Bab Seratus Tujuh Belas: Teratai Merah
Usai keluar dari markas bawah tanah, Lin Feng berjalan santai untuk kembali. Ia seolah sama sekali tidak merasakan atmosfer mencekam dan penuh tipu daya yang menyelimuti seluruh Shanghai.
Sosoknya tetap terlihat tenang dan penuh karisma. Seolah-olah dunia telah jungkir balik pun, raut wajahnya tidak akan menunjukkan perubahan sedikit pun.
Tiba-tiba, Lin Feng tampak menyadari sesuatu. Ia menatap awan gelap di kejauhan, lalu seulas senyum terukir di wajahnya. Sesaat kemudian, ia mengulurkan tangan.
Di depan mata, selembar kertas xuan yang kaku dan halus jatuh ke telapak tangannya, memancarkan cahaya yang cemerlang. Tak lama kemudian, permukaan kertas itu dipenuhi dengan berbagai pola rumit, layaknya pembuluh darah manusia.
"Huu~"
Ia meniup kertas tersebut. Seketika bentuk kertas itu berubah, dengan guratan emas yang perlahan menjalar ke seluruh permukaannya. Saat cahaya meredup, seekor bangau putih yang tampak hidup muncul di tangannya. Tubuhnya yang ramping dan kakinya yang jenjang memancarkan aura kebebasan yang anggun.
"Pergilah~"
Bangau itu mengepakkan sayap dan terbang tinggi. Meski ukurannya hanya sebesar telapak tangan, kecepatannya luar biasa! Tak butuh waktu lama, bangau itu lenyap ke dalam awan gelap, menciptakan riak kabut tipis.
Hanya dalam lima tarikan napas, tiba-tiba terdengar jeritan dari angkasa!
"Aaa~"
Sesosok bayangan jatuh dari langit. Jika diperhatikan dengan saksama, terdapat lubang menganga di dadanya, dengan darah yang mengalir deras. Lin Feng hanya memandangi tubuh itu jatuh menghujam bumi. Kepalanya mendongak mengikuti arah jatuhnya tubuh tersebut. Bahkan, sesaat sebelum tubuh itu menghantam tanah, ia mengeluarkan suara tiruan.
"Plak!"
Suara letupan itu tepat berpadu dengan bunyi tubuh yang terbanting ke tanah.
Sesaat kemudian, sebuah titik hitam tampak terbang dari arah rembulan, semakin mendekat dan mendekat hingga bangau putih itu kembali hinggap di tangan Lin Feng. Namun, paruh panjangnya kini ternoda warna merah pekat. Setelah hinggap, bangau itu membersihkan bulunya, tampak begitu hidup dan sangat bersih. Begitu noda merah itu memudar, bangau tersebut kembali menjadi lembar kertas tipis dan menghilang ke dalam lengan baju Lin Feng.
Lin Feng tidak mengubah ekspresinya. Namun, berkat latihan panjang, ia seolah memiliki keterikatan khusus dengan rembulan. Di bawah sinar bulan, sosoknya terlihat semakin dingin dan angkuh, layaknya seorang bangsawan muda dari keluarga terpandang yang sedang melangkah santai di jalanan.
Suara dingin keluar dari mulutnya, menambah kesan ningrat yang ia pancarkan.
"Masih belum mau keluar?"
"Perlu aku yang mengundang kalian?"
Begitu kata-kata itu terucap, kekuatan misterius memancar dari tubuh Lin Feng ke segala arah, memicu aura spiritual yang tersembunyi di dalam tubuh orang-orang yang bersembunyi di balik bayang-bayang.
Sring! Sring! Sring!
Seolah mengalami reaksi kimia, jalanan yang tadinya gelap gulita kini tampak seperti dipenuhi lentera-lentera kecil yang menyala dari ujung ke ujung, menerangi area tersebut. Namun, menghadapi kepungan besar itu, Lin Feng seolah tidak peduli sama sekali.
Sambil terus melangkah, ia bertanya, "Siapa yang memberi kalian keberanian?"
"Apa yang membuat kalian merasa bahwa seorang guru palsu dan sekumpulan pecundang rendahan mampu mengepungku?"
"Apa yang membuat kalian berpikiran demikian?"
