Bab 154: Coba Aku yang Bersuhu Empat Puluh Derajat
Wu Xie mengukur dimensi setiap ruangan dan mencatatnya di buku catatan, lalu ia menarik sebuah kesimpulan.
Desain interior bangunan ini bermasalah.
Bagaimanapun, ia adalah mahasiswa jurusan arsitektur yang cemerlang. Setelah mencatat data-data tersebut, ia mulai menulis dan menggambar di buku catatannya, dan tidak lama kemudian ia berhasil menyempurnakan denah arsitektur yang sebenarnya.
Lagipula, melalui perhitungan, pintu masuk ke ruang bawah tanah seharusnya berada di lantai tiga.
Oleh karena itu, lupakan saja lantai-lantai itu.
Zhang Haiyan menghela napas, menyuruh si Gemuk untuk mengembalikan papan lantai yang telah ia bongkar seperti semula.
Kemudian, ia mengikuti Wu Xie ke lokasi yang telah dihitung oleh pemuda itu.
Hanya dengan melihat sekilas, keningnya langsung berkerut dalam.
"Apakah kamu datang ke sini untuk buang air besar? Atau kamu berencana menyuruhku mendorongmu setelah kamu selesai?"
Wu Xie menggeretakkan giginya, untuk pertama kalinya meragukan pengetahuan profesionalnya sendiri.
Namun keraguan itu hanya bertahan selama beberapa detik.
Ia segera menemukan letak mekanisme rahasia tersebut.
Setelah mengangkat seluruh ubin keramik bersama dengan klosetnya, sebuah pintu kedap suara yang sama persis dengan yang ada di ruang piano pun terlihat di baliknya.
Hanya saja, pintu ini sedikit lebih kecil.
"Butuh jasa buka kunci? Jasa buka kunci profesional, delapan puluh sekali jalan."
He Yanjing bersandar di dekat pintu, memperhatikan Wu Xie yang sedang mencoba satu per satu kunci dari gantungan di tangannya.
"Tidak perlu."
Wu Xie berkata dengan nada sangat tegas.
"Baiklah, kalau bertanya lagi nanti harganya jadi seratus enam puluh."
"Kamu saja yang buka."
Wu Xie: Terkadang manusia harus belajar untuk berkompromi, jangan suka membantah.
Setelah pintu terbuka, di baliknya terdapat lorong vertikal yang mengarah ke bawah. Wu Xie mengambil senter dan melirik ke dalam, tingginya kira-kira sekitar dua meter.
He Yanjing memimpin dengan melompat turun terlebih dahulu.
Zhang Haiyan mengikuti di belakangnya.
Wu Xie berada di urutan paling akhir.
Alih-alih disebut lorong, tempat ini lebih mirip seperti saluran ventilasi yang tertanam di dalam dinding.
Dan di sepanjang saluran besar ini, terdapat banyak saluran ventilasi kecil yang entah terhubung ke setiap ruangan atau tidak.
Setelah berjalan lurus secara horizontal sekitar lima meter, sebuah pintu lain muncul di bawah kaki mereka.
He Yanjing menyipitkan mata dan tersenyum.
"Sudah seratus enam puluh, ya."
Wu Xie: ……
Jelas-jelas aku datang untuk membantu, kenapa malah jadi pihak yang harus membayar?
He Yanjing membuka pintu terakhir dan melompat turun ke dalam ruang bawah tanah. Tempat itu tampak gelap gulita, dan begitu memasuki ruangan ini, suara-suara aneh langsung terdengar.
Suara itu bagaikan bisikan iblis di dekat telinga.
Angin yang bertiup masuk melewati saluran-saluran ini, akhirnya terkumpul di dalam ruangan ini.
Dan suara angin biasa pun berubah menjadi suara aneh semacam ini.
Ruang bawah tanah itu tidak terlalu besar, tetapi luasnya hampir sekitar dua puluh meter persegi. Mungkin karena masalah ventilasi di tempat ini, bau apak tidak terlalu pekat, tetapi debunya benar-benar sangat tebal.
Terutama ketika angin bertiup masuk, debu di lantai berterbangan ke sana kemari dan hampir membuat mata mereka perih.
Di tengah ruang bawah tanah duduk sesosok mayat kering. Ketiga orang itu sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan apa pun atas kemunculan mayat di tempat ini.
Bahkan Wu Xie merasa bahwa jika tidak ada mayat di sini, ia mungkin akan merasa sedikit heran, tetapi dengan adanya mayat di sini, ia justru merasa inilah yang normal.
Mayat itu sudah benar-benar mengalami pelapukan. He Yanjing meliriknya beberapa kali, lalu menghentikan Zhang Haiyan saat wanita itu hendak mengulurkan tangan.
"Hati-hati, benda itu akan hancur begitu disentuh."
Zhang Haiyan mengangguk, mengisyaratkan bahwa ia mengerti.
Kemudian, dengan beberapa pukulan, ia menghancurkan mayat itu berkeping-keping dan mulai meraba-raba mencari barang dari dalam pakaian mayat tersebut.
Sementara itu, Wu Xie menyinari dinding di sekitarnya dengan senter, melihat tulisan-tulisan padat yang mirip seperti mantra tertulis di sana.
Entah apa masalah pria ini, hingga ia begitu gemar menulis di dinding, tampak berantakan seperti coretan saat seseorang sedang gila.
Wu Xie menganggap tingkat pendidikannya sendiri masih lumayan, namun saat melihat tulisan-tulisan mirip jimat hantu di sekujur dinding ini, ia sampai mengatupkan rahangnya karena gemas.
Mau tak mau ia mengeluarkan ponselnya dan memotret semua tulisan di dinding itu, berencana untuk mempelajarinya perlahan-lahan setelah naik nanti.
He Yanjing mengelilingi ruangan itu, tetapi tidak menemukan satu pun benda yang bernilai.
Ia hanya melihat sebuah bola besi hitam kecil di sudut ruangan.
He Yanjing benar-benar mengenali benda ini, itu adalah bahan mentah dari Pisau Kuno Heijin, yaitu besi meteorit.
He Yanjing sedikit mengerutkan kening. Pengalaman hidup bertahun-tahun di ujung tanduk memberitahunya bahwa benda ini mungkin tidak semahal atau sesederhana itu.
Ia pun mengeluarkan sehelai kain lap dari saku celananya, lalu menggunakannya sebagai alas di tangannya untuk memungut bola besi kecil tersebut.
Di sisi lain, Zhang Haiyan telah meremukkan mayat kering itu, dan hanya berhasil meraba sebuah buku catatan kecil dari pakaiannya. Karena tempat itu terlalu gelap, ia juga berniat untuk memeriksanya nanti setelah keluar.
Setelah memastikan bahwa tidak ada hal yang berguna di tempat ini, ketiga orang itu kembali memanjat naik ke dalam bangunan.
Saat itu, si Gemuk telah merapikan dan memasang kembali papan lantai ke tempat semula.
Kecuali beberapa bagian yang tampak tidak rata dan ada sisa satu potongan yang tidak bisa dimasukkan kembali, hasilnya bisa dibilang sempurna.
Mengenai apakah seseorang akan tersandung saat berjalan di atasnya? Zhang Haiyan menyatakan, siapa yang terjatuh, dialah yang akan ditertawakan.
Kelima orang itu mengelilingi meja, menatap bola besi kecil yang diletakkan di atas meja.
Bola besi kecil itu hanya sebesar telapak tangan Liu Sang, dan di permukaannya bahkan terukir pola-pola yang sangat indah.
"Benda apa ini? Tahi keledai?" kata si Gemuk sambil hendak menggapainya dengan tangan.
"Jangan sembarangan bergerak, mau cari mati?"
He Yanjing mencengkeram pergelangan tangan si Gemuk. Tubuh si Gemuk miring ke samping dan tanpa sengaja menendang meja.
Bola besi kecil itu mulai menggelinding dan hampir jatuh ke lantai.
Zhang Haiyan secara refleks mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi He Yanjing sudah terlambat selangkah saat hendak menghentikannya.
Begitu bola besi itu bersentuhan dengan telapak tangannya, Zhang Haiyan merasa seolah-olah telapak tangannya baru saja disengat sesuatu. Ia mendesis kesakitan dan langsung melemparkan bola besi itu.
Bola besi tersebut membentur lantai dengan keras dan retak di bagian tengahnya. Saat itulah mereka menyadari bahwa di antara pola-pola pada bola besi itu sebenarnya sudah ada celah sejak awal, hanya saja benturan tadi membuatnya benar-benar pecah terbuka.
Seekor kumbang hitam kecil merangkak keluar dari dalamnya.
"Sialan, kumbang bangkai."
Si Gemuk sudah mengalami trauma psikologis akibat digigit kumbang bangkai. Begitu melihat kumbang itu merangkak keluar, ia langsung menginjaknya.
He Yanjing melihat kumbang bangkai yang telah hancur terinjak oleh si Gemuk, lalu menarik kembali tangan yang tadi sempat ia ulurkan.
Merasa lelah sekali rasanya mengurus anak-anak…
Anak durhaka yang tidak bisa diandalkan seperti ini, bolehkah dibunuh saja?
Setelah menghela napas pasrah, ia menatap Zhang Haiyan yang sedang memandangi telapak tangannya sendiri.
Tepat seperti dugaan He Yanjing,
pada malam harinya, Zhang Haiyan mengalami demam tinggi. Tubuhnya terasa panas membara yang mengerikan, sementara kondisi mentalnya justru sangat bersemangat.
Bisa dibilang, di antara pilihan mengalami demam atau menjadi gila, ia memilih untuk bertingkah menggoda.
"Aku merasa waktu hidupku tidak lama lagi, jadi bisakah kamu mengabulkan satu permintaanku yang kecil."
He Yanjing mengedutkan sudut bibirnya, menunggu kalimat lanjutan dari wanita itu.
"Cobalah aku yang sedang bersuhu empat puluh derajat ini."
[Otak bucin-ku sedang mendidih, kenapa sekarang melihatnya terasa begitu memikat?]
[Tidak bisa, empat puluh derajat saja belum cukup, Kakak ini mau membara sampai 52 derajat. Kakak boleh mati, tapi romansa tidak boleh mati.]
He Yanjing menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik dan masuk ke kamar mandi.
Saat Zhang Haiyan sedang demam tinggi hingga merasa linglung dan melayang-layang, sebuah tangan besar yang dingin dan berhawa lembap tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Sedetik kemudian, ia jatuh ke dalam pelukan He Yanjing. Sensasi dingin itu membuatnya mengeluarkan suara merintih pelan karena merasa nyaman.
Bibir He Yanjing yang berhawa sejuk menempel di keningnya.
"Lupakan saja soal kamu yang bersuhu empat puluh derajat, aku lebih suka yang bersuhu ruangan."
Namun Zhang Haiyan justru melingkarkan tangan dan kakinya seperti gurita pada He Yanjing yang baru saja mandi air dingin demi membantunya menurunkan suhu tubuh.
"Tapi, aku ingin mencium telinga, tulang selangka, dan... jakunmu..."