Makam Besar di Padang Rumput
"Kalau Pendeta Wang tidak tiba tepat waktu, kita semua harus turun ke makam untuk membantu mencari tahu tentang keberadaan Lencana Khusus itu."
"Sekarang, persiapkan dulu peralatan kita, supaya nanti tidak kelabakan."
"Kita di sini sudah punya sedikit pengaruh, mereka tidak mungkin langsung meninggalkan kita begitu saja."
"Baiklah, cukup sekian yang perlu aku sampaikan, silakan pergi."
Setelah pria berwajah luka itu selesai memberi arahan, tiga orang lainnya segera berdiri dan beranjak untuk mengurus urusannya masing-masing.
Sementara itu, si berwajah luka tetap tinggal di kedai, menunggu kabar.
...
Setelah memasuki kota, Wang Chen dengan saksama merasakan posisi alat penanda, lalu melangkah cepat menuju lokasi tersebut.
Tak lama kemudian, Wang Chen sudah tiba di depan sebuah rumah makan.
Setelah memastikan posisi sudah tepat, Wang Chen langsung masuk ke dalam.
"Tuan, mau makan atau menginap?" sambut pelayan begitu Wang Chen melangkah masuk.
"Siapkan satu kamar terbaik untukku," jawab Wang Chen. Kini seluruh pikirannya hanya tertuju pada Lencana Khusus, ia sama sekali tak berniat makan. Lagi pula, ia sudah makan bekal sebelum berangkat, tidak makan untuk sementara waktu pun tidak masalah.
"Baik, silakan Tuan ikuti saya!"
Tak lama, Wang Chen sudah tiba di kamar atas yang dipandu oleh pelayan.
"Jika ada keperluan, Tuan tinggal panggil saja," ucap pelayan sebelum turun ke bawah.
Setelah memastikan tidak ada orang, Wang Chen pun bergerak menuju posisi alat penanda itu.
"Tok! Tok tok tok!"
"Siapa di sana?"
Si berwajah luka, yang tengah merenung di dalam kamar, tiba-tiba mendengar suara ketukan dan langsung bertanya.
Mendengar suara yang cukup dikenalnya itu, Wang Chen pun merasa tenang.
"Aku, Pendeta Wang dari Selatan."
Wang Chen segera menjawab.
"Krek!"
Begitu mendengar suara Wang Chen, pria berwajah luka itu tampak girang, ia pun buru-buru bangkit dan membukakan pintu.
Setelah Wang Chen masuk, pria itu menoleh ke kiri dan kanan memastikan situasi aman, lalu kembali menutup pintu.
"Pendeta Wang, akhirnya kau datang juga," ucapnya sambil menuangkan secangkir teh untuk Wang Chen.
"Kali ini, di padang rumput ditemukan sebuah makam besar. Sudah beberapa rombongan turun ke sana untuk menyelidiki. Namun, hampir semuanya tewas di dalam, kecuali satu orang yang berhasil keluar meski sudah gila. Sisanya, semuanya lenyap di sana."
"Yang paling penting, di bahu orang gila yang keluar itu, muncul huruf hitam 'Murka', persis seperti yang pernah kau tunjukkan padaku pada Lencana Khusus itu. Karena itulah aku segera mengabari dan memintamu datang."
Pria berwajah luka itu dengan cepat menceritakan semua hal penting pada Wang Chen.
"Di mana orang gila itu sekarang?" tanya Wang Chen langsung ke inti masalah.
Apakah makam ini berkaitan dengan Lencana Khusus atau tidak, Wang Chen merasa hanya perlu melihat sendiri tanda di bahu si gila itu untuk memastikan. Lagi pula, belum tentu setiap huruf 'Murka' pasti berhubungan dengan Lencana Khusus. Banyak makam kuno yang memang memiliki perlindungan berupa aura murka.
Jika bisa membuat sekelompok pencuri makam tewas di dalam, perlindungan itu pasti sangat kuat. Huruf 'Murka' di bahu si gila itu juga bisa saja hanya hasil dari aura tersebut.
"Orang gila itu sekarang ada di perkemahan besar gabungan para pencuri makam di luar kota. Karena berita tentang makam besar ini tersebar, banyak orang berdatangan. Tidak ada satu kelompok pun yang mampu menguasai yang lain, jadi dibuatlah rencana gabungan. Hampir semua orang sekarang berkumpul di sana."
"Sebagai satu-satunya orang yang berhasil keluar dari makam, meski sudah gila, ia tetap dianggap penting. Karena itu, ia ditempatkan di perkemahan gabungan."
"Apa aku bisa melihatnya?"
"Tentu saja bisa. Hanya saja, tidak bisa bertemu secara pribadi. Setidaknya harus ada beberapa orang lain yang ikut hadir."
"Tidak masalah, aku hanya ingin melihat tanda 'Murka' itu."
Setelah mendapat keterangan jelas, Wang Chen pun agak bersemangat. Meski belum pasti makam ini terkait Lencana Khusus, setidaknya ini adalah satu petunjuk yang bisa ditelusuri.
Setelah sepakat dengan pria berwajah luka itu, Wang Chen kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Ia sudah menempuh perjalanan lebih dari sehari penuh, pikirannya cukup letih. Sebelumnya, karena ada kabar tentang Lencana Khusus, ia sangat bersemangat. Kini setelah mendapat informasi pasti, gairah itu pun perlahan surut, menyisakan kelelahan.
...
Keesokan harinya, setelah beristirahat semalam, kekuatan mental Wang Chen pulih sepenuhnya.
Ia langsung keluar kamar dan berkumpul bersama pria berwajah luka dan kawan-kawannya. Setelah sarapan ringan, mereka pun berangkat menuju perkemahan gabungan di luar kota.
Dengan adanya pria berwajah luka yang sudah dikenal di daerah itu, rombongan Wang Chen bisa langsung masuk ke perkemahan. Setelah menjelaskan tujuan kedatangan mereka, di bawah pengawasan penjaga perkemahan, Wang Chen akhirnya bisa melihat si gila itu.
Dengan teliti, Wang Chen memeriksa huruf 'Murka' di bahu orang itu, namun ia belum bisa memastikan sepenuhnya. Aura murka pada tanda itu sangat kuat, dan hanya sebagian kecil saja yang terasa mirip dengan Lencana Khusus. Tapi kemiripan itu sangat tipis, belum cukup untuk dijadikan bukti.
Namun, Wang Chen tidak langsung pergi. Sekecil apapun kemiripan itu, tetap saja merupakan sebuah kemungkinan. Saat ini Wang Chen memang tidak punya petunjuk lain, jadi ia tidak ingin melewatkan kesempatan ini.
Kalaupun nanti terbukti makam ini tidak ada hubungannya dengan Lencana Khusus, setidaknya menyelidiki makam sebesar ini tetap bisa memberi keuntungan baginya. Mungkin saja ia bisa menemukan bahan-bahan berharga di dalamnya.
Bagaimanapun, makam ini jelas sudah berusia ratusan tahun. Kalau tidak, para pencuri makam itu tidak akan sampai membuat rencana gabungan seperti ini. Keuntungan yang didapat sangat besar, dan dibagi rata pun sudah cukup menggiurkan.
Tentu saja, alasan utama mereka bersatu adalah karena berita makam itu sudah bocor, ditambah lagi tingkat bahayanya memang sangat tinggi. Kalau tidak, para pencuri makam yang tamak itu tidak akan mau berbagi hasil dengan orang lain.
Setelah memastikan semua, Wang Chen dan rombongannya kembali ke wilayah kekuasaan pria berwajah luka.
Di perkemahan gabungan itu, wilayah dibagi berdasarkan kekuatan masing-masing kelompok. Meski anak buah pria berwajah luka tidak terlalu banyak, sebagai orang lama di daerah itu, ia tetap punya pengaruh. Ia mendapatkan wilayah yang tidak terlalu luas, namun juga tidak kecil.
Kalau saja anak buahnya lebih banyak, hanya bermodalkan status sebagai tuan rumah, mungkin saja ia bisa menjadi salah satu pemimpin utama dalam eksplorasi kali ini.
Setelah masuk ke perkemahan, Wang Chen tidak melakukan banyak hal lain. Ia hanya tinggal di dalam, membuat beberapa jimat siap pakai. Sebenarnya, ia sendiri jarang menggunakan jimat seperti itu, tapi pria berwajah luka dan kawan-kawannya masih membutuhkannya sebagai perlindungan.
Lagi pula, jasa pria berwajah luka memang sangat besar dalam hal ini. Begitu mendapat kabar dan memastikan kebenarannya, ia langsung mengabari Wang Chen.
Kalau bukan karena pria itu, Wang Chen pasti tidak akan tahu tentang makam besar di padang rumput ini.