Sambil berkata demikian, Lin Feng perlahan memalingkan wajah, menatap tajam ke arah lelaki tua bertopi bambu yang berdiri di barisan depan. Dengan nada penuh penghinaan, ia berucap, "Apakah karena boneka santet di tanganmu itu?"
"Atau karena segel heksagram barat yang ada di bawah kakiku ini?"
Ia mengangkat kaki dan melangkah ringan. Meski tampak seperti langkah biasa, di mata orang-orang itu, kakinya terasa seperti pilar penopang langit yang menghancurkan segalanya.
Dung!
Segel yang tertanam di bawah tanah seolah terpicu oleh sesuatu. Meski tidak ada yang mengaktifkannya, segel itu tiba-tiba bercahaya, lalu di depan mata semua orang, pecah berkeping-keping layaknya kaca yang diinjak.
"Glek~"
Entah siapa yang menelan ludah dengan keras, memicu reaksi beruntun di antara kerumunan. Bahkan, ada yang sampai mengompol karena ketakutan!
Lin Feng kemudian seolah teringat sesuatu. "Oh~ hampir lupa. Masih ada satu boneka santet lagi."
Lin Feng menatap boneka santet yang dipegang oleh lelaki tua yang sudah terlihat renta itu. Merasakan tatapan Lin Feng, lelaki tua yang sudah setengah kakinya masuk ke liang lahat itu mundur selangkah dengan gemetar. Ketakutan terbesar adalah ketidaktahuan, dan sikap Lin Feng membuat mereka merasa berhadapan dengan entitas yang misterius dan menakutkan.
"Hmph!"
"Boneka santet...!"
Lelaki tua itu mendengus dingin. Sambil menggumamkan mantra, ia meneteskan darah dari jantungnya sendiri ke helai rambut yang menempel di dahi boneka santet itu. Boneka santet ini adalah senjata kutukan yang tak tertandingi. Ia yakin, tidak ada yang bisa selamat dari kutukan boneka tingkat ini.
Boom!
Cahaya merah darah tiba-tiba muncul di sekeliling tubuh Lin Feng, laksana matahari terbenam yang jatuh ke bumi, membawa kesan kejam dan berdarah di tengah kegelapan.
Trak! Trak!
Seolah ada sesuatu yang terbakar. Kutukan berwarna darah itu bahkan membentuk api nyata yang berkobar di tubuh Lin Feng. Namun, meski demikian, raut wajah dan posturnya tidak berubah sedikit pun. Ia tetap melampaui segalanya, seolah objek kutukan itu bukanlah dirinya. Bahkan, sudut bibirnya menyunggingkan senyum.
Bagi si lelaki tua, senyuman itu jauh lebih menyeramkan daripada melihat kepala berdarah yang terbuka matanya di tengah malam.
Lin Feng berucap datar, "Masih ada lagi?"
"Jika sudah tidak ada, maka giliranku!"
Begitu kata-katanya usai, boneka santet di tangan lelaki tua itu hancur berkeping-keping. Pecahannya bahkan melukai tangan lelaki tua itu sendiri.
Wus! Wus! Wus!
Kertas-kertas xuan yang tak terhitung jumlahnya berubah menjadi tirai raksasa yang menutup seluruh langit, menghalangi cahaya bulan dan bintang, serta memutus pandangan orang-orang yang mengintai dari kejauhan!
Dalam sekejap, orang-orang yang terjebak dalam dunia yang diciptakan oleh kertas-kertas itu berada di ambang kehancuran. Kertas-kertas yang tak terhitung jumlahnya itu mekar layaknya bunga teratai yang suci namun mematikan.
Di depan Lin Feng, mereka semua hanyalah boneka porselen yang rapuh. Setiap kali ia mengulurkan tangan, satu nyawa berakhir, padam dalam sekejap. Pada momen itu, Lin Feng begitu tenang dan mengerikan! Bahkan saat membunuh, ia tetap mempertahankan senyum angkuh yang penuh wibawa.
Setiap langkahnya memunculkan bunga teratai. Ia melangkah tanpa sedikit pun noda. Ketika ia sampai di ujung jalan, bunga teratai di bawah kakinya telah berubah warna. Seluruh jalanan itu kini tampak seperti lautan teratai merah yang memukau, indah, dan mengerikan, penuh dengan keanggunan kehidupan yang terenggut.