Karena ia tahu, bagi pendekar pedang sekelas Xiahou, menyimpan rahasia justru hanya akan membuatnya dendam.
“Kalau aku bertarung sampai mati melawanmu, bukankah hasilnya sama? Kenapa harus menumpas kejahatan?”
“Menantang orang seperti aku tak ada gunanya, karena orang yang berhati benar tak akan tega membunuhmu, kecuali kau lebih dulu berbuat kejahatan besar dan menjadi musuh seluruh dunia.”
Xiahou langsung terdiam, meski ia bertindak sesuka hati, ia bukanlah penjahat sejati.
Tujuannya adalah menjadi pahlawan, bukan penjahat.
“Baik, kuharap kau tak menipuku.”
Selesai berkata, Xiahou langsung melompat pergi.
“Hei, tunggu, aku tak bilang malam ini harus bertindak.”
Xiahou memang orang yang impulsif, Yen Chixia tak bisa membiarkannya pergi sendirian mencari maut, akhirnya ia pun ikut serta.
“Ambillah pil penambah tenaga ini, minum saat genting. Baru saja bertarung, lalu bertarung lagi, jangan sampai mati sia-sia.”
Tiba di sarang pohon iblis, Yen Chixia melemparkan sebuah pil pada Xiahou.
Ia sendiri juga memegang satu pil, siap diminum bila terdesak.
“Cuma pohon iblis, serahkan padamu, aku akan menghadapi siluman-siluman kecil itu!”
“Aku...”
Kata-kata Xiahou hampir saja membuat Yen Chixia tersedak darah, rupanya anak ini juga bisa licik